Jodoh Dari GC

Jodoh Dari GC
Bibinya si caby


__ADS_3

Setibanya di rumah, Arka langsung menuju kamar untuk mengganti pakaian. Sementara Freya dan Miya bersantai di ruang TV, keduanya sedang mengunduh video dan gambar-gambar treasure sesuai dengan yang mereka bahas diperjalan pulang tadi.


Ardi yang baru kembali dari dapur dengan membawa empat gelas minuman ikut bergabung bersama mereka. Meskipun berulang kali adu mulut dan selisih pendapat begitulah persahabatan mereka, tetap kembali akur seperti semula.


“Makasih Di, tau aja gue aus.” Ucap Freya setelah meneguk minumannya.


“Iya gue juga, makasih juga yah.” Disusul oleh Miya yang melakukan hal serupa.


Melihat Arka yang sudah kembali dengan stelan santai dan menghampiri Freya, membuat Miya beranjak dari tempatnya dan beralih duduk di samping Ardi.


“Lihat deh Bang! Ganteng banget kan.” Freya memamerkan deretan gambar yang baru saja ia unduh pada Arka yang baru saja duduk di sampingnya.


“Iya ganteng.” Jawaban paling aman terucap dari bibir Arka, meskipun hatinya tak sejalan dengan ucapannya.


“Bang Ar juga harus ikutan nonton yah Nanti. Kalo perlu wallpaper di HP Abang ganti nih pake gambar yang ini. Super uwuw.” Usulnya lagi-lagi sambil menunjukan sebuah gambar yang menurut Arka tak sebanding dengan ketampanan dirinya. Sampai sekarang saja ia masih tak habis pikir apa yang membuat sang istri begitu menggilai salah satu member aget-aget yang suka nari nggak jelas.


“Iya.” Jawab Arka pasrah.


Melihat sang Kakak yang begitu menderita membuat Ardi tertawa bahagia.


“Jangan ketawa Di. Nggak ada yang lucu kali.” Ucap Freya, “mending lu ambil deh buah coklat nya jangan sampe si caby ntar ileran.” Imbuh Freya.


“Kamu pengen buah coklat yang? Kenapa nggak bilang sama Abang aja sih?” tanya Arka.


Freya jadi bingung, ia menatap Ardi dan Arka bergantian.


“Loh bukannya Abang yang pengen buah coklat langsung dari pohonnya? Miya sama Ardi pulang kuliah tadi langsung pergi nyari loh.”


“Nggak. Abang nggak minta apa-apa sama Ardi. Lagian juga kan biasanya kalo pengen sesuatu abang selalu bilang dulu sama kamu. Tadi tuh cuma pengen rujak aja, itu juga udah beli pas di kantor.” Tutur Arka.


Jawaban Arka seketika membuat Ardi gugup, apalagi melihat Miya yang menatapnya dengan serius.


“Jadi Kak Arka nggak minta buah coklat?”


“Gue bisa jelasin. Tapi nggak di sini. Ikut gue.” Ardi menarik Miya. Mungkin sekarang saatnya ia harus menjelaskan semua pada Miya.


“Ardi jangan main bawa aja lu, gue masih pengen nonton bareng Miya nih.” Teriak Freya.


“Udah sayang biarin aja mereka pergi. Nanti nontonnya bareng Abang aja!”


Freya mengangguk setuju, kepalanya bersandar di bahu Arka sedang tangannya masih focus pada ponsel.


“Ini pasti sakit yah Dek?” tanya Arka sambil menyentuh pelan perban yang menempel di kepala Freya.


“Sakit. Tapi kalo deket abang kayak gini sakitnya nggak kerasa.” Jawabnya dengan mode gombalan receh.


“Bisa aja kamu tuh. Ke kamar aja yuk biar kamu bisa istirahat.”

__ADS_1


“Nggak mau pengen kayak gini aja nyaman.”


Cukup lama Arka menemani Freya menonton video yang menurutnya unfaedah hingga ART datang menyelamatkannya dari kejenuhan.


“Den Arka di tunggu sama Bapak di ruang kerja.” Ucap Bi Tuti.


Arka mengiyakan pesan dari Bi Tuti kemudian beranjak dari duduknya, “Abang nemuin Ayah dulu. Kamu istirahat aja di kamar yah.”


Arka masuk ke ruang kerja Bayu. Di sana ada Bunda Mira, Ayah dan juga pengacara keluarga mereka.


“Ada apa yah? Kok Pak Afkar juga ada di sini?” tanya Arka.


Pak Afkar mengeluarkan foto sebuah mobil berwarna merah yang terparkir di sisi jelan tak jauh dari Bank tempat Arka bekerja.


“Saya sudah memeriksa identitas pemilik mobil ini dan menanyakan kronologi kecelakaan siang tadi pada beberapa warga yang melihat kejadian itu. Menurut pengakuan mereka, mobil merah ini tadinya berhenti dan tiba-tiba melaju kencang saat mendapati istri anda menyebrang jalan. Jadi kemungkinan kecelakaan ini di sengaja.” Tutur Afkar.


“lalu siapa pemilik mobil itu?” tanya Arka.


“orang yang membuat keributan di acara ulang tahun perusahaan minggu lalu.” Ucap Bayu.


“Lisa bener-bener harus dikasih pelajaran. Bukannya tobat malah makin gila.” Ucap Arka kemudian beranjak dari duduknya.


“Mau kemana?” tanya Bayu sambil menahan daun pintu yang hendak dibuka Arka.


“Ngasih pelajaran ke Lisa.”


“Baiklah.” Arka keluar dari ruang kerja dan menemui Freya.


“Bang Ar sini temenin aku.” Ucapnya begitu dia masuk ke dalam kamar.


Di tempat lain Ardi baru saja tiba di apartemen Miya. Sepanjang perjalanan keduanya hanya saling diam, canggung.


“Makasih udah nganterin.” Ucap Miya seraya turun dari mobil.


“Gue anterin sampe depan unit lu deh.” ucap Ardi.


Miya sudah menekan pin apartemen, ia segera masuk. “udah nih, gue masuk yah.”


“Gue boleh mampir bentar?”


Miya mengangguk dan membiarkan Ardi masuk.


“Nggak usah repot-repot ngambil air, lu duduk sini aja.” Ucap Ardi, membuat Miya mengurungkan niatnya pergi ke dapur dan duduk di samping Ardi.


“Jadi gini Mi, sebenernya gue…” ucap Ardi yang mendadak jadi ragu.


“Sebenernya lu bohong kan soal buah coklat itu?”

__ADS_1


“Iya.”


“Kenapa lu bohong Di? Padahal kalo bukan karena gue ninggalin Freya demi buah coklat itu Freya nggak bakal kecelakaan.” Miya sedikit terisak menahan tangisnya, ia masih merasa bersalah karena meninggalkan Freya siang tadi.


“Karena gue cuma butuh alesan supaya bisa sering-sering berdua sama lu Mi. Awalnya gue emang ngajak lu pura-pura pacaran demi ngidam aneh yang lu sama Freya rencanain, tapi-


“Jadi lu tau semuanya Di?” kini Miya makin terisak tapi kali ini bukan karena rasa bersalah karena meninggalkan Freya, melainkan karena malu mengetahui orang yang ia suka mengetahui perasaaanya.


“Ya gue denger semua yang kalian bicarain pas ospek” jawab Ardi jujur.


“Dan lu malah manfaatin gue setelah tau semuanya?”


“Gue nggak pernah niat manfaatin lu Mi. Dulu emang gue jalani semua tanpa perasaan, cuma pengen wujudin ide konyol kalian sebelum Freya minta. Karena gue tau lambat laun tuh anak bakal ngewujudin ngidam anehnya. Gue pengen Freya seneng dan calon ponakan gue nggak ileran. Tapi nggak tau sejak kapan gue malah nggak sadar kalo gue lagi pura-pura dan gue terlalu takut buat nyatain perasaan gue. soalnya waktu gue ngajak lu pura-pura pacaran lu bilang lu suka gue karena gue sahabat terbaik lu.” tutur Ardi panjang lebar.


Ardi menatap lekat kedua bola mata Miya, tanpa bicara pun Ardi tau tatapan penuh tanya yang terpancar dari mata itu.


“Sekarang gue mau jujur sama lu Mi. Gue cinta sama lu. Gue mau lu jadi bibinya si caby.”


Miya tak menjawab, gadis itu diam seribu bahasa dan menghambur memeluk Ardi.


“Jadi gimana mau nggak jadi bibinya si caby?” Tanya Ardi setelah Miya melepas pelukannya.


“Mau. Kenapa nggak dari dulu aja sih Di? Lu nggak tau apa gue nahan perasaan gue mati-matian, takut baper sama perhatian berlebihan yang lu kasih selama kita pura-pura.” Ucap Miya sambil berderai air mata bahagia.


“Maaf karena gue terlalu lama menyadari perasaan ini. Kamiya Maulida, I love you.”


“Love you too Ardi Rahardian.” Balas Miya.


Ardi menangkup wajah Miya, ia mengapus air mata yang membasahi pipi gadisnya. “Jangan nangis.” Ucapnya kemudian mengecup bibir Miya, membuat gadis itu mematung seketika. Tak ada tanda-tanda penolakan Ardi mendaratkan kembali bibirnya, membiarkan bibir mereka berkenalan semakin dalam.


“Lagi?” tanya Ardi setelah melepas tautan bibir mereka.


Dan dengan bodohnya Miya mengangguk membuat Ardi tertawa kemudian mencium pipi Miya.


“Kok pipi?”


“Kalo bibir ntar bisa-bisa gue kebablasan.” Jawab Ardi.


.


.


.


Aku yang masih polos ini mendadak mikir, emang kalo si Ardi nyium bibir Miya lagi bisa kebablasan ngapain coba?


Seperti biasa jangan lupa like komen dan favoritkan!!

__ADS_1


__ADS_2