Jodoh Dari GC

Jodoh Dari GC
Nengokin caby


__ADS_3

Lisa masih meronta mencoba melepaskan tangan yang ditarik paksa oleh sang ayah. Ia tak peduli orang-orang yang memandangnya dengan sinis. Mulutnya tak berhenti menyuarakan sumpah serapah untuk Freya, gadis yang masih terpaku di dalam pelukan lelaki yang sangat ingin ia miliki.


Ia hampir keluar dari ballroom, entah dapat kekuatan dari mana tapi wanita bergaun merah pres body itu berhasil melepaskan diri dari cengkraman erat sang ayah, mungkin emosi dan kebencian yang menjadikan wanita yang biasanya anggun itu menjadi bar-bar dalam seketika. Ia mengangkat gaun panjangnya hingga selutut hingga memudahkannya untuk berjalan lebih cepat.


Lisa kembali menghampiri Freya, dengan tak tau malu ia menatap balik setiap pasang mata yang meliriknya dengan kesal, seolah menunjukan jika dirinya tak bersalah. Ayah Lisa kembali menyusul putrinya sedangkan sang ibu sudah tak bisa melakukan apa-apa, wanita paruh baya itu terus menangis di pintu keluar. Tak pernah terbayang sedikitpun di benaknya jika putri yang selalu ia banggakan melakukan hal memalukan. Menginginkan suami wanita lain. Ditambah lagi dengan bahasan malam inagurasi yang seketika terungkap membuatnya memukul dadanya sendiri, mencoba mengusir sesak yang sebelumnya tak pernah ia rasakan.


Ibu Lisa terduduk di lantai, memandangi sang suami yang sedang membujuk putrinya untuk tak mempermalukan diri lebih lama lagi. Melihat orang-orang memandang ilfeel pada putri tunggal yang selalu ia banggakan sungguh menyakitkan. Nasi sudah menjadi bubur, wanita tua itu hanya terus terisak sambil memikirkan dosa apa yang telah ia perbuat hingga kelurganya dipermalukan seperti ini.


“Jangan lu pikir karena lu udah nikah gue bakal berenti ngambil Arka dari lu. Dia milik gue selamanya!” teriak Lisa.


“Ayo pulang. Cukup sudah kamu bikin malu keluarga kita.” Ayah Lisa kembali menarik paksa tangan sang putri.


Tapi lagi-lagi Lisa berontak, “aku nggak peduli. Aku cuma mau Arka, dia milikku!” Klaim Lisa.


Arka tak menyangka jika Lisa akan setidak malu ini, acara spesial malah berubah jadi drama cinta gila seorang Lisa. Ia melepaskan pelukannya, “Sama Miya dulu yah.” Ucapnya pada Freya, kemudian menghampiri Lisa yang sedang koar-koar tanpa henti.


“Bilang ke gue kalo semua ini bohong Ar!” ucap Lisa saat Arka berdiri tepat di hadapannya.


Tak mendapat jawaban lisa mencekam jas yang dikenakan Arka dengan kedua tangannya.


“Gue udah bilang sejak awal kalo gue udah nikah dan lu malah nggak percaya. Gue harap setelah ini lu bisa berhenti ganggu gue dan Freya. Gue udah maafin semua kesalahan lu.” Ucap Arka.


“Gue nggak pernah salah apa pun Ar, dia.. dia…” Lisa menunjuk Freya yang kini berada di tengah-tengah Ardi dan Miya.


"Dia dia apaan sih gaje banget lu tuh. udah laki orang masih ngarep aja." ucap Ami, emak dari grup chat sambil memegangi perutnya yang buncit.


"Diem deh lu Mak, urusin aja perut buncit lu itu. atau lu mau gue bikin lu lahiran di sini!" ancam Lisa dengan tak sopan. dia benar-benar tak bisa mengontrol ucapannya.


mendengar ocehan Lisa, emak-emak berdaster yang kini berubah menjadi anggun karya MUA yang disewa Mira nyatanya tak bisa menahan sikap mereka yang tak kalah bar-bar.


Dengan kesal Dwi, yang ngakunya jadi the next perjodohan via GC itu menjambak rambut panjang Lisa.


"Berani lu yah sama calon besan gue. Lu tuh masih bocah, belajar yang bener. Yang sopan sama orang tua. Jaga bacotan lu itu. percuma lu cakep, anak orang kaya juga tapi kelakuan lu nggak ada akhlak!"


Lisa tak terima dengan jambakan itu, ia balik badan dan sudah siap menjambak balik emak-emak bersanggul itu.


“Cukup Lisa!” ayah Lisa yang sedari tadi mencoba menahan amarah mendaratkan satu tamparan di pipi sang putri, berharap bisa menyadarkan tingkah bar-barnya.


Lisa menatap tak percaya pada sang ayah. Ia memegang pipi kirinya yang baru saja mendapat tamparan untuk pertama kalinya.

__ADS_1


"Ayah nampar aku? aku nggak salah Yah. kenapa ayah tega sama aku."


"Maaf tapi kali ini kamu salah sayang. liat dia..." Ayah Lisa menunjuk Freya yang setengah sembunyi di belakang Ardi.


"Dia jauh lebih muda dari kamu. kamu nampar dia tapi dia diem aja. Ayah yakin dia diem bukan karena nggak bisa bales tamparan kamu, tapi dia tau cara memperlakukan diri dan keluarganya, tak mau menciptakan keributan. tapi kamu? lihat yang udah kamu lakukan! kamu udah bikin rusak acara orang dan bikin malu keluarga kita juga."


“Ayo pulang!” kali ini Ayah Lisa berhasil membawa putrinya keluar dari ballroom setelah dibantu oleh petugas keamanan yang dipanggil oleh Irfan, bahkan lelaki itu mengantar Lisa dan orang tuanya sampai ke parkiran.


“Terimakasih sudah membantu.”


“Sama-sama Om.”


Irfan menatap kepergian keluarga Lisa hingga mobil yang membawa mereka menghilang dari padangan. Ia menghembuskan nafasnya pelan, memasukan tangan kanannya ke saku celana sambil memandang dengan tatapan kosong. “Lisa yang pernah gue suka benar-benar udah hilang.” Gumamnya sebelum masuk kembali ke dalam hotel.


Irfan kembali ke tempat acara, suasananya kini kembali normal. Para tamu undangan menikmati acara ulang tahun perusahaan yang penuh kejutan dan drama live streaming di depan mata yang baru berlalu beberapa menit yang lalu. Freya dan Arka terlihat sibuk menyalami orang-orang yang menghampiri mereka.


Irfan kembali ke mejanya bergabung dengan Rendi yang membawa serta pasangannya.


“Udah minggat si lampir?” tanya Rendi.


“Udah pulang. Jahat banget lu panggil dia lampir.”


“Apaan sih bebs? Nggak usah cemburu gue kan cuma ngasih rekomendasi doang.” Ucap Rendi pada wanita di sampingnya.


“Tau lah. Jangan bahas cewek sama gue.” Ujar Irfan.


Semakin malam acara itu semakin ramai gara-gara tamu undangan Arka dan Freya yang mengambil alih podium. Lagu-lagu yang sebelumnya klasik dan menenangkan berhenti seketika saat mereka mulai menyumbangkan lagu-lagu kekinian. Bahkan Tito sempat membawakan lagu yang sempat viral beberapa waktu lalu.


Harusnya aku yang di sana dampingimu dan bukan dia…


Harusnya aku yang kau cinta dan bukan dia…


“Nggak usah pada kebawa baper gitu. Gue cuma lagi praktekin video viral yang nyanyiin lagu ini pas nikahan mantan, dan ternyata ada nyesek-nyeseknya dikit guys.” Ujar Tito yang mendapat sorakan dari teman-teman kampusnya.


“Gila gue kira lu beneran.” Teriak Irgi.


Tito kembali tertawa menanggapi ucapan Irgi, ”ada yang bilang cinta itu tak harus memiliki dan gue setuju sama kata-kata itu, dari pada kita memaksakan rasa yang tak mungkin tercipta. Gue bahagia buat pernikahan lu, Fre. Rada nyesek sih, tapi gue yakin tuhan udah nyiapin jodoh buat gue cuma mungkin jodoh gue masih otw.” Ujar Tito kemudian turun dari podium dan menyalami Freya serta Arka sebelum berpamitan.


“Selamat yah. Ntar kalo anak lu udah lahir jangan kebluk bangunnya.” Ucap Irgi pada Freya. “pantes aja pas ospek milih Arka buat digombalin, nyatanya nama kalian emang udah ada di kartu keluarga yang sama.” Imbuhnya.

__ADS_1


Satu persatu tamu mulai meninggalkan acara. Hanya menyisakan emak-emak GC yang masih terlihat asik sendiri. Freya dan Arka menghampiri mereka untuk berpamitan kembali ke kamar.


“Mama, Bunda, Tante-tante semua… Kita balik ke kamar dulu yah mau istirahat udah malem.” Ucap Freya.


“Iya sana. Rapat kita belum beres nih.” Jawab salah satu emak-emak yang perutnya sedang membuncit, katanya sih dua bulan lagi lahiran.


“Itu si Freya lagi hamil muda inget kalo main jangan terlalu faster Ar.”


“Apaan sih Tan orang kita cuma mau tidur.” Jawab Arka.


“Mau nidurin Freya juga sono Ar, justru harus sering di tengokin tuh calon anak kalian. Takut kangen.” Celetuknya lagi.


“Nengokinnya gimana Tan? Minggu kemaren udah USG kok kata dokternya si caby sehat. Apa kita harus ke dokter lagi buat nengokin si caby yah Bang?” tanya Freya.


“Mantumu Mir… udah melendung aja polosnya masih ada.”


Arka tak mau berlama-lama lagi dengan temen-teman sang bunda, ia memilih segera menjauh sebelum otak polos Freya tercemar bahasan mesum mereka.


Freya sudah mengganti gaun dengan piama keropi kesayangannya, ia bergabung dengan Arka yang sudah berada di ranjang. Suaminya bertelanjang dada, hanya mengenakan celana boxer saja.


“Bang Ar kok nggak pake baju? Ntar masuk angin loh. AC nya dingin banget ini.” Ujar Freya.


Arka membawa Freya ke pelukannya, “Mau nengokin si caby.” Bisiknya.


Freya medongakkan wajah supaya bisa menatap Arka, “udah tutup dokternya jam segini Bang.”


“Siapa yang bilang mau ke dokter?” tangannya sudah mulai nakal masuk dalam piama Freya.


“Ya kan kalo mau nengok caby harus di USG, baru bisa.”


“Nggak usah ke dokter. Pake permen Abang aja bisa.” Ucapnya kemudian membungkam mulut Freya dengan bibirnya, memulai kegiatan menengok si caby dengan penuh kasih sayang.


.


.


.


Jangan minta aku buat ngejelasin ritual nengok si caby dengan detail. Ini novel gendre teen. Takut dibaca sama bocah dan otak mereka jadi tercemar wkwkwk.

__ADS_1


Jangan lupa like komen dan favoritkan!


__ADS_2