
"Duluan Kak udah telat gue." Tanpa menjawab Freya berbalik dan berjalan meninggalkan Kak Tito. Sesekali ia menengok ke belakang dan pemuda itu masih melihat ke arahnya.
Acara promosi tiap UKM di mulai, setiap ketua UKM mulai menjelaskan UKM nya masing-masing beserta prestasi dan keuntungan yang akan di peroleh jika mereka bergabung.
Kegiatan ospek hari terakhir lebih menyenangkan dari pada hari-hari sebelumnya. Semua mahasiswa baru dengan antusias menyimak penuturan setiap UKM yang membuat mereka ingin ikut serta bergabung di dalamnya.
Kali ini UKM gamapala yang kegiatannya menghabiskan waktu untuk menikmati keindahan alam sedang memamerkan foto-foto dari kegiatan keseharian mereka.
"Fre Fre..." Miya dengan heboh memanggil sahabatnya bahkan gadis itu menepuk-nepuk paha Freya. "Fre itu Kak Tito kan?" Lanjutnya sambil menunjuk ke panggung. Pemuda hitam manis yang pernah ia beri surat cinta sedang berbicara di depan sana.
"Iya gue udah tau, tadi udah ketemu." Jawab Freya biasa aja.
"Terus terus gimana?" Kepo Miya.
"Terus terus apaan? Kayak tukang parkir aja lu."
"Iya udah ketemu abis gitu gimana? Secara kan dulu lu nembak dia."
"Siapa yang nembak Mi. Jangan ngarang deh." Kesal Freya tak terima.
"Ya kan dulu lu kasih surat cinta ke dia." Miya menunjuk Tito dengan lirikan mata kemudian kembali melihat sahabatnya yang nampak biasa saja. "Pas pelajaran matematika juga lu sering kena hukum gara-gara liatin dia main basket. Sekarang dia udah ada di depan sana lu biasa aja liatinnya. Kirain bakal kayak dulu." Ujar Miya panjang lebar.
"Itu kan dulu Mi. Sekarang beda lagi lah. Gue udah punya Bang Ar." Jawab Freya sambil tersenyum pada Arka yang berdiri di samping panggung meskipun suaminya sedang tak melihat ke padanya. "Dilihat dari mana pun Bang Ar gue paling the best." Imbuhnya.
"Tapi Kak Tito ganteng juga loh Fre. Tadi gimana lu bisa ketemu sama Kak Tito? Terus dia bilang apa?"
"Kak Tito bilang, sekarang bisa kan kita pacaran?" Freya mengucapkan kalimat itu sama persis dengan yang ia dengar tadi.
"Apa?" Miya menutup mulutnya sendiri supaya tak berteriak, "terus lu jawab apa?" Lanjutnya.
"Nggak jawab apa-apa, gue tinggalin ke sini."
"Hih dasar lu. Tapi lu masih suka nggak sih sama Kak Tito? Secara dulu kan lu suka banget."
__ADS_1
"Itu dulu Mi. Gue sekarang biasa aja sih. Ya walaupun tadi gue sempet gugup juga sih. Nggak percaya bisa liat dia lagi, sekaligus malu banget kalo inget yang soal surat itu."
"Emang dia masih inget soal surat itu?"
"Inget, katanya dia hapal juga malahan."
Obrolan mereka berakhir karena riuh tepuk tangan dari para mahasiswa, keduanya kembali fokus ke depan.
"Pantesan rame Fre, giliran HIMA sama BEM teryata. Kak Arka ganteng banget yah." Ucap Miya.
"Laki gue Mi."
"Iya Kak Arka punya lu, Ardi buat gue yah."
"Sip." Freya mengacungkan jempolnya.
Freya melihat sang suami yang dengan begitu lancar menjelaskan tentang BEM yang ia ketuai. Lelaki itu terlihat sudah terbiasa berbicara di depan umum. Tutur bahasanya begitu terstruktur dan rinci, gaya penyampaian setiap kalimat begitu lugas dan mudah dimengerti.
"Fre gimana kalo kita ikut HIMA aja yuk?" Usul Miya.
"Heleh kalo ada UKM model begitu mah gue daftar paling awal." Jawab Miya, "tapi ketua HIMA kita ganteng juga Fre." Imbuhnya.
Freya menabok bahu Miya, "lu gimana sih katanya suka sama Ardi tapi masih lirik sana sini aja."
"Ya abisnya Ardi keliatan biasa-biasa aja ke gue Fre."
Sesi pamaparan organisasi sudah selesai. Sama seperti organisasi sebelumnya kini tinggal sesi Q&A untuk ketua BEM dan HIMA yang masih berdiri di panggung.
Beberapa mahasiswi mulai mengangkat tangan untuk memberikan pertanyaan yang akan langsung dijawab.
Berbagai pertanyaan receh yang membuat ruangan gaduh di jawab satu persatu dari mulai yang menanyakan nomor HP, nama IG hingga status hubungan dan alamat rumah pun tak luput dari pertanyaan.
Irgi ketua HIMA yang sempat mendekati Freya bahkan dengan terang-terangan kembali menggoda gadis itu di sela-sela menjawab pertanyaan yang ia terima. "Udah nih segini aja yang mau nanya ke gue? Si cantik ratunya terlambat nggak mau nanya nih?"
__ADS_1
Mendengar hal itu Freya hanya menggelengkan kepala.
Kini giliran Arka yang harus menjawab pertanyaan. Berbeda dengan beberapa lelaki di sampingnya, Arka mempersilahkan semua yang akan bertanya untuk berbicara, nanti akan ia jawab diakhir.
"Kak Arka nomor HP nya berapa?"
"Kakak punya pacar tidak?"
"Tipe pacar kakak yang kayak gimana?"
"Kak rumahnya dimana?"
"Kakak hobinya apa?"
"Kak IG Arkana Rahardian itu punya kakak kan? Gambar cewek di postingan terakhir kakak itu siapa? Apa pacar kakak?"
Pertanyaan terakhir dari salah satu mahasiswi seketika membuat ruangan menjadi berisik, sebagian mahasiswi membuka HP dan meluncur ke IG hanya untuk melihat postingan yang di maksud. Kasak kusuk mereka langsung saling mempertanyakan sosok perempuan yang tidur di pangkuan Arka dengan wajah yang di halangi tangan sehingga tak terlihat. Miya pun melakukan hal yang sama, meskipun sudah tau kemungkinan gadis itu sahabatnya tapi ia tetap membuka IG nya. "Uwuw banget ini kata-katanya. Ini lu kan Fre?" tanya Miya.
Freya mengangguk dan tersenyum sebagai jawaban.
"Udah-udah jangan saling menerka-nerka nggak jelas. Mending sekarang kita dengerin aja jawaban langsung dari Kak Arka." Si MC menenangkan keadaan.
"Makasih buat semua pertanyaannya. Sekarang saya akan jawab saja secara keseluruhan. Untuk Nomor HP saya kalian bisa temukan di formulir BEM. Alamat rumah nggak di bagi-bagi yah takut di susulin. Terus untuk pertanyaan punya pacar apa nggak?" Arka sejenak berhenti bicara.
"Jadi gimana Kak punya pacar tidak?" Teriak salah satu mahasiswi dari belakang sana.
"Tidak." Jawab Arka yang di barengi sorakan yes dan hore dari para mahasiswi.
Mendengar jawaban itu membuat Miya reflek menengok ke samping. Terlihat Freya dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Bang Ar jahat Mi. Bisa-bisanya dia ngaku nggak punya pacar." Ucap Freya yang hampir menangis.
Miya memeluk Freya dan mengelus punggung gadis itu.
__ADS_1
like dan komentarnya jangan ketinggalan yah.
makaseh ππ