
Freya mengikuti Lisa, wanita yang kemarin super galak dan mencak-mencak padanya itu berubah seratus delapan puluh derajat, dia bahkan merangkul bahu Freya dan berjalan beriringan seperti teman akrab. Beberapa pasang mata yang mereka lewati pun memandang kearahnya dengan tak percaya. Sama seperti pandangan orang lain, Freya pun masih tak percaya dengan perubahan mantan pacar suami yang mendadak baik dan ramah. Ingin sekali Freya memegang kening wanita yang sedang merangkul bahunya untuk memastikan apakah dia sehat, kali aja lagi demam super tinggi jadi sikapnya berubah drastis. Atau mungkin wanita disebelahnya ini salah minum obat?
Tiba di kantin kampus, Freya menepis semua anggapan-anggapan yang bermunculan di kepalanya, Freya duduk berhadapan dengan wanita berbaju merah itu. Sekali lagi dia tersenyum ramah, membuat Freya semakin bergidig tak percaya. Sempat terlintas di pikiran untuk menghubungi Ardi atau Arka, tapi sepertinya kedua opsi itu tak bisa ia lakukan. Menguhubungi Ardi maka ia akan menganggu usaha Miya, sedang menghubungi Arka? Suaminya itu masih bekerja. Baru jam dua belum waktunya pulang kerja. Mau tak mau meskipun takut menghadapi Lisa sendiri, dia memilih pasrah. Toh ini tempat ramai kalo sampai ribut pun paling mentok disiram lagi seperti kemarin.
“Mau pesen apa? Biar sekalian kakak pesenin.” Tawar Lisa, lagi-lagi senyum ramahnya teus ia pamerkan pada Freya. Tak dipungkiri jika tersenyum seperti itu Lisa begitu cantik dan anggun.
“Nggak usah Kak. Langsung aja kakak mau ngomong apa?” Freya langsung ke tujuan pertemuan mereka.
“Nggak usah pesen ini itu lah takut wajah gue kena sasaran lagi kayak kemaren."
“Gini yah Dek…”
“Dek? apa tidak salah dengar, tiba-tiba dia memangil dengan sebutan Dek? Gue ini bukan adeknya.”
“Panggil Freya aja Kak!” ujar Freya yang merasa tak nyaman dengan panggilan itu. Baginya panggilan itu begitu spesial. Hanya Arka yang boleh menggunakannya.
“Baiklah. Gini Fre, Kakak mau minta maaf buat semua perlakuan kakak yang nggak baik sama elu selama ini. Terutama yang kemarin. Maafin yah?” pintanya terlihat tulus.
Freya menatap Lisa lekat-lekat masih tak percaya jika dia benar-benar minta maaf.
“Maafin yah?” pinta Lisa lagi dengan wajah yang lebih memelas penuh dengan penyesalan.
“Iya deh gue maafin Kak.”
“Makasih yah.” Ucap Lisa.
“Sama-sama Kak, lagian kata guru PAI gue waktu sekolah, kalo ada orang yang minta maaf sama kita dengan tulus kita harus maafin. Kalo nggak ada lagi yang dibahas gue mau pulang. Udah sore nanti orang rumah nyariin.” Ujar Freya.
“Nanti dulu Fre.” Lisa menahan Freya yang sudah beranjak dari duduknya hingga gadis itu kembali duduk berhadapannya dengannya. “Sebentar aja, nggak akan lama.” Imbuhnya.
“Iya.”
“Lu tau kan Fre, kalo Arka sama gue pernah pacaran. Gue tau gue salah sejak awal cuma manfaatin Arka aja. Tapi sekarang gue sadar kalo gue tuh bener-bener sayang sama Arka. Elu mau kan bantu gue balikan lagi sama Arka?”
“Nggak mungkin Kakak! Bang Ar itu udah nikah dan ….”
“Dan lu mau bilang kalo lu istrinya? Gue tau pasti itu rencana Arka doang biar gue ngejauh dari dia. Please bantuin gue yah? Gue tau lu deket banget sama Arka.” Ucap Lisa penuh penekanan pada setiap katanya, berharap Freya akan membantunya.
“Nggak bisa Kak!” Freya beranjak berdiri dari duduknya. “Kalo Kakak minta maaf cuma biar bisa manfaatin gue buat bikin kakak balik sama Bang Ar, kakak harus tau itu nggak akan mungkin terjadi.” Imbuhnya kemudian pergi meninggalkan Lisa.
Lisa tak membiarkan Freya pergi sendiri, ia segera bangkit dan menyusul gadis itu. Ia tak mau usahanya harus berantakan di tengah jalan jika tak bisa berteman dengan Freya.
__ADS_1
“Fre tunggu!” Ucap Lisa setelah berhasil menyusul Freya dan berdiri di sampingnya.
“Bukan itu maksdu gue. Lu salah paham. Serius gue cuma minta maaf dengan tulus. Gue mau kita berteman.” Ucapnya sedikit tersenggal karena nafasnya ngan ngos-ngosan setelah sedikit berlari untuk menghampiri Freya.
“Iya udah gue maafin Kak. Gue pulang dulu.”pamit Freya.
“Gue anterin yah.”
“Nggak usah Kak. Gue mau mampir ke tempat kerja Bang Ar.” Tolak Freya
Mendengar Freya akan mengunjungi Arka malah membuat Lisa semakin semangat untuk mengantar Freya, berharap Arka akan menerimanya kembali saat melihat dia bisa berteman dengan calon adik sepupunya.
Sia-sia penolakan yang Freya lakukan, kali ini ia berakhir di mobil Lisa. Duduk di samping wanita yang sedang mengemudikan mobilnya. Sedari tadi Lisa terus memaksa membuatnya tak enak hati dan membiarkan mantan pacar suaminya mengantarnya ke kantor tempar Arka bekerja.
“Makasih Kak udah repot-repot nganterin.” Ucap Freya kemudian turun dari mobil.
Diluar dugaan Lisa ikut turun dan mengikutinya. “Loh kirain Kakak langsung pulang?” Tanya Freya.
“Nggak, gue harus mastiin lu ketemu Arka dulu.” Jawabnya.
“Oh.” Freya hanya ber oh ria kemudian duduk di kursi tunggu yang ada di lobi. Lisa ikut duudk di sampingnya. Freya mengeluarkan ponsel dan menguhubungi Arka.
“Bang Ar, aku udah di lobi.” Ucapnya begitu telepon terhubung.
“Kenapa nggak langsung ke atas aja sih Dek?” Tanya Arka sambil mengelus puncak kepala Freya.
“Kan aku nggak tau ruangannya Bang.”
“Kan bisa tanya ke front office.” Arka menunjuk bagian Front Office yang berada tak jauh dari pintu masuk. Terlihat ada tiga orang wanita cantik dengan seragam kerja hitam formal berdiri di sana.
“Aku nggak tau Bang hehe…” Jawab Freya yang diakhiri dengan tawa.
“Hai Ar.” Sapanya.
Arka menengok ke samping, ada Lisa dengan senyum ramahnya.
“Ngapain lu di sini? Kesasar?” jawab Arka ketus.
“Abang jangan gitu! Kak Lisa yang nganterin aku ke sini.” Meskipun belum seratus persen percaya dengan perubahan Lisa tapi Freya tak tega jika melihat orang yang sudah baik padanya diperlakukan dengan tidak baik.
“Beneran?” tanya Arka ragu.
__ADS_1
Freya hanya mengangguk mengiyakannya.
“Ar gue juga mau minta maaf sama elu. Gue harap kita bisa kayak dulu lagi.” Ucap Lisa.
“Jangan ngimpi ini masih siang! Makasih udah nganterin Freya. Lain kali nggak usah.” Jawabnya datar kemudian merangkul Freya. “Ayo ke ruangan Abang.” Lanjutnya.
Freya dan Arka tiba di lantai tujuh, Arka membawa Freya ke ruangannya. Sepanjang jalan ia melihat para karyawan yang sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing. Sesekali ia tersenyum menanggapi karyawan yang melihat ke arahnya.
Freya mengedarkan pandangannya di ruang kerja sang suami, “Kok mejanya ada dua Bang?” tanyanya saat melihat ada dua meja kerja di ruangan itu.
“Itu meja Bu Ara, menager keuangan disini. Yang satu lagi meja Abang.”
“Oh.”
“Sini!” Arka meminta Freya untuk menghampirinya yang sedang duduk di sofa yang biasa digunakan untuk menerima tamu.
“Duduk di sini.” Arka menepuk pahanya saat melihat Freya yang duduk di sampingnya.
“Nanti ada Bu Ara Bang.”
“Nggak ada. Bu Ara udah pulang duluan. Ada kepentingan keluarga katanya.” Jawab Arka sambil menarik Freya supaya duduk di pangkuannya. Melingkar tangannya di perut Freya.
“Belajar apa aja hari ini di kampus?” tanyanya tanpa melepas pelukan.
Freya menceritakan kegiatannya di kampus sampai dengan permintaan maaf Lisa yang tiba-tiba.
“Aku nggak suka kalo Abang nggak ramah sama Kak Lisa. Meskipun ngeselin tapi kan Kak Lisa udah minta maaf Bang. Kita harus maafin orang yang udah tulus minta maaf ke kita Bang.”
“Lisa kok di percaya. Pokoknya Abang nggak suka kamu deket-deket sama dia.”
“Tapi Kak Lisa kan udah jadi baik Bang sekarang.”
“Kamu itu terlalu polos sayang. Pokoknya jangan deket-dedek sama dia!”
.
.
.
like dan komen wajib!
__ADS_1
udah baca nggak komen sama like adalah suatu dosa wkwkwk