
Karena terlalu lama drama ngambek karena kurang percaya pada pasangan membuat Freya tiba di rumah larut malam. Bahkan gadis itu kini tertidur di kursi belakang. Supir yang memanggil namanya berkali-kali pun tak berpengaruh sama sekali, dia masih terlelap di belakang sana. Hingga akhirnya pak supir memanggil majikannya.
Beruntung Ardi masih terjaga, Mira menyuruh Ardi untuk membawa mantunya ke kamar, tak ada pilihan lain karena dia juga tak mampu jika harus membawa Freya ke kamar. Mau dibangunin juga tak tega mengingat menantunya baru saja sembuh dari sakit.
"Bisa kan Ar?"
"Kenapa nggak dibangunin aja sih Bun. Kamar kakak kan di atas bisa-bisa remuk ini tubuh aku ngegendong Freya sampe atas." Protes Ardi yang hanya menatap kesal ke gadis yang sedang terlelap.
"Kasian Ar. Dia kan baru sembuh."
Dengan terpaksa Ardi mengangkat tubuh Freya. "Gila kecil-kecil berat lu Fre." Ucapnya.
"Hati-hati." Ujar Mira.
"Iya Bun." Ardi dengan pelan membawa Freya ke kamarnya. Merebahkan gadis itu di ranjang kemudian menyelimutinya. "Udah nikah lu masih aja ngrepotin gue Fre."
Dering nyaring ponsel Freya membuat Ardi yang hendak meninggalkan kamar itu menghentikan langkahnya. Membuka tas Freya, terlihat nama 'Bang Ar' muncul di layar. Ardi tak menjawab panggilan di ponsel Freya. Dia memilih menghubungi kakaknya menggunakan ponselnya sendiri. Memberitahu kakaknya jika Freya sudah tiba di rumah dan sudah tidur.
Pagi menjelang, Freya terbangun dari tidurnya dan baru sadar dirinya sudah ada di kamar. Seingatnya terakhir kali ia masih dalam perjalanan pulang. Tak mau ambil pusing gadis itu beranjak dari tempat tidur untuk membersihkan diri.
Selesai dengan ritual paginya, Freya menghampiri Bunda Mira yang sedang menyiapkan sarapan dibantu oleh Bi Tuti.
"Mau sarapan sekarang Fre?"
"Nanti aja Bun nunggu Ayah sama Ardi juga."
"Takutnya kamu udah laper soalnya kan semalam kamu nggak makan malam."
"Iya semalem aku ketiduran Bun. Tapi siapa yang bawa aku ke kamar yah? Nggak sadar aku bangun-bangun udah di kamar."
__ADS_1
"Gue lah yang gendong lu. Mana berat banget lagi. Saut Ardi yang baru saja tiba di meja makan. "Sakit nih punggung gue ngangkut lu ke kamar kaya ngangkut semen dua sak tau." Imbuhnya.
"Jahat banget sih Di gue di samain sama semen." Protes Freya.
"Lagian lu kecil-kecil berat banget. Kebanyakan dosa lu ya?"
"Enak aja. Badan gue tuh berat karena kasih sayang yang berlimpah buat orang-orang disekitar gue, ya kan Bun?" Ujar Freya.
"Iya-iya. Udah ayo kita sarapan." Ajak Mira ketika semua anggota keluarga sudah berkumpul di sana.
Selesai sarapan seperti biasa Freya membantu mertuanya membereskan gelas dan piring sisa sarapan mereka.
"Bun, makanan kesukaan Bang Ar apa? Aku pengen bikinin makanan kesukaan Bang Ar buat di bawa ke posko. Kemaren Abang bilang aku boleh sekali-kali kesana." Tanya Freya disela-sela aktivitasnya mengumpulkan piring kotor.
"Hm Arka yah. Arka itu suka semua makanan. Dia nggak pilih-pilih makanan. Tapi ada satu menu yang paling dia hindari." Ujar Mira.
"Apaan Bun?"
"Apa?" Teriak Freya secara spontan. Tiba-tiba ia teringat soto spesial karyanya kala itu. Tapi ia ingat dengan jelas waktu itu Arka tak protes sedikit pun. Suaminya memakan mie buatannya hingga habis, malah Ardi yang protes habis-habisan.
"Kenapa Fre?" Mira terheran melihat ekspresi terkejut menantunya.
"Bunda yakin yang nggak suka mie instan itu Bang Ar bukan Ardi?" Kali ini Freya mencoba memastikan ulang, takut-takut bundanya itu tadi salah.
"Iya Arka yang nggak suka mi instan. Bukan cuma mi instan Arka bahkan tak suka semua makanan instan. Nggak sehat katanya. Kalo Ardi sih suka-suka aja asal nggak keseringan. Kenapa emang sayang?"
"Waktu itu, pas bunda sama ayah ke Surabaya aku masakin mi instan buat Bang Ar sama Ardi. Soalnya aku bisanya cuma masak itu aja Bun. Tapi Bang Ar makan mi buatan aku sampe habis loh Bun." Jelas Freya.
"Masa? Padahal biasanya Arka nggak mau makan mi loh Fre. Sepertinya karena kamu yang bikin jadi dia makan."
__ADS_1
"Oh gitu yah Bun."
"Iya sayang. Nanti Bunda mau ke mall belanja stok bahan makanan, kamu mau ikut? Nanti kita ajak Ardi juga."
"Boleh deh Bun. Sekalian nanti ajarin aku masak yah Bun. Aku pengen bisa masakin Bang Ar makanan yang enak."
"Oke sayang, nanti bunda ajarin. Mau masak apa emang?" Tanya Mira.
"Kalo kak Rendi kemaren minta bawain rendang. Kalo Bang Ar kemaren nggak pesen apa-apa sih Bun. Nanti kalo Bang Ar telpon aku tanyain deh."
Ardi, Mira dan Freya baru saja tiba di mall. Sesuai dugaan Ardi, kini dirinya jadi tukang dorong troli belanjaan yang mengikuti dua orang wanita yang berjalan kesana-kemari menyusuri lorong-lorong berisikan bahan makanan kebutuhan pokok.
"Kamu jadi masak rendang sayang?" Tanya Mira saat mereka berdiri di tempat aneka daging.
"Iya jadi Bun. Pakenya daging yang mana yah?"
"Yang ini." Mira memasukan beberapa kemasan daging sapi ke dalam troli. Selanjutnya dia berbagai bumbu dapur dan rempah-rempah yang dibutuhkan.
Freya memperhatikan Mira yang mengambil berbagai bumbu dan rempah yang sama sekali tak ia ketahui nama-namanya, sejauh ini yang ia tau hanya bawang merah, bawang putih, cabe dan tomat saja.
"Ribet amat mau masak yah Di." Bisiknya pada Ardi. Kini Freya berjalan di samping Ardi yang mendorong troli. Dia sudah lelah mengikuti Bunda Mira bahkan penjelasan soal bumbu-bumbu yang tadi disebutkan mertuanya seolah menguap begitu saja, tak ada yang nempel.
"Ribet lah. Emangnya masakan spesial lu yang super itu." Ejek Ardi. "Lagian ngapain lu mau belajar masak segala. Bukannya lu udah pinter masak aneka makanan dari mulai soto lu yang spesial itu." Ejek Ardi.
"Pengen aja masakin buat Bang Ar. Gue mau bikin rendang loh Di. Soalnya temen Bang Ar minta itu. Berhubung Bang Ar nggak suka mi instan jadi gue mau bikin rendang ori bukan yang instan."
"Kalo misal Bang Ar suka mi instan lu tetep mau belajar masak?"
"Ogah lah kalo ada yang instan ngapain ribet sih Di. Tadinya gue juga udah rencana mau beli in**mie aneka rasa buat di bawa ke posko, bahkan kemaren pas diperjalanan pulang gue udah bikin catatan mau bawa dua kardus mi instan, isinya mau di mix aneka rasa. Tapi berhubung kata Bunda Bang Ar ngga suka mi instan jadi gue mau masak aja."
__ADS_1
Mendengar penjelasan Freya, Ardi auto menepuk keningnya sendiri. "Astaga kasian banget Bang Ar punya istri model begini. Nggak kebayang kalo Freya beneran bawa mi instan ke posko, auto malu kak Arka." Batin Ardi.