
"Jangan ngajarin yang nggak bener lu berdua ke bini gue." Ujar Arka yang baru saja masuk kembali ke mobil. Dirinya langsung meletakan kresek yang berisi makanan di pangkuan Freya kemudian melanjutkan kembali perjalanan mereka.
Dua jam perjalanan yang sangat menyita tenaga dan pikiran Arka. Dirinya harus fokus menyetir dalam keadaan mood yang sedang tak baik karena istrinya masih saja mengabaikannya meskipun berulang kali bujuk rayu ia keluarkan. Sedangkan dua sahabatnya yang duduk di belakang malah menertawakan keadaan yang dialaminya, seolah itu semua hiburan gratis yang harus mereka nikmati.
Setibanya di rumah yang telah di tetapkan sebagai posko KKN, Arka bersama Irfan dan Rendi segera masuk ke rumah itu dan menemui pemilik yang akan menyewakan rumah pada mereka selama satu bulan.
Arka dan kedua temannya melihat-lihat ke dalam rumah dan halamannya. Beserta memeriksa perlengkapan dan peralatan yang ada di rumah itu untuk memastikan apakah nantinya mereka perlu membawa perlengkapan tambahan atau tidak guna menunjang kehidupan mereka satu bulan kedepan. Rumah minimalis itu sangat cocok dijadikan posko KKN mereka karena letaknya yang strategis dengan area yang cukup luas.
Sementara itu Freya menunggu di kursi teras sambil memakan camilan yang di belikan Arka tadi. Udah lapar dari tadi tapi gengsi, makanya mumpung Arka dan lainnya sedang sibuk Freya bisa memakan camilannya tanpa diketahui Arka.
Semuanya berpamitan pada pemilik rumah setelah deal dengan tawaran yang diberikan. Mereka bisa menempati rumah itu tanpa harus membawa perlengkapan atau pun peralatan tambahan karena semua sudah lengkap disana. Mereka hanya perlu membawa pakaian saja.
"Kita duduk di belakang aja Dek." Arka menarik tangan Freya yang hendak membuka pintu depan, lelaki itu membuka pintu belakang dan menyuruh Freya masuk. "Gantian lu yang bawa!" Ucap Arka pada Rendi sambil memberikan kunci mobilnya kemudian duduk di kursi belakang bersama Freya yang kini terlihat menjaga jarak darinya.
"Jangan marah terus Dek, Abang kan udah minta maaf. Harus gimana lagi sih?" Tanya Arka yang masih di abaikan oleh Freya.
"Jangan kasih ampun Fre." Malah Rendi yang menyauti pertanyaan Arka.
"Diem lu jangan ikut-ikutan! Nyupir aja yang bener."
"Siap Abang." Jawab Rendi yang diakhiri dengan tawa mengejek.
Arka begitu geram karena sepanjang perjalanan dirinya benar-benar diabaikan. Sedangkan Freya tetap bersikap ramah pada Rendi dan Irfan yang tampak sengaja terus mengajak istrinya ngobrol. Hingga akhirnya Freya kelelahan dan tertidur dengan menyandarkan kepalanya di pintu. Arka langsung menarik gadis itu ke pelukannya. "Finaly merem juga nih bocah." Ucapnya lirih sambil membelai rambut Freya.
__ADS_1
"Bocah-bocah juga lu demen kan Ar?" Tanya Irfan.
"Kalo kagak demen buat apa gue sabar abis-abisan Fan."
"Kenapa lu nggak bilang aja sama tuh bocah kalo lu demen sama dia." Timpal Rendi sambil melirik melalui kaca, terlihat sahabatnya itu masih membelai rambut Freya penuh kasih sayang.
"Yaelah Ren masa kaya begituan aja gue harus bilang sih? Gue bukan bocah kali. Yang penting kan perlakuan gue ke Freya sama perhatian gue ke dia. Kurang apalagi coba? Harusnya dia tau kalo gue udah sayang sama dia."
"Ya emang sih yang lu bilang barusan nggak salah. Tapi itu berlaku kalo pasangan lu peka. Lah si Dedek Freya..."
"Jangan ikutan-ikutan manggil Freya Dedek! Cuma gue doang yang boleh manggil dia pake sebutan itu." Arka memotong ucapan Irfan yang belum selesai.
"Ok ok. Freya maksud gue bukan Dedek." Irfan malah meledek.
"Ngapain lu ulangin lagi beg*o." Protes Arka.
"Bener tuh. Lu harus ungkapin perasaan lu ke dia." Timpal Rendi. " Jangan lupa jelasin juga soal lu ngakuin dia cuma sebagai adik sepupu." Imbuh Rendi.
"Iya-iya tadi juga gue udah mau jelasin tapi keburu lu berdua getok-getok kaca mobil." Keluh Arka. "Maafin Abang yah Dek." Ucapnya sambil mencium kening Freya.
"Jangan main nyosor aja lu. Kita mahluk hidup bukan pajangan." Sindir Rendi.
"Iya apalagi gue nyesek liatnya. Pengen praktek tapi kagak ada patnernya hahaha." Timpal Irfan.
__ADS_1
Obrolan ngalor-ngidul itu berlanjut hingga mereka semua tiba di rumah Arka. Arka sengaja menyuruh Rendi untuk membawa mobilnya hingga ke rumah karena tak ingin melepas pelukannya pada Freya.
"Gue langsung balik yah." Pamit Rendi kemudian keluar dari mobil Arka. "Gue juga." Imbuh Irfan.
"Makasih yah." Ucap Arka yang dijawab dengan acungan jempol oleh Rendi dan Irfan.
Arka kembali membelai rambut Freya. "Sayang bangun kita udah sampe rumah." Ucapnya lirih.
Arka menahan tawanya. "astaga geli banget manggil nih bocah pake sayang-sayang. berasa kaya anak alay gue." batinnya.
"Sayang bangun. Dek bangun kita udah sampai." Tapi gadis itu masih terlihat nyaman dengan tidurnya.
Arka memandangi wajah Freya yang terlelap di pelukannya. "Mata yang menangis hari ini." Arka mencium pelan mata istrinya yang terpejam. "Bibir yang seharian lebih banyak cemberut." Diusapnya bibir Freya yang sedikit terbuka kemudian mengecupnya pelan. "Maaf." Ucapnya lirih kemudian kembali mengecup bibir mungil Freya yang tak hanya berakhir disana, Arka tak bisa menghentikan ciumannya malah memperdalam ciuman itu. Menggigit bibir atas dan bawah secara bergantian. Ingin sekali mengecap manis bibir istrinya lebih dalam tapi keinginannya itu ia tahan dan segera melepas ciumannya saat Freya mulai bergerak. Arka langsung menghapus bibir Freya yang basah akibat ulahnya dengan ibu jarinya.
Freya mengerjapkan mata dan mengumpulkan kesadarannya. "Bang Ar ngapain peluk-peluk aku." Teriaknya sambil menjauh dari Arka. "Udah nyampe yah? Kok rumahnya masih gelap? Apa Ardi belum pulang yah?"
"Belum kali. Ayo masuk."
Freya berjalan di belakang Arka. Gadis itu beberapa kali menggigit bibir bawahnya. "Itu tadi nyata apa mimpi yah? Berasa ada yang nyentuh bibir gue. Kaya ada manis-manisnya gitu" Batin Freya.
.
.
__ADS_1
.
jangan lupa tinggalkan jejaknya yah!!