
“Fre gue balik dulu yah.” Ucap Miya sambil berjalan mengikuti Ardi yang terus saja menarik tangannya hingga keluar dari rumah mewah bernuansa putih itu.
Ardi membuka pintu mobil, mempersilahkan Miya untuk masuk. Kemudian ia berjalan menuju pintu yang berlawanan dan duduk dibalik kemudi. Menyalakan mesin dan melajukan mobil itu keluar dari halaman rumahnya.
“Di, buru-buru banget sih? Gue kan masih pengen ngobrol-ngobrol sama Freya. Dan lagi tadi tuh Kak Arka kayaknya pengen kita nyariin sesuatu deh.” Ujar Miya.
“Gue takut Mi.” ucap Ardi tanpa mengalihkan perhatiannya ke jalan yang cukup ramai siang itu.
“Takut kenapa? Kalo Kak Arka minta apapun asal masih wajar gue selalu siap kok bantuin lu.”
“Nah itu masalahnya. Kalo yang wajar-wajar aja sih gue nggak masalah. Tapi…?
“Tapi kenapa?” penasaran Miya. Dia menyelipkan rambut pendeknya ke belakang telinga supaya tak mengahalangi pandangannya.
Ardi masih terdiam, dia tak menjawab pertanyaan Miya. Sejak mengetahui Freya hamil pagi tadi, ia benar-benar sudah mengkhawatirkan hal ini. Mengingat obrolan unfaedah Freya dan Miya saat ospek yang tak sengaja ia dengar. Saat mengetahui Arka yang ngidam, ada sedikit kelegaan di hati Arti meskipun itu tak menjamin ia bisa lolos dari rencana Freya. Mengingat kakaknya yang sudah bucin akut dan pasti akan menuruti permintaan kakak ipar yang tak masuk akal.
Mendengar keinginan pertama Arka, buah kedondong. Itu tak sulit dan membuat Ardi bisa mencarinya meskipun tak mudah dan alhasil ia tak mendapatkan kedondong yang manis. Tapi untuk mendengar permintaan kedua Arka rasanya ia belum siap. Apalagi setelah mendengar Freya berkata ‘kalian jodoh’ benar-benar membuatnya panas dingin. Ardi takut Arka akan mewujudkan rencana ngidam Freya saat itu juga.
Cepat atau lambat Arka pasti akan merealisasikan keinginan Freya untuk menjodohkannya dengan Miya. Dan saat itu tiba Ardi tak akan bisa mengelak, mengingat pasangan yang selalu merepotkannya itu memiliki senjata ampuh yang membuat dirinya tak bisa menolak.
Jika ditanya apakah dia menyukai Miya? Jawabannya tentu iya. Tiga tahun lebih mereka bersahabat, meskipun tingkah Freya dan Miya sangat menyebalkan tapi tak dipungkiri tak ada alasan bagi Ardi untuk tak menyukai Miya. Ardi hanya masih bingung dengan perasaannya. Ia tak bisa mengerti apakah menyukai Miya sebagai sahabat atau sebagai wanita? Ardi tak tau jawabannya.
Satu bulan lebih menjalani perkuliahan, banyak gadis dari kelasnya bahkan dari jurusan lain yang mendekati tapi tak ada satu pun yang membuatnya nyaman, apalagi menggetarkan hatinya. Yang ia sadari sejauh ini hanya Miya yang bisa membuatnya nyaman, tapi untuk menggantikan tempat yang pernah di isi Freya di hatinya, Ardi belum tahu.
“Di…” panggil Miya yang merasa diabaikan sejak tadi.
“Ardi…” kali ini Miya menyenggol lengan kiri Ardi hingga kelaki yang mengenakan kaos berwarna hijau itu menoleh padanya.
“Lu kenapa sih Di? Gue lu kacangin dari tadi ih.” Keluh Miya. Kali ini ia membuang wajah. Menatap ke arah luar. Melihat pepohonan yang seolah berjalan di luar sana.
“Nggak apa-apa kok. Gue cuma lagi fokus nyetir aja. Lu liat kan lagi rame-ramenya nih jalan.” Elak Ardi.
Sisa perjalanan mereka dilalui dengan keheningan. Baik Ardi maupun Miya tak ada yang membuka percakapan. Miya membuka pintu mobil dan segera turun saat mobil Ardi telah berhenti dengan sempurna di basement apartemen.
“Makasih udah nganterin gue.” Ucap Miya sebelum menutup pintu kemudian pergi tanpa menunggu jawaban Ardi.
__ADS_1
Kini Miya beridiri di depan lift dan masuk ke dalam lift saat pintu besi itu terbuka. Tangan kanannya menekan angka empat kemudian mundur beberapa langkah hingga ia bisa bersandar sambil menunggu pintu tertutup.
“Tunggu!” Ardi masuk ke dalam lift sesaat sebelum pintu itu tertutup dengan rapat.
“Ardi?” tanyanya yang masih tak percaya akan kehadiran Ardi.
“Ada yang perlu gue omongin sama lu, Mi.”
“Oh… mau ngomong apa?” tanya Miya.
Lift berhenti sebelum tiba dilantai empat, beberapa orang masuk ke dalam sana.
“Kalo ngobrolnya di unit lu aja boleh?” tanya Ardi yang tak nyaman jika harus membahasnya di depan banyak orang.
Miya mengangguk, keduannya keluar begiu lift berhentii di lantai empat.
“Sorry tadi nggak nawarin lu buat mampir. Kan biasanya lu selalu nolak kalo gue ajakin mampir.” Ucap Miya sambil memasukan pin apartemennya. “masuk.” Lanjutnya.
Ardi duduk di ruang tamu, memandangi ruangan yang pernah ia kunjungi hanya sekali saat membantu Miya berbelanja parabot. Tak ada yang berubah. Serba pink dengan parabot dan pernak pernik yang mereka beli bersama.
“Minumnya Di.” Miya memberikan satu botol minuman rasa leci pada Ardi.
“Jadi apa yang mau lu omongin Di?
Kini Ardi bingung sendiri harus memulai dari mana. “Ehm gini Mi…”
“Apa?” tanya Miya.
“Apa lu suka sama gue?” tanya Ardi serius.
Sumpah demi apa pun kini Miya jadi gugup sendiri. Berulang kali ia pernah mengatakan suka pada Ardi. Tapi itu semua ia lakukan sembari bercanda. Tapi apa? Kini tiba-tiba Ardi menanyakan apakah ia menyukainya?
“Gue suka sama lu?” Miya balik tanya dengan menunjuk dirinya sendiri kemudian beralih menunjuk Ardi.
“Gue serius Mi. jawab!”
__ADS_1
“Emangnya kenapa?”
“Gue nggak sengaja denger kalo Freya sama lu udah ngerencanain ngidam. Ya, ngidam buat bikin gue pacaran sama lu. Gue inget banget pas ospek lu berdua ngomongin itu.” Ujar Ardi dengan serius.
Deg… Deg… jantung Miya berdetak semakin cepat, ia tak menyanggka Ardi tau hal itu.
“Mi jawab gue! gue nggak mau kita jadi canggung gara-gara ide konyol Freya.”
“Canggung kenapa Di? Emangnya lu suka sama gue?” tanya Miya.
“Gue suka sama lu Mi,” Ardi menjeda ucapannya, ia menatap Miya yang spontan tersenyum ceria begitu mendengar jawabannya. “lu satu-satunya cewek yang bikin gue nyaman. Lu sahabat terbaik gue.” lanjut Ardi yang membuat raut wajah Miya berubah drastis dan Ardi menyadari keanehan itu.
“Lu kenapa Mi? lu suka sama gue?” tanyanya.
“Ya, gue suka sama lu. Lu juga sahabat terbaik gue.” jawab Miya.
“huh syukur deh kalo lu juga cuma nganggap gue sahabat. Jadi kita nggak perlu canggung buat pura-pura pacaran yah. Gue tau si Freya pasti bakal merealisasikan rencana ngidam anehnya.” Ujar Ardi. “Lu setuju kan? Please bantu gue jangan sampe si caby ileran.” Imbuh Ardi.
Miya mencoba tersenyum sekuat hatinya, “Iya gue setuju. Tadi kan gue udah bilang bakal bantuin lu,”
Ardi menggeser posisi duduknya mendekati Miya, dia mencubit gemas kedua pipi Miya. “Makasih yah.”
Miya hanya tersenyum dan mengangguk.
“Gue pamit yah.” Ucap Ardi setelah melepas cubitan di pipi Miya. Ia buru-buru meninggalkan apartemen Miya.
Sambil menunggu pintu lift terbuka Ardi memegang dadanya, ia bisa merasakan degub jantungnya yang sedikit cepat.
“Ya kali gue cuma nyubit pipi si Miya bisa jadi dag dig dug gini.” Batin Ardi kemudian melangkah ke dalam lift begitu pintunya terbuka.
.
.
.
__ADS_1
Tim Ardi Miya mana suaranya? apa mau Ardi sama author aja?🤭🤭
Seperti biasa tinggalkan jejak like, komen dan favoritkan.