
-Jika hubungan ini diibaratkan persamaan akuntansi, kamu dan aku tidak balance sama sekali!- Arkana Rahardian.
Arka bahkan berjalan mendahului Freya, mendiamkan gadis itu hingga tiba di rumah. Freya nya itu benar-benar lulus membuatnya malu tadi dan sialnya gadis itu dengan polosnya tak sadar akan kesalahannya. Malah seolah tak berdosa terus saja berbicara meski diabaikan.
Sejauh ini dirinya telah ekstra bersabar menghadapi sikap polos Freya. Tapi entah kenapa untuk kali ini rasanya benar-benar di luar batas. Dipermalukan di depan umum untuk pertama kalinya, meskipun di kegelapan dan orang-orang tak melihat wajahnya tetap saja bagi Arka ini seolah meruntuhkan harga dirinya, dan parahnya istrinya yang melakukannya. Apa salahnya mencium istri sendiri, dosa? Tentu saja tidak, karena agama bahkan memberikan pahala untuk suami yang mencium istrinya begitupun sebaliknya. Bahkan anak SMP saja sudah banyak yang melakukannya.
Bagaimana bisa Freya nya itu begitu lugu soal hal itu. Bukankah dia penggila drama korea? Bukankah di drama korea hal itu sudah lazim? Kenapa dia tak belajar cara memperlakukan pasangan dari drama korea malah sibuk mengoleksi gambar-gambar yang bahkan tak lebih tampan dari suaminya, pikir Arka yang karena emosinya seolah lupa jika Freya nya itu gadis yang sangat penurut pada orang tua hingga tak mengenal cinta sama sekali hingga lulus putih abu, apalagi cara memperlakukan pasangan tentu tak terpikirkan oleh gadis itu.
Saat tiba di kamar Arka menerima panggilan dari Rendi yang mengingatkannya soal tugas kelompok yang harus mereka kumpulkan besok. Sepertinya takdir baik sedang tak berpihak Arka. Tugas bagiannya sudah selesai tapi sahabatnya yang tak berakhlak itu malah meminta bantuannya untuk mengerjakan tugas bagiannya dengan dalih harus menyelesaikan masalahnya dengan pacarnya yang sedang meranjuk karena siang tadi dirinya ketahuan jalan dengan adik tingkat.
Dengan jengah Arka pun menceritakan kejadian memalukan siang tadi, dan sialnya sahabatnya itu malah meledeknya seolah bahagia diatas penderitaannya. “Sialan lu malah ngeledek. Kayaknya gue harus privat kesabaran.” Ucapnya kemudian mengakhiri panggilan dan menyimpan ponselnya ke saku celana. “Ngenes banget ini hari, udah di bikin malu sekarang ketambahan harus ngerjain tugas si Rendi.” Batin Arka sambil menatap gelapnya langit malam itu, nampaknya sebentar lagi hujan akan turun.
Perhatian teralihkan saat Arka menyadari sepasang tangan yang melingkar di perutnya.
“Bang Ar maafin Freya.” Suaranya begitu pelan bahkan nyaris tak terdengar. “Freya janji ngga bakal gitu lagi.” Lanjutnya dibarengi dengan kepala yang menyender di bahunya.
Pelukan kaku dan suara penuh penyesalan itu berhasil meluluhkan lantahkan emosi Arka, Dielusnya tangan yang melingkar di perutnya kemudian melepaskan tangan itu. Arka berbalik menatap Freya yang menunduk di hadapannya. Jelas terlihat gadis itu begitu sedih bahkan air matanya hampir lolos jika tak tertahan.
“Bang Ar maafin Freya, jangan marah.” Ucap Freya lirih tanpa melihat Arka.
“Bang Ar.” Panggil Freya lagi karena Arka masih tak menjawab maafnya, kali ini air matanya benar-benar lolos membasahi pipi bersamaan dengan hujan deras yang turun malam itu. Freya sungguh merasa hatinya sesak, kali pertama Arka mengabaikannya sungguh semenyakitkan ini, padahal biasanya Bang Ar nya itu tak pernah marah padanya.
Arka sungguh tak tega membiarkan Freya menangis, kesal tentu saja iya tapi dari awal dia hanya mendiamkan Freya supaya gadis itu peka. Tak di sangka responnya sangat berlebihan. Arka mengangkat wajah Freya hingga bisa melihat wajah istrinya yang sudah dibasahi air mata. Di sekanya air mata itu dengan jarinya dan membawanya ke dalam pelukan. “Jangan nangis, jelek.” Ucapnya sambari mengelus punggung Freya dan mencium pucuk kepala gadis itu.
__ADS_1
“Abang udah ngga marah kan?”
“Ngga. Inget janji kamu Dek, jangan diulangi lagi!”
Freya melapaskan pelukan Arka dan mengangguk. “Iya Bang Ar, Freya janji.”
Arka mengelus kepala Freya. “Good wife, ayo masuk ujan, di sini dingin.” Ucapnya seraya menarik Freya masuk ke kamar dan menutup pintunya.
Freya mengikuti Arka masuk dan duduk di ujung ranjang. Arka menepuk pahanya menginstruksikan Freya untuk duduk di pangkuannya. “Duduk di sini.” Titahnya.
“Freya di sini aja Bang.” Ucapnya yang masih duduk di samping Arka.
“Katanya mau jadi istri yang nurut sama suami, sini kita belajar. Ngga usah bawa buku catatan sama alat tulis!” Titah Arka yang akhirnya berhasil membuat Freya duduk di pangkuannya.
“Akuntansi. Kamu anak akuntansi kan Dek? Tau persamaan dasar akuntansi ngga?” Tanya Arka sambil memainkan ujung rambut panjang Freya.
“Tau lah Bang. Kata guru aku, persamaan akuntansi yang bener tuh hasilnya harus balance.” Jawab Freya bangga, sambil melihat wajah suaminya dari dekat. “Ban Ar dari deket ganteng banget. Kok Asahi berasa lewat kalo dibandingin Bang Ar.” Batinnya.
“Dengerin yah Dek! hubungan ini kalo diibaratkan persamaan akuntansi, kamu dan aku sama sekali tidak balance.” Ujar Arka sambil menatap Freya yang nampak tak bisa memahami kata-katanya.
Freya mencoba mencerna perkataan suaminya, tapi tetap saja gagal paham. “Apa kaitannya persamaan akuntansi sama hubungan kita Bang?”
Arka menangku wajah Freya dengan kedua tangannya. “Hubungannya ini.” Ucapnya kemudian mencium sekilas bibir Freya. Freya nya itu terlihat begitu terkejut. “Karena yang tadi ngga selesai jadi ngga balance. maka dari itu harus di bikin balance sekarang.” Ucap Arka kemudian kembali mencium bibir istrinya lebih lama.
__ADS_1
Hanya ciuman biasa sebatas menempelkan bibir mereka dan mengigit-ngigit kecil bibir berwarna pink istrinya. Freya hanya diam dan menerima perlakuan Arka yang baru pertama kali ia rasakan sepanjang delapan belas tahun hidupnya di dunia. Jantungnya sudah jedag-jedug tak karuan, kali ini jantungkan bukan lagi sekedar maraton di dalam sana. Rasanya aneh tapi menyenangkan dan membuat dirinya tenang sekaligus bahagia. Seolah dirinya berada di kebun jeruk, memetik jeruk dan memakan manisnya buah itu diiringi lagu Orange dari tresure tentunya. “sebahagia ini di cium, kenapa ngga dari dulu aja Bang Ar.” Batin Freya.
Arka tau pasti ini ciuman pretama Freya, karena gadis itu begitu kaku dan tak membalas ciumannya apalagi membuka mulutnya dan membiarkannya mengekplorasi di dalam sana. Arka melepaskan ciumannya dan mengusap bibir Freya dengan jarinya, gadis itu terlihat masih bengong dengan apa yang baru saja mereka lakukan.
“Rasa stroberi.” Ucap Arka sambil tersenyum kemudian mengelus kepala Freya.
“Hah apa Bang?”
“Bibir kamu rasa troberi.” Ucap Arka sambil menunjuk bibir Freya. Membuat Freya reflek menutup bibirnya dengan kedua tangannya dan menenggelamkan kepalanya di bahu Arka.
Arka mengelus kepala Freya dengan tangan kirinya. “Why?”
“Malu.” Jawab Freya yang masih berada di pelukan Arka. “Kalo Bang Ar ngga suka rasa stroberi besok aku pake yang rasa jeruk atau ceri. Liptint aku ada beraneka rasa kok.” Imbuhnya.
“Suka kok Dek. Besok kita belajar lagi yah.” Ujar Arka yang makin mengeratkan pelukannya. Andai dia tak ingat tugas kuliah Rendi yang harus ia kerjakan, malam ini Arka akan mengajari Freya ilmu akuntasi versi dirinya lebih lanjut.
.
.
.
Sampe sini dulu, belajarnya dilanjut besok yah wkwkwk.
__ADS_1
Like dan komentarnya jangan ketinggalan!!