
Freya berdiri di balkon kamar, menatap langit gelap yang tampak indah dengan bintang-bintang yang bertaburan. Bagi Freya hari ini adalah hari yang paling menyebalkan sepanjang hidupnya. Hanya diakui sebagai adik sepupu saat statusnya adalah seorang istri. “Sungguh lucu kenyataan ini.” Batinnya diiringi senyum terpaksa dari bibirnya. Freya membalikan tubuhnya melihat ke dalam kamar, suami yang tak mengakuinya itu sedang sibuk dengan laptopnya. “Segitu sibuknya yah kamu Bang? Udah nggak anggep gue istri, marah-marah juga dan cuma segitu doang usaha lu minta maaf ke gue?” Ucapnya lirih sambil kembali membalikan tubuhnya kembali.
Dulu waktu di jodohkan Freya tak menolak dan berusaha menerima Arka demi menuruti keinginan mamanya. Setelah dijalani ternyata Arka selalu memperlakukannya dengan baik bahkan Freya merasa beruntung memiliki suami seperti Arka meskipun Arka tak menjawab ungkapan perasaannya kala itu.
Tapi tak diakui di depan teman-teman suaminya sungguh semenyakitkan ini. Anda waktu bisa diputar kembali Freya tak akan menemui Arka di kampus sehingga dirinya tak perlu merasa sakit hati karena tak dianggap, tak perlu juga mengalami di bentak-bentak oleh Arka dan yang terpenting tak perlu juga mengeluarkan air mata untuk kisah cintanya yang bahkan baru dimulai.
Arka memang bukan cinta pertama bagi Freya karena sebelumya gadis itu juga pernah menyukai kakak kelasnya saat SMK. Hanya saja rasa sukanya itu tak pernah diungkapkan karena larangan dari mamanya yang tak membolehkan dirinya pacaran saat sekolah. Alhasil hingga kakak kelasnya lulus Freya tak pernah sekali pun berbicara dengannya, hanya sebatas suka dalam diam.
Begitu pun dengan Ardi, lelaki yang kini jadi adik iparnya itu pun tak pernah mendapat perhatian lebih darinya selama bersekolah di sekolah yang sama bahkan di kelas yang sama pula. Dari awal masa orientasi siswa saat pertama kali Ardi mengungkapkan perasaannya pada Freya, gadi situ tak menanggapinya dan berusaha menjauh dari Ardi.
Lain halnya dengan kakak kelas yang ia sukai dalam diam dan pasrah, Ardi tetap berusaha mendapatkan dirinya bahkan sampai pindah jurusan. Hingga di masa-masa terakhir SMK nya Freya sudah memutuskan untuk memulai hubungan dengan Ardi yang selalu ada untuknya selama ini. Namun ternyata takdir berkata lain, Ardi bukanlah jodohnya melainkan menjadi adik iparnya.
“Tuhan apa ini balasan karena gue selalu mengabaikan Ardi? Orang yang suka sama gue sejak lama?” air matanya mulai kembali menetes.
“Tuhan tapi kan semua itu aku lakuin karena aku nurut sama Mama. Atuh please lah hidup aku jangan dibikin nyesek. Please yah yang maha kuasa aku kan anak baik.” Ucapnya lirih seraya menghapus air mata yang membasahi pipinya.
Kembali menatap langit gelap dengan taburan bintang yang indah. Setelah tiga minggu tinggal di rumah Arka, bagi Freya hari ini adalah yang paling mengecewakan. Waktu terasa begitu lama bergulir seolah tak membiarkannya untuk segera melupakan hari ini. Bahkan tak ada seorang pun selain Arka di rumah ini. Andai ada bunda Mira maka ia bisa langsung mencurahkan sakit hatinya dan membiarkan mertua kesayangannya itu memberikan pelajaran pada Arka.
Di saat sepeti ini tiba-tiba ia teringat pada Mama dan Papanya yang selalu memanjakannya. Ingin sekali mencurahkan sakit hatinya pada Mamanya tapi Freya tak mau membuat mamanya khawatir. Karena pasti mamanya akan segera menyusulnya jika tau menantunya membuat putri kesayangannya menangis. “Mama, Freya pengen pulang.” Ucapnya sambil menangis.
“Maaf.” Ucapan lirih yang disusul dengan sepasang tangan yang memeluknya dari belakang membuat Freya segera berontak untuk lepas tapi usahanya hanya sia-sia karena Arka memeluknya dengan erat.
__ADS_1
“Maaf karena Abang udah bikin kamu nangis.” Ucapnya kemudian mencium pucuk kepala Freya.
“Maaf karena udah bentak- bentak kamu.” Suaranya terdengar begitu penuh sesal.
Freya membiarkan Arka memeluknya, tak lagi berontak untuk lepas. Karena tak dipungkiri ia pun begitu rindu di peluk suaminya, padahal marahan juga belum sampe dua puluh empat jam udah kangen aja. “Nggak apa-apa Bang. Aku tau kok aku emang bukan istri yang baik, nggak bisa nyenengin Abang. Eh sorry bukan istri yah karena Abang cuma anggep aku adik sepupu.”
Arka membalik tubuh Freya supaya menghadap padanya. “Liat Abang Dek!” sembari memegang wajah Freya supaya menatapnya. “Kamu selalu jadi yang terbaik buat Abang. Dan Abang tau wajar kalo kamu marah karena Abang ngenalin kamu sebagai adik sepupu siang tadi. Tapi semua itu juga keinginan Abang Dek. “ Imbuhnya seraya memeluk Freya kembali. Sejauh ini Arka tau ternyata pelukannya bisa membuat Freya lebih tenang.
“Semua itu keinginan mama kamu sama bunda. Kamu inget kan Dek? Dari awal mama dan bunda tak ingin pernikahan kita diketahui oleh umum supaya seperti di novel-novel yang mereka baca.” Jelas Arka sambil membelai rambut Freya. “Dan semua ini salah Abang karena nggak lebih dulu ngasih tau kamu. Maafin yah.” Bujuknya sambil melepas pelukannya.
Freya menunduk di hadapannya. Arka membungkukkan tubuhnya supaya sejajar dengan Freya. “Dimaafin nggak Abang nya ini?”
Freya menatap Arka, “Iya dimaafin. Coba Abang bilang dulu ke aku kan masalahnya nggak akan jadi seribet ini Bang. Sakit tau hati aku Bang nggak di anggap.” Ucapnya sembari cemberut.
Freya terlihat berpikir keras. “Kapan coba aku nggak nganggep Abang?”
“Lah tadi siang ngapain kamu keganjenan sama Irfan. Sampe bilang apa tadi itu?” Lupa Arka.
“Cogan?” tebak Freya.
“Nah iya itu. sampe bisa-bisanya kamu ngajakin temen suami kamu pacaran, mana di depan suami sendiri.” Hanya mengingat kejadian siang tadi saja berhasil membuat amarah Arka menyala.
__ADS_1
“Yah itu mah beda kasus Bang. Kenapa Abang sakit hati kan Abang mah kagak cinta sama aku.” Jawaban polosnya meluncur begitu saja, tak sadar jika suaminya itu sedang dibakar cemburu.
“Kata siapa?”
“Kok kata siapa? Ya jelas-jelas aku tau lah Bang. Waktu itu, waktu aku bilang saranghae ke Abang. Abang bilang belum bisa saranghae sama aku.” Kali Freya ikut-ikutan terbawa suasana jadi emosi mengingat Arka yang menolaknya.
“Tapi kan waktu itu Abang bilang kalo ungkapan itu nggak penting Dek yang penting perlakuan!” Sanggah Arka yang tetap teguh dengan pendiriannya.
Freya menjauh dari Arka. “Tau ah.”
Arka memegang lengan Freya yang hendak menjauh darinya, membawa gadis itu kembali ke pelukannya. “I love you Freyanisa, My Wife My Treasure.”
Freya mendongakkan kepalanya menatap Arka, masih tak percaya ucapan yang baru saja ia dengar. “Abang beneran? Aku nggak lagi mimpi kan?”
.
.
.
Jiakhhh ini beneran apa mimpi sih?
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejaknya teman-temankuh tercintah!!