Jodoh Dari GC

Jodoh Dari GC
Tak perlu penjelasan!


__ADS_3

Mendengar wanita di hadapannya mengatakan ‘calon kakak sepupu’ membuat Freya spontan melepas jabatan tangannya, mentatap Lisa yang begitu cantik bahkan lebih menarik jika dibandingkan dengan dirinya. Gaya pakaian dan make up yang dikenakan pun membuat wanita itu terlihat modis berbeda jauh dengannya yang nyaris tanpa make up.


Tak ada petir yang menyambar, tak ada pula tangan yang menyakiti tubuhnya tapi rasanya begitu sakit hanya karena sebuah kata. Inikah makna lidah tak bertulang tapi mampu menyakiti siapa pun?


Tidak, bukan disitu letak masalahnya. Bukan salah Lisa yang berucap ataupun kalimat yang terucap dari bibir wanita itu. Yang salah adalah sosok yang begitu ia rindukan yang masih menjalin hubungan dengan wanita lain. Begitulah kira-kira isi pikiran Freya saat ini.


“Hei calon adik sepupu kenapa bengong?” Lisa menggerakan telapak tangannya di depan wajah Freya.


Freya tak mejawab, mengabaikan Lisa. Padangannya beralih pada Arka yang juga terdiam menatapnya. Jika tak ada orang lain di sekaitarnya saat ini mungkin air matanya akan terjun bebas dan segera memukul Arka habis-habisan. Jika perlu menumpakan semua tempe dan telur goreng yang susah payah ia buat di atas kepala Arka.


Rendi dan Irfan juga hanya ikut terdiam dengan suasana yang mendadak mendadak cangung. Mereka tak pernah mengira hal seperti ini akan terjadi. Hanya Lisa yang dengan percaya dirinya menguncang bahu Freya tanpa memperhatikan mata gadis itu yang mulai berkaca-kaca. “Hei calon adik sepupu lu kenapa?” ucapnya. “Nih anak kenapa sih Ren?” lanjutnya sambil menatap Rendi.


“Udah-udah lu jangan banyak omong. Ke dalem gih. Dicariin Tia dari tadi.” Usir Rendi.


“ogah ah ntar aja, masa ada calon adik sepupu mau gue tinggalin.” Jawab Lisa.


“Kali aja Kak Lisa mau ketemu adik ipar juga ada di dalam. Gue kesini sama adiknya Bang Ar.” Tutur Freya.


“Manis banget sih calon adik sepupu gue ini.” Tangannya menyubit gemas pipi Freya. “Ya udah yang gue masuk dulu mau ketemu adik ipar.” Imbuhya seraya menepuk bahu Arka.


Setelah Lisa masuk ke dalam, air mata Freya langsung terjun bebas membasahi pipinya.

__ADS_1


“Abang bisa jelasin semua ini Dek.” Ucap Arka sembari menyeka air mata Freya dengan jarinya tapi langsung di tepis kasar oleh Freya.


“Nggak ada yang perlu di jelasin. Bang Ar yang bilang ‘percaya apa yang kamu lihat bukan apa yang kamu dengar’ tapi hari ini aku percaya dua-duanya.” Ucap Freya kemudian berlari meninggalkan Arka dan dua sahabatnya yang masih terpaku di sana. Tak ada tujuan pasti kemana dirinya kan pergi, hanya ingin bersembunyi dari semuanya. Tak ingin ada yang meihatnya menangis.


“Argh runyam udah ini urusannya. Lu berdua harus bantuin ngejelasin semua ini ke Freya nanti.” Ucap Arka pada kedua temannya sebelum pergi mengejar Freya.


Arka mengacak rambutnya geram, “Argh kemana sih lu Dek. Cepet banget ngilangnya.”


Arka bahkan bertanya pada orang-orang yang sedang nongkrong di warung depan, tapi tak ada yang melihat Freya lewat sana.


Arka hendak kembali ke posko untuk meminta bantuan Ardi dan juga sahabatnya untuk mencari Freya, tapi langkahnya terhenti begitu mendengar isak tangis dari halaman kantor desa yang di lewatinya. Arka mendekati sumber suara itu dan benar Freya sedang menangis di sana seorang diri.


Arka menangkup wajah Freya dengan kedua telapan tangannya, menghapus air mata yang membasahi pipi gadis begitu ia sayangi. “Abang bisa jelasin semuanya sayang. Kamu salah paham.”


“siapa yang pegangan tangan coba? Apa Abang pegang tangan dia? Siapa juga yang panggil sayang? Abang atau dia?”


“Halah Abang pasti segaja dari tadi diem aja karena ada aku. Kalo nggak ada aku juga pasti sayang-sayangan.”


Arka membawa Freya ke pelukannya. “Bukan gitu Dek. Kamu bisa tenang dulu nggak sih. Kamu tuh kalo apa-apa nggak di pikir dulu main langsung ngambek aja kaya gini.”


The power of ngambek, Freya meronta hingga berhasil lepas dari pelukan Arka. “Apanya yang perlu di pikir coba Bang? Abang kira aku bodoh apa gimana?sebodoh-bodohnya aku juga paham kenapa seseorang bisa berucap calon kakak sepupu aku kalo dia emang bukan pacar Abang. Aku sadar kok Bang, aku mungkin nggak ada apa-apanya kalo dibandingin sama kak Lisa. Dia lebih cantik, lebih seksi dan lebih dewasa dari aku. Tapi setidaknya kalo Abang emang masih punya punya pacar kenapa Abang nggak jujur aja sama aku? Kalo Abang jujur dari awal kan aku nggak perlu jatuh cinta sama Abang. Kita bisa pura-pura jadi suami istri beneran kemudian cerai setelah satu tahun aku rasa cukup, aku bisa jadi janda tapi perawan dan Abang bisa nikah sama pacar Abang.” Ucap Freya sambil terisak disela-sela tangisnya. “Tapi sekarang semuanya terlambat, aku udah nggak bisa jadi janda yang perawan lagi.” Imbuhnya.

__ADS_1


“Sayang kamu itu mikirnya kejauhan.” Ucap Arka sambil mengelus kepala Freya.


“Kejauhan gimana?” Bentak Freya, kemudian menjauhkan kepalanya dari tangan Arka. “Abang selalu bilang aku mikirnya kejauhan. Tapi nyatanya apa? Ternyata pikiran aku yang kejauhan itu terbukti nyata dan Abang punya pacar di sini. Semua yang Abang bilang soal kepercayaan pun mana buktinya? Hoax doang, omong kosong. Aku sadar sekarang, Abang pasti selama ini cuma manfaatin aku yang polos dan lugu ini buat kesenangan Abang sendiri. Aku bahkan udah nyerahin semuanya ke Abang tapi Abang malah pacaran di belakang aku. Bang Ar jahat. Aku benci Bang Ar.” Ucap Freya sambil memukul dada Arka berulang kali.


Arka hanya menepuk pelan punggung Freya, berharap gadis itu bisa menjadi tenang. “Abang bakal jelasin semuanya kalo kamu udah tenang.”


“Nggak ada yang perlu di jelasin! aku benci Abang.” Freya menghapus ari matanya kemudian pergi meninggalkan Arka.


Arka hanya mengikuti Freya dari belakang, membiarkan gadis itu berjalan sendiri karena ia tau percuma berbicara dengan Freya sekarang tak akan ada hasilnya.


“Ardi ayo balik.” Teriaknya dari depan pintu.


Ardi keluar menghampiri Freya, “Lu abis nangis?”


“Nggak. Buruan buka kuncinya gue mau masuk mobil.”


Ardi menekan kunci di tangannya, Freya segera berjalan dan masuk ke dalam mobil. Melewati Arka begitu saja tanpa berucap sepatah kata pun. Ardi yang melihat tingkah aneh Freya menatap lekat kakaknya. “Freya kenapa nangis?”


“Dia cuma salah paham. Hati-hati bawa mobilnya.” Arka menepuk bahu Ardi.


“Jangan pernah nyakitin Freya Kak, dia bukan sekedar kakak ipar buat gue.”

__ADS_1


“Iya gue tau dia juga temen sekolah lu kan?”


“Lebih dari itu!”


__ADS_2