Jodoh Dari GC

Jodoh Dari GC
Ku tunggu jandamu


__ADS_3

Sejak selesai berchat ria dengan teman-teman grup chatnya, Bunda Mira jadi mondar mandir sambil berulang kali menghubungi nomor putra dan menantu kesayangannya, tapi tak satu pun dari keduanya yang menjawab. Pasalnya dalam chat-chat unfaedah yang kebanyakan berisi kegiatan ranjang yang tak perlu diumbar tapi malah jadi bahasan sehari-hari mereka, terselip pesan dari besannya jika menantu dan anaknya sudah berangkat jadi sore kemarin. Tak habis pikir kenapa sudah pergi sejak sore kemarin tapi hingga saat ini mereka berdua belum terlihat. Bunda Mira melirik sang penanda waktu yang berada di pojok ruangan tempatnya berdiri, sudah pukul tiga belas lewat tiga puluh menit. Pikirannya semakin gak menentu, khawatir terjadi hal yang tak diinginkan pada putra dan menantunya.


"Masih aja mondar mandi begitu, Bunda kenapa sih?" Tanya Ardi yang baru saja turun dari kamarnya. Tiga puluh menit yang lalu saat dia meninggalkan bundanya ke kamar wanita paruh baya itu sudah mondar-mandir.


Bunda Mira berjalan menghampiri Ardi, "Kakak sama kakak ipar kamu sudah berangkat pulang dari kemarin sore tapi sampai sekarang belum sampe juga. Ibu jadi khawatir mereka kenapa-napa." Wajah was-was jelas terlihat pada wanita paruh baya itu.


"Ya tinggal di telpon aja Bun. Udah gede ini mereka tuh."


"Justru itu yang bikin Bunda khawatir dari tadi udah ditelpon, tersambung tapi tidak ada jawaban." Ucap Mira.


"Coba Bunda telpon temen kakak, mereka kan perginya bareng." Usul Ardi.


"Bunda tidak punya kontak temen kakak mu. Tapi kalo kontak mamanya Rendi bunda punya kayaknya soalnya kita satu grup arisan." Ucap Mira sambil mencari kontak yang hendak ia hubungi.


Setelah tersambung dengan Mama Rendi, wanita itu langsung menanyakan keberadaan Rendi hingga akhirnya wajah was-wasnya berubah jadi kesal.


"Dasar anak nakal." Ucap Mira setelah mengakhiri panggilannya. "Ardi ayo anterin Bunda!" Pintanya.


"Kemana Bun?"


"Apartemen Cempaka." Jawab Mira.


"Ngapain kesana Bun? Bunda mau arisan?" Tanya Ardi setelah duduk di balik kemudi, dengan sang Bunda yang duduk di sampingnya.


"Nyusulin kakak kamu. Anak nakal di suruh bawa pulang Freya malah di bawa kabur. Padahal bunda udah kangen banget sama Freya." Gerutu Mira.


"Kok kakak bisa punya apartemen Bun? Bukannya apartemen di sana mahal banget yah?"


"Itu kado pernikahan dari Bunda sama Ayah."


Sekitar tiga puluh menit mobil yang membawa mereka sudah berhenti di basement dengan sempurna. Bunda Mira dengan cepat menuju lift. Tiba di lantai empat wanita itu dengan cepat menemukan unit dengan angka dua puluh tujuh. Unit spesial yang ia pilih dengan nomor sesuai dengan tanggal pernikahan anaknya.


Tangan Mira dengan terampil menekan kode pintu masuk di hadapannya. Sementara Ardi hanya berdiri di belakang Bunda Mira.

__ADS_1


"Bun kenapa nggak tekan bel aja sih, ntar juga dibukain pintunya." Ujar Ardi.


"Nggak usah. Bunda hafal kok kodenya. Sekalian mau kasih kejutan sama kakak kamu itu." Jawab Mira kemudian kembali menekan kodenya dari awal.


Ting... kunci Pintu terbuka, Mira dengan cepat masuk ke dalam.


"Arkana Rahardian dimana kamu. Bisa-bisanya..." Ucapnya belum selesai tiba-tiba auto berhenti begitu melihat pemandangan di depan matanya. Sang menantu sedang duduk dipangkuan putranya, mengalungkan kedua tangannya di leher Arka, berciuman dengan mesra sampai tak sadar ada yang baru saja berteriak memanggil namanya.


"Astaga anak jaman sekarang." Mira sontak menutup wajahnya dengan telapak tangan, tapi dasar emak-emak milenial meskipun menutup wajah tetap saja ia merenggangkan jarinya hingga bisa melihat live silahturahmi bibir yang tak jauh dari tempatnya berdiri.


Ardi yang penasaran kenapa bundanya tiba-tiba terdiam mensejajarkan dirinya di samping sang bunda. Tak kalah terkejut dengan bunda Mira tapi untungnya akal sehatnya segera memberikan solusi sebelum keadaan nonton live itu berlanjut semakin jauh karena bisa menodai pandangan yang ia jaga selama ini.


"Ehm." Sekali tak ada respon.


"Ehm." Dua kali dengan lebih keras tapi masih tak ada respon. Mereka benar-benar sudah larut dengan kegiatan itu.


Dengan sangat malas dan terpaksa Ardi berjalan menghampiri keduanya dan berdiri di belakang sofa.


"Hei Fre, lu udah balik." Sapanya dengan berteriak.


Dengan buru-buru ia mengelap bibir basahnya pada baju Arka.


"Eh Di.. sejak kapan di situ kok nggak ketuk pintu." Tanya Freya pada adik ipar yang sudah duduk.


"Sejak tadi. Sama Bunda juga." Jawabnya sambil menunjuk Bunda Mira yang sedang berjalan ke arah mereka. Freya semakin malu, bahkan untuk menyapa mertuanya kini pun ia tak sanggup. Lain halnya dengan Arka yang bersikap biasa saja.


"Arka kamu ini bagaimana? Bukannya bawa menantu bunda pulang ke rumah kok malah pulang kesini sih. Mana nggak ngasih kabar dulu ke rumah. Kamu nggak tau bunda udah setengah mati cemas takut kalian kenapa-napa." Ujar Bunda Mira.


"Maaf Bun." Ucap Freya pelan.


"Sayang Bunda bukan marahin kamu." Mira berpindah duduk di samping Freya. Menarik gadis yang sedang menyembunyikan wajahnya di bahu Arka, memeluk erat menantunya setelah empat hari tak bertemu. "Bukan salah kamu tapi suami kamu tuh. Jangan pergi lagi yah. Kalo Arka nakal kasih tau bunda aja biar bunda hukum." Lanjutnya.


"Iya Bun."

__ADS_1


"Tapi Bunda seneng liat kalian seperti tadi. Makin mesra. pasti kamu udah praktekin ilmu-ilmu dari temen-temen grup chat Bunda kan?"


Ucapan Mira sukses membuat pipi Freya blushing, pikirannya langsung mensimulasikan bagaimana jika ia mempraktekan ajaran melayani suami versi emak-emak GC, pasalnya selama ini ia belum bisa banyak ambil kendali dirinya terlalu sibuk dibuat terbuai nikmat oleh permainan Arka.


"Ilmu apaan?" Pertanyaan Arka berhasil membuyarkan lamunan Freya.


"Hm bu.. bukan apa-apa kok Bang." Jawab Freya gugup.


"Oh." Arka menarik Freya supaya kembali duduk lebih dekat dengannya. "Kirain ilmu bikin baby." Bisiknya yang langsung dihadiahi cubitan di perut oleh Freya.


"Aduh, Sakit tau Dek." Ucap Arka sambil memeluk erat Freya.


"Orang kalo lagi seneng mah gitu suka lupa diri nggak tau sikon. Kita tuh dianggapnya pajangan kali yah Bun." Sindir Ardi.


"Sengaja gue, biar lu tau kalo Freya tuh bener-bener milik gue. Lu udah nggak ada kesempatan buat nikung." Ucap Arka tanpa melepas pelukannya.


"Abang..." Panggil Freya lirih.


"Apa? Abang udah tau semuanya kalo kalian dulu lebih dari sekedar teman iya kan?" Tanya Arka sambil melihat Freya yang masih dipelukkannya.


Freya hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. "Tapi sekarang aku istri Bang Ar. Ardi itu adik ipar aku." Imbuhnya, ia takut Arka akan marah.


"Udah jangan memelas gitu wajahnya. Abang nggak marah kok. Abang tau kamu cintanya cuma sama Abang, iya kan?" Tanya Arka sengaja, meskipun ia tau adiknya sudah merelakan Freya tapi egonya ingin memberitahu si adik bahwa ia sudah tak bisa berharap pada Freya.


"Iya." Jawab Freya.


Ardi turut bahagia melihat Arka dan Freya begitu mesra bahkan tanpa diberitahu pun ia sudah sadar bahwa sejak mereka menikah sudah tak ada harapan baginya. Tapi kebahagiaan itu satu paket dengan kesedihan, meski sudah ikhlas tetap saja masih ada nyesek-nyeseknya dikit. Mungkin jika suatu saat dia sudah memiliki orang yang menggantikan posisi Freya dihatinya barulah rasa sakit itu hilang dengan sepenuhnya.


"Nggak usah pamer kemesraan di depan gue. Gue seneng kalo kalian seneng." Ujar Ardi.


"Fre kalo Kakak macem-macem cerein aja. Kutunggu jandamu." Ledek Ardi sambil tertawa yang langsung mendapat hadiah lemparan bantal dari Arka.


"Bercanda doang kak." Ucap Ardi kemudian bangkit dari duduknya. "Kita pulang Bun, percuma di sini kita cuma dianggap pajangan." Imbuhnya seraya berjalan menjauh.

__ADS_1


Mira segera menyusul si bungsu. "Bunda tunggu kalian nanti malam di rumah. Kita makam malam bersama." Ucap Mira sebelum pergi.


__ADS_2