
"Ya ampun Kak HP gue itu..." Ardi mengambil HP nya yang teronggok di lantai, masih berbentuk hanya LCD nya yang retak parah. "Pokoknya gue minta ganti HP baru!"
"Iya ntar gue beliin. Coba kalo lu bisa jagain kakak ipar kagak bakalan dah ada kejadian seperti ini Ardi." Ujar Arka. Tangannya terus membelai punggung Freya, merasa bersalah tak bisa melindungi sang istri. Hingga gadis itu mengalami hal yang menyakitkan sekaligus memalukan dihari pertama kuliah.
"Yang suaminya Freya siapa sih? Elu apa gue Kak? Perasaan gue mulu yang elu salahin deh. Kakak harusnya bisa ngurus mantan yang nggak tau diri. Kalo perlu kakak resign aja jadi suaminya Freya, biar gue gantiin."
Arka melemparkan bantal di sampingnya hingga mengenai wajah Ardi, "sembarangan lu kalo ngomong!"
Tak mau kalah Ardi melempar balik bantal itu ke wajah sang kakak, tapi berhasil di tepis oleh Arka. "Abisnya lama-lama gue kesel liat lu berdua tuh. Ribet amat hidupnya. Tinggal bilang aja udah nikah. Freya istri Arka. Arka suami Freya dan gue adik ipar paling baik sedunia. Beres kan?" Ucap Ardi memberi saran.
"Nggak semudah itu Ardi Rahardian! Lu tau sendiri gue udah umumin kalo gue udah nikah. Yang waras iya pada hengkang dan nggak ngedeketin lagi. Tapi Lisa tuh nggak waras. Nggak tau tuh cewek emaknya ngidam apa pas hamil bisa nggak tau malu banget anaknya."
Mendengar obrolan Ardi dan Arka membuat Mira geram, putranya mengumumkan status pernikahan tanpa sepengetahuannya. "Stop... stop... kalian jangan ribut!" Teriak Bunda Mira.
"Arka jelasin sama Bunda! Kenapa kamu umumin status kamu tanpa konfirmasi dulu sama Bunda?"
"Arka nggak mau terus di kejar-kejar perempuan Bun. Dan lagi apa Bunda nggak pernah mikirin gimana perasaan mantu Bunda ini, kalo lihat suaminya di dekati wanita lain? Aku nggak mau lihat istri aku sedih lagi Bun, cukup sekali aku bikin dia nangis sampe pulang ke Jogja. Aku nggak mau itu terulang lagi."
Kini Bunda Mira jadi bingung sendiri, keinginannya untuk merahasiakan pernikahan sang anak justru membuat mereka dalam masalah.
"Dan lagi aku nggak mau Freya di dekati lelaki lain Bun." Lanjut Arka.
"Bang Ar?" Panggil Freya lirih.
"Hm."
"Maaf, tadi pagi di kampus aku ketemu kak Tito lagi. Siangnya juga dia nyamperin aku pas nungguin Ardi. Aku nggak ada niat sama sekali buat nanggepin dia Bang. Aku juga udah bilang kalo kita udah nikah. Tapi Kak Tito nggak percaya, terus nggak tau datang dari mana tiba-tiba Kak Lisa datang dan nyiram aku pake jus tomat." Tanpa di minta Freya menjelaskan insiden siang tadi, meski pun Arka sudah melihat vidio yang diunggah.
"Abang ngerti kok. Nggak apa-apa Abang tau bukan kamu yang deketin Tito."
"Tapi gue rasa ini aneh. Kakak sama Freya udah sama-sama ngaku nikah. Kenapa Tito sama Lisa nggak percaya? Harusnya mereka mundur dong. Masa iya zaman sekarang masih nguber aja pasangan halal orang lain yang udah jelas-jelas nggak bisa di dapetin?" Tanya Ardi.
"Entahlah gue juga nggak ngerti Di." Jawab Arka.
__ADS_1
Arka menatap Ayah dan Bundanya bergantian."Bunda selama ini aku nggak pernah nolak keinginan Bunda, tapi kali ini biarin aku nolak keinginan Bunda buat ngerahasiain pernikahan ini. Aku mau semua tau Bun. Supaya tak ada lagi yang mengusik rumah tangga kami." Pintanya sambil terus menggenggam tangan Freya.
"Dari awal Ayah sudah tak setuju dengan ide Bunda kamu yang ingin merahasiakan hubungan kalian. Ayah tau cepat atau lambat hal seperti ini akan terjadi. Tapi Bunda tetep ngeyel aja pengen seperti di novel-novel yang tak masuk akal." Bayu yang selama ini lebih banyak diam, kini menyuarakan pendapatnya. Tak ingin lagi istrinya melanjutkan keinginan konyol yang tak masuk akal. Ia tak mau rumah tangga anaknya hancur hanya karena hal sepele yang bisa menyebabkan salah paham diantara mereka kedepannya.
Bunda Mira hanya terdiam mendengar penuturan suaminya. Tak mampu lagi berkata apa-apa. Semua yang diucapkan Bayu benar adanya. Kini ia sadar jika dirinya sudah terlalu hanyut dalam dunia biru dan melakukan hal yang merugikan anaknya.
"Dan sepertinya mantan pacar kamu itu bukan orang biasa Ar. Ayah yakin dia sudah meminta orang untuk menyelidiki Freya. Tadi siang saja ketua RT komplek kita menghubungi ayah dan menanyakan soal Freya. Mungkin itu yang jadi alasan dia tak percaya jika kalian sudah menikah, karena tadi ayah jawab kalo Freya saudara jauh kita. Sesuai keinginan bunda mu. Ayah nggak tau kalo jadinya akan seperti ini." Tutur Bayu.
"Ayah akan umumkan pernikahan kalian secepatnya. Kalian tinggal diskusikan ingin resepsi yang seperti apa." Imbuhnya.
"Aku nggak masalah soal resepsi mau seperti apa Yah. Kita ngikut aja. Iya kan Dek?"
"Iya Bang." Jawab Freya. "Aku nggak mau aneh-aneh kok asal sama abang aja aku udah bahagia." Imbuhnya.
"Bagaimana kalo kita umumkan pernikahan Arka saat ulang tahun perusahaan saja? Kan tinggal dua bulan lagi." Usul Mira yang kemudian berpindah tempat duduk, kini ia duduk di samping Freya yang masih bersandar di bahu Arka.
"Maafin Bunda yah." Ucapnya sambil menatap Freya dan Arka bergantian, "Bunda nggak pernah nyangka jika pernikahan rahasia ini bikin kalian dalam masalah."
"Iya. Gue tau lu mah kagak bakal kalah kalo cuma ribut model begitu mah. Tapi gue nggak jamin lu bisa tetep menang kalo dia bikin lu sama kakak salah paham lagi kayak waktu KKN, soalnya otak lu dangkal Fre." Ucap Ardi.
"Lu kagak bisa apa muji gue dikit aja Ardi!"
"Nggak bisa. Haram hukumnya." Si adik ipar tertawa mengejek, "lu minta di puji sama gue? Kerjaan lu aja nyontek sama gue mulu dari dulu."
"Bang Ar tuh adiknya nggak sopan sama aku." Adunya pada Arka.
"Ngadu aja terus ngadu, lu kagak malu." Ejek Ardi.
"Abang ih Ardi tuh ngeselin." Rengek Freya.
"Kalian bisa nggak jangan kayak anak kecil. Ribut mulu." Ucap Arka.
"Ardi tuh...."
__ADS_1
"Bini lu tuh kayak bocah." Ardi tak mau kalah.
"Sudahlah kalian berdua sama-sama bocah." Ucap Bayu pada Freya dan Ardi. Ia tak mengerti menantunya itu sungguh mudah berubah. Tadi gadis itu tampak serius dan dewasa saat diajak membahas status pernikahannya, tapi kini sudah berubah lagi menjadi bocah yang manja dan tak mau kalah.
"Jadi bagaimana keputusan kalian? Apa kalian tak keberatan jika resepsi pernikahan kalian dilakukan dua bulan lagi sekalian ulang tahun perusahaan? Karena banyak hal yang harus di persiapkan." Tanya Bayu.
"Kami tidak keberatan yah. Aku setuju. Kamu juga kan Dek?" Tanya Arka yang jawab anggukan oleh Freya.
"Baiklah, kita bisa mulai persiapannya Bun." Ucap Bayu pada Mira.
"Karena semua sudah diputuskan, kalo gitu aku dan Freya pamit pulang." Ucap Arka sambil beranjak dan menyalami kedua orang tuanya.
"Menginap disini saja sayang." Ujar Mira pada Freya yang baru saja mencium punggung tangannya.
"Lain kali aja Bun. Aku pengen ngabisin waktu berdua aja sama Freya." Jawab Arka. "Kita pulang dulu Di." Pamitnya pada Ardi.
"Iya gih sana balik. Ajarin istri kakak ngerjain tugas biar pinter kuliahnya. Jangan diajarin yang enggak-enggak mulu!"
"Biarin, supaya lu cepet punya ponakan Di." Timpal Arka.
"Jangan dulu deh Kak, gue kasian ntar ponakan gue malah rebutan mainan sama emaknya. Mengingat emaknya yang kayak bocah." Ejek Ardi pada Freya.
Arka tak mau lagi berlama-lama di sana. Ia segera membawa Freya keluar dari rumah orang tuanya sebelum keributan ala anak TK terjadi di rumah mewah itu.
.
.
.
udah double up nih.
Like dan komentar hukumnya wajib!
__ADS_1