Jodoh Dari GC

Jodoh Dari GC
Bertamu


__ADS_3

Setelah mendapat bukti yang menurutnya cukup untuk membuktikan jika insiden di malam inagurasi adalah jebakan Lisa, Tito memutuskan untuk mengunjungi rumah Arka. Tujuannya tentu saja untuk meminta maaf sekaligus menjelaskan semua pada Freya. Meskipun mungkin Freya akan membencinya setelah mendengar semua karena bagaimana pun dari awal ia sudah setuju dengan rencana Lisa, meskipun terpaksa tapi tetap saja jalan yang ia ambil salah. Bukan begitu cara mendapatkan orang yang kita cintai.


Dari kejauhan Tito menatap bangunan mewah bernuansa putih yang katanya kediaman keluarga Rahardian. Kini nyalinya kembali menciut, rasanya ia belum siap menerima kenyataan jika Freya akan membencinya. Ditambah lagi ia juga belum siap jika di rumah itu ada suami dari gadis yang pernah memberinya surat cinta, mengingat Freya selalu berkata jika ia sudah menikah meski dia tak pernah mengatakan siapa suaminya.


Ingatannya kembali pada kejadian di depan fakultas, saat Arka meminta dia untuk menjauhi Freya. Laki-laki itu pun mengaku sebagai suami Freya. Sama halnya seperti Lisa, dia pun mencoba tak percaya akan kata-kata Arka dan menganggap itu hanya cara saudara melindungi adiknya dari lelaki lain. Tapi semakin hari ia semakin ragu karena Freya yang berulang kali berkata sudah menikah. Tanpa sadar Tito memukul kendali dihadapannya hingga klakson mobil itu berbunyi, dan seseorang menghampirinya, mengetuk kaca disampingnya.


Tito menurunkan kacanya dan tersenyum pada lelaki paruh baya di sampingnya.


"Saya perhatikan udah berhenti di sini lama. Ada yang bisa saya bantu?" Tanyanya.


"Nggak Pak. Saya cuma lagi mastiin alamat aja. Mau ke rumah Arkana. Apa benar yang itu rumahnya?" Basa-basi Tito sambil menunjuk rumah yang didominasi warna putih.


"Iya bener itu rumahnya. Arkana putranya Pak Bayu Rahardian kan?"


"Iya bener itu." Jawab Tito. "Ngomong-ngomong anaknya Pak Bayu udah ada yang nikah belum Pak?" Tanya Tito.


"Belum. Masih kuliah dua-duanya."


Mendengar jawaban itu membuat hati Tito bersorak hip hip hore di dalam sana, "Yes... berarti si Freya selama ini bohong, dia belum nikah. Ternyata info yang dari Lisa bener kalo Arka cuma ngaku-ngaku udah nikah dan bilang Freya itu istrinya itu cuma buat bikin Lisa ngejauh dari dia. Setidaknya gue masih punya kesempatan." Batin Tito.


"Oh gitu. Makasih Pak. Saya permisi." Tito melajukan kembali mobilnya setelah mendapat anggukkan dari Bapak-bapak tadi.


Mobil sudah berhenti sempurna di halaman rumah Arka. Tito kembali memutar rekaman di ponselnya. "Asal gue jelasin Freya pasti bisa maafin gue. Toh jelas-jelas disini juga di jebak. Meskipun gue setuju sama rencana awal tapi kan gue nggak pernah niat buat ngapa-ngapain dia." Gumamnya kemudian turun dari mobil.


Tito berulang kali menekan bel rumah tapi pintu tak kuncung terbuka, selang beberapa menit ia mendengar suara yang sangat ia kenali dari dalam sana.


"Kak Tito?" Freya tampak terkejut mendapati senior yang berdiri di depan pintu, "masuk Kak." Lanjutnya.


Tito mengangguk kemudian masuk ke dalam rumah, duduk di kursi tamu setelah Freya mempersilahkan. Gadis itu pun ikut duduk di hadapannya.


"Kakak kok bisa tau gue tinggal di sini? Bentar yah gue bikinin minum dulu." Ujar Freya.


"Nggak usah Fre." Larang Tito, "lu duduk aja! Ada yang mau gue omongin sama lu. Penting." Ucap Tito dengan serius.

__ADS_1


"Bentar aja Kak. Gue bikinin minum dulu. Nggak sopan ada tamu nggak di kasih minum. Bentar yah." Freya beranjak dan meninggalkan Tito ke dapur untuk membuat minuman.


Freya membuka lemari es dan mengeluarkan jus jambu kemasan, menuangkan jus itu ke dalam gelas.


"Abang nggak mau jus jambu sayang, maunya buah kedongdong yang manis." Ucap Arka yang tiba-tiba sudah berdiri di belakang Freya. Ia menyandarkan kepala di bahu Freya dengan tangan yang sudah melingkar di perut istrinya.


"Bukan buat Abang. Buat temen aku. Abang mau minum apa? Biar aku bikinin sekalian."


"Mau lemon tea aja sayang, tapi nggak usah pake gula. Banyakin lemonnya aja yah." Pinta Arka.


"Makin aneh aja Abang ih. Ntar asem lah."


"Mau gimana lagi, si caby maunya itu." Rengek Arka manja.


"Caby?" Tanya Freya sambil memutar badannya menghadap Arka.


"Caby sayang, calon baby." Jawab Arka. "Ini si caby kita." Imbuh Arka sambil mengelus perut Freya.


"Oh, oke papanya caby mending ke depan aja gih temuin temen aku. Ntar aku bawain teh lemon ke depan." Ucap Freya sambil memotong dua buah lemon.


"Lihat aja ke depan. Abang kenal kok."


Arka menurut, ia meninggalkan dapur untuk menemui tamu Freya.


"Rajin banget si Miya bolak balik mulu. Padahal baru tadi pagi itu bocah dianterin pulang sama Ardi. Eh sekarang udah balik kesini lagi." Batin Arka yang mengira tamu Freya adalah Miya.


Freya menyeduh teh dengan air panas kemudian menambahkan perasan lemon. Mengaduk minuman itu dan mencicipinya sedikit karena penasaran. "Gila asem banget."


Freya meletakan gelas berisi lemon tea dan jus jambu pada nampan, kemudian membawanya ke depan.


Matanya membulat sempurna, bibirnya terbuka tapi tak bisa bersuara. Nampan berisi jus jambu dan lemon tea sudah terjun bebas ke lantai, serpihan pecahan gelas itu mengenai kakinya hingga berdarah. Freya menutup mulutnya dengan kedua tangan melihat sang suami dan orang yang pernah ia kirim surat cinta sedang baku hantam.


Tangan kanan Arka mencekram kerah baju Tito, sementara tangan kirinya terus memukul wajah dan perut Tito bergantian. Freya bisa melihat cairan merah di ujung bibir Tito, lelaki itu benar-benar tak berdaya menghadapi suaminya.

__ADS_1


"Abang... Apa yang Bang Ar lakuin!" Teriak Freya sambil berjalan menghampiri Arka, mengabaikan kakinya sendiri yang berdarah karena terkena pecahan gelas yang jatuh.


Suaminya terus membabi buta memukuli Tito, seolah tak mendengar ucapannya.


"Abang berhenti!" Teriak Freya sekali lagi tapi tampaknya Arka sudah benar-benar emosi, lelaki itu mengabaikan teriakan Freya.


Freya benar-benar frustasi tak bisa melerai keduanya, ia berlari keluar untuk memanggil satpam. Beruntung di halaman rumah ia bertemu dengan kedua mertuanya yang baru saja kembali.


"Bunda..." Freya berlari dan memeluk Mira.


"Kamu kenapa sayang?" Tanya Mira panik.


"Bang Ar mukulin temen aku di dalam Bun."


Mendengar jawaban Freya, Bayu lantas cepat-cepat masuk ke dalam rumah dan melerai keduanya.


"Arka stop! kamu bisa dipenjara mukulin orang kayak gitu." Ucap Bayu yang sudah memegang tangan kanan Arka.


"Tapi Yah dia yang udah bikin Freya nggak sadar semalam!"


"Tidak seperti ini caranya Arka." Bayu menjauhkan putranya dari Tito.


"Freya bawa suami kamu ke kamar." Titah Bayu.


Freya mengangguk dan menghampiri Arka. "Ayo Bang." Freya menarik lengan Arka.


"Gue nggak tau ada masalah apa. Tapi maafin Bang Ar yah, udah bikin Kakak babak belur." Ucap Freya pada Tito.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung...


Jangan lupa tinggalkan jejak like komen dan favoritkan!!


__ADS_2