
Mira yang hendak sarapan bersama Bayu dan Ardi menunda santap pagi mereka karena si menantu kesayangan yang belum hadir di meja makan. Pagi-pagi sebelumnya mereka biasa sarapan tanpa Arka dan Freya karena pasangan itu selalu sarapan kesiangan akhir-akhir ini. Namun mengingat hari ini tak ada Arka hingga Mira memutuskan memanggil Freya untuk sarapan bersama.
Mira menatap penuh sayang pada sosok yang sedang meringkuk di bawah selimut. "Sayang bangun ayo kita sarapan. Ayah sama Ardi sudah nunggu di bawah."
Entah habis mimpi apa pagi ini Freya bisa langsung membuka mata begitu mendengar suara Mira, padahal biasanya harus diguyur air segayung baru bangun.
Mengucek kedua matanya dan menyibakkan selimut, kali ini Freya duduk di tepi ranjang. "Aku kesiangan yah Bun. Maaf yah."
Mira memandang penuh tanya karena menantu kesayangannya mengenakan kemeja Arka yang kebesaran di tubuhnya. "Tidak apa-apa sayang." Mertua idaman semua wanita itu ikut duduk di samping Freya, tangannya membelai lembut rambut panjang Freya yang masih berantakan. "Kenapa kamu pake baju Arka sayang?" Imbuhnya.
"Hm ini." Freya memegang ujung bawah kemeja yang ia kenakan. "Biar berasa deket sama Bang Ar aja Bun, abisnya kangen." Seraya memeluk mertuanya.
"Dasar pengantin baru, Ada-ada aja. Ya sudah ayo kita sarapan."
"Aku mandi dulu deh Bun."
"Nanti aja mandinya. Kita sarapan dulu soalnya Ayah sama Ardi udah nunggu di bawah. Kalo harus nunggu kamu mandi nanti Ayah telat ke kantor." Ujar Mira.
Freya menurut, mengikuti mertuanya ke ruang makan masih dengan kemeja Arka dan celana training olahraga super nyaman.
"Kenapa lu pake baju kakak? Lu kaga ada baju apa?" Ucap Ardi sambil melirik penampilan Freya yang aneh. Sementara Bayu hanya menahan tawa melihat menantunya, baru kali ini di rumah mewah itu ada wanita yang mengenakan pakaian laki-laki.
"Jangan di dengerin ocehan Ardi sayang, ayo duduk. Ini bunda ambilin nasi gorengnya buat kamu yah." Mira menyendokan nasi goreng ke piring kemudian memberikannya pada Freya.
"Makasih Bun."
Mereka menyelesaikan sarapan diselingi obrolan-obrolan ringan. Kedua mertua Freya sangat menyayanginya. Mereka bahkan meminta Freya tak perlu sungkan selama di rumah meskipun sedang tak ada Arka. Freya menanggapi obrolan mertuanya dengan mengangguk dan tersenyum. Mira tau menantunya tak seceria biasanya, mungkin karena tak ada Arka. Bahkan sindiran dan ledekan yang keluar dari mulut Ardi pun tak di tanggapi, padahal biasanya mereka bisa sampe ribut kalo main sindir-sindiran.
Berulang kali Freya memeriksa ponselnya, berharap ada pesan atau pun panggilan masuk dari Arka. Tapi sayang harapannya tak terwujud. Sudah jam satu siang tapi masih belum ada kabar dari Arka, hanya satu panggilan tak terjawab pukul enam pagi tadi saat dirinya masih terlelap.
__ADS_1
"Lama-lama rusak tuh HP Fre lu bolak balik mulu." Ejek Ardi yang ada di sana. Keduanya sedang berada di taman belakang, Ardi sengaja tak keluar rumah hari ini karena Arka pagi tadi memintanya untuk tetap di rumah dan menemani Freya. Padahal tanpa diminta pun Ardi akan dengan sangat senang hati menemani kakak iparnya.
"Kok Bang Ar nggak ada ngirim pesan atau telpon ke gue ya Di?" Lagi-lagi Freya mengusap layar ponselnya.
"Sibuk kali Fre. Tadi pagi ada telpon ke gue kok. Katanya nelpon lu kaga diangkat."
"Hm.. iya sih ada satu kali, tapi pas gue masih merem Di." Bibirnya cemberut seolah menyesal kenapa pas Arka telpon dia masih di alam mimpi.
"Makanya lu bangun pagian kek. Kebiasaan lu bangun siang!"
"Gue nggak bisa tidur semalem tau."
"Kenapa? Tinggal merem aja susah amat!"
"Sepi kagak ada Bang Ar, Lu nggak punya cewek sih jadi nggak tau rasanya kangen gimana. Nyesek tau Di." Tutur Freya dengan wajah murung.
"Yaelah lu lebay banget Fre, kaya bocah baru pacaran aja." Ketus Ardi. "Lu cuma nyesek gara-gara kangen aja sampe segitunya Fre. Bayangin kalo lu jadi gue, tiap hari liat lu nempel sama kakak. Meskipun gue seneng lu bahagia tetep aja nyeseknya masih kerasa sampe sekarang." Ingin sekali Ardi mengucapkan kata-kata itu, tapi sayang semua hanya terucap dihatinya saja.
"Iya iya. Ya udah biar lu nggak bete nggak kesel gimana kalo kita jalan-jalan aja. Gue anterin deh kemanapun lu mau." Ajak Ardi.
"Beneran Di? Kemana pun?"
"Hm."
"Kalo gitu kita jalan ke posko KKN nya Bang Ar aja yuk!" Ajak Freya antusias.
"Buset dah. Kagak bisa lah kalo kesana Fre. Lagian mau ngapain ke sana? Kakak juga sibuk kali. KKN itu nggak sesantai kita waktu PKL." Tutur Ardi.
"Tapi gue pengen ketemu Bang Ar." Kini wajah antusiasnya perlahan menghilang.
__ADS_1
Ardi benar-benar hampir kehabisan akal harus bagaimana membuat Freya berhenti merengek seperti bocah yang ingin menyusul mamanya yang sedang kerja.
Satu chat masuk dari Miya membuat Ardi tersenyum. "Yang ini pasti bakal berhasil nih." Batinnya setelah membalas chat Miya. Sahabat Freya itu mengajak Ardi jalan-jalan ke mall untuk mencari hoodie Treasure yang belum lama ini mulai di pasarkan.
"Fre ikut yuk. Gue mau nemenin Miya nyari ini nih." Ardi menunjukan gambar hoodie warna hitam dengan tulisan 'find your treasure' yang baru saja di kirim Miya.
"Sumpah demi apa ini hoodie udah ready? Kuy Di kita otw." Freya langsung beranjak dari duduknya, wajahnya kembali ceria. "Gue ambil tas dulu bentar." Teriaknya.
Ardi menggelengkan kepalanya melihat kakak ipar yang berlari ke dalam rumah dengan semangat hanya karena sebuah hoodie, padahal sebelumnya wajahnya terlihat seperti orang yang hidup segan mati tak mau. "Ckck lu masih kalah sama cowok-cowok yang suka joged nggak jelas tenyata kak." Decak Ardi. Tiba-tiba pikirannya menerawang jauh membayangkan kehidupan rumah tangga sang kakak dengan gadis yang pernah ia cintai, bahkan sampai kini masih ada rasa yang tertinggal dihatinya untuk Freya. "Jangan-jangan Kak Arka tiap malam diajakin maraton drakor sama Freya. Jangan-jangan di kamar kakak udah penuh poster cowok nggak jelas suami halunya Freya. Ih gue ngeri ngebayanginnya." Batin Ardi yang kemudian menyusul Freya masuk ke rumah.
"Ayo Di." Freya sudah duduk di samping Ardi yang mengemudikan mobilnya.
Di sinilah mereka kini, mengelilingi Mall. Ardi dengan pasrah saja mengekor dibelakang dua gadis yang asik sendiri dengan obrolan mereka. Keadaan seperti ini sudah tak aneh lagi bagi Ardi karena sejak SMK dia sudah mengalaminya, bahkan berulang kali.
Sudah keliling sana sini dapatnya cuma hoodie yang bahkan menurut Ardi biasa saja. Bahkan dengan tidak sabarnya Freya dan Miya langsung menggenakan hoodie baru itu. Tak sampai disana, keduanya bahkan memaksa Ardi untuk memakai hoodie yang sama. Dengan terpaksa Ardi iya iya saja lah asal Freya senang.
"Wih keren Di, kegantengan lu nambah seribu persen pake hoodie itu." Ujar Miya.
"Gue udah ganteng dari dulu kali." Timpal Ardi.
"Makasih yah adik ipar terbaik gue yang udah ngajak jalan-jalan." Ucap Freya.
.
.
.
Segini dulu, yang kangen sama Bang Ar besok kita tengokin Bang Ar nya.
__ADS_1
like komen favoritkan jgn lupa!
aku ngelunjak sedikit deh sekarang, bagi vote nya.