Jodoh Dari GC

Jodoh Dari GC
Berdasarkan Drama Korea


__ADS_3

~Cintaku padamu tak harus dikatakan tapi bisa dirasakan, layaknya udara yang tak kau lihat tapi bisa membuatmu hidup~ Arkana Rahardian.


Arka menarik kedua sudut bibirnya hingga membentuk senyum yang menghiasi wajahnya. Tak macam-macam apalagi mahal, nyatanya sangat simpel membuat Freya nya bahagia. Hanya tiga lembar kertas ukuran besar yang menurutnya tak penting bahkan unfaedah bisa membuat istrinya tersenyum bahagia sepanjang hari.


Mereka berjalan bergandengan menyusuri Mall, sambil mendengarkan celotehan Freya yang lagi-lagi merasa senang karena akhirnya satu-persatu keinginannya di masa putih abu yang sudah berlalu bisa tercapai. "Seneng Bang, akhirnya jalan-jalan ke mall bareng cowok bisa terwujud." Ujarnya riang.


"Gimana kalo abis ini kita nonton?" Tawar Arka setelah melihat jam tangannya, masih banyak waktu yang bisa mereka nikmati. Ia ingat cerita Freya saat mereka berwisata ke candi borobudur yakni salah satunya nonton.


Freya nampak berfikir, "hm gimana yah Bang? Aku tuh pengennya kalo nonton sama pacar aku. Bang Ar kan bukan pacar aku."


"Tapi kan Abang suami kamu Dek."


"Tapi kan Bang Ar tadi katanya belum saranghae sama aku?" Ucap Freya sambil mengerucutkan bibirnya.


"Yaelah kenapa jadi balik lagi ke saranghae sih Dek. Abang kaga paham yang begituan. Asal kamu tau cinta itu tak selalu harus dikatakan yang penting bisa dirasakan." Jelas Arka.


Namun sepertinya Freya yang belum pernah mengenal cinta selain pada suami halunya itu gagal mencerna kata-kata Arka. Yang dia tau kalo cinta ya harus diungkapkan. Bagaimana pasangan kita bisa tau kita mencintainya kalo tak diungkapkan.


"Kok malah diem. Paham ngga?" Tanya Arka pada Freya yang masih terlihat sibuk dengar pikirannya.


"Udah jangan dipikirin. Kasian otak kamu kayaknya belum nyampe. Abang takut kalo kamu mikir keras ntar kepala kamu keluar asapnya, ngebul." Ledek Arka.


"Ish Abang kaya Ardi bahasanya pake bawa-bawa kepala keluar asap segala." Kesal Freya semakin mengerucutkan bibirnya yang malah membuat Arka semakin gemas hingga mencubit pipi gadis itu. "Itu bibir jangan dimanyun-manyunin! Minta di cium apa?" Ucap Arka yang membuat Freya reflek menutup bibirnya dengan tangan kirinya, karena tangan kanannya masih setia nempel di lengan Arka, kan biar kaya orang yang pada pacaran katanya.


"Udah ayo kita nonton, waktu di borobudur pernah bilang pengen nonton terus.." ucapannya tertahan rasanya konyol harus mengatakan pengen nonton terus di cium pas gelap. "Langsung eksekusi aja nanti." Batin Arka.

__ADS_1


"Tapi kan Bang aku pengennya..."


"Udah kamu bisa anggap Abang ini suami, pacar, kakak atau sahabat terserah kamu yang penting kamu nyaman." Greget Arka dengan sikap Freya yang ngga peka sama sekali. Padahal udah di kode, cinta tak perlu dikatakan yang penting kan bagaimana kita memperlakukan orang yang kita cintai.


"Kalo gitu buat Freya Abang bagaikan nasi dong."


"Maksudnya?"


"Iya nasi box paket komplit serba ada Bang. Udah enak, isinya banyak, bikin kenyang pula hehehe."


"Tau ah ngga ngerti Abang. Ayo!" Ucapnya seraya berjalan menuju tempat nonton.


Freya menunggu Arka yang antri membeli tiket dan beberapa camilan untuk teman nonton mereka. Arka memilih film yang akan mereka tonton asal saja karena tadi saat menanyakan film yang ingin ditonton oleh Freya, gadis itu hanya menjawab terserah. Lagi pula tujuan dari nonton ini bukan perkara film yang akan mereka liat melainkan misi yang akan segera Arka eksekusi, mewujudkan keinginan Freya yang kini juga menjadi keinginannya.


Film yang mereka tonton sangat menguras emosi dan Arka memanfaatkan hal itu. "Dek." Bisiknya pelan di telinga Freya dan membuat gadis itu menoleh padanya. " Apa Bang?" Jawabnya pelan. Arka memegang kedua pipi Freya dan menciumnya. Sesuai keinginan Freya dicium di kegelapan bioskop.


Awalnya tak ada perlawanan dari Freya hingga Arka melanjutkan ciumnya tapi tak selang lama gadis itu melepaskan ciuman Arka dan reflek berteriak. "Bang Ar mesum!"


Teriakan ditengah keheningan nan gelap itu berhasil membuat berpasang-pasang mata melirik ke arah sumber suara dan itu sukses membuat keduanya malu, hingga Arka menarik Freya untuk keluar dari sana.


Setelah keluar dari bioskop, Arka melepaskan genggamannya pada tangan Freya dan berjalan mendahului Freya, dengan langkah panjangnya membuat Freya harus sedikit berlari untuk mengimbangi Arka.


"Bang Ar jangan cepet-cepet. Abang kenapa sih?" Tanyanya yang masih tak sadar akan kesalahannya yang membuat Arka malu. Meskipun gelap dan orang-orang di sana tak mengenal mereka tetap saja malu.


"Astaga Freya kenapa lu ngga bisa peka. Bisa-bisanya lu teriak. Bikin malu aja. Udah gitu ngga sadar salah juga. Dasar bocah." Batin Arka yang mulai kehilangan kesabarannya.

__ADS_1


Hingga tiba di rumah Arka masih mendiamkan Freya. Pikirnya sekali-sekali dirinya yang ngambek ngga apa-apa, berharap gadis itu bisa peka jika didiamkan.


Arka masuk ke rumah lebih dulu, diikuti Freya yang membawa paperbag berisi poster di belakang Arka.


"Kalian udah pulang, makan malam dulu sini." Ujar Mira.


Arka tak menjawab dan berlalu menaiki tangga ke ke kamarnya. "Kita udah makan tadi luar Bun. Freya ke kamar dulu Bun." Ujar Freya yang kemudian menyusul Arka.


Freya merasa ada yang aneh dengan Bang Ar nya yang terus saja mengabaikannya sejak keluar dari bioskop tadi. Lelaki itu kini berdiri di balkon kamar dan menelpon seseorang.


Freya berusaha keras mengingat kesalahan apa yang ia perbuat hingga membuat suaminya mendiamkannya. "Perasaan gue ngga salah apa-apa kenapa Bang Ar ngambek sih. Apa gara-gara teriakan tadi?" Batin Freya.


Freya menghampiri Arka yang baru saja mengakhiri panggilannya, "sialan lu malah ngeledek gue. Tapi lu bener, kayaknya gue mesti privat kesabaran ini." Kalimat terakhir yang Freya dengar sebelum Arka menutup panggilannya dan memasukan ponselnya ke saku celana.


Freya masih berdiri di belakang Arka, dia tak tau apa yang harus dilakukan. Tapi belajar dari adegan drama korea yang ia tonton, dia memberanikan diri memeluk Arka dari belakang. "Bang Ar, maafin Freya." Ucapnya saat kedua tangannya melingkar di perut Arka dan menyandarkan kepalanya di punggung tinggi Arka. "Freya janji ngga bakal kaya gitu lagi." Lanjutnya.


.


.


.


Sampe sini dulu yah. Aku ngetik jam sebelas malem nih. Gila kan? Tapi demi kalian aku sempet-sempetin. Gimana menurut kalian udah ada progres kan Freya Arka?


Jangan lupa like, komen dan favoritkan!!

__ADS_1


__ADS_2