Jodoh Dari GC

Jodoh Dari GC
Efektif dan efisien


__ADS_3

Arka mengunci pintu kamar, berjalan ke ranjang kemudian duduk di sisi. Lelaki itu menarik selimut yang menutupi wajah Freya tapi tak juga terbuka karena gadis itu memegangnya dengan kuat.


"Buka aja sih Dek, udah pergi si Rendi kok."


Dengan perlahan Freya menurunkan selimutnya, setelah melihat hanya ada Arka disana gadis itu membuka selimut sepenuhnya kemudian duduk bersandar di kepala ranjang. Tangan kanannya memukul asal lengan Arka. "Abang sih tangannya nakal banget kan malu ketahuan kak Rendi." Umpat Freya. "Itu bibir juga main sosor aja Abang tuh nggak tau situasi dan kondisi banget." Lanjutnya sambil melotot kesal ke Arka.


"Loh kok nyalahin Abang? Kan kamu yang masuk terakhir. Lain kali kalo masuk kamar tutup pintu yang bener, terus jangan lupa di kunci. Lagian kan kamu yang mancing-mancing grapa grepe punggung Abang." Arka tak kalah kesal, mood nya jadi tak karuan karena lagi-lagi kepalang tanggung udah on ada saja gangguannya.


"Ih kok Abang ngegas sih. Abang yang grapa grepe kemana-mana, aku mah cuma nulis doang." Freya masih tak terima, mode ngambeknya mulai on. "Mau di taro dimana ini muka aku coba Bang? Malu kan sama Kak Rendi." Lanjutnya.


Dari pada ribut berkepanjangan dan berefek pada jatahnya yang tak juga ia dapat, Arka memilih mengalah meskipun tak salah yang penting si istri berhenti merajuk.


"Iya-iya maafin Abang yah. Abang yang salah." Tangan kanannya terulur mengusap kepala gadis yang duduk di hadapannya. Ia tau hal seperti ini mampu membuat mode ngambek Freya yang belum parah bisa segera menghilang.


Masih dengan bibir manyunnya Freya menatap Arka menikmati belaian di kepalanya. Perlakuan sederhana yang selalu membuatnya nyaman, merasa sangat di sayangi setiap Arka membelai ataupun sekedar mengusap kepalanya.


"Jangan manyun-manyun gitu. Jadi pengen cium Abang jadinya."


Dengan cepat Freya memajukan wajahnya dan mencium singkat bibir Arka.


Mmuach... "Udah tuh."


"Cie udah berani yah sekarang, Dedek Freya mulai nakal." Goda Arka.


"Mau lagi Bang?" Tanya Freya.


"Nggak, udah makasih." Arka mencubit pipi Freya. "Kalo di cium lagi ntar kebablasan." Imbuhnya.


"Kebablasan gimana Bang?" Tanyanya polos.


"Ya kebablasan ke yang lain lah." Arka melihat jam yang menempel di dinding kamar, sudah pukul tiga sore berarti satu jam lagi mereka harus segera berangkat ke Bandung.


"Mandi yuk udah sore. Bentar lagi kita berangkat." Ucap Arka.


"Ya udah Abang mandi duluan aja, aku mandi di kamar mandi dapur."


"Mandi di sini aja."

__ADS_1


"Nggak lah Bang, lama kalo kita gantian. Aku pake kamar mandi yang di dapur aja nggak apa-apa." Ucap Freya sambil turun dari ranjang kemudian mengambil handuk dan baju ganti.


"Ya udah kita mandi bareng aja Dek di sini!"


"What?" Freya begitu terkejut dengan ucapan Arka.


"Iya lah bareng aja di sini. Lebih efektif dan efisien."


"Nggak mau ah Abang. Malu." Tolaknya.


"Malu kenapa coba? Lagian Abang udah liat semuanya, kamu juga sama udah liat semuanya." Ucap Arka dengan entengnya.


Freya terlihat berpikir tapi tak lama karena sebelum persetujuan mandi bareng terucap dari bibirnya, Arka sudah menggendongnya ke kamar mandi. Saking terkejutnya bahkan handuk dan pakaian ganti yang ia pegang jatuh begitu saja.


Sepuluh menit, limat belas menit hingga dua puluh menit berlalu. Rekor mandi terlama Freya yang biasanya hanya dua puluh lima menit pun sudah berlalu tapi keduanya masih belum juga keluar dari kamar mandi. Entah apa yang mereka lakukan di dalam sana.


Detik jam sudah menunjukan pukul empat lebih dua puluh menit. Sudah molor dua puluh menit dari waktu yang mereka tentukan untuk berangkat pulang ke Bandung. Mama Ratna juga sudah dua kali bolak balik kamar sang putri memanggilnya untuk turun karena Rendi dan Irfan sudah menunggu sejak tadi.


Setelah hampir satu jam setengah berlalu akhirnya terlihat Arka keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit di pinggangnya. Wajah lelaki itu begitu sumringah seperti baru saja dapat lotre dengan senyum yang terus terukir di bibirnya.


Sesekali ia mencuri pandang pada Arka yang sedang memakai baju tak jauh dari sampingnya. Jika dulu ia teriak mesum pada suami yang melenggang di depannya hanya dengan mengenakan handuk, kali ini dia sudah bisa menghilangkan kepolosannya dan memilih menikmati pemandangan indah yang selalu membuatnya meleleh kagum pada tubuh sang suami yang benar-benar sempurna. "Amazing badan Bang Ar, tak ada keburikan sama sekali." Batinnya.


Kembali menatap wajahnya di cermin, melihat senyum yang berulang kali tersungging di bibirnya. Tiba-tiba dia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya ketika bayangan ritual mandi bareng beberapa menit yang lalu kembali terlintas di kepalanya. Ia tak pernah menyangka jika Arka akan menggagahinya di kamar mandi. Sungguh mandi yang sangat luar biasa dan menyenangkan yang pernah ia rasakan selama delapan belas tahun hidup.


Selesai berpakaian Arka menghampiri Freya yang masih senyam-senyum sendiri. Berdiri di belakang Freya kemudian membungkukkan tubuhnya untuk mengambil sisir yang terletak di hadapan Freya. Dengan jahil Arka menghembuskan nafasnya di ceruk leher Freya membuat gadis itu segera menatapnya lewat cermin.


"Udah Bang Ar jangan lagi, tadi kan udah dua kali. Aku cape." Ucapnya.


"Apaan sih orang Abang mau ambil sisir doang. Dedek Freya pengen permen lagi yah?" Godanya yang kemudian kembali berdiri dan menyisir rambutnya.


"Ngeselin Abang ih. Pokoknya nggak aku kasih jatah sebulan biar tau rasa."


"Ampun Dek jangan gitu dong." Arka meletakan kembali sisir yang telah ia gunakan ke meja kemudian memeluk Freya dari belakang.


"Makasih buat mandi barengnya. Abang tunggu di bawah yah, Rendi sama Irfan pasti udah nungguin." Ujarnya kemudian mencium pipi Freya dan keluar dari kamar.


Sampai di bawah Arka langsung diprotes oleh kedua sahabatnya, lelaki itu hanya menanggapi dengan senyum, "sorry kebablasan tadi."

__ADS_1


"Situ enak-enak kita nungguin sampe jamuran." Sindir Rendi.


Tak lama Freya bergabung, mereka segera berpamitan pada Mama Ratna.


Baru setengah jam perjalanan tapi Freya sudah tertidur membuat Arka menepikan mobilnya kemudian membangunkan gadis yang duduk di sampingnya, dengan malas Freya berpindah ke kursi belakang bersama Arka, hingga Rendi kini berpindah jadi supir dadakan.


"Heran gue bukannya tadi lu udah tidur Fre, sekarang udah molor aja lu." Ucap Rendi dari balik kemudi sambil melirik Freya yang sudah bersandar d bahu Arka.


"Cape kak." Jawab Freya pelan.


"Udah bobo aja kalo cape." Ucap Arka sambil membantu Freya merebahkan tubuhnya, menjadikan pahanya sebagai bantal untuk sang istri.


"Lu apain tuh bocah sampe kecapean gitu Ar?" Kini Irfan yang kepo.


"Gue ajakin main air plus-plus." Jawab Arka yang diakhiri dengan senyuman puas.


Perjalanan panjang mereka diselingi dengan obrolan-obrolan ringan, hingga tepat jam dua belas malam Arka menerima panggilan vidio dari Lisa. Tak seperti biasanya kali ini Arka menerima panggilan itu. Terlihat wajah senang Lisa yang langsung mengucapkan selamat ulang tahun ke dua puluh satu pada Arka, tak lupa harapannya untuk kembali pun ia ucapkan. Arka hanya menjawab ucapan panjang lebar Lisa dengan terimakasih.


"Terimakasih. Ini yang terakhir gue nerima panggilan lu. Seperti yang udah gue bilang kita nggak akan pernah kembali karena gue udah nikah dan gue cinta banget sama dia." Arka mengarahkan ponselnya pada tangan kirinya yang sedang mengusap lembut lengan Freya.


"Nggak! Ini nggak mungkin." Teriak Lisa.


"Lu nggak percaya? Lu bisa tanya Rendi sama Irfan mereka juga lagi bareng gue. Kita baru balik dari rumah mertua gue." Arka mengarahkan ponselnya pada Rendi dan Irfan.


"Hei Nyonya Lisa yang nggak tau malu. Stop deh gangguin suami orang." Ejek Irfan.


Tak ada lagi jawaban dari seberang sana, saat itu Lisa langsung mematikan panggilannya.


Arka mengambil gambar dirinya dengan Freya yang tertidur di pangkuannya, hanya terlihat Arka dengan wajah tersenyum menatap Freya dengan tangan kiri yang menutupi wajah sang istri.


Mengunggah foto tersebut di IG yang setelah sekian lama tak pernah ia gunakan meskipun pengikutnya sudah lumayan banyak.


Tak lupa beberapa kalimat melengkapi postingan gambar itu.


*Ketika aku menatapmu, sering terlintas sebuah pertanyaan. perbuatan baik apa yang pernah kulakukan sehingga tuhan menghadirkan ku sebuah anugerah terindah di dunia ini, yang tidak lain adalah kamu seorang.*


#MyTreasure.

__ADS_1


__ADS_2