
Cinta memang tak pernah mudah, bahkan tak selalu berujung indah. Ada kalanya mencintai adalah melepaskan. Membiarkan orang yang kita suka berbahagia dengan orang lain, meski menorehkan luka tak akan bisa cepat kembali seperti sedia kala. Tapi itu lah cinta, satu kata dengan berjuta deskripsi yang berbeda. Ada yang bilang cinta itu perjuangan, pengorbanan, merelakan bahkan menunggu. Semua itu tergantung dari sudut pandang dan posisimu berada.
Sudah tujuh bulan berlalu semenjak kepergian Lisa Anindya, batu sandungan yang menguji pernikahan dua insan korban perjodohan sang ibu yang termakan cerita novel.
“Kamu yakin Dek nggak mau cuti aja dulu kuliahnya? Kata dokter kan tinggal seminggu lagi perkiraan lahir si caby.” tanya Arka. Calon ayah yang sudah rapi dengan stelan kerja itu tengah duduk di samping sang istri. Seperti biasa setiap pagi ia selalu mengusap dan mencium perut Freya yang sudah membesar.
“Nggak lah Bang. Sayang bentar lagi kan ujian akhir smester. Lagi pula abis itu kan ada libur akhir tahun pelajaran jadi bisa tetep ngurus caby kita.” Jawab Freya sambil ikut mengelus perutnya sendiri. Si caby itu selalu bergerak aktif setiap tangan kedua orang tuanya menyapa lewat sentuhan.
“Wah Freyanisa sekarang udah rajin yah.” Tangan Arka beralih mengelus pucuk kepala istrinya. Ia tersenyum simpul mengingat masa-masa perkuliahan sang istri, ia bahkan harus ikut serta memastikan Freya belajar dengan benar mengingat gadis itu sering gagal focus dan malah membahas idol favoritnya di kelas.
“Ish aku kan mau jadi Mama bentar lagi Bang. Aku tuh harus pinter, kan katanya Ibu itu madrasah pertama untuk anaknya.”
“Gemesnya…” Arka mencubit kedua pipi Freya. “Makin cinta deh sama Mamanya caby. Makin kesini makin dewasa kamu Dek.” Puji Arka.
“Aku mah dari dulu udah dewasa kali Bang.”
“Iya deh.” jawab Arka.
Pagi ini seperti biasa sebelum berangkat ke kantor Arka selalu menyempatkan mengantar Freya ke kampus terlebih dahulu. Kadang jika ia tak sempat akan ada Ardi yang selalu standby demi calon ponakannya.
“Nanti pulangnya bareng Ardi yah, Abang ada meeting kayaknya bakal sampe sore.” Ucap Arka setelah melepaskan sabuk pengaman Freya.
Freya mengangguk paham.
Arka mengecup kening Freya kemudian beralih pada perut buncit istrinya, “baik-baik yah ikut Mama belajar.” Ucapnya tak lupa mencium si caby yang lebih sering bergerak setelah mendengar ucapannya.
Begitu turun dari mobil sudah ada Miya yang menunggunya. Keduanya berjalan pelan ke kelas.
“Minum dulu nih Fre!” Miya membuka botol air minum dan menyodorkannya ke Freya.
“Makasih Mi. akhir-akhir ini bawa si caby rasanya makin berat. Cepet cape juga gue.” jawab Freya.
“Udah mau keluar kali Fre ponakan gue.”
“Iya, kata dokter sih seminggu lagi.”
Obrolan mereka berhenti saat dosen memasuki ruangan. Mata kuliah kali ini membahas worksheet perusahaan dagang, cukup membuat otak panas. Pelajaran sudah berlangsung dua jam, mahasiswa mulai mengerjakan tugas mandiri.
Freya merasa tak enak badan. Sedari tadi ia merasakan mulas yang hilang timbul, hingga kini rasanya semakin sakit. Ia memegangi perut, bulir-bulir keringat membasahi dahi hingga poninya basah.
“Mi…” panggilnya pada Miya yang sedang sibuk dengan kalkulator.
“Mi, perut gue sa..sakit..”
Miya menoleh, seketika pulpen yang ia pegang jatuh. Calon bibinya caby itu langsung berdiri dengan buru-buru membuat buku dan alat tulis di mejanya jatuh berantakan.
__ADS_1
“Fre lu kenapa?” kepanikan Miya menjadi pusat perhatian teman-teman sekelasnya. Sementara Freya sudah tak bisa berkata-kata, sahabat satu servernya itu terus menangis. Beruntung Dosen mereka dengan sigap menghampiri Miya.
“Jangan panik! Sepertinya temen kamu mau melahirkan. Segera telpon keluarganya.” Ucap bu Dosen pada Miya kemudian membantu menenangkan Freya.
Miya yang panik bukannya menelpon Arka malah menelpon Ardi. Pamannya caby yang sedang praktek di laboratorium computer itu langsung berlari keluar dari lab tanpa ijin ke dosen yang sedang mengajar. Dengan nafas yang masih terengah-engah ia membawa Freya yang baru saja tiba di lantai dasar fakultasnya ke rumah sakit terdekat.
Setibanya di rumah sakit, Ardi menghubungi orang tua dan kakaknya. Arka sudah masuk ke ruang bersalin, menemani perjuangan Freya melahirkan anak mereka. Sementara Miya, Ardi, Ayah Bayu dan Bunda Mira menunggu di depan ruangan. Bunda Mira juga sudah menghubungi besannya jika sang putri sedang berjuang melahirkan cucu mereka.
Empat puluh menit berlalu, tangisan bayi yang baru saja hadir di dunia membuat Arka menangis haru. Ia berkali-kali mencium kening Freya, “makasih udah berjuang buat anak kita sayang. Kamu wanita sempurna.”
Seorang perawat memberikan bayi mungil di gendongannya pada Arka, “Selamat Pak, anak kalian perempuan. Terlahir sempurna dengan berat tiga koma satu kilogram dan panjang empat puluh lima centimeter. cantik seperti ibunya.”
Arka menggendong putri mungilnya, bibirnya tak henti tersenyum memandang bayi dengan bibir yang bergerak-gerak.
Arka memperlihatkan putrinya pada Freya, “sayang anak kita. Si caby kesayangan kita, dia begitu mungil.”
Freya tersenyum melihat bayi di gendongan Arka, “Anak Mama…” tangannya terulur mengelus pipi gembul bayinya.
“Anak Papa juga dong. Kan kita bikinnya barengan.” Ujar Arka.
“Anak gue juga dong. Kan gue yang selalu berjuang buat nurutin ngidamnya caby.” Seru Ardi yang baru saja masuk ruangan dan berdiri di samping Arka. Tampa permisi ia mencium pipi ponakannya.
“Anak gue juga yang, kan gue juga ikut berjuang pas ngidamnya caby. Nemenin lu nyari ini itu.” Timpal Miya tak mau kalah, gantian ia menggeser Ardi dan mencubit gemas pipi caby hingga bayi itu menangis.
“Haduh… kalian ini malah bikin ribut. Udah sana pada duduk aja.” Ucap Bunda Mira sambil menunjuk sofa di ruangan itu. Ardi dan Miya menurut dan duduk di sofa bersama dengan yah Bayu.
“Caby caby sini sama Oma,” Bunda Mira mengambil putri Arka.
“Selamat yah sekarang anak Bunda udah jadi orang tua.” Ucap Mira sambil menatap Freya dan Arka bergantian. Kemudian beralih menatap caby di gendongannya, “cucu Oma yang cantik jadi anak baik yah, berbakti pada orang tua, berlimpah rejeki dan bermanfaat untuk sesama.” Lanjutnya.
Mira mencium kedua pipi cucu pertamanya dan bayi itu kembali menangis, “Si caby sepertinya mau ne nen, sini Bunda ajarin. Seperti ini caranya…” ucap Mira sambil meletakan bayi itu ke gendongan Freya, mengajari menantunya memberi ASI.
Freya sesekali meringis menahan nyeri sekaligus geli setiap kali putrinya menyedot pabrik susu yang sebelumnya milik Arka jadi berubah status kepemilikan saat ini.
“Sakit yang?” tanya Arka yang masih setia berdiri di samping ranjang sejak tadi. Ia ikut memandangi si caby yang sedang sibuk mengeksplor pabrik susu.
“Dikit, geli juga.” Jawab Freya.
Arka mengelus pipi bayi mungil yang masih asik menyusu, “pelan-pelan Retha kasian sama Mama.” Ucap Arka.
“Retha?”
“Iya. Aretha Rahardian, putri kita.” Jawab Arka.
Dua bulan berlalu sejak kelahiran Retha, bayi mungil itu sekarang makin gemuk. Setiap hari Arka dan Freya membagi tugas merawat Retha dengan bantuan Bunda Mira juga tentunya. Tak jarang Miya juga berkunjung dan bermain dengan bayi gembul itu.
__ADS_1
Pagi ini Freya dan Retha sudah siap dengan stelan batik yang sengaja di pesan oleh Bunda Mira untuk acara wisuda Arka.
“Gemoy sekali ponakan aunty ini…” Ujar Miya yang baru saja tiba di rumah Ardi. Gadis itu juga menggunakan batik serupa dengan keluarga Ardi. Bunda Mira yang sudah tau hubungan putra bungsunya itu mendukung penuh.
Setibanya di kampus, Freya tak ikut masuk ke tempat wisuda karena hanya dua tamu yang di perbolehkan masuk. Ia bersama Miya dan Ardi menunggu di luar, menyaksikan prosesi wisuda Arka lewat layar besar yang terpampang.
Begitu acara selesai, Arka keluar dan menghampiri Freya. Ada Rendi dan Irfan yang juga ikut menghampirinya.
“Selamat yah sayang udah sarjana.” Ucap Freya seraya memberikan buket bunga yang diambil dari tangan Miya, sementara tangan kirinya masih menggendong Retha.
Arka menerima buket bunga itu kemudian memberikannya kepada Irfan yang berdiri di sampingnya.
“Makasih sayang. Nggak usah repot-repot pake bunga segala, kamu sama Retha adalah hadiah terindah buat aku.” Ucapnya kemudian mencium istri dan putrinya bergantian.
“Udah deh jangan pada pamer uwuw-uwuw di depan gue.” Ujar Irfan yang masih belum lepas dari predikat jomblo sejati, “Kasihanilah hamba yang yang masih sendiri ini.” Imbuhnya memelas.
“you are not alone, Irfan!”
Suara itu membuat mereka semua berbalik. seorang wanita berambut panjang dengan batik berwarna pink serta kaca mata hitam tengah berjalan menuju mereka, ada buket bunga di tangan kanannya. Ia berhenti tepat di depan Irfan, memberikan buket bunga yang ia bawa kemudian membuka kaca mata dan tersenyum manis, “Gue kembali Fan. Sesuai permintaan lu. Apa lu masih nunggu gue?” tanyanya.
“Tentu.” Jawab Irfan.
“Makasih.” Lisa berhambur Irfan, “maaf bikin lu nunggu lama.” Lisa melepas pelukannya kemudian tersenyum ramah pada enam pasang mata yang sedang menatapnya. Ia berjalan menghampiri Freya dan Arka. Sang mantan tentu langsung pasang badan, tak membiarkan wanita yang pernah berusaha mencelakai istrinya itu mendekati keluarganya.
“Dia udah berubah Ar.” Ucap Irfan yang kini berdiri di samping Lisa.
Arka membiarkan Lisa melihat putrinya. “Hai baby… siapa namanya?” tanyanya pada bayi di gendongan Freya.
“Retha.” Jawab Freya.
“Hai Retha aku mantannya papa kamu.” Ucapnya sambil mencubit gemas pipi Retha kemudian tersenyum sendiri.
“Maafin aunty pernah bikin mama kamu celaka yah.” imbuhnya sambil menatap Freya. “Sekali lagi gue minta maaf sama kalian. Gue sadar dulu gue terlalu terobsesi. Sekarang gue udah tau orang yang tepat buat hati gue.” Ucapnya sambil menatap Arka dan Freya bergantian.
“Udah-udah jangan pada baper deh. yang udah yah udah jadiin pelajaran aja. Semua orang pernah salah dan gue seneng lu udah berubah.” Ujar Rendi. “sekarang kita foto bareng aja buat kenang-kenangan.” Imbuhnya.
Mereka semua berfoto bersama kemudian berfoto dengan pasangan masing-masing. Arka duduk di kursi menemani Freya yang sedang menyusui putri mereka. Ia menatap teman-temannya yang masih asik berfoto, kemudian beralih pada anak dan istrinya.
Arka mengelus sayang kepala Freya seperti biasa, “Freyanisa istriku, terimakasih sudah hadir di hidupku. Terimakasih karena tak menolak perjodohan kita sejak awal hingga aku bisa merasakan kebahagian berkeluarga lebih awal.”
Hidup layaknya sederetan kata yang hanya menyisakan beberapa spasi, terkadang kita butuh koma, untuk mengistirahatkan perjalanan kita. sering kali muncul tanda tanya saat kita kehilangan arah bahkan sesekali juga menghadirkan tanda seru ketika kenyataan tak sesuai dengan yang kita harapkan. Yakinlah, jika titik buka akhir dari segalanya, masih ada banyak kata yang harus kita untaikan menjadi sebuah paragraf dalam lembar kehidupan yang indah dan berkah.
...TAMAT...
hola semua... salam sayang dari Dedek Freya dan Bang Ar. Terimakasih untuk semua like, komen dan dukungan kalian selama aku nulis kisah mereka. Tulis pendapat kalian tentang novel ini di kolom komentar yah biar aku tau kalian suka apa nggak. Tetap jadikan JDGC novel favorit kalian yah, nanti kalo aku ada karya baru akan aku umumkan disini.
__ADS_1