Jodoh Dari GC

Jodoh Dari GC
Kedondong


__ADS_3

Arka kembali masuk ke dalam rumah bersamaan dengan Ardi dan Miya yang baru saja kembali dari dapur. Keduanya membawa gelas berisi jus jambu kemudian duduk di sofa yang baru saja ditinggalkan oleh Bayu dan Mira.


“Mana si bajin*gan lak*nat?” tanya Ardi setelah meneguk jus jambu dan meletakan gelasnya di meja.


Miya menyikut lengkan Ardi, ia tak suka lelaki yang ia cintai berkata kasar. Benar-benar tak seperti Ardi yang ia kenal. Ya karena memang baru kali ini Miya bisa melihat sahabat yang kini berubah jadi orang yang ia cintai terlihat murka.


“Apaan sih Mi?”


“Bahasamu Di!” ketus Miya.


“Ada yang salah? Dia kan emang bajing*an. Lu kan tau sendiri Mi!” protes Ardi.


“Pokoknya jangan kasar gitu. Gue nggak suka.” Miya kembali meneguk jus jambunya.


Ardi menempelkan telapak tangannya ke kening Miya, “Nggak panas. Apa otak lu error kecapean nyari kedondong?”


“Lepas!” Miya menjauh telapak tangan Ardi, “gue nggak apa-apa. Tapi emang Kak Tito nggak seburuk yang kita kira.”


“Bener tuh.” Imbuh Freya.


“Kalian aneh.” Ujar Ardi.


Miya mengeluarkan ponsel, membuka riwayat chat nya dengan Tito sebelum Ardi menjemputnya untuk mencari kedondong tadi. Tito menanyakan alamat tempat tinggal Freya. Awalnya Miya terus mengabaikan pesan maupun panggilan yang masuk dari nomor itu, saking kesalnya ia bahkan ingin memblokir kontak itu. Tapi sebelum memblokir, satu rekaman suara yang masuk mengurungkan niatnya.


“Hish… kok nggak bilang dari tadi sih? Berarti disini cuma gue doang nih yang baru tau?”


Pertanyaan Ardi dijawab anggukkan kompak dari Freya, Miya dan Arka yang terlihat sibuk memilih kedondong.


“Berarti pas kita ketemu Kak Lisa di Mall lu udah tau dong kalo dia dalang dari semua yang menimpa Freya?”


Lagi-lagi Miya hanya mengangguki setiap kata yang keluar dari mulut Ardi.


“Dan lu malah bersikap biasa aja sama dia? dan lu juga biarin gue bilang makasih sama orang yang udah nyelakain keluarga gue? Gila lu Mi.” kesal Ardi.


“Ya gimana lagi? Masa gue harus marah-marah sama dia. Lagian kata Kak Tito gue suruh pura-pura nggak tau aja.”


“Iya biarin aja dulu Di. Lagian gue nggak apa-apa.” Ujar Freya.


Arka masih memilih kedondong di hadapannya, kedua tangannya bergantian di dekatkan ke hidung, menghirup wangi kedondong. Berharap tau yang mana yang manis dan yang mana yang asam. “Udah jangan bahas si Lisa mulu. Ntar juga dapat balesan yang setimpal tuh anak. Kalian bahas Lisa bikin gue kehilangan selera nih!”


“Kapan mau dibalesnya Kak?” tanya Ardi.

__ADS_1


“Nanti pas ulang tahun perusahaan sama resepsi nikahan gue juga. Gue pastiin tuh anak kena serangan jantung dadakan. Sekarang sementara ikutin aja permainan dia. Biar makin berasa di atas awan itu anak, semakin tinggi kan semakin sakit juga ntar pas jatuh.” Ujar Arka.


Freya beranjak dari duduknya dan berpindah ke lantai. Duduk lesehan di samping meja. Ia ikut mengambil satu kresek kendondong dan membantu Arka memilih yang manis, meskipun ia tak yakin ada kendondong yang manis, melihat warnanya yang masih hijau. Ah tak perlu mencicipi pun Freya tau rasanya pasti asam semua.


Freya mengambil satu buah kedondong yang ukurannya paling besar diantara yang lain dan memberikannya pada Arka. “yang ini kayaknya manis deh Bang. Liat nih, paling gede.”


Arka mengambil kedondong di tangan Freya, “Iya moga aja manis. Di ambil pisau gih!” pintanya.


“Yaelah gue lagi… gue lagi…” gerutu Ardi.


“Si caby pengennya sama lu nih yang ngupas kedondongnya. Terus gue tinggal makan.” Ucap Arka.


“Caby?” ulang Ardi.


“Ca lon ba by” Arka mengejanya. “Caby ponakan lu.” Lanjutnya sambil menunjuk perut Freya.


Ardi menahan tawanya, sebutan untuk calon ponakannya itu benar-benar menggelikan. “Iya sebentar yah caby, gue ambilin pisau dulu.”


Sekesal-kesalnya Ardi, dia tetap menuruti keinginan kakaknya. Dia beranjak dari duduknya dan pergi ke dapur. Miya juga beranjak dari duduknya, tapi tak mengikuti langkah Ardi, melainkan menghampiri Freya dan ikut duduk lesehan di lantai. “Fre, gue pengen pegang perut lu boleh?”


“Pegang aja Mi.” jawab Freya.


“Tuh Papanya yang bikin panggilan itu.” Ucap Freya sambil menunjuk Arka yang masih sibuk dengan kedondong.


“Ecie cie Papa, Fre. Lu jadi Mama dong?” ledek Miya.


“Hahaha iya.” Rasanya masih tak percaya dia akan menjadi orang tua diusia muda.


Ardi ikut bergabung duduk lesehan sambil mengupas kedondong sesuai intruksi Arka.


“Nih!” Ardi memberikan sepotong kendodong pada Arka.


Arka menerimanya, “Manis nggak?” tanyanya.


“Mana gue tau. Makan aja dulu.” Ujar Ardi.


Arka memasukan potongan buah itu ke mulutnya, matanya merem melek kemudian meneguk jus jambu Ardi yang tersisa setengah gelas hingga tandas.


“Asem Ardi!” ucapnya. Tak lama ia beranjak dari duduknya dan berlari ke toilet di dekat dapur. Lagi-lagi Arka memuntahkan isi perutnya.


“Abisin nih. Udah gue kupasin dua lagi buahnya.” Tawar Ardi sambil menyodorkan piring saat Arka baru saja kembali dari toilet.

__ADS_1


“Ogah. Si caby kagak mau kedondongnya asem. Udah buat lu aja sono.”


Ardi meletakan piring yang ie pegang ke meja, “bener-bener kalian tuh nggak ngehargain perjuangan gue sama Miya yah.”


“Perjuangan apaan? Beli buah doang. Lagian duitnya kan juga dari gue.” ucap Arka lirih, ia masih lemes pasca muntah-muntah.


Ardi melirik Freya, “suami lu Fre bener-bener ngeselin!”


“Ya maafin Di, namanya juga bawaan si caby.” Ucap Freya.


Ardi menghela napas dalam-dalam lalu membuanganya perlahan, “sabar… sabar… sabar Ardi demi ponakan biar nggak ileran.” Ucapnya pada diri sendiri. “Lu juga harus minta maaf noh sama temen lu. Kasian dia sampe ikutan gila, pura-pura hamil sama muntah-muntah.” Ujar Ardi.


“Maksudnya? Lu mual-mual juga Mi?” tanya Freya.


“Nggak Fre, cuma pura-pura. Abisnya nyari kedondong yang manis tuh susah. Bahkan mungkin nggak ada. Tapi Ardi nggak mau ponakannya sampe ileran. Jadi kita keliling toko buah. Kalo tiap toko kita beli sekilo mungkin sampe rumah kita bakal bawa kwitalan kedondong, jadi kita putusin buat beli satu buah tiap satu toko tapi pemilik tokonya nggak ngebolehin. Jadilah gue pura-pura hamil dan pengen kedondong. Eh malah di kasih gratis loh.” Tutur Miya sambil tertawa.


“Ya ampun kalian bisa aja. Makasih yah. Maafin kita jadi ngerepotin.” Ucap Freya.


“Nggak apa-apa Fre, gue seneng kok.” Ucap Ardi dan Miya bersamaan.


“Cie kompak amat. Jodoh kayaknya kalian tuh.” Ledek Freya.


“Apaan sih…” Ucap Miya sambil tersipu.


“Mumpung kalian berdua lagi kompak, gue pengen sesuatu…” ucap Arka.


“Ogah!” potong Ardi sebelum Arka selesai bicara. Perasaannya sudah mulai tak enak.


“Gue belum selesai ngomong Di.”


“Ogah. Pokoknya jangan sekarang. Lu mintanya aneh-aneh kak. Gue belum siap. Ayo Mi, gue anterin balik.” Ardi menarik tangan Miya, mengajak gadis itu keluar. Perasaannya benar-benar tak enak. Ia takut Arka akan meminta dirinya menjadikan Miya pacar, seperti rencana ngidam Freya yang tak sengaja ia dengar saat ospek.


.


.


.


Tinggalkan jejak like komen dan favoritkan supaya aku tau kalo kalian baca karya remahan ini, makasih.


Maafkan updatenya ga seperti biasanya. Karena aku lagi sibuk main sama ponakan baru. Dia gemoy banget loh😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2