Jodoh Dari GC

Jodoh Dari GC
Goodbye Lisa


__ADS_3

“Mi pulangnya ke rumah gue aja yah?” tanya Ardi. Pasangan yang resmi jadian kemarin malam itu baru saja menghabiskan waktu bersama seharian. Hanya jalan-jalan, cuci mata dan nonton seperti pasangan lain.


Pagi tadi dengan semangat ia menjeput Miya dan meninggalkan Freya yang merengek ingin ikut, katanya sih pengen double date gitu. Tapi Ardi mengabaikannya dengan alasan ia mau pergi kerja kelompok, bukan kencan. Ia tak mau Freya ikut, karena bisa dipastikan Miya akan lebih sering ngobrol dengan Freya sedang dia dan Arka pasti hanya akan jadi tukang bawa belanjaan sambil mengekor di belakang.


“Udah mau maghrib Di, mending anterin ke apartemen aja. Dari pada ke rumah lu dulu ntar gue pulangnya kemaleman.” Tolak Miya.


“Nggak usah pulang lah. Lu nginep aja.”


“Hah nginep?”


“Iya lah.”


“Tapi kan kita belum nikah Di. Bisa digrebeg kita ntar.”


Ardi mencubit pipi Miya, “Hih pikiran lu belok kemana sih Mi? kenapa sampe digrebeg segala. gue kan cuma minta lu nginep, bukan tidur sama gue. Lagian di rumah kan kita nggak cuma berdua. Apa jangaan-jangan lu pengen tidur sama gue yah? Biar kayak Freya yang bobonya dipeluk kak Arka yah?” ledek Ardi yang berhasil membuat pipi Miya menjadi merah seketika menahan malu.


“Apaan sih kagak lah.”


“Kalo lu mau gue siap kok yang.” Ledeknya lagi.


Lama-lama Miya jadi kesal sendiri, ia mencubit lengan kiri Ardi dengan keras. “Turunin gue disini aja lah.”


“Sakit tau yang.” Ardi menepikan mobilnya. Membuka sabuk pengamannya dan menatap Miya yang cemberut.


“Maaf yah yang, jangan ngambek. Gue cuma becanda.” Ucap Ardi sambil mengelus kepala Miya.


“Iya iya deh.”


“Iya apa sayang?”


“Iya gue maafin Di.” Ucap Miya.


“Kok Ardi sih yang?”


“Kan nama lu emang Ardi.”


“gue aja manggil lu sayang, masa lu masih manggil Ardi sih?” protesnya.


“Iya deh Ardi sa sayang.” Ucap Miya sedikit gugup.


“Nah gitu dong. Pulang ke rumah gue yah, gue pengen sarapan bareng lu besok.” Ucapnya kemudian kembali melajukan mobil.

__ADS_1


Mobil hitam yang kendarai Ardi sudah terparkir dengan sempurna di halaman rumah, keduanya turun dari mobil dan bergandengan tangan menuju teras.


“Di lepasin tangannya malu.” Ucap Miya sambil melepaskan tangannya.


“Kok Ardi lagi sih yang?”


“Sayang-sayangnya kalo lagi berdua aja yah.”


Ardi mengangguk mengiyakan keinginan Miya. Tangannya baru saja mau membuka pintu tapi pintu besar di hadapannya itu sudah terbuka lebih dulu. Ada Ayah dan Ibu Lisa yang hendak keluar diantar oleh Bunda Mira.


Ardi dan Miya yang berdiri di depan pintu segera menyingkir ke sisi kanan dan membiarkan Bunda dan tamunya lewat. Ibu Lisa terlihat berulang kali menghapus air matanya. Kedua orang tua Lisa mengucapkan banyak terimakasih sebelum akhirnya masuk ke dalam mobil dan meninggalkan rumah.


“Ada apa sih Bun? Kok orang tua Kak Lisa kemari?” tanya Ardi yang memang belum tau terkait kecelakaan yang menimpa Freya adalah akibat ulah Lisa.


“Tanya saja sama kakak kamu. Ibu pusing mau istirahat. Miya, Tante tinggal yah.” Pamitnya pada Miya.


Bunda Mira memang tak setuju pada Arka dan suaminya yang memberikan kesempatan kedua pada Lisa. Mira ingin membiarkan Lisa menjalani hukumannya di penjara sebagai ganjaran yang pantas ia dapatkan karena sudah berusaha mencelakai Freya. Tapi anak sulung dan suaminya malah dengan baik hati akan mencabut laporan dan menyelesaikan kecelakaan yang menimpa menantu kesayangannya secara kekeluargaan, dengan syarat Lisa harus meminta maaf dan pergi meninggalkan negara ini.


“Sudahlah Bun, maafkan kesalahan Lisa. Tidak baik menyimpan dendam. Lagi pula kedua orang tua Lisa sudah mewakili anak itu meminta maaf. Mereka juga mengakui kelalaian mereka dalam mendidik Lisa. Yang terpenting Freya tak apa-apa.”


“Bunda tetep benci sama Lisa.”


“Freya itu terlalu polos yah. Dia mudah di pengaruhi dan tak tega pada orang lain. Makanya liat Ibu Lisa nangis aja dia langsung maafin sebelum wanita itu minta maaf.”


“Sudahlah Bu. Kita tidak boleh egois, setidaknya keluarga Lisa sudah ada itikad baik.”


“Ya terserah Ayah lah. Toh kalian sudah mengambil keputusan.” Keukeuh Mira dengan pendiriannya. Ia begitu menyayangi Freya hingga rasanya masih tak ikhlas membiarkan gadis itu bebas.


Sementara itu di ruang tamu, Ardi sedang uring-uringan setelah tau semuanya. “Kok bisa sih Fre lu maafin dia? Padahal biarin aja dia di penjara.”


“Ya bener tuh gue setuju.” Miya menimpali.


“Ya sama, gue juga awalnya nggak setuju. Tapi mau gimana lagi Mamanya caby udah bilang dimaafin.” Imbuh Arka.


“Gue kan baik-baik aja. Punya Bang Ar juga yang cinta banget sama aku, ada si caby juga. Kalo Kak Lisa kasihan, dia udah di penjara, kurang perhatian dari orang tuanya juga. Lagian ntar juga Kak Lisa bakal di kirim ke luar negri sama ayahnya.” Ujar Freya.


“Istri Abang emang paling baik. Kamar yuk istirahat, si caby pengen ditengokin katanya.” Ucap Arka.


“Kak lu tidur sama gue, Miya mau nginep sini.” Ujar Ardi.


Freya sangat senang sahabat satu servernya meninginap dan tidur bersamanya. Mereka menghabiskan waktu sebelum tidur dengan dengan bercerita panjang lebar. Sementara di kamar lain Arka sedang menceramahi Ardi yang membawa Miya menginap hingga ia harus menunda ritual menengok caby.

__ADS_1


***


Seminggu berlalu semenjak hari itu, di kampus sudah ramai perihal Lisa yang mencelakai Freya. Selama itu pula Ibu Lisa bolak balik penjara demi meyakinkan putrinya agar mau meminta maaf dan kembali menghirup udara bebas.


Lambat laun bujukan Ibu Lisa berhasil. Entah tulus atau tidak tapi Lisa sudah setuju untuk meminta maaf sebelum ia pergi meninggalkan negara ini. Sore ini tepat sebelum keberangkatannya ke luar negri, Lisa bersama keluarganya mengunjungi rumah Arka. Sesuai dengan kesepakatan gadis yang sudah mengenyam hidup di balik jeruji besi selama seminggu itu mengucapkan permintaan maafnya.


“Maafin gue, semoga kalian bahagia.” Hanya itu kalimat yang terucap dengan ekspresi datar tanpa senyuman.


“Gue udah maafin lu. semoga semua yang udah lu lalui bisa jadi pelajaran buat hidup lu.” jawab Arka.


“Semoga disana kakak bisa nemuin kebahagiaan yang sesunggunya.” Imbuh Freya.


“Gue rasa urusan gue disini udah selesai. Gue pergi Ar.” Pamitnya tanpa mendengar jawaban Arka, Lisa berbalik dan meninggalkan rumah bernuansa putih itu. Tangan kanannya menyeka air mata yang membasahi pipi. Seiringan dengan taksi yang mulai menjauh dari rumah Arka, ia berbalik dan melihat ke belakang, orang yang begitu ia inginkan masih berdiri di teras rumah sambil merangkul bahu Freya.


Di bandara, Lisa duduk seorang diri sementara sang ibu sedang mendiskusikan suatu hal dengan ayahnya. Tatapan kosong dan air matanya kembali menetes. Seminggu dipenjara membuat dirinya sadar setelah hampir tiga hari disana ia selalu menjadi korban buly dari narapidana lain yang satu sel dengannya. Hingga akhirnya ia dipindahkan dan satu sel dengan seorang ibu-ibu yang menerima hukuman seumur hidup. Si ibu itu menceritakan kisah hidup dan kejahatannya yang membunuh selingkuhan dan suaminya sekaligus. Awalnya si ibu bilang puas dan merasa tak menyesal atas kejahatan yang telah ia lakukan tapi semakin lama di penjara dan merenung, ditambah dengan siraman rohani yang sebulan sekali diadakan di penjara membuatnya menyesal dengan semua yang ia lakukan.


Awalnya Lisa tutup telinga mendengar semua itu, tapi akhirnya akal sehatnya kembali hingga ia menyetujui permintaan ibunya.


“Udah waras lu sekarang Lis?”


“Lu?” Lisa terkejut mendapati lelaki yang pernah satu SMA dengannya duduk di sampingnya. “sejak kapan lu di situ?”


“Sejak kedua kalinya lu ngehapus air mata.” Jawab Irfan sambil mengusap pipi basah Lisa dengan tisu.


“Gue bisa sendiri.” Lisa mengambil alih tisu di pipinya. “Lu nggak benci sama gue? gue udah bikin istri sahabat lu celaka.” Imbuhnya.


“Benci. Tapi semua orang punya kesempatan buat berubah jadi yang lebih baik. Gue rasa seminggu dipenjara udah bikin lu sadar. Kali ini lu keliatan nyesel beneran.”


“Makasih udah peduli. Gue pergi Fan.” Pamitnya.


Irfan menarik tangan Lisa yang baru saja beranjak dari kursi, membuat gadis itu menoleh lagi padanya. “Jadilah Lisa yang dulu. Lisa yang gue kenal waktu SMA, maka gue bakal setia nunggu lu di sini.”


Lisa melepaskan tangannya dan tersenyum teduh sebelum akhirnya pergi tanpa sepatah kata pun.


.


.


.


terimakasih sudah menemaniku selama lima bulan ini. tanpa like komen dan dukungan kalian aku nggak akan bisa nyelesein kisah ini. tinggal satu episode terakhir yang bakal aku up besok. ah sumpah aku mendadak baper banget. berasa mau pisah sama reader² yang rajin komen dan selalu nyemangatin aku. makasih semuanya🤗🤗🤗

__ADS_1


__ADS_2