Jodoh Dari GC

Jodoh Dari GC
Permen


__ADS_3

Hari-hari berlalu begitu indah setelah malam itu Freya belajar dari guru barunya yang mengajarinya tanpa teori yang memusingkan, tapi langsung ke praktek yang menyenangkan. Andai di sekolah semua pelajaran semudah pelajaran yang diberikan oleh Arka sudah tentu dirinya tak perlu meminta bantuan mertuanya agar bisa masuk ke kampus tempat Arka kuliah dan di pastikan dia bisa juara kelas.


Arka juga sangat senang dengan perubahan Freya nya yang sudah bisa memahami pelajarannya dengan cepat. Arka jadi berpikir dua kali tentang Ardi yang mengatakan kalo Freya itu bukan anak yang pintar, hanya siswa yang biasa-bisa saja.


Freya sudah tak segan-segan lagi pada dirinya, bahkan setelah Arka memberikan secuil pelajaran saja sudah berhasil membuat istrinya itu tak melulu membahas Asahi si suami halu yang kurang ajar merasuki otak polos istrinya dan membuatnya harus berbagi posisi dengan orang yang belum sekalipun di temui istrinya, hanya posternya saja dan Arka sangat bersyukur karena sampai saat ini Freya belum menempel poster sialan itu di kamarnya.


Jika di awal-awal Freya diam-diam mencuri ciuman Arka saat tidur, kali ini dengan lugu sesukanya mencium pipi dan bibir Arka. Jika di awal-awal Arka harus memaksa Freya bahkan diam-diam memeluk gadis itu, kini malah sebaliknya. Freya yang selalu meminta di peluk ketika tidur.


Senang dan kadang kesal, itulah yang sering Arka rasakan saat ini. Senang karena Freya yang mulai peka dan tak segan bermanja pada dirinya. Kesal karena kadang Freya nya itu tak tau situasi dan kondisi. Di saat dirinya harus lembur mengerjakan tugas kuliah yang harus segera di selesaikan Freya malah terus mengganggunya karena Arka menyuruhnya tidur lebih awal dengan berbagai alasan yang sialnya sangat Arka sukai dan membuatnya tak bisa menolak.


“Aku ngga bisa tidur kalo ngga di peluk Bang Ar!” kalimat itu selalu berhasil membuat Arka berhenti dari mengerjakan tugas dan malah menggarap tugas baru yang sangat ia sukai, yakni memeluk Freya hingga gadis itu tidur. Meskipun seringnya ia juga ikut ketiduran dan berakhir bangun pagi-pagi sekali untuk menyelesaikan tugas kuliahnya.Nampaknya Arka harus merubah jadwal belajarnya menjadi subuh karena waktu itu yang paling aman untuk mengerjakan tugas kuliahnya mengingat Freya yang selalu bangun siang.


“Pengen buru-buru ngajarin ilmu baru gue Dek, biar lu makin pinter ngga Cuma minta peluk doang pas tidur.” Ujarnya pada Freya yang masih terlelap tak lupa mencium kening gadis itu, kemudian beranjak dari tempat tidur untuk segera menyelesaikan tugas kuliahnya.


Sayangnya akhir-akhir ini Arka tak punya banyak waktu luang untuk mengajari Freya ilmu lanjutan karena tugas kuliahnya yang mendadak seabrek-abrek seolah mengejeknya untuk menunda kesenangannya. Ditambah sebentar lagi dirinya harus melaksanakan kuliah kerja nyata, mau tak mau harus meninggalkan Freya untuk menjalankan tugasnya mengabdi di masyarakat selama satu bulan.


Seperti pagi-pagi sebelumnya, pagi ini Freya mengantar Arka hingga teras rumah tak lupa memberikan ciuman cipika-cipiki komplit pada Arka. “Hati-hati di jalan Bang, jangan nakal.” Ucapnya pada Arka yang dijawab dengan mengacak gemas rambut Freya.


“Huek... Huek... ada kresek ngga? Pengen muntah gue liatnya.” Sindir Ardi yang ternyata ada di kursi teras.


Pipi Freya langsung merona merah karena malu dan membuat gadis itu langsung menunduk. Freya benar-benar terlalu fokus pada Arka saja hingga tak tau ada Ardi di sana, karena memang biasa Ardi tak pernah pagi-pagi diem di teras. Lain hal nya dengan Arka, lelaki itu bersikap biasa. “Udah ngga apa-apa ngga usah malu gitu. Lagian Ardi kan adik kamu juga. Terus temen sekolah juga kan.” Ucapnya pada Freya yang masih menunduk.

__ADS_1


“Iya lagian juga biasanya juga malu-maluin.” Teriak Ardi. “Tapi kalo bisa jangan mesra-mesraan di depan gue deh, kasian mata gue jadi tercemar.” Imbuhnya sambil tertawa meledek, padahal dalam hati nyesek abis. Karena bukan hanya mata yang tercemar tapi batinnya meronta-ronta seolah konser dengan lagu yang sempat viral beberapa saat yang lalu *harusnya aku yang di sana!*


Arka melirik Ardi yang masih tertawa mengejek Freya, “Jangan diledek terus ntar dia nangis kakak malah ngga jadi kuliah. Dia kalo nangis ngga cukup di kasih permen.” Ujar Arka sambil mencubit gemas pipi Freya yang masih menunduk.


“Aku bukan bocah Bang, ngapa bawa-bawa permen segala. Lagian aku ngga suka permen.” Ucap Freya sembari cemberut.


“Nanti kamu pasti bakalan suka permen. Apalagi permen Abang. Panjang dan gede kamu pasti suka.”


Freya berfikir apa iya ada permen yang panjang dan gede? Pasalnya sampe sekarang dia belum pernah memakannya. “Emang rasa apa Bang? Aku belum pernah sih makan permen yang panjang dan gede.” Tanyanya dengan wajah yang masih tampak berpikir.


Arka mengacak rambut Freya lagi. “Rasanya limited banget cuma Abang yang punya. Dan kamu bakalan jadi orang pertama yang ngerasain.”


Wajah Freya langsung berubah antusias. “Wah Abang punya pabrik permen kah? kok ngga pernah bilang sama aku? Berati Abang CEO juga dong? Enak nih biasa nyobain beraneka rasa permen sebelum di pasarkan dengan bebas.” Celotehnya riang. “Ntar pulangnya bawain permennya yah Bang. Yang panjang dan besar itu aku jadi penasaran banget soalnya belum pernah sih.” Imbuhnya.


Sementara Ardi rasanya benar-benar semakin ingin muntah mendengar bahasan permen dari suami istri yang unfaedah itu. yang laki ngode keras, yang cewek gagal paham.


Setelah mobil Arka menghilang dari pandangannya, Freya menghampiri Ardi yang duduk di kursi teras. “Di, lu udah pernah cobain permennya Bang Ar?”


“Kaga, buat apa gue cobain punya kakak. Gue juga punya kok.”


“Wah keren. Jadi lu juga punya pabrik permen juga yah Di? Kok lu ngga pernah cerita sih?”

__ADS_1


Ardi meletakan ponselnya dan memandang Freya dengan jengah. “Ada cewek sepolos lu Fre? Kenapa gue mendadak kasihan sama kakak. Kak Arka pasti ngebatin banget ngurusin lu.” Batin Ardi.


“Kenapa Di?”


“Ngga.” Jawab Ardi kemudian meninggalkan Freya masuk ke dalam rumah.


“Di lu belum bilang ke gue pabrik permennya dimana? Kapan-kapan gue pengen main kesana.” Teriak Freya.


“Tanya Kak Arka aja.”


Pagi itu otak Freya benar-benar di penuhi dengan permen, permen dan permen. Ia berharap hari ini cepat berlalu agar Bang Ar nya cepat pulang. Ia sudah sangat penasaran ingin mencoba permen yang panjang dan gede seperti kata Arka. karena salama ini mentok-mentok permen yang ia makan yah yang bentuk kaki warna merah dan rasanya biasa aja.


.


.


.


Selamat pagi. Ini pertama kalinya aku nulis subuh-subuh, rasanya aneh banget.


Btw kalian udah pernah belum ngerasain permen yang panjang dan gede itu? aku jadi penasaran sama kaya Freya.

__ADS_1


Jangan lupa like, komen dan favoritkan!!


__ADS_2