
Freya masih berbaring di ranjang setelah kepergian dokter dan mertuanya. Freya bisa melihat raut wajah mertuanya yang berubah, mungkin kecewa karena dirinya tak hamil. "Abang nggak kecewa aku nggak hamil?" Tanyanya pada Arka yang kini ikut berbaring di sisinya.
"Nggak. Abang rasa kita emang belum saatnya punya baby. Lagi pula kita masih bisa bikin lagi kok."
"Bikin apa Bang?"
"Bikin baby lah. Bikin yuk?" Arka merapatkan tubuhnya pada Freya kemudian memeluk gadis itu.
"Ish Abang aku masih lemes gini malah diajak begituan."
"Justru itu biar cepet sembuh Dek."
"Emang ngaruh yah Bang?"
"Ngaruh lah Dek. Buktinya pas Abang pulang sakit kamu langsung berkurang tinggal lemes-lemesnya doang. Apalagi kalo kita olahraga bareng, pasti kamu langsung sehat seribu persen." Arka mencoba menyakinkan Freya dengan teori yang menguntungkan dirinya. "Lagian apa nggak kangen? Kita udah tiga minggu loh Dek nggak olahraga." Tangan kanan Arka mulai membuka kancing baju Freya.
Freya menyingkirkan tangan Arka. "Masih pagi Abang."
"Terus kenapa? Kamu maunya kita main malem? Nggak mungkin lah Dek soalnya ntar sore Abang harus balik lagi ke posko." Tangannya kembali menjelajahi tubuh istrinya, disusul dengan bibirnya yang mulai memeriksa pabrik susu yang sudah tiga minggu gak ia kunjungi.
"Abang ah..."
Baru satu desahan yang lolos dari bibir Freya dan belum apa-apa sudah ada ketukan dari luar sana. Arka segera berhenti dan kembali mengancingkan pakaian Freya asal.
"Abang kok berenti sih?" Protes Freya dengan polosnya karena baru saja dia mulai menikmati sudah end begitu saja.
Arka tak menjawab, ia Menyelimuti gadis itu hingga ke dada. Ia belajar dari pengalaman sebelumnya saat bunda Mira nyelonong masuk begitu saja. "Nanti lanjut Dek kebiasaan drama ngetuk pintu disini. Ada aja yang ngetuk pintu kalo lagi otw surga, Aneh deh. Bentar Abang buka pintu dulu."
Arka turun dari ranjang dan menghampiri pintu. "Untung baru mau pemanasan, kalo udah terlanjur main aja kagak bakal gue buka nih pintu." Gerutunya.
"Ada apa Bun?" Tanyanya pada Mira yang berdiri di depan pintu dengan membawa nampan berisi air, roti dan pisang serta dua buah sendok di sana.
Benar saja sesuai dugaan Arka Bunda Mira nyelonong masuk begitu saja. "Huh untung udah gue pakein lagi bajunya." Gumam Arka.
"Pakein apa Ar?"
"Nggak Bun."
Mira menghampiri Freya dan meletakan nampan yang ia bawa di nakas samping tempat tidur. "Minum obatnya dulu sayang." Mira sudah mengeluarkan obat yang harus di minum Freya, hanya 2 butir saja.
"Nggak usah Bunda. Freya udah sembuh kok. Nih udah nggak apa-apa." Tolak Freya yang memang tak bisa minum obat.
__ADS_1
"Tapi kata dokter ini harus dihabiskan sayang. Di minum aja yah. Mau pake apa air, roti, pisang atau sendok?"
"Hm...Bang Ar?" Panggil Freya.
"Mau sama Arka?"
"Biar Arka aja yang bantu Freya minum obat Bun." Ujar Arka.
"Ya udah Bunda keluar dulu. Kamu cepet sehat yah sayang." Mira mencium kening Freya.
"Bunda."
"Hm apa?"
"Maaf yah karena aku nggak hamil. Bunda pasti kecewa yah." Lirih Freya sambil menatap mertuanya.
Mira mengelus kepala Freya. "Nggak sayang. Mungkin belum waktunya buat kalian punya anak. Salah bunda yang terlalu heboh mengira kamu hamil. Nikmati saja masa-masa ini, kalian juga masih muda. Diminum obatnya yah sayang."
"Iya Bun."
Arka kembali mengunci pintu kamar saat Mira sudah keluar. "Ayo minum obatnya!" Arka menyodorkan dua butir obat dan segelas air pada Freya.
Gadis itu menggeleng dan cemberut. "Aku nggak mau." Tolaknya.
"Aku udah sembuh Bang."
"Tapi tetep harus di minum. Kata dokter juga gitu. Ayo minum nih." Arka kembali menyodorkan obat itu pada Freya.
"Abang aja yang minum!" Ucap Freya yang sudah sembunyi di balik selimutnya.
"What? Kamu yang sakit kok Abang yang di suruh minum obat." Arka menarik selimut yang menutupi wajah Freya. "Ayo minum obatnya sayang." Bujuk Arka.
"Nggak mau Bang Ar ih kok maksa." Tolaknya lagi.
"Ayo lah Dek minum dulu. Kamu itu udah gede jangan kayak bocah terus. Masa disuruh minum obat aja susah sih." Ucap Arka yang mulai tak sabar. Inginnya Freya segera minum obat hingga dia bisa meneruskan agenda olahraga bersama. Tak disangka membuat Freya minum obat akan sesulit ini.
"Iya aku cuma bocah. Dari awal aku emang cuma bocah di mata Abang. Jadi jangan paksa lagi bocah ini. Bocahnya mau tidur aja." Freya membalik tubuhnya ke arah berlawanan, membelakangi Arka yang duduk di tepi ranjang.
Arka meletakan kembali obat di tangannya ke nampan. Mengusap kasar wajahnya sendiri sambil menatap Freya yang membelakanginya. Ada senyum tertahan di bibirnya. "Ngambek lagi nih bocah." Batinnya. Sudah lama tak melihat istrinya ngambek, ada kesenangan tersendiri, gadis itu semakin menggemaskan saat ngambek seperti ini. Jadi pengen buru-buru dikasih permen.
Arka berbaring menghadap Freya dan mencubit gemas pipi gadis itu. "Jangan ngambek. Maafin Abang yah?" Apa pun masalahnya dan siapapun yang salah, meminta maaf duluan adalah cara yang paling ampuh bagi Arka.
__ADS_1
"Aku nggak mau minum obat Bang Ar."
"Kenapa Dek? Biar cepet sembuh."
"Ya karena aku emang nggak bisa minum obat Bang."
"Terus kalo sakit gini gimana?"
"Cuma istirahat sama minum susu naga juga nanti sembuh?"
"Susu naga?"
"Iya yang iklannya ada naganya itu loh Bang. Susu sapi tapi iklannya naga terus namanya susu panda masa."
"Oh gitu. Abang jadi mau susu."
"Susu naga juga?"
"Bukanlah. Maunya yang ini." Entah sejak kapan tangan Arka sudah masuk ke baju Freya.
"Abang ih modus mulu."
"Tapi kamu suka kan?" Tanyanya diakhiri dengan kecupan singkat di bibir Freya. "Jadi mau diminum nggak itu obatnya?" Lanjut Arka.
"Nggak mau. Kan aku udah punya Abang, obat yang paling mujarab ngalahin obat dokter."
"Bisa aja kamu Dek. Ya udah sekarang biarkan obat mujarab ini menjalankan tugasnya supaya kamu cepet pulih lagi." Ujarnya yang diikuti ciuman mesra pada bibir Freya. Menghujani wajah manis itu dengan ciuman penuh kasih sayang. Menyusuri lekuk tubuh istrinya dengan lembut, tak lupa meninggalkan jejak kepemilikan di setiap pemberhentian mengawali olahraga bersama mereka pagi ini.
Suara desahan yang bertautan menggema di kamar itu hingga akhirnya keduanya mencapai kenikmatan yang hakiki.
"Love you. Cepet sembuh yang sayang." Arka mengecup kening gadis di pelukannya.
"Love you too obatku."
.
.
.
.
__ADS_1
Makasih buat kalian yang masih setia dan dukung kisah ini.
Like, komen dan votenya jangan ketinggalan.