Jodoh Dari GC

Jodoh Dari GC
Soto Spesial


__ADS_3

Ardi masuk ke kamar Arka tanpa mengetuk pintu karena memang pintunya terbuka. "Tuhan dosa apa yang udah gue lakuin di masa lalu kenapa senyesek ini. Gimana bisa cepet move on kalo pemandangan tiap hari model begini." Gerutunya dalam hati ketika melihat Kakaknya memeluk dan membelai Freya. Makin nyesek lagi saat melihat gadis itu terlihat begitu nyaman di pelukan kakaknya.


"Ehm."


Arka memalingkan wajahnya melihat Ardi yang sudah ada di kamarnya. "Ada apa Ar?"


Freya langsung melepaskan pelukannya dan menatap Ardi dengan kesal, ngambeknya belum sembuh karena adik ipar durjana yang membuka aibnya di depan mertuanya.


"Di panggil Bunda." Ucap Ardi.


Arka keluar dari kamar di ikuti oleh Ardi dan Freya di belakangnya. "Lu sengaja ya Fre pamer meluk-meluk kakak di depan gue?" Bisik Ardi.


"Siapa yang pamer. Lu yang masuk kamar orang kaga permisi. Lagian suka-suka gue dong, Bang Ar kan suami gue." Ucapnya diakhiri dengan menjulurkan lidahnya pada Ardi penuh ledekan kemudian mempercepat jalannya menyusul Arka dan menempel pada suaminya, tempat ternyamannya.


Ardi hanya menghembuskan nafasnya pelan. "Bener-bener polos biadab lu Fre. Meskipun gue bilang kalo gue udah ngga suka sama lu ya tetep aja lah melupakan itu tak semudah membalikan telapak tangan." Batin Ardi.


Ketiganya tiba di bawah, terlihat Bunda Mira sudah rapi seperti orang yang hendak pergi. Dan benar saja ternyata mertua terbaik di dunia itu harus menemani suaminya ke luar kota, karena ada beberapa hal yang harus di urus oleh Bayu.


"Arka, Bunda harus nemenin ayah ke Surabaya. Mungkin selama dua hari. Kamu jaga Ardi sama menantu bunda baik-baiknya." Ujar Mira pada putra sulungnya.


"Ardi udah gede bunda ngga usah khawatir." Ujar Ardi.


"Freya sayang baik-baik di rumah yah. Karena besok bunda ngga da kamu bisa ikut ke kampus sama Arka atau jalan-jalan sama Ardi supaya ngga bosen di rumah terus." Ucap Mira sambil memeluk Freya. "Satu lagi karena Bi Tuti lagi pulang kampung, buat makan kalian bisa delivery aja yah. Kalo ngga makan di luar. Untuk makan malam juga Bunda belum sempat masak soalnya Ayah dadakan banget ngasih kabarnya." Imbuhnya.


"Udah Bunda ngga usah khawatir soal itu. Biar Arka yang urus dua bocah ini." Ujarnya sambil menatap Ardi dan Freya secara bergantian. Sementara kedua insan yang disebut bocah olehnya balik menatapnya dengan tajam seolah protes disebut bocah.


"Gue bukan bocah Kak. Istri lu tuh yah bocah." Sindir Ardi pada Freya.

__ADS_1


"Kalo gue bocah lu juga bocah Di. Jangan pura-pura lupa kalo kita seumuran." Freya tak mau kalah.


"Udah-udah Bunda pergi dulu yah. Kalian baik-baik di rumah." Pamit Mira. Mungkin terdengar lebay karena Mira masih mengkhawatirkan anak-anaknya yang sudah dewasa hanya karena akan di tinggal dua hari saja. Bahkan mengkhawatirkan makanan mereka juga terdengar berlebihan. Tapi itulah sifat seorang ibu, anak-anaknya sudah dewasa tapi baginya mungkin tetap terlihat seperti anak kecil yang selalu harus ia perhatikan.


Setelah kepergian Mira, Arka dan Ardi ke kamar masing-masing. Dan Freya jangan ditanya gadis itu tentu mengikuti suaminya ke kamar. Arka mengerjakan tugas kuliahnya lebih awal. Menjelang KKN yang sudah tinggal menghitung hari, Arka juga harus mulai menyiapkan pokok-pokok pelayanan atau kegiatan yang akan mereka laksanakan saat KKN nanti, mengingat dirinya sudah terpilih menjadi ketua kelompok tentu ada tanggungjawab besar yang menantinya.


Sudah sejam Freya berseluncur di dunia maya. Komen sana komen sini di postingan Treasure yang baru. "Galfok gue kenapa jidat Sahi bikin ketampanannya meningkat seribu persen." Komentarnya pada salah satu postingan vidio yang memperlihatkan suami halunya dengan stelan serba putih dan gaya rambut hitam barunya.


"Oppa oppa saranghae." Ucapnya sambil tersenyum memandangi HP nya dan berguling di ranjang.


Arka hanya menengok sebentar ke arah Freya dan menggelengkan kepalanya kemudian kembali fokus dengan tugas kuliahnya. "Penyakit k-popers karbitannya kumat tuh bocah." Batin Arka.


Dan benar saja belum lima menit, Freya sudah berisik menghampirinya. "Bang Ar poster yang waktu itu kita beli dimana?"


Arka beranjak dari duduknya dan mengambil paper bag berisi poster sialan yang ia letakan di atas lemari. "Masih inget aja ini bocah. Untung belum gue buang." Batinnya kemudian memberikan paper bag itu pada Freya. Sepertinya sekarang Arka harus ikhlas membiarkan dinding kamarnya dipenuhi gambar lelaki yang tak lebih tampan darinya.


Freya dengan senang hati menerima paper bag itu, "sengaja yah Abang umpetin." Ucapnya pada Arka.


Karena istrinya yang begitu berisik membuat konsentrasi Arka terpecah. Arka menghentikan kegiatannya dan menghampiri Freya yang masih sibuk mengagumi poster lelaki berambut putih itu. "Kalo itu orang suami kamu, terus Abang apaan?" Tanyanya sembari mengacak rambut Freya.


"Bang Ar suami aku dong. Kalo Sahi mah beda lagi."


"Sama gambar kamu bilang love you segala. Sama Abang aja ngga pernah!"


"Kan aku udah pernah bilang saranghae ke Abang." Jawab Freya sambil mencebikan bibirnya. "Udah deh Bang masa cemburu sama gambar. Abang mau makan malam apa biar aku masakin?"


"Emang bisa masak?" Tanya Arka pada Freya. Karena ia yakin gadis manja seperti Freya pasti tak bisa masak.

__ADS_1


"Bisa lah Bang." Ucap Freya bangga. "Abang mau apa? Soto, rendang, ayam penyet atau ayam rica-rica?" Imbuhnya.


"Kalo gitu bikin soto aja. Ujan-ujan gini cocok makan makanan berkuah."


"Siap Bang. Aku ke dapur dulu nanti kalo udah jadi aku panggil." Ucapnya kemudian meninggalkan Arka.


"Finaly ada juga kelebihan lu Dek." Ucapnya.


Setelah selesai dengan ritual masaknya, Freya memanggil Arka dan Ardi untuk makan malam.


"Kalian pasti suka. Ini soto spesial banget buatan aku loh. Biasanya aku ngga pernah masak lebih dari satu porsi. Tapi karena aku ini istri soleha dan kakak ipar yang baik, demi kalian aku buat tiga porsi. spesial pula." Ujarnya dengan bangga saat berjalan menuju ruang makan.


"Iya-iya makasih yah istriku." Ucap Arka karena ia tau istri bocahnya itu sedang ingin dipuji.


"Selamat makan." Ucap Freya begitu mereka tiba di meja makan.


Sementara Arka dan Ardi hanya terdiam memandang soto yang Freya bangga-banggakan. Pupus sudah harapan Arka yang mengira istrinya bisa masak. Tenyata tebakannya tak meleset gadis manja seperti Freya tak bisa masak. Tapi Arka tetap menghargai masakan Freya dan memakannya tanpa protes. Berbeda dengan Ardi yang malah meledek Freya habis-habisan.


"Ini yang lu bilang soto Fre? Bilang aja indomie rasa soto." Ujar Ardi sambil mengaduk mi instan di hadapannya.


.


.


.


Biasakan tinggalkan jejaknya yah teman-teman. Komen rasa indomie yang paling kalian suka juga ngga papa wkwkwk.

__ADS_1


Terimakasih sudah menemaniku hingga part 44 ini.


See you next part.


__ADS_2