Jodoh Dari GC

Jodoh Dari GC
Jadi mau kapan?


__ADS_3

Arka dan Freya baru saja masuk ke kamar. Sebelumnya dengan buru-buru Arka segera mengajak istrinya ke kamar saat gadis itu mulai protes tentang permen yang tak sesuai dengan yang dikatakan Arka sebelum pergi kuliah tadi pagi. Pikirnya sebelum Freya membuatnya malu di depan bunda dan adiknya lebih baik diamankan terlebih dahulu.


Arka melemparkan tas kuliahnya ke sofa kemudian merebahkan tubuh tingginya di ranjang. Sementara Freya, gadis itu dengan cemberut duduk di samping Arka. Freya mendadak bad mood karena pertanyaannya belum di jawab tapi Bang Ar nya itu malah menariknya ke kamar dengan paksa. Padahal di sisi lain dia juga sedang menunggu pengumuman penerimaan mahasiswa yang belum sempat ia lihat tadi.


"Bang Ar padahal kalo mau tidur mah tinggal tidur aja sendiri. Ngapain ngajakin aku kesini? Aku kan lagi nunggu pengumuman sama Ardi." Ucapnya dengan nada kesal.


Dari nada bicaranya, Arka tau penyakit ngambekan istrinya itu sedang kumat. Ditariknya tubuh Freya hingga berbaring di sampingnya. Terlihat gadis itu langsung membuang wajah dan memunggungi Arka.


"Jangan ngambek! Liat pengumumannya di sini aja sama Abang. Kita lihat dari HP juga bisa." Bujuk Arka sembari memeluk Freya dari belakang.


"Lepasin. Aku lagi ngambek Bang!" Freya merajuk, yang malah membuat Arka semakin gemas. Mana ada orang ngambek ngasih pemberitahuan dirinya sedang ngambek.


"Uluh uluh Dedek Freya lagi ngambek yah. Maafin Abang yah." Bujuk Arka yang malah terdengar seperti ejekan bagi Freya. "Abang dimaafin kan?" Imbuhnya sembari mengeratkan pelukannya dan mencium kepala Freya berulang kali.


"Tau ah. Freya sebel sama Abang!"


Sumpah demi apa pun juga kali ini jantung Freya makin jedag jedug tak karuan. Ini bukan kali pertama dirinya dipeluk Arka, bahkan setiap malam dirinya selalu tidur dipelukan Arka. Tapi entahlah jantungnya masih tetap berdetak tak karuan, mungkin karena perasaannya yang belum terucap. "Bang Ar lepasin! kalo ngga aku bisa masuk rumah sakit!" Ucap Freya gugup.


Tak kalah gugupnya, Arka langsung melepas pelukannya. Ia berpikir apakah Freya nya itu sedang sakit. Padahal suhu tubuhnya tak panas, normal-normal saja.


Freya membalikan tubuhnya jadi tidur terlentang sembari memegangi dadanya dengan kedua tangan. Sementara Arka yang masih rebahan di sampingnya menatap Freya dengan penuh khawatir. "Kamu ngga apa-apa kan Dek? Yang mana yang sakit?"


"Disini Bang. Jantung aku."


"Kamu punya penyakit jantung Dek?"


"Ngga Bang. Sebelumnya ngga pernah kaya gini, tapi akhir-akhir ini jantung aku jedag jedug ngga jelas. Kayaknya aku butuh konsultasi ke ahli jantung." Jelas Freya kemudian menarik kepala Arka untuk merasakan detak jantungnya. "Dengerin deh Bang." Imbuhnya yang tak sadar sedang membiarkan kepala Arka menempel di dadanya.

__ADS_1


Arka bisa mendengar detak jantung Freya yang maraton di dalam sana. Tapi kali ini bukan jantung Freya nya saja yang maraton bahkan jantungnya saja jadi ikut-ikutan maraton tak jelas. Kali ini Arka benar-benar merutuki tindakan konyol Freya yang membuat kepalanya menempel sempurna di pabrik susu yang belum pernah ia buka. Ya walaupun tak bisa dipungkiri hal ini cukup menyenangkan dan membuat permen miliknya ingin segera keluar dari bungkus yang mendadak terasa sesak.


Dengan susah payah cepat-cepat Arka memulihkan pikirannya yang mulai amburadul dan mengangkat kepalanya menjauh dari Freya. Arka duduk di samping Freya dan mengacak rambutnya. "Beneran kan Bang jantung aku ngga normal detaknya?" Terdengar pertanyaan Freya yang entah harus dijawab apa oleh Arka, karena dirinya pun sedang mengalami hal yang sama.


"Ngga apa-apa Dek. Jantung kamu normal kok. Punya Abang juga detaknya cepet kaya punya kamu." Jawab Arka seraya turun dari ranjang dan berjalan ke kamar mandi. Pikirannya harus segera dijernihkan, ia tak mau mendadak menyerang Freya karena pasti gadis itu akan ketakutan atau menodong dirinya dengan berbagai pertanyaan polosnya.


"Bang Ar mau kemana?"


"Mandi!"


"Biasanya Abang mandinya jam lima, sekarang baru jam tiga Bang." Ujar Freya.


"Mau mandi sekarang aja, panas." Ucap Arka yang kemudian menutup pintu kamar mandi. Arka berulang kali menguyur kepalanya dibawah shower, berharap pikirannya segera kembali jernih. "Sadar sadar Arka jangan sampe solo player sama sabun." Ucapnya lirih.


Sementara Freya si polos yang ngga sadar dengan tindakannya yang berakhir siksaan bagi Arka sedang santai menatap HP nya. Mencari namanya diantara ratusan nama-nama penerimaan mahasiswa baru. Sudah berkali-kali scroll scroll terus ke bawah tapi namanya belum juga ketemu. Jika nama Ardi jangan ditanya, nama adik iparnya itu ada di urutan ke sepuluh. Bahkan Miya sahabatnya pun ada di daftar itu. Tinggal dirinya yang belum ketemu, hingga akhirnya di urutan tiga ratus lima puluh terdapat namanya, yang langsung membuatnya teriak histeris. "Bang Ar aku.."


Freya turun dari ranjang dan menghampiri Arka. Saking girangnya gadis itu langsung memeluk Arka. "Aku diterima di kampus Abang."


Arka mengelus kepala Freya. "Congratulation my wife."


"Aku seneng banget tau Bang. Ngga nyangka bisa masuk kampus Abang." Ucapnya sembari melepaskan pelukannya. "Rambut Abang masih basah. Sini aku keringin!"


Arka duduk di sofa dengan Freya yang mengeringkan rambutnya menggunakan handuk kecil. "Btw Bang, tadi Abang belum jawab pertanyaan aku."


"Pertanyaan yang mana?"


"Itu yang soal permen. Kok ngga keras?"

__ADS_1


Arka menepuk dahinya pelan. "Kenapa setelah membahas aneka hal bisa-bisanya Freya masih kepikiran soal permen. Bini gue bener-bener kaya bocah, kalo belum di kasih jawaban pasti bakal nanya terus." Batin Arka.


"Bang Ar!" Panggilnya sambil menggosok rambut Arka dengan keras.


"Hm."


"Kok ngga di jawab ih. Kapan-kapan aku mau juga lihat pabrik permen Abang." Rengeknya.


Arka menarik Freya duduk di pangkuannya, seperti biasa istrinya itu memanyunkan bibirnya saat tak memperoleh jawaban dari pertanyaannya.


"Gini yah Freya nya Abang." Ucap Arka sambil membelai rambut Freya. "Kamu itu polosnya keterlaluan, permen yang Abang maksud tuh Permen yang itu." Ucap Arka sambil mengarahkan pandangannya pahanya.


Freya langsung beranjak dari pangkuan Arka. "Jadi permen Bang Ar itu." Kata-katanya menggantung, tapi Arka yakin Freya kali ini sudah paham maksudnya.


"Bang Ar mesum!" Teriaknya.


Arka menghampiri Freya yang berdiri tak jauh darinya. "Maaf Abang ngga maksud bikin kamu kaget atau pun takut. Lagian di kasih kode ngga peka-peka." Ucapnya sembari memeluk Freya.


"Bang Ar ngga perlu minta maaf. Freya yang minta maaf karena belum bisa jadi istri yang baik."


Dengan sabar Arka membelai rambut Freya. "Ngga apa-apa, nanti Abang ajarin biar bisa jadi istri yang baik." Ucap Arka kemudian mengecup puncak kepala Freya. "Jadi mau kapan lihat pabrik permen Abang Dek?" ledek Arka.


Freya tak menjawab, gadis itu malah semakin membenamkan kepalanya di dada Arka, malu. Bisa dipastikan wajahnya saat ini pasti sudah sangat merah padam. Apalagi mengingat obrolan pabrik permennya dengan Ardi siang tadi. Sungguh memalukan, rasanya saat ini Freya ingin bersembunyi di lubang semut agar tak seorang pun yang melihat wajahnya.


Part ini udah panjang pake banget, tapi tetep ngga keras sih wkwkwk.


aku baru baca hasil up hari ini dan ngga tau salahku dimana kok jadi ada keterangan end di covernya. padahal cerita ini masih lanjut dan belum tamat.

__ADS_1


Jangan lupa like, komen dan favoritkan!!


__ADS_2