
Seorang gadis dengan rambut panjang dan poni yang menutupi keningya masih setia menatap satu persatu pepohonan dan rumah di tepi jalan yang seolah berjalan ketika kendaraan yang ia tumpangi melaju dengan cepat. Sisa-sisa air mata yang mengering masih terlihat diwajah ceria yang kini berubah murung setelah bertemu dengan orang yang ia cintai beberapa saat lalu. Kecewa? Tentu saja bahkan teramat sangat.
Bagaimana bisa orang yang ia sayangi bisa bermain hati dibelakangnya? Bahkan setelah semua yang ia berikan termasuk mengorbankan orang yang selalu ada disisinya selama ini, orang yang selalu mengikutinya kemanapun, mengorbankan kesenangannya hanya untuk bisa selalu dekat dengannya meski tak sedikit pun harapan ia berikan, Ardi si adik ipar yang lebih memahaminya dari pada suaminya sendiri.
Inikah rasanya mencintai? Kenapa setidak adil ini? Mungkin benar dicintai lebih menyenangkan dari pada mencintai. Pasalnya selama sekolah ia hanya merasa selalu merasa dicintai oleh orang-orang disekitarnya meskipun sering ia abaikan. Apalagi dicintai oleh yang selalu sabar disisinya meskipun berulang kali ia tolak sungguh itu suatu keberuntungan tersendiri. Sayangnya keberuntungan itu tak memihak padanya lebih lama karena keinginan sang Mama yang membuatnya menorehkan luka terdalam untuk Ardi.
Menjalani kehidupan sesuai keinginan yang Mama ternyata tak sebahagia yang ia kira. Mengira Arka yang sudah benar-benar dapat menerima dan mencintainya dengan segala kekurangannya ternyata hanya terlihat di depannya saja, dengan tega bahkan lelaki itu main hati di belakangnya. Tuhan inikah balasan karena selama ini mengabaikan bahkan menolak orang-orang yang mendekatiku?
Berulang kali Ardi memanggil Freya dan menanyakan apa yang terjadi dengan gadis itu hingga menangis bahkan terdiam hingga saat ini pun diabaikan. Freya sibuk dengan pemikirannya sendiri. Sesekali ia menatap layar ponselnya yang terus menyala sejak tadi, panggilan dan pesan beruntun dari Arka yang tak ia sentuh sedikit pun. Kini gadis itu malah merubah ponselnya dalam mode pesawat kemudian memasukan ponsel berwana pink itu ke dalam tas.
Ardi menepikan mobilnya dan berhenti sejenak. Menatap lekat-lekat gadis yang ia cintai yang kini menjadi milik yang sang kakak. Kedua tangannya terulur hendak menangkup wajah Freya tapi ia urungkan. “Fre lu kenapa sih dari tadi diem mulu. Lu nggak cape apa nangis mulu? Mata lu udah bengkak tau.”
Freya balik menatap Ardi. “Ardi gue mau pulang!”
“Iya ini kan kita lagi perjalanan pulang. Ardi kembali melajukan kendaraannya.”
“Gue pengen pulang ke Jogja Di!”
Terkejut dengan jawaban Freya, Ardi kembali menepikan mobilnya. Kali ini keduanya berhenti di depan toserba. Ardi keluar dari mobilnya dan masuk ke dalam toserba. Tak lama ia kembali dengan membawa satu botol air mineral, memberikannya pada Freya. “Minum dulu terus jelasin ke gue apa yang sebenarnya terjadi!”
Freya menerima botol air itu kemudian meminumnya sedikit dan meletakannya di dasbord. Dia menatap Ardi dengan ragu, tak tahu haruskah ia mengatakan semuanya pada Ardi?
__ADS_1
“Bilang sama gue sebenernya lu kenapa Fre? Lu dari tadi gue tanya diem aja, cuma nangis terus sampe mata lu bengkak tuh. Tiga tahun gue kenal lu Fre baru sekarang gue liat lu kaya gini. Lu sebenernya kenapa?”
Pertanyaan Ardi berhasil membuatnya kembali teringat pada bayangan Arka dan Lisa yang begitu dekat. Mungkin saat in Lisa dan Arka sedang bersenang-senag dibelakangnya, pikir Freya. Gadis itu kembali menyeka air mata yang mulai kembali menetes dengan lepaka tangannya. “Ardi gue cuma mau pulang ke Jogja aja, kangen Mama.” ucapnya.
“Jelasin dulu kenapa lu medadak pengen balik ke Jogja? Jangan pake alasan nggak masuk akal kayak gitu Fre. Gue tau persis diri lu, kemaren-kemaren aja lu nggak pernah ngerengek minta pulang ke Jogja yang ada lu selalu minta anterin ke posko nyusul kak Arka, sampe gue sama Miya kalang kabut bawa lu kesana-sini biar nggak nyusul ke posko. Lah sekarang udah gue anterin ke posko KKN dan lu juga ketemu Kakak kenapa sekarang jadi gini?” cecar Ardi. “kasih tau gue semuanya Fre! Lu tau buat gue lu lebih dari sekedar kakak ipar.” Imbuhnya.
“Lebih dari kakak ipar?”
“Ya lebih dari kakak ipar, kan kita sahabatan dari dulu.”
“Oh kirain lu masih suka sama gue.”
“Ya gue masih suka sama lu Fre, selamanya mungkin karena nama lu masih tersimpan rapi di hati ini.” Batin Ardi. “Nggak lah kan lu kakak ipar gue. Udah sekarang ceritain ke gue apa yang sebenarnya terjadi. Lu percaya sama gue kan? Gue selalu ada buat lu sejak dulu Fre.”
Ardi sudah tak bisa menahan diri melihat orang yang ia cintai terus menagis tersedu-sedu, kedua tangannya menangkup wajah sedih itu dan mengahapus air mata Freya dengan jari jemarinya. “jangan nangis terus, ceritain dulu sampe selesai biar gue punya alesan buat nganterin lu ke Jogja.”
“Bang Ar punya pacar di tempat KKN. Gue liat sendiri Di. Kakak lu jahat sama gue Di, gue mau balik. Gue nggak mau ketemu Bang Ar lagi. Gue nggak mau ketemu suami yang bahkan nggak ngakuin gue di depan teman-temannya.”
“Maksudnya?”
“Ya. Bang Ar nggak pernah bilang sama teman-temannya kalo dia udah nikah, udah punya istri. Bahkan gue cuma dikenalin sebagai adik sepupu. Dan coba aja lu bayangin tiba-tiba ada cewek cantik yang dengan mesra pegang-pegang tangan Bang Ar terus manggilnya juga ‘sayang’ nyapa gue dan bilang kalo dia tuh calon kakak sepupu gue. Kasih tau kakak lu, semoga bahagia selalu sama pacarnya dari gue istri yang nggak dianggap.”
__ADS_1
Ardi benar-benar geram mendengar penjelasan Freya. Jika soal Arka yang tak mengekpos status pernikahannya tak masalah, karena Ardi tau itu semua keinginan gila Bunda dan Mamanya Freya. Tapi diam-diam masih pacaran dan mempermainkan perasaan gadis lugu seperti Freya sungguh tak pernah ia sangka kakaknya sejahat itu.
“lu yakin sama yang barusan lu bilang Fre?”
“Apa untungnya gue bohong Di. Gue udah ceritain semua, sekarang anterin gue ke stasiun. Gue mau balik.”
“Besok aja yah Fre. Udah malem mungkin udah nggak ada kereta yang berangkat ke Jogja jam segini.”
“Ada gue udah booking. Buruan anterin!”
“Terus nanti kalo Bunda nanyain gue harus jawab apa?”
“Jawab aja yang sebenernya Di. Biar Bunda tau kelakuan kakak lu.”
Tak ada pilihan lain mungkin Freya memang butuh waktu untuk menenangkan diri, Ardi menuruti permintaan itu dan mengantar Freya hingga kereta yang hendak ditumpangi Freya datang.
“Gue balik yah.” Pamit Freya.
“Hati-hati yah. Kalo udah sampe kabarin gue. Jangan nangis terus!”
“Iya. Makasih Ardi. Gue beruntung punya adik ipar sekaligus sahabat kaya lu.” Ucap Freya kemudian masuk ke dalam kereta.
__ADS_1
Ardi masih berdiri di tempat itu hingga kereta yang ditumpangi Freya semakin menjauh. “Jika kakak nggak bisa bikin lu bahagia, tenang aja masih ada gue Fre.” Ucapnya kemudian beranjak dari tempat yang ia pijak.