
Arka kini duduk di kursi dekat jendela, mereka bertukar posisi beberapa jam yang lalu setelah Freya terlibat adu mulut dengan dua orang gadis yang kursinya bersebrangan dengan tempat mereka duduk.
Masalah sepele hanya karena Freya tak suka melihat dua orang mba-mba itu terus berbicara dengan Arka. Apalagi Freya dapat melihat jelas kalo kedua perempuan yang mungkin umurnya seumuran dengan Arka itu terus mencari perhatian suaminya, meskipun Arka hanya menanggapi seperlunya saja tapi tetap hal itu berhasil menyulut emosi Freya.
Gadis yang baru kali ini dekat dengan lelaki itu merasa tak rela jika ada orang lain yang mendekati Bang Ar nya. Segitu lugunya Freya yang tak ingin seorang pun mendekati suaminya meskipun dia belum tahu perasaannya pada Arka. Apakah dia benar-benar sudah jatuh cinta pada Arka? atau hanya sekedar rasa nyaman saja karena beberapa hari ini menghabiskan waktu dengan Arka. Yang jelas apa pun alasannya ia tak ingin Bang Ar nya itu di dekati oleh siapa pun.
Bahkan dengan polosnya Freya mengatakan bahwa Arka suaminya, namun kedua perempuan itu tak percaya. Mereka beranggapan Freya dan Arka adalah adik kakak, karena melihat tingkah Freya yang kekanakan sejak duduk di sana. Di tambah lagi dengan panggilan Adek Abang yang makin meyakinkan mereka kalo pasangan di hadapan mereka bukan suami istri.
Adu mulut itu baru selesai setelah Arka mengatakan kebenaran bahwa mereka memang suami istri yang langsung membuat kedua perempuan yang duduk bersebrangan dengan kursi mereka terlihat malu. Sedangkan Freya tentu saja langsung tersenyum penuh kemenangan, kemudian menyuruh Arka berpindah posisi duduk menjadi di dekat jendela.
"Maaf yah Mbak nya suami saya yang ganteng ini saya pindahin." Ucapnya sambil mengejek dua perempuan itu.
Freya duduk miring menghadap Arka yang hendak memejamkan matanya. "Abang ih jangan tidur! Aku ngga ada temennya." Rengeknya.
"Tidur dulu aja Dek. Perjalanan masih jauh, kita paling sampe Bandung jam sepuluh malam. Lagian apa kamu ngga cape dari tadi nyerocos terus." Ujar Arka tanpa memandang Freya.
"Jadi Bang Ar cape yah dengerin aku ngobrol dari tadi." Ucap Freya pelan.
Arka melirik ke sampingnya saat Freya berhenti bicara. Terlihat gadis itu cemberut dan menyadarkan kepalanya di kursi. "Hadeuh ngambek lagi ini bocah." Batin Arka.
Arka menundukkan kepalanya menatap wajah Freya yang cemberut. "Jangan ngambek. Abang seneng kok dengerin celotehan kamu Dek. Jangan ngambek yah nanti Abang beliin kamu poster jumbo idol favorit kamu yang kaya di kamar kamu."
Mendengar tawaran Arka, wajah Freya seketika berubah. Tak ada lagi wajah cemberut tadi. Kini matanya berbinar menatap Arka seolah tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. "Beneran Bang Ar?"
"Iya beneran." Jawab Arka sambil mengelus kepala Freya.
"Aku mau yang ekslusif ya Bang. Asahi Oppa new poster MMM sama orange." Ucap Freya semangat.
Sebenarnya Arka tak paham keinginan istrinya itu tapi yang penting gadis itu tidak ngambek lagi. "Iya iya ntar kita beli."
__ADS_1
"Makasih Abang." Ucap Freya dengan penuh semangat kemudian reflek memeluk Arka karena saking senangnya.
Setelah menyadari perbuatan di bawah sadarnya yang tiba-tiba memeluk Arka, gadis itu langsung melepaskan pelukannya. "Maaf Bang." Ucapnya lirih.
Arka bisa melihat istrinya itu sedang malu. Sungguh menggemaskan. "Mau peluk lagi juga boleh Dek. Abang ngga keberatan kok." Ledek Arka.
"Abang jangan mesum yah!" Ucap Freya sambil memukul lengan Arka.
Freya akhirnya tertidur setelah tadi begitu semangat bercerita tentang boy band treasure favoritnya. Arka menyenderkan kepala Freya pada bahunya. Sesekali lelaki itu terlihat mempelai rambut Freya. Memandangi sosok lugu dan cerewet yang kini berstatus sebagai istrinya.
Ucapan Freya soal mau dikasih makan apa tiba-tiba terlintas di pikirannya. "Bener juga ini bocah mau gue kasih makan apa? Orang gue aja masih dibiayai sama orang tua. Ini semua gara-gara bunda nih yang maksa-maksa nikah biar kaya di novel." Batin Arka.
Sekali lagi Arka menatap wajah lelap Freya. "Tapi tenang aja Dek, gue pasti jagain lu dan ngga bakal bikin lu sedih. Ya walaupun sekarang belum cinta sama lu. Tapi gue bakal buka hati gue buat nerima lu. Mungkin ini emang udah takdir gue." Gumam Arka hingga akhirnya ia ikut terlelap ke alam mimpi.
Arka membangunkan Freya karena setengah jam lagi mereka tiba di tujuan. Setelah kereta berhenti keduanya turun dan langsung menuju pintu keluar stasiun. Mereka menghampiri supir yang telah ditugaskan oleh Mira untuk menjemput anak dan menantunya.
Tak butuh waktu lama bagi Freya untuk tiba di rumah mertuanya. Karena jam yang sudah hampir tengah malam membuat jalanan cukup lengang hingga mereka tak perlu mengalami macet.
Freya menatap rumah mewah dengan nuansa putih di hadapannya. "Bang ini rumah Abang?" Tanyanya dengan penuh takjub menatap bangunan itu.
"Rumah ayah sama bunda." Jawab Arka. Kemudian menarik tangan istrinya untuk masuk ke rumah itu.
Freya mengikuti Arka masuk ke dalam rumah yang sudah sepi, mungkin semua sudah tidur karena sudah larut malam.
Freya masih takjub dengan segala isi rumah mertuanya yang ternyata begitu wow. "Aku ngga nyangka Abang anak sultan." Celoteh Freya yang hanya di tanggapi senyuman oleh Arka.
Keduanya masuk ke kamar Arka. Kamar dengan nuansa biru langit itu begitu rapi. Freya segera merebahkan tubuhnya di ranjang. "Hm lebih nyaman di bandingin ranjang gue. Rumah gue udah bagus tapi rumah Bang Ar lebih wow." Gumamnya.
Arka yang baru saja keluar dari kamar mandi dan sudah berganti pakaian. Dirinya lantas menyuruh Freya untuk mencuci muka dan mengganti pakaian sebelum tidur.
__ADS_1
Freya menuruti perintah Arka, tapi gadis itu keluar dengan pakaian yang sama. "Kenapa bajunya ngga ganti Dek?"
Freya berjalan menghampiri Arka yang sedang duduk selojoran di ranjang sambil memainkan hp nya. "Bang boleh ngga aku pinjem kemeja Abang yang warna putih terus yang lengannya panjang. Abang punya kan?"
Lagi-lagi Arka di buat heran dengan keinginan istrinya itu. Pikirnya untuk apa tengah malam begini pinjem kemeja putih segala. Tapi dirinya sudah lelah seharian ini jadi lebih baik di turuti saja. Arka beranjak dari ranjangnya dan membuka lemari pakaian. Diambilnya kemeja putih lengan pajang yang biasa ia gunakan jika ujian di kampus. "Ini Dek. Buat apa sih malem-malem gini juga." Ucap Arka sambil menyerahkan kemejanya.
Freya menerima kemeja putih itu, wajahnya terlihat sangat senang. "Buat aku pake lah Bang, biar kaya di drama korea yang ceweknya tuh pake baju pacarnya yang kebesaran." Ujarnya sambil memeluk kemeja Arka. "Sebenernya aku tuh pengen ngelakuin ini sejak lama tapi kan aku ngga punya pacar Bang. Makanya Bang Ar nonton drama korea dong biar tahu." Lanjutnya kemudian pergi ke kamar mandi.
Dan benar saja Freya keluar dari kamar mandi, gadis itu sudah mengenakan kemeja Arka yang kebesaran sesuai dengan keinginannya.
Freya berjalan ke ranjang kemudian merebahkan tubuhnya. Dia tidur membelakangi Arka yang masih fokus dengan hp nya. "Selamat bobo Bang Ar." Ucap Freya.
Arka meletakan hp nya dan memeluk Freya dari belakang. Membuat gadis itu terusik tapi tak ada penolakan seperti malam sebelumnya ketika mereka masih di rumah orang tua Freya. "Abang ih apa-apaan sih?" Ucap Freya sambil merubah posisi tidurnya menghadap Arka.
"Udah tidur aja. Biar kaya di drama korea." Dalihnya sambil kembali membawa Freya ke dalam pelukannya.
.
.
.
Gimana udah kaya di drama korea belum?
Pinter banget yah Bang Ar manfaatin keluguan Freya biar bisa peluk-peluk gitu.
Kemarin ada yang komen katanya aku doang author yang ngga minta di vote. Kalo gitu sekarang boleh dong aku minta votenya buat Bang Ar sama Freya, biar aku makin semangat nerusin kisah ini. Ngga usah banyak-banyak vote seikhlasnya saja. Sebenernya aku mah ngga di vote juga ngga apa-apa yang penting like sama komentarnya jangan ketinggalan.
Oke bye-bye see you di next episode.
__ADS_1