Jodoh Dari GC

Jodoh Dari GC
Aneka Rasa


__ADS_3

Setibanya di rumah Freya langsung menuju kamarnya. Meletakan tasnya di meja rias kemudian merebahkan tubuh tingginya di ranjang dan menatap langit-langin putih kamarnya sembari mengingat hal-hal yang sudah dilaluinya tadi. “Hari ini terasa nano-nano sekali, aneka rasa.” Gumamnya.


Setidaknya permen nano nano aneka rasa itu selalu berakhir enak di mulut, tapi tidak dengan nano nano yang ia rasakan hari ini, semuanya berakhir canggung. Sahabat jadi adik ipar dan akan menikah dalam waktu satu minggu lagi padahal ijazah SMK saja belum ia kantongi. Bukankah menikah harus melampirkan ijazah sebagai salah satu syarat. “Wah iya bener ijazah gue baru inget. Ijazah gue aja belum ada. Masa iya gue nikah pake ijazah SMP. Ini konyol.” Ucapnya seraya bangkit dari ranjang dan mencari Mamanya.


“Mama...Mama dimana?” Tanyanya pada ART yang sedang mengepel lantai.


“Ada di dapur Non.”


“Makasih Bi.” Freya langsung menuju dapur sambil terus berteriak memanggil mamanya.


“Ada apa sih kamu tuh di rumah tidak usah teriak-teriak. Ini bukan hutan!” Ujar Ratna begitu mendapati Freya masuk ke dapur.


Freya mengatur nafasnya kemudian duduk di salah satu kursi, “Ma bukannya nikah itu harus pake ijazah yah? Ijazah aku kan belum ada Ma.” Keluhnya.


Ratna mematikan kompor kemudian menghampiri Freya dan duduk di samping putrinya. “Denger yah sayang.” Ucapnya sambil mengelus kepala putrinya. “Kamu tuh harus banyak baca novel seperti mama supaya dunia kamu tuh terbuka. Di novel-novel aja yah anak masih sekolah aja dinikahin bisa. Ada yang masih kelas sebelas udah nikah juga.”


“Tapi Mama itu kan di novel. Ini tuh dunia nyata Ma.” Freya mulai cemberut, bagaimana bisa lagi-lagi mamanya menyamakan dunia novel dengan dunia nyatanya.


“Yeeehhh di novel juga tidak sepenuhnya halu kali Nisa. Kamu tenang aja semua bisa diatur. Kan ada surat keterangan lulus.”


“Emang bisa ya Ma?” Penasaran Freya, untuk apa ada peraturan kalo semua bisa dilanggar dan diatur ulang dengan mudah.


“Udah pokoknya Nisa tinggal terima beres aja. Sebenarnya Nisa kenapa? Apa Arka tidak memperlakukan Nisa dengan baik?”


“Bukan gitu Ma. Bang Ar baik kok sama Freya. Tapi apa Mama tidak khawatir akan menikahkan Freya dengan orang baru kita kenal?” Entahlah setelah waktu pernikahan semakin dekat tiba-tiba muncul berbagai keraguan di hati gadis itu. Awalnya Freya hanya ingin menuruti pilihan orang tuanya saja tapi kenapa mendadak baper seperti ini. Mungkin benar kata orang semakin dekat kita dengan pernikahan akan semakin banyak godaan dan kegundahan yang muncul.


“Percaya sama Mama. Arka adalah jodoh yang terbaik buat Nisa. Meskipun Mama mendapatkan jodohmu dari grup chat dan menjodohkan kamu seperti di novel-novel tapi Mama juga tidak mengambil semua keputusan dengan asal Nisa. Mereka keluarga yang baik, terlebih Papa juga mengenal Ayah Arka dengan baik. Jadi ini semua tidak semena-mena karena grup chat.” Ujar Ratna.


“Udah-udah jangan baper kaya gini. Apa kamu habis nonton drama korea dengan gendre perjodohan dan berakhir tidak bahagia sehingga bikin kamu takut dengan pernikahan juga?” Ledek Ratna.

__ADS_1


“Ngga lah Mama. Mana ada drakor yang nikahin anaknya yang masih sekolah. Drama korea ku tidak sereceh novel yang mama baca.” Ejek Freya. “Freya ke kamar dulu.” Gadis itu beranjak dari dapur dan kembali ke kamarnya.


Kembali merebahkan tubuhnya di ranjang. “Gue udah terlanjur tenggelam di perjodohan ini, tinggal renang aja siapa tau ada keindahan di perjodohan ini. Lagi pula Bang Ar lelaki yang baik.” Batinnya.


Empat hari berlalu, hari pernikahan mereka semakin dekat. Freya tetap menjalani hari-harinya dengan ceria meskipun beberapa hari kebelakang sempat muncul keraguan di hatinya. Seperti hari-hari sebelumnya Freya hanya menghabiskan waktunya bermalas-malasan, maraton nonton drama korea juga stalking media sosial idol favoritnya bersama dengan Miya. Sahabatnya itu selalu menemaninya menjelang hari pernikahan.


Miya khawatir Freya akan bersedih menjelang pernikahankannya karena perjodohan, ditambah lagi masalah Ardi yang mendadak akan jadi adik iparnya. Namun ternyata semuanya salah, sahabatnya tetap ceria seperti biasanya.


Ratna dan Mira benar-benar sudah mempersiapakan acara pernikahan sederhana itu dengan baik. Mira bahkan dengan senang hati membiayai akomodasi untuk teman-teman dari grup chatnya yang akan menghadiri acara pernikahan putranya. Aneh memang acara pernikahan hanya akan dihadiri oleh keluarga inti saja tapi mereka malah mengundang teman-teman grup chat di dunia maya yang belum pernah sekalipun mereka temui.


Berbeda dengan Freya, Arka malah tampak pusing dengan hari pernikahan mereka yang semakin dekat. Arka berulang kali meneguk kopi yang ada di hadapannya.


Dirinya terlalu santai saat berpikir akan mengurus masalah hubungannya dengan Lisa belakangan. Buktinya sampai saat ini mereka masih berstatus pacaran. “Gue harus ngomong apa ini sama si Lisa? Putus tanpa alasan itu ngga mungkin. Tapi kalo putus gara-gara gue bilang mau nikah ini lebih konyol. Pacarannya sama siapa nikahnya sama siapa.” Batin Arka.


Irfan yang baru datang dibuat heran melihat deretan cangkir yang ada di meja itu. Hanya ada Arka seorang diri tapi sudah ada tiga cangkir kosong di sana. “Kayaknya lu lagi pusing banget ya? Jam segini udah mau abis empat cangkir.” Tanya Irfan.


“Lah kenapa?”


“Gue mau nikah!” Seru Arka sambil mengacak rambutnya frustasi.


“Enak dong nikah. Bobo ada yang nemenin. Jadi lu ngga usah solo player lagi.” Ledek Irfan.


“Pikiran lu Fan jam segini dah belok aja.”


“Apaan yang belok Ar?” Tanya Rendi yang baru saja tiba di sana.


“Tuh otak temen lu yang belok.” Arka menunjuk Irfan yang duduk di sampingnya.


“Ya kali bener kan yah Ren, kalo udah nikah mah enak bobo ada yang nemenin. Ngga usah solo player.” Ledeknya lagi.

__ADS_1


“Yoha.” Timpal Rendi.


“Kalian berdua sama aja. Gebleg!” Ucap Arka sambil memandang kedua sahabat dekatnya dengan tatapan sinis secara bergantian.


Melihat ekspresi Arka, Rendi tau temannya saat ini sedang kalut. “Jadi masalahnya apa?”


“Gue mau nikah dua hari lagi tapi gue belum mutusin si Lisa.” Keluh Arka.


“Bukannya kemaren-kemaren lu bilang mau mutusin dia? Lah kenapa sampe sekarang belum putus juga? Mam*pus lu kalo sampe sultan tau.” Ujar Rendi.


“Gue udah berusaha berulang kali mau mutusin dia. Tapi si Lisa tuh kaya yang tau mau gue putusin. Dia selalu ngehindar bahkan akhir-akhir ini dia ngga angkat telponnya.” Jawab Arka.


“Sebaiknya lu cepet-cepet selesein masalah ini. Kalo sampe lu udah nikah tapi masih dengan status pacaran sama Lisa bakal ada dua hati yang tersakiti. Si Lisa sama calon istri lu yang bocah putih abu itu.” Rendi menasihati sahabatnya.


“Lu keliatannya udah yakin mau mutusin Lisa. Jangan-jangan lu udah cinta yah sama calon istri lu?” Tanya Irfan.


Mendengar pertanyaan Irfan, Arka tak tau harus menjawab apa. Karena sampai saat ini dia belum tau perasaannya terhadap Freya. Dirinya hanya memperlakukan Freya dengan baik karena tak ada alasan untuk tak menyukai gadis itu. Gadis yang ceria dan selalu membawa kebahagiaan bagi orang-orang di sekitarnya. Sejauh ini Arka hanya memperlakukan Freya seperti dia berprilaku pada Ardi, adiknya.


.


.


.


JANGAN LUPA TEKAN LIKE!!


Kalian boleh vote kalo suka, tapi aku ngga maksa. Seikhlasnya aja, soalnya aku tuh udah ada yg baca kisah ini aja seneng banget.


Happy reading, terimakasih buat kalian yang selalu setia dengan kisah ini.

__ADS_1


__ADS_2