Jodoh Dari GC

Jodoh Dari GC
Yang waras ngalah!


__ADS_3

Freya mengikuti Arka ke kamarnya untuk bersiap-siap, setelah sebelumnya Frans menyarankan mereka untuk menghabiskan waktu bersama jalan-jalan di kota yang akan segera di tinggalkan oleh putrinya besok.


Setibanya di kamar Arka mengambil pakaian di kopernya dan mengganti pakaiannya dengan pakaian yang cocok dikenakan untuk jalan-jalan. Lelaki itu masih saja mendiamkan Freya. Kalo saja bukan saran dari papa mertuanya tentu sangat enggan dirinya harus jalan-jalan dengan Freya yang semenjak menjadi istrinya begitu menyebalkan.


"Abang marah yah sama Freya." Tanya Freya begitu mendapati Arka keluar dari kamar mandi. Tak ada jawaban dari Arka, suaminya itu masih mendiamkannya. Freya terus mengikuti Arka berjalan di belakangnya.


"Abang." Panggilnya. "Abang ih! Beneran deh Bang Ar tuh bocah banget ih. Ngambekan!" Lanjutnya sambil berlalu meninggalkan Arka ke kamar mandi untuk mengganti pakaiannya.


Arka berbalik dan melihat istrinya yang sudah berlalu ke kamar mandi sambil ngoceh-ngoceh. "Sungguh amazing nih bocah, bisa-bisanya dia yang salah bukannya minta maaf malah ngatain gue bocah dan balik ngambek. Memang sepertinya gue butuh privat kesabaran buat ngadepin nih anak." Gerutu Arka.


Arka meninggalkan kamar itu dan pergi ke ruang tamu. Mama mertuanya terlihat sedang sibuk menatap layar ponsel yang dipenuhi oleh gambar emak-emak yang kemarin hadir di pernikahannya. "Ngga di rumah ngga di sini pemandangannya sama. Mertua dan bundanya itu benar-benar klop kalo soal rapat dadakan di vidio call." Batinnya, kemudian berlalu berjalan ke teras rumah Freya.


Arka duduk di kursi teras sambil berfikir apakah dirinya sudah keterlaluan mendiamkan Freya? Begini kah rasanya kalo nikah sama gadis karena perjodohan. Apalagi kita tak mengenal orang itu dengan baik. Bagaimana bisa mengenalnya dengan baik bahkan ketemu saja bisa dihitung dengan jari, mengingat pertemuannya dengan Freya yang hanya beberapa kali saja. Rasanya seperti entah apalah sulit dijabarkan, padahal bukan bilangan aljabar pada pelajaran matematika yang harus dipecahkan menggunakan rumus tertentu.


Freya keluar dari kamar mandi dan tak mendapati Abangnya di sana. "Bener-bener deh Bang Ar kaya bocah banget. Ngga mikir apa udah punya istri main di tinggal-tinggal aja. Awas aja nanti." Gerutunya sambil menyisir rambut panjangnya. "Seperti biasa gue imut banget sumpah. Bang Ar waspada anda harus siap-siap jadi micin, eh bucin." Ucapnya pada gambar dirinya di pantulan cermin.


Dengan buru-buru Freya berjalan keluar dan menutup pintu kamarnya namun tak lama gadis itu malah kembali lagi ke masuk ke kamarnya. "Asahi Oppa maafkan aku menduakan mu, tapi percayalah kamu akan selalu akan selalu ku kenang di hati terdalam. Saranghae forever" Ucapnya sambil memeluk poster jumbo itu, Freya merasa sedang menyelingkuhi suaminya halunya itu.


"Ma Bang Ar mana?" Teriaknya pada mamanya.


"Sepertinya di teras, tadi keluar."


Freya berjalan ke teras setelah sebelumnya bersalaman sekaligus pamit pada mamanya. Setalah menutup pintu rumahnya Freya menghampiri Arka dengan wajah tanpa dosanya. Pikirnya bersikap seolah tak terjadi apa-apa adalah yang terbaik. "Ayo lets go Bang Ar kita jalan-jalan." Ajaknya tapi lagi-lagi Arka mengabaikannya.


"Abang ih." Panggilnya lagi. Sementara Arka masih saja diam dan mengamati penampilan istrinya, manis dan imut benar-benar gaya anak sekolah menengah atas. Kaos oversize dan celana jeans panjang dengan flat shoes putih. Jauh berbeda dengan penampilan pacarnya yang seksi dan dewasa.


"Abang ih Abang beneran marah yah sama gue? Eh aku maksudnya." Tanyanya.


"Pikir aja sendiri!"

__ADS_1


"Abang atuh lah jangan marah." Rengeknya.


"Lu ngga mau minta maaf sama gue?"


"Iya deh Bang, Freya minta maaf soal semalem. Soal tadi pagi juga. Maafin yah Bang, janji deh ngga kaya gitu lagi." Ucap Freya dengan menyatukan kedua telapak tangannya, persis seperti yang ia lakukan pada guru di sekolahnya ketika ia datang terlambat atau pun tidak mengerjakan PR. Tak lupa wajah melasnya pun ia tunjukan.


Melihat wajah manis dengan ekspresi melas Arka sungguh tak tega karena kalo di pikir-pikir wajarlah Freya mengusirnya dari kamarnya karena gadis itu terlalu polos. "Iya udah gue maafin, awas kalo sampe di ulangin."


"Makasih Abang. Nah sekarang giliran Abang mau minta maaf ngga sama aku?"


Arka menaikan kedua alisnya. "Salah apa gue harus minta maaf sama lu?"


"Nah itu salah Abang." Ucapnya sambil menunjuk Arka. "Abang pake bahasa 'gue lu' ke aku padahal aku sopan banget sama Abang. Inget ya Bang, suami istri itu harus saling menghargai." Ucap Freya yang mendadak menasihati suaminya.


Arka menepuk keningnya pelan, stres. Ada saja celotehan istrinya yang menguras pikirannya. Bisa-bisanya dia menyuruh dirinya untuk menggunakan bahasa 'aku kamu' padanya. Tapi ya sudahlah dari pada semakin runyam dan panjang urusannya kalo tidak dituruti mending nurut aja, yang waras ngalah sama bocah, pikirnya.


"Ya udah gue, aku eh Abang." Ralatnya. Sungguh tak biasa mengucapkan kata aku apalagi lada bocah yang usianya lebih muda, mending pake Abang aja lah biarin lah asal jangan dikira Abang tukang bakso aja. "Ya udah Abang minta maaf yah Dek." Ucapnya sambil berdiri kemudian mengelus rambut panjang Freya.


"Ya udah ayo kita berangkat. Mana kunci mobilnya biar Abang yang bawa." Ujar Arka.


"Aku ngga punya mobil Bang." Jawab Freya polos.


"Terus selama ini kalo pergi sekolah gimana? Kalo jalan-jalan juga gimana?" Heran Arka pasalnya mertuanya itu orang berada tapi kenapa putrinya tak memiliki kendaraan.


"Kalo sekolah dianterin papa, pulangnya naik ojeg kalo ngga nebeng ke Miya. Kalo jalan-jalan aku ngga pernah Bang. Soalnya pulang sekolah harus langsung pulang. Paling sesekali aja sama Miya. Kadang sama Mama."


Astaga Arka baru sadar pantas saja istrinya itu sangat polos rupanya mertuanya itu terlalu protektif pada Freya. "Ya udah terus gimana kita jalannya ini?" Tanya Arka yang memang sudah biasa pergi kemana-mana dengan kendaraan pribadinya. Biasalah anak sultan mah bebas.


"Jalan yah pake kaki lah Bang. Gitu aja kok pusing." Ucap Freya dengan senyum mengejek.

__ADS_1


"Freya please." Arka sudah mulai gregetan dengan tampang polos istrinya.


"Iya Abang jangan marah-marah ini aku lagi pesen taksi online." Freya mulai sibuk dengan aplikasi taksi onlinenya.


"Udah ngga usah pesan taksi online, kita rental mobil aja." Kesal Arka.


Setelah drama soal kendaraan kini mereka berdua sudah berada di candi borobudur. Arka sebenarnya tidak suka dengan tempat yang hanya di penuhi oleh tumpukan batu-batu bersejarah dengan aneka ukirannya. Namun apalah daya lagi-lagi yang waras harus ngalah sama bocah, karena sebelumnya Freya merengek ingin tetap ke tempat ini.


Kini keduanya sedang berjalan menuju candi yang juga ramai oleh pengunjung lain. "Bang aku tuh dari dulu pengen banget kesini." Celoteh Freya sambil berjalan di samping Arka dan melihat pasangan lain yang seumuran dengannya berjalan bergandengan dengan pacarnya.


"Emang kamu belum pernah kesini Dek?"


"Sering lah Bang, udah bosen malah aku bolak balik kesini. Tapi aku tuh pengen kaya itu tuh." Ucapnya polos sambil menunjuk pasangan yang berjalan bergandengan. "Aku kan belum pernah kaya gitu Bang." Keluhnya.


Huft.. Arka membuang nafasnya pelan. Sungguh polos sekali istrinya ini. "Ya udah ini pengang." Titahnya sambil memberikan lengan kirinya.


"Boleh Bang?"


Arka sudah tak sabar dengan ocehan istri polosnya itu. Diambilnya tangan kanan Freya dan meletakannya di lengan kirinya. "Boleh banget." Ucapnya.


"Makasih Bang."


Freya terus menempel pada lengan Arka sesekali gadis itu menempelkan kepalanya pada bahu Arka. Sementara Arka hanya mengamati tingkah istrinya yang menggemaskan. Benar-benar gadis yang polos dan jauh berbeda dengan pacarnya.


.


.


.

__ADS_1


Freya tuh polos dan lugu banget kaya aku. Jadi kalo kalian menerka-nerka sosok yang menulis cerita ini ngga jauh beda sama Freya ya hehehe.


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN DAN FAVORITKAN!!!


__ADS_2