
Ardi tak pernah menyangka jika membantu teman pindah ke tempat baru akan semelalahkan ini. Dulu saat dirinya SMK dan tinggal di rumah pamannya juga tak seribet membantu Miya membereskan hunian barunya. Ardi mengira cukup mengantar Miya ke apartemennya dan membawakan koper Miya hingga ke kamarnya, tapi ternyata salah. Miya malah mengajaknya berbelanja beberapa peralatan untuk mengganti peralatan dan perlengkapan yang sebenarnya sudah lengkap. Tak habis pikir kenapa hidup perempuan itu begitu ribet, padahal saat semua sudah ada tak perlu memusingkan warna cukup tinggal pakai saja.
Di sinilah mereka berada kini, sebuah Mall besar yang lengkap. Ardi yang baru pertama kali pergi bersama Miya tanpa Freya merasa sedikit aneh tapi lelaki itu tetap mengikuti Miya kesana kemari dengan membawa beberapa kantung belanjaan yang sudah penuh.
“Makasih udah bantuan gue Ar. Ini oleh-oleh buat lu sama Freya juga. Tadi gue lupa nggak ngasih ke Freya langsung.” Miya menyodorkan paper bag cokelat yang entah apa isinya pada Ardi.
“Makasih juga buat oleh-olehnya. Gue cabut dulu yah, udah mau jam tujuh malem.” Pamitnya sambil menerima paper bag itu.
Di perjalanan Ardi mengentikan mobilnya di sebuah restoran. Harusnya malam ini jika tak ada kendala bundanya sudah pulang. Tapi untuk jaga-jaga saja dari pada harus makan mie instan buatan kakak iparnya mending membungkus beberapa porsi makanan untuk dibawa pulang. Ardi yang tau makanan apa yang disukai Freya selain jajanan di sekolah mereka dulu memutuskan untuk menelpon kakak iparnya tapi tak ada jawaban dari panggilannya, hingga ia memutuskan membeli nasi goreng saja. Menu yang merakyat yang pasti semua orang suka.
Pukul delapan tepat Ardi tiba di rumah. Dia bisa melihat mobil kakaknya sudah terparkir dan lampu juga sudah menyala berati kakaknya itu sudah pulang. Ardi mencari Freya untuk memberikan oleh-oleh dari Miya dan makan malam mereka juga tentunya. Sudah ke ruang TV dan taman belakang rumah tempat Freya biasa santai tapi gadis itu tak ada. “Masa mereka jam segini udah ngamer aja sih.” Gerutu Ardi sambil menaiki tangga menuju kamar Arka yang bersebelahan dengan kamarnya.
Ardi berdiri di depan kamar Arka dan mengetuk pintu kamar itu berulang. “Fre gue bawa oleh-oleh dari Miya. Lu mau nggak?”
Freya yang mendengar ketukan pintu berulang melepaskan ciuman Arka. “Bentar Bang Ar di pause dulu, kaya ada yang getok pintu kamar deh.”
“Mana? Nggak ada.” Arka kembali meraup bibir Freya, tangannya sudah tak terkontrol ikut-ikutan mengabsen tubuh Freya. Mengelus perut datar istrinya bermain-main di sana sebentar kemudian berpindah ke punggung mulus Freya untuk untuk membuka pabrik susu miliknya yang seharusnya sudah opening sejak lama. Dengan mudah Arka melepas kunci pabrik susu itu, kini bibirnya yang sudah puas bermain dengan manisnya bibir Freya mulai turun untuk mengabsen leher istrinya.
Freya bisa merasakan hembusan hangat nafas Arka di lehernya, ada sensasi geli yang menyenangkan membuat nafasnya memburu dan tanpa sadar bibirnya sudah mengeluarkan suara-suara yang sebelumnya tak pernah keluar dari bibirnya. “Ahh Bang Ar... iniii ge..li banget.” Ucapnya yang mendadak jadi gugup nggak jelas saat tangan Arka mulai memainkan pabrik susunya.
Tapi lagi-lagi Freya bisa mendengar ketukan pintu yang makin keras. Kali ini malah dibarengi suara yang mirip suara Ardi. “Fre mau nggak ini oleh-olehnya dari Miya. Atau gue abisin sendiri aja.”
Freya buru-buru menjauhkan tangan Arka dari dadanya, Ia mendadak gugup. “Bang Ar kayaknya Ardi udah pulang deh.”
“Biarin aja sayang. Besok juga masih bisa ketemu Ardi.” Arka kembali menyusupkan tangannya ke dalam baju Freya.
Tapi Ardi si adik yang tak tau kakaknya sedang otw surga dunia itu terus memanggil-manggil Freya dari luar. “Ya udah kalo lu nggak mau. Gue abisin semua.”
__ADS_1
“Gue mau Di jangan diabisin!” Freya menyingkirkan tangan Arka dari tubuhnya. Kemudian duduk membelakangi Arka. “Pasangin lagi Bang!” pintanya supaya Arka mengunci kembali gerbang pabrik susunya.
Arka dengan malas bangun dari tidurnya, bukannya menuruti perintah Freya dirinya malah memeluk Freya dari belakang dan kembali menyentuh pabrik susu yang baru opening sebentar udah harus tutup lagi.
“Bang Ar ih tangannya nakal banget. Pasangin cepet ntar oleh-oleh jatah aku diabisin Ardi.” Rengeknya.
“Besok Abang beliin yang banyak, itu biarin aja diabisin Ardi.”
“Nggak mau Abang. Lagian aku juga lapar dari tadi kan belum makan.”
“Yaudah.” Pasrah Arka kembali menutup pabrik susunya.
Freya segera merapikan pakaian dan rambutnya kemudian turun dari tempat tidur diikuti oleh Arka dengan malas. “Si Ardi ngeselin banget, nganggu aja.” Batinnya.
“Lama banget buka pintunya. Nih oleh-olehnya.” Ardi menyodorkan paper bag yang ia bawa. “Gue juga beli nasi goreng lu belum makan kan?”lanjutnya.
Tak ada ucapan yang kelaur dari mulut Arka selama makan, bahkan ia memakan makanannya dengan malas. “Kakak kenapa diem mulu dari tadi?” tanya Ardi.
“Nggak mood gue.”
“Why?”
“Nggak apa-apa Di. Bang Ar kecapen aja tadi abis ngecek tempat KKN. Kita tidur duluan yah.” Freya melirik suaminya. “Ayo Bang mau istirahat kan. Aku juga udah ngantuk.”
“Bang Ar jangan ngambek. Abang mau lanjutin yang tadi kan?”
“Sayang.” Panggil Freya lirih karena masih malu memanggil Arka dengan sebutan itu.
__ADS_1
“Panggil apa barusan?” senyum meledek terbit dibibir Arka melihat Freya yang tersipu malu.
“Bang Ar sayang.” Ucap Freya sembari menunduk.
“Jangan malu-malu gitu sama suami sendiri, Sini.” Arka menarik Freya kepelukkannya dan menghujani wajah imut istrinya dengan banyak ciuman, merengkuh tubuh gadis itu kemudian melepaskan baju Freya hingga ia bisa melihat dengan jelas pabrik susu miliknya.
Freya menerima setiap sentuhan dari suaminya dengan senang hati. Sudah berulang kali leguhan keluar dari bibirnya membuat Arka semakin menggila meneguk susu dari pabriknya. Bang Ar nya kini terlihat seperti bayi yang sedang kehausan ASI.
Tokk.. tokk.. tokk..
Dengan kesal Arka menghentikan kegiatan menyenangkan itu. “Apaan lagi si Ardi bener-bener ganggu aja.” Gerutunya sembari menutup tubuh Freya dengan selimut. “Bentar Dek.” Arka mengecup kening Freya kemudian turun dari ranjang. Sedari tadi ia sudah mengabaikan ketukan pintu itu tapi sial ketukannya malah semakin keras dan mengganggu saja.
Arka menghampiri pintu sambil mengacak rambutnya kesal. Arka langsung membuka pintu,” Apa lagi sih?” bentaknya. Arka melihat wanita yang berdiri di depan pintunya dan langusng membuatnya kalang kabut. “Bun.. Bunda?”
“Iya ini bunda emang kamu kira siapa? tidak sopan sekali kamu bentak-bentak Bunda. Mana Freya bunda bawa oleh-oleh banyak buat menantu kesayangan bunda.” Mira berusaha melihat ke dalam kamar tapi Arka yang masih berdiri di pintu segera keluar dan menutup pintu kamarnya, bahaya kalo sampe bundanya menerobos masuk. "oleh-oleh lagi. dari tadi oleh-oleh ngerusak suasana aja. kalo begini pengen gue tutup aja semua pabrik oleh-oleh. ngeselin." batin Arka.
“Oh Freya itu udah tidur Bun. Iya udah tidur.” Ulang Arka. “Biar Arka aja yang ngasih oleh-olehnya ke Freya.” Tangan Arka hendak meraih paper bag di tangan Mira tapi bundanya itu malah menjauhkannya dari Arka.
“Biar bunda aja yang ngasih langsung besok. Kamu ikut bentar ke bawah! Ada yang mau ayah sama bunda bicarakan.” Ujar Mira.
Dengan malas Arka mengikuti bunda Mira, berulang kali ia mengacak rambutnya kesal. “Kayaknya gue harus ke hotel kalo nggak pindah dari sini biar nggak ada yang nganggu.” Batinnya.
.
.
.
__ADS_1
Sekian dan terimakasih. Jangan lupa tinggalkan jejak dan dukungannya buat Arka Freya supaya cepet merasakan surga dunia wkwkwk.