
~Andai aku bisa memilih memori yang boleh aku ingat dan aku hapus, maka aku akan menghapus ingatanku yang pernah mencintaimu selama ini.~Ardi Rahardian
Arka mengambil buku catatan dan alat tulis yang ada di samping Freya, meletakannya di nakas samping ranjang mereka. Arka kembali merebahkan tubuhnya dan menutup matanya dengan lengan kanannya, nampaknya kesabarannya masih terus diuji. Sementara Freya terus menguncang tubuhnya. “Bang kok bukunya di pindahin sih kan mau belajar. Kita jadi belajar ngga sih?”
Arka menyingkirkan tangganya dari wajahnya dan membertangkan tanganya ke samping, kemudian menarik Freya hingga gadis itu menyandarkan kepalanya di lengannya.
Freya kini menatap Arka dengan penuh tanda tanya. “Abang apa-apaan sih?”
“Biar kaya di drama korea. Kan kamu suka.” Ujar Arka yang kemudian memeluk Freya.
“Moduslah Bang Ar.”
Arka memiringkan tubuhnya dan menatap Freya. “Gini yah Freyanisa Rahardian istriku yang-“
“Freyanisa Fransiska Abang. Masa lupa sama nama aku sih.” Protesnya karena namanya yang berubah tiba-tiba.
Arka memijit keningnya asal. “Freyanisa Rahardian karena udah jadi istri Abang!”
“Kalo gitu jadi Freyanisa Arkana dong. Nama Abang kan Arkana bukan Rahardian.” Protesnya lagi.
Arka mencubit pipi gadis menyebalkan tapi menggemaskan dihadapannya. Kenapa masalah nama aja jadi ribet gini. “Udah terserah kamu aja Dek.” Kini tangannya berpindah memainkan poni yang menutupi kening istrinya. “Dek kamu tau kan kewajiban istri pada suaminya?” Arka mencoba mengedukasi istri polosnya.
“Tau lah Bang. Emang aku anak kecil apa gitu aja kaga tau. Istri itu harus nurut sama suami, selalu ada di saat suka duka.” Ucap Freya penuh dengan keyakinan. “Dan aku udah ngelakuin semuanya Bang. Aku nurut hari ini ngga kemana-mana padahal tadi bunda ngajakin aku jalan loh. Aku malah di rumah seharian nungguin suami sampe jamuran. Yang katanya mau pulang cepet tapi nyatanya sampe petang baru pulang.” Lanjutnya seraya membalikan tubuhnya memunggungi Arka. Tiba-tiba Freya ingat keinginannya untuk mendiamkan Arka sore tadi, tapi sial melihat Arka pulang dirinya malah begitu girang dan lupa dengan amarahnya. “Ampun apa gue udah mulai jadi bucinnya Bang Ar ini.” Batinnya.
Arka menatap Freya yang memunggunginya. “Ngambekan banget kamu Dek. Resiko punya istri bocah.” Batin Arka kemudian melingkarkan tangannya ke tubuh Freya. “Jangan ngambek maafin Abang yah tadi Abang abis kuliah langsung pulang kok. Jadwalnya emang sampe sore Dek.”
Ada rasa bersalah di hatinya karena lagi-lagi membohongi Freya. Ingin rasanya Arka menyelesaikan urusannya dengan Lisa supaya tak perlu lagi membohongi Freya.
__ADS_1
Freya tak menjawab ucapan suaminya gadis itu diam membisu meskipun berulang kali Arka memanggilnya dengan pelan hingga Arka melepaskan pelukannya dan melihat wajah Freya yang ternyata gadis itu sudah terlelap dipelukannya. “Selamat tidur Nyonya Arkana yang ngambekan.” Ujarnya dan kembali memeluk istrinya yang ngambekan itu.
Paginya seperti biasa Freya mengantar Arka hingga ke halaman rumah. Meskipun sedang ngambek tapi gadis itu tetap bersikap manis di depan keluarga Arka.
“Salim dulu.” Ujar Arka sambil mengulurkan tangannya. Freya tak berkata apa pun hanya mengambil tangan itu dan menyalaminya dengan baik.
“Jangan lama-lama ngambeknya, hari ini Abang pulang cepet. Kita cari posternya Asahi.” Ucapnya sambil mengelus tangan gadis yang masih cemberut itu.
Mendengar nama suami halunya di sebut wajah cemberutnya langsung berubah auto ceria. “Beneran Bang Ar?”
“Iya. Berangkat dulu.” Ujarnya kemudian meninggalkan Freya. Nampaknya Arka sudah mempunyai jurus ampuh untuk menghadapi Freya yang ngambek.
Setibanya di kampus sebelum pelajaran di mulai Arka beserta dua temannya mencari Lisa terlebih dahulu. Meskipun mereka satu kampus tapi dirinya dan Lisa tidak di jurusan yang sama.
“Ngapain sih pagi-pagi nyari Lisa Ar. Apa lu kaga dapat jatah dari bini lu?” Tanya Rendi.
“Masih pagi otak kalian udah harus disapuin, kotor.” Timpal Arka yang tiba-tiba berhenti di depan kelas Lisa.
Samar-samar dia mendengar Lisa yang sedang memamerkan tas yang di belikan Arka kemarin. Gadis itu nampak begitu bangga bisa mendapatakan tas branded tanpa susah payah. “Selama gue punya Arka mau apa-apa kaga susah secara cowok gue sultan.”
“Tapi gue jarang liat lu jalan sama Arka. Keliatannya Arka juga cuek sama lu.” Ujar salah seorang teman Lisa.
“Iya dia cuek banget. Kaga ada bedanya gue liat Arka yang masih jomblo sama pas pacaran sama lu.” Timpal gadis satu lagi.
“Gue ngga peduli soal itu. Toh cowok gue bukan cuma Arka. Yang penting gue bisa dapat apa pun yang gue mau. Soal perhatian ngga nya, gue ngga peduli.” Ujar Lisa.
Arka tersenyum puas di balik pintu, akhirnya dia mendapatakan alasan untuk memutuskan Lisa. “Ok fine karena sekarang lu udah dapetin yang lu mau. Dan gue udah banyak banget nurutin barang-barang yang lu mau. Gue rasa udah saatnya kita putus.” Ucap Arka sambil masuk ke kelas itu.
__ADS_1
Lisa dan teman-temannya begitu terkejut melihat Arka ada di sana. Dirinya langsung berjalan menghampiri Arka. “Ini semua ngga kaya yang lu pikirin Yang.” Ucap Lisa yang kini memegangi lengan kanan Arka.
Arka menyingkirkan tangan Lisa dan menghempaskannya kasar. “Gue ngga peduli. Pokoknya mulai sekarang kita putus.” Ujar Arka kemudian meninggalkan kelas Lisa.
Lisa melihat Arka yang semakin menjaduh darinya. “Pokoknya gue ngga mau putus Ar.” Teriaknya yang diabaikan oleh Arka.
Kedua teman Lisa menghampiri yang terduduk di lantai dan menangis sesegukan. “Udah lah Sa lagian kan lu masih punya cowok yang lain.”
Lisa mengabaikan ucapan temannya yang berusaha menenangkannya. Dirinya masih tak rela kehilangan mesin ATM yang selalu menuruti keinginannya. Bisa di bilang Arka adalah lelaki yang paling royal dibandingkan dengan yang lainnya. Pacarnya yang sebelumnya tak ada yang seroyal Arka, itulah alasan Lisa masih bertahan dengan Arka meskipun dia tau Arka tak mencintainya. Baginya cinta tak penting, yang penting adalah dana untuk menunjang penampilan fashionable nya.
Sepanjang pelajaran berlangsung Arka terlihat tersenyum puas. “Baru sekarang gue liat orang abis putus malah bahagia.” Bisik Rendi karena di depan mereka masih ada dosen yang sedang memaparkan materi.
“Dia mah punya pacar sama kaga juga ngga ada bedanya.” Timpal Irfan.
Arka mengambaikan kedua temannya yang sedang menyindirnya. Pikirannya kini sedang tak menyatu dengan raganya. Raganya di kampus tapi jiwanya tengah memikirkan Freya. Akhirnya dia tak lagi merasa bersalah karena memiliki pacar bahkan setelah menikah. Kini Arka tak lagi menyembunyikan apa pun dari Freya. Dirinya mutlak sudah menjadi hak paten milik Freya.
.
.
.
Bang Ar udah putus sama Lisa tuh. Gimana seneng ngga? kalo aku sih seneng pake banget.
Aku seneng banget like komen dan viewer selalu naik. Makasih buat seumuanya. tapi, Aku boleh rada ngelunjak ngga? Ayo dong ajakin temen-temen, sodara, suami, istri, adik kakak dan semuanya buat baca kisah ini.
Jangan lupa like, komen dan favorikan!!
__ADS_1