Jodoh Dari GC

Jodoh Dari GC
Membujuk Freya


__ADS_3

“Hm nyaman banget.” Bangun tidur dengan kondisi separuh nyawanya belum terkumpul bahkan matanya masih setengah terpejam Freya membalas pelukan Arka dan menyerukan wajahnya pada dada bidang dihadapannya, mengelus punggung Arka berulang kali hingga tak lama matanya terbuka sempurna dan secepat kilat menjauhkan tubuhnya dari Arka.


Menatap penuh tanya pada sosok yang sedang terlelap di sampingnya mengingat dengan jelas semalam bahwa semalam ia hanya tidur sendiri. Matanya menelisik ke seluruh ruangan kamar, tak ada yang aneh ini benar kamar miliknya dengan aneka pernak pernik K-pop favoritnya. Kembali pada sosok yang masih anteng dengan tidurnya, Freya mengucek kedua matanya “Apakah ini mimpi? Bagaimana bisa Bang Ar ada disini? Apa gue kangen sama dia kali yah jadi bayangannya ada disini?” gumamnya sendiri.


Berulang kali memejamkan mata kemudian melihat lagi ke samping tempat ia berbaring tapi sosok itu masih ada. Iseng-iseng menyentuh pipi Arka dengan jari telunjuknya. “Kenapa rasanya kayak nyata? Wah gawat ini gue kalo kangen halunya suka kebangetan.” Tangannya mulai mengelus pipi suaminya. Meyentuh kening, hidung hingga berhenti dibibir yang sudah lama tak bersilahturahmi dengan bibirnya.


Freya menarik jari yang sedang menyentuh bibir Arka, meletakan jarinya pada bibirnya hingga akhirnya ia menggigit bibir bawahnya sendiri begitu mengingat kejadian tiga hari lalu. Tangis yang awalnya pelan dan hanya isakan lama-lama menjadi pecah. Masih menatap sosok terlelap itu, “Andai kamu nyata pasti udah gue becek-becek sampe abis. Lu ngeselin banget Bang Ar. Kenapa gue masih kangen sama lu padahal gue kesel banget. Gue benci!” teriaknya yang di susul dengan lemparan bantal dengan keras ke arah Arka. “Enyah lu dari hadapan gue. Bahkan halu pun sekarang terasa nyata.” Gadis itu makin terisak.


Tak mudah bagi Freya melewati hari-harinya pasca pertengkaran di kala itu. Dua hari penuh bahkan gadis itu tak bisa tidur sama sekali. Ia sampai mengenakan baju Arka setiap malam karena tak ia pungkiri meskipun kesal pada Arka dia tetap merindukannya. Malam-malamnya hanya diisi dengan isak tangis saat setiap kata-kata Lisa yang mengenalkan diri sebagai calon kakak sepupunya terus muncul dipikirannya. Ditambah lagi dengan sebutan sayang yang terucap dari bibir gadis itu selalu terngiang di telinganya. Baru malam tadi dia bisa tidur nyenyak itu juga karena kelelahan setelah seharian diajak keliling kota oleh Miya. Sahabatnya itu paling the best selalu bisa mengalihkan pikirannya meskipun tak sepenuhnya berhasil. Terbukti bangun tidur bayangan Arka malah semakin nyata di mata Freya.


“Maaf.”


Satu kata yang terdengar dari sampingnya membuat Freya kembali melirik ke sana. Matanya membulat sempurna saat melihat Arka yang sedang menatapnya. “Ini nyata.” Batin Freya.


Tangan kanan lelaki itu kini meyentuh wajahnya yang basah. “Maafin Abang.” Ulang Arka.


Gelagapan dengan wajah setengah panik antara senang dan tidak senang melihat Arka, Freya menjauhkan tangan Arka dari wajahnya. “Gimana bisa Abang ada di sini?”


“Jangan sentuh aku. Aku benci Abang!” tolaknya saat Arka menyentuh tangannya.


“Abang bisa jelasin semuanya sayang. Please jangan marah lagi. Abang bahkan pulang KKN langsung nyusulin kamu kesini.”

__ADS_1


“Jangan panggil-panggil sayang segala. Aku nggak suka dipanggil kayak gitu. Pasti dipikiran abang tuh isinya kak Lisa setiap manggil aku pake sebutan itu. iya kan ngaku aja!”


“Ya ampun Dek mau sampe kapan kamu kayak gitu. Abang udah jelasin semua malam itu ke kamu tapi masih nggak percaya aja. Abang harus gimana lagi coba?” Arka yang sudah lelah dan kurang tidur dari kemaren membuatnya ikut emosi dan berbicara dengan meninggikan suaranya bukannya sabar seperti biasanya. Bahkan kepalanya saja masih terasa pusing karena baru tidur dua jam, begitu bangun malah perang dunia macam ini.


“Abang kok malah jadi ngegas gitu sih? Abang bilang aku harus percaya apa yang aku lihat bukan yang aku dengar, sedang malam itu aku bukan hanya melihat bahkan mendengar sendiri gimana pacar abang bilang dia calon kakak sepupu aku, gimana dia manggil abang pake sebutan sayang. Bahkan kalian jalan mesra banget, pantesan abang betah yah KKN nya.”


“Maaf, maaf bukan maksud Abang ngebentak kamu Dek. Abang cuma nggak tau harus gimana lagi jelasinnya ke kamu. Apa kamu nggak pernah mikirin abang? Gimana khawatirnya abang pas pulang nyariin kamu tapi nggak ada, yang ada malah bunda yang nampar dan marahin abang habis-habisan. Sekarang bilang sama abang, abang harus gimana supaya kamu maafin abang?” tutur Arka dengan pelan sambil menatap lekat gadis di sampingnya.


“Nggak ada lagi yang perlu dijelasin aku udah paham semuanya. Buat abang aku ini bukan siapa-siapa. Buktinya abang masih bisa pacaran bahkan setelah punya istri. Aku jadi makin yakin kalo alasan abang nggak ngakuin aku sebagai istri abang di depan temen-temen abang itu bukan karena bunda sama mama semata yang ingin hubungan ini dirahasiain, tapi supaya pacar abang nggak tau juga kan? Jadi abang untung banyak. Bisa tetep pacaran dan bisa manfaatin aku yang lugu ini. Bahkan aku udah nyerahin semua yang aku punya buat Abang.” Ucap Freya dengan menahan tangisnya.


“Kamu mikirnya kejauhan sayang. Kenapa sih kamu cuma percaya sama pikiran kamu yang kejauhan itu? kenapa kamu nggak mau percaya sama penjelasan abang dan malah mikir yang nggak-nggak kaya gitu.” Ucap Arka sambil mengacak rambutnya, frustasi harus bagaimana lagi meluruskan kesalahpahaman ini. Ternyata semua sesuai dengan pemikirannya tak akan mudah membujuk Freya.


Dengan sigap Arka mengikuti Freya dari belakang. “Dengerin abang dulu Dek!” Arka menarik tangan Freya tapi gadis itu mengabaikannya.


“Ganti baju dulu baru turun.” Ucap Arka saat mereka menuruni tangga, berdiri di depan gadis yang hanya mengenakan kemeja putih miliknya yang pernah digunakan pada acara akad nikah dan celana pendek sepaha yang tertutupi kemeja. Untuk rambutnya jangan ditanya rambut panjang gadis itu masih acak kadul tak karuan.


“Apaan sih Abang. Ini kan di rumah cuma ada mama papa ini. Suka-suka aku deh abang jangan ngatur-ngatur, atur aja tuh pacar kesayangan abang.” Gerutu Freya hingga ia masuk ke ruang makan dan mendadak panik sendiri begitu melihat dua sosok sahabat suaminya sedang menatapnya.


“Pagi dedek Freya.” Sapa Rendi.


“Hai Fre. Baju lu lucu. Style masa kini yah.” Ucap Irfan.

__ADS_1


“Baju gue itu.” Arka segera menarik Freya supaya berdiri di belakangnya, “Kondisikan mata kalian. Bini gue ini.”


Tapi Feya malah melenggang dengan santai dan duduk di samping Irfan sengaja membuat suaminya kesal, gadis itu bahkan menyisir rambut panjangnya dengan tangan supaya sedikit rapi kemudian tersenyum manis pada Irfan dan Rendi. “Santai aja kak. Jangan dengerin temen kakak. Dia itu suami durjana, palingan bentar lagi aku juga jadi janda.” Ucapnya santai yang langsung mendapat tatapan tajam dari Mama dan Papanya.


“Jangan ngomong sembarangan seperti itu sayang, tidak baik.” Tutur Ratna.


“Iya apalagi suami kamu jauh-jauh datang kesini nyusulin kamu.” Imbuh Frans, Papa Freya.


Freya meletakan roti ditangannya ke piring. “Kenapa Mama sama Papa jadi belain Bang Ar? Dia itu jahat. Pokoknya aku benci Bang Ar.” Ucapnya sambil menangis kemudian pergi tanpa menyeselesaikan sarapannya.


Hati Arka terasa begitu sakit, masih sepagi ini tapi sudah melihat gadis yang begitu ia cintai menangis berulang kali. Dia bangkit dari duduknya hendak menyusul Freya tapi di cegah oleh Papa mertuanya. “Biarkan saja dulu Freya sendiri. Kamu tidak akan bisa membujuk dia sekarang, emosinya masih meluap-luap. Sarapan saja dulu nanti kita pikirkan cara membujuk anak manja itu.” Ujar Frans.


Arka masih belum tahu kenapa sikap kedua mertuanya begitu baik jauh dari yang ia bayangkan, hingga akhirnya ia menurut saja. Sarapan bersama kedua metua dan sahabatnya tanpa orang yang paling ia cintai disisinya.


.


.


.


Maafkan up nya telat, aslinya aku masih tepar banget ini setelah pulang pergi Jateng. Hari ini kasih bonus nih part lebih panjang dari biasanya. Aku udah kesel ini si Freya masih ngambek aja.

__ADS_1


__ADS_2