Jodoh Dari GC

Jodoh Dari GC
Mahakarya Freya


__ADS_3

Apron hitam dengan gambar sendok dan garfu putih yang kontras dengan warna dasarnya sudah melekat dengan sempurna di tubuh Freya. Rambut panjangnya di ikat asal dengan mengunakan karet gelang. Tak lupa menyetel lagu favorit untuk menyemangati dirinya berperang dengan aneka bahan yang ada di dapur.


“Oke google ost true beauty full album.” Ucapnya di depan HP. Menekan tautan yang mucul paling atasa hingga lagu yang ia inginkan mengalun indah.


I missing you… waiting for you…. Bibir gadis itu terus ikut bernyanyi meskipun kadang liriknya tak ia hapal. Karena dari sebagian besar lirik lagu itu hanya baris itu saja yang bisa ia cerna. Jangan Tanya artinya, gadis itu pun tak tau. Kecuali menonton video ost disertai dengan sub indo. Tapi yah namanya juga Kdrama lovers, bodo amat sama artinya yang penting enak ya di ikuti saja.


Freya mulai megambil bahan-bahan dari lemari es dan memotongnya sesuai dengan yang diajarkan sang mertua dulu. “Kayaknya ini sedikit beda sama yang diajarin bunda dulu deh, tapi nggak apa-apalah meskipun panjangnya tak sama yang penting kan rasanya. Toh ini gue buat pake cinta, pasti bakal kerasa enaknya sampe ke hati.” Celotehnya sendiri.


Setelah hampir tiga puluh menit memotong aneka bahan dan menyiapkan bumbu kini ia beralih pada tim wajan, panci dan kawan-kawannya. Mengolah semua bahan sesuai dengan pengetahuan yang ia miliki. Tangannya terlihat lihai mengaduk bahan yang sedang ia masak. Bahkan Freya tak ragu-ragu menambahkan aneka bumbu.


“Kayaknya udah mau mateng nih.” Ucapnya sambil terus mengaduk masakannya. Kini ia terlihat ragu-ragu saat akan mencicipi karyanya sendiri. Ia sudah mengambil sedikit kuat dari tumisannya menggunakan sendok, tapi ia urungkan niat untuk mencicipi dan meletakan sendok itu ke tempat cucian piring.


“Udahlah udah pasti enak kok. Langsung plating aja.” Freya mematikan kompor dan mengambil piring.


Gadis itu terlihat mendramatisir keadaan berlari kesana kemari mengambil piring seolah diburu waktu, “Ya waktunya tinggal … lima… empat… tiga… dua… satu…stop!” Freya tertawa sambal mengangkat kedua tangannya ke atas setelah selesai menuangkan masakan ke dalam piring.


Ia berjalan ke meja makan, membawa masakan yang ia buat. Sesekali ia tertawa sendiri. “silahkan chef.” Ucapnya lirih setelah piring yang ia bawa terletak sempurna di meja. Ia terus mengulanginya hingga semua hasil masakannya tersaji di meja makan.


“Hahaha berasa jadi peserta master chef gue tuh.” Ucap sambil melepas apron yang ia pakai kemudian mengambil HP dan mematikan music yang sedang ia putar.


Meninggalkan dapur untuk memanggil saang suami untuk makan malam. “Bang Ar makan yuk! Aku udah masak loh.” Teriaknya begitu memasuki kamar.


“Nggak mau makan sebelum kamu jelasin dulu!” jawab Arka tanpa memalingkan perhatiannya dari game yang sedang ia mainkan.


“Abang masih marah sama aku?”


“Hm.”


“Bang Ar ih.” Kali ini Freya mengambil HP Arka dan meyimpan benda itu ke nakas samping ranjang. “Oke aku jelasin semua. Tapi jangan marah lagi.”


“Iyaa udah mulai penjelasannya sekarang!” Titah Arka dengan cuek.


“Jadi Kak Tito itu senior aku pas SMK. Watu aku kelas sepuluh dia kelas dua belas. Sama kayak Bang Ar dia juga dulu panitia masa orientasi siswa…” Freya menceritakan semua tentang Tito pada suaminya.


Meski dulu Freya bukanlah miliknya tapi tetap saja lelaki itu terlihat kesal emlihat Freya bercerita dengan begitu ceria. Si istri tak terlihat sungkan dan menceritakan semuanya.


“Jadi kamu ngasih surat cinta ke dia?” tanya Arka dan Freya menganggukkinya.


“Jadi yangtadi gugup dan malu malu di depan dia kenapa?” kali ini Arka terus menodong Freya dengan banyak pertanyaan.

__ADS_1


“Kok aku berasa jadi tersangka yah Bang?”


“Jawab aja!”


“Ya karena aku malu lah Bang. Apalagi dia bilang masih inget isi surat aku.”


“Abang pengen tau isi surat cinta kamu.”


“Janganlah Bang. Malu.” Tapi sorot mata Arka memaksanya untuk memberitahu isi surat itu. Jadi dengan terpaksa Freya menulis kembali surat itu. meskipun sudah tiga tahun berlalu tapi gadis itu masih ingat betul dengan surat yang ia buat. Karena itu satu-satunya surat yang pernah ia buat sesuai dengan tata cara dan aturan penulisan surat pada pelajaran Bahasa Indonesia yang ia pelajari di bangku putih biru.


...SURAT CINTA DAN PERMOHONAN IZIN (TEMBAK)...


...Sang pengagum, jalan berliku no. 212 tapi bukan wiro sableng...


Kepada Ytc. Kak Tito, pemilik hatiku


Nomor: CP/001/001


Lampiran: 1 (SKTP/surat keterangan tidak pacaran)


Dengan ini saya yang bertanda tangan di bawah ini, menyatakan bahwa saya sudah terlanjur jatuh cinta bertubi-tubi dengan saudara. Dimana saudara sudah membuat saya tidak bisa makan dan tidur setiap hari. Mohon kiranya saudara pertimbangkan maksud dan tujuan hati saya, besar harapan saya untuk diterima.


^^^Kelas X AK^^^


^^^Sang pengagum, Freyanisa Fransisca.^^^


Freya menyerahkan kertas yang baru saja ia sobek dari buku catatan dan meyerahkannya pada Arka.


Tak butuh waktu lama, hanya satu menit lelaki dengan stutus suaminya langsung tertawa dan meramas kertas yang ia pegang, melemparkannya hingga tepat masuk ke tempat sampah yang ada di samping meja rias.


“Surat cinta teraneh yang pernah Abang baca. Malu-maluin aja kamu Dek. Tapi lumayan juga sih, dapet dari mana kata-kata kaya gitu?” Tanya Arka.


“Dari buku Bahasa Indonesia lah. Itu kan surat pernyataan cuma aku ganti dikit-dikit aja sesuai tujuan kok. Tapi beneran deh Bang tadi tuh aku nggak jawab pertanyaan kak Tito Cuma gugup dan malu aja soal surat dulu, bukan karena aku suka sama dia. Kalo dulu iya suka tapi kalo sekarang nggak, aku kan udah punya Abang.” Tutur Freya panjang lebar.


Arka mengacak rabut Freya yang masih terikat karet gelang. “Abang Cuma mau kamu jujur aja Dek. Meskipun Abang tau kamu cinta sama Abang, tapi kejujuran dan saling terbuka itu penting.” Ujar Arka yang dianggukki istrinya.


“Ya udah ayo kita makan. Abang pengen tau kali ini kamu masak mie instan rasa apa lagi? Ada rasa baru nggak?” ledek Arka.


“Kali ini aku beneran masak spesial Bang, bukan mie instan. Ayo cepetan ke dapur ntar keburu dingin.” Freya berjalan mendahului Arka.

__ADS_1


Arka duduk berhadapan dengan Freya di meja makan. Setengah tak percaya ada masakan rumahan di apartemennya. Biasanya hanya makanan dari go food ataupun mie instan yang di masak Freya.


Masakan sederhana tapi membuat Arka tersenyum senang. Di meja dengan ukuran sedang itu ada nasi, tumis buncis, telur dadar yang sedikit gosong dan tempe goreng telanjang tanpa tepung. Dari segi penampilan masakan istrinya masih amburadul terlihat dari potongan buncis yang tak sama panjangnya dan tempe yang tipis tebalnya berbeda-beda.


“selamat menikmati suamiku.” Ucap Freya setelah memberikan piring yang berisi nasi dan lauknya pada Arka.


“Makasih sayang.” Arka menerimanya dengan senang hati dan mulai memasukan suapan demi suapan ke mulutnya.


Sementara Freya gadis itu pergi ke dapur untuk mengambil minum dan kembali dengan satu cup ptoduk mi instan dalam gelas yang ada nasinya, katanya sih produk baru.


Freya masih mengaduk-ngaduk mie cup nya, ia memperhatikan Arka yang makan dengan begitu lahab sedang dirinya sendir takut dengan rasa masakannya.


“Enak Bang?” tanyanya ragu-ragu.


“Enak banget. Makasih yah udah masakin Abang.” Jawab Arka setelah menandaskan air di gelasnya.


“Beneran enak?” Tanya Freta yang masih tak yakin, mengingat terakhir kali mertua dan adik ipar serta si kopoy yang jadi korban masakan ambyar karyanya.


“Beneran, liat aja piring Abang udah kosong.” Arka mengangkat piringnya yang sudah bersih.


Degan ragu-ragu Freya menyimpan mie cup nya dan beralih mengisi piringnya dengan nasi dan lauk pauk masakannya sendiri. Menyuapkan nasi, buncis dan tempe ke dalam mulutnya.


Satu detik…


Dua detik…


Dan ia pun berlari ke tempat cucin piring memuntahkan isi mulutnya, “Bang Ar bohong. Ini asin banget. Nggak enak.”


Arka beranjak dari duduknya membawa segelas air dan memberikannya pada Freya, lelaki itu berdiri di samping Freya. “Minum dulu.”


Freya mengabiskan air minumnya dan meletakan gelas itu ke tempat cuci piring. “Abang kalo nggak enak harusnya bilang aja. Nggak usah dipaksain di makan. Aku takut nasib Abang kayak si kopoy, kucing tetangga yang nggak pernah balik lagi ke rumah Bunda stelah makan masakan aku.”


“Meskipun asin banget tapi buat Abang tetep enak kok. Makasih udah mau belajar masak buat Abang. Jangan cemberut gitu, semua orang yan belajar masak nggak ada yang bisa langsung enak. Kamu mau masak aja Abang udah seneng banget.”


Tim mi instan gagal nebak yeeeeee😜😜😜


jangan lupa like, komen dan share juga favoritkan👍❤️👍❤️


sambil nunggu karya freya arka up kalian bisa mampir juga ke karya temen akuh...ceki-ceki yah

__ADS_1



__ADS_2