
Ardi melihat Freya berjalan beriringan dengan kakaknya dan masuk ke mobil hitam di depannya. Miya yang berdiri di samping Ardi bisa melihat raut wajah Ardi yang sulit didefinisikan saat ini, ekspresi senang dan kecewa nampak bercampur di sana. “Dunia ngga berakhir sampe di sini Ar, lu yang bilang tingkat mencintai tertinggi adalah saat kita bisa mengikhlaskan orang yang kita cintai bahagia dengan orang lain kan? Gue yakin lu bisa Ar.” Miya menepuk bahu Ardi, memberi semangat padanya.
“Makasih Mi, Yuk kita juga berangkat.” Ajak Ardi.
“Gue ngga bisa ikut Ar, masih ada acara sama keluarga gue.” Ucap Miya lalu meninggalkan Ardi.
Ardi masuk ke mobil orang tuanya dan duduk di kursi belakang. Mendengarkan Ayah dan bundanya yang sedang membahas persiapan pernikahan kakaknya. Sepanjang jalan Ardi hanya menjadi pendengar yang baik dan sesekali menjawab pertanyaan orang tuanya sekenanya saja. Pikiranya lebih terfokus pada cara dirinya harus bersikap pada Freya nantinya. Karena mau tak mau dirinya akan lebih sering bertemu Freya.
Sementara itu Freya juga hanya diam selama perjalanan menuju restoran. Sesekali gadis itu melihat Arka yang sedang mengemudi. Ini pertama kali baginya pergi bersama lelaki dengan ijin orang tuanya.
“Tumben lu diem aja? Biasanya nyerocos kaga ada remnya?” Tanya Arka yang heran dengan sikap Freya yang mendadak menjadi irit bicara setelah bertemu dengan adiknya.
“Hm.. Ngga apa-apa Bang.”
“Lu deket sama Ardi?”
“Iya, eh maksudnya kita deket karena kita satu kelas.”
“Lu satu kelas sama Ardi? Berarti lu tau dong cewek yang di sukai sama Ardi?”
“Maksud Abang?”
“Iya gue tau Ardi tuh sekolah jauh-jauh ke Jogja bukan tanpa alasan. Dia pernah cerita ke gue kalo dia tuh lagi ngejar cewek. Sampe dia belain pindah jurusan juga. Gila banget kan adik gue itu.” Senyum mengejek muncul di wajah tampan calon suaminya mengingat kekonyolan adiknya yang rela sekolah jauh dari orang tua bahkan pindah jurusan hanya karena seorang gadis.
“Gue jad penasaran sama tuh cewek kaya gimana orangnya. Dan yang lebih nyebelin tuh cewek kayanya belum juga nerima perasaannya. Ngga tau deh kalo sekarang udah di terima atau belum. Yang jelas pas gue mau ke rumah lu waktu tunangan, Ardi bilang cewek yang dia suka masih belum juga nerima dia. Makanya dia ngga ikut pas gue sama orang tua gue ke rumah lu.” Jelas Arka.
“Ehm uhuk uhuk..” Freya tiba-tiba tersedak padahal tidak sedang memakan apa pun setelah mendengar cerita Arka. Arka mengabil botol air mineral dan memberikannya pada Freya.
“Nih minum.”
__ADS_1
“Makasih Bang Ar.” Ucap Freya sembari menutup kembali botol itu dan meletakannya di dasbord mobil.
“Jadi gimana lu tau kaga cewek yang di demedin sama Ardi?”
“Ehm itu aku ngga tau Bang.” Jawabnya. “Astaga ngga tau apa yang bakalan terjadi kalo Bang Ar tau cewek yang disukai Ardi itu gue.” Batinnya.
Setelah menempuh perjalanan selama dua puluh menit Arka dan Freya tiba di restoran. Keduanya masuk ke dalam restoran dan menghampiri meja yang telah di pesan oleh kelurga Freya. Di meja itu terlihat orang tua Freya dan orang tua Arka berserta adiknya sudah ada di sana.
“Kalian berdua serasi banget.” Ujar Ratna begitu Arka dan Freya tiba di meja mereka.
“Makasih Tante.” Ucap Freya.
“Kok Tante? Panggil bunda aja sayang. Kan sebentar lagi juga kamu jadi anak bunda.”
“I..Iya bunda.” Ucap Freya.
Kedua keluarga itu sudah sepakat dengan tanggal yang sudah mereka tentukan. Tak ada yang keberatan dengan keputusan mereka baik Arka maupun Freya. Ratna dan Mira sudah membuat perisapan pernikahan mereka jauh-jauh hari bersama dengan teman-teman grup chatnya. Pernikahan anak mereka akan diadakan secara sederhana dan hanya mengundang keluarga inti saja. Supaya sama seperti di novel-novel yang mereka baca.
Orang tua Arka dan orang tua Freya semuanya nampak bersemangat dengan persipan pernikahan anak mereka. Freya dan Arka nampak biasa saja, sedangkan Ardi berusaha menutup rapat-rapat telinganya dan berusaha bersikap biasa saja.
“Tante.. Eh bunda maksud aku, nanti setelah nikah aku tinggal dimana? Aku sama Bang Ar kan beda kota?” Tanya Freya.
“Tentu saja tinggal bersama kami. Bunda udah bahas soal tempat tinggal kamu nantinya. Dan orang tua kamu tidak keberatan jika kamu tinggal bersama bunda.” Jelas Mira.
“Iya sayang. Nanti kamu bisa kuliah di bandung saja supaya satu kampus dengan Arka.” Ujar Ratna.
“Emang Bang Ar kuliah di kampus mana Bang?” Tanya Freya pada Arka.
“Di Universitas Persada.”
__ADS_1
“Apa? Bukannya itu universitas favorit di sana? Aku tidak mungkin bisa masuk ke universitas itu Bunda. “ Mendadak deretan nilai-nilainya yang sangat standar itu muncul di kepalanya. “Ngga mungkin gue bisa masuk ke sana.” Batinnya.
Mira hanya tertawa menanggapi keluhan Freya. “Kamu tenang aja sayang semua bisa di atur.” Ucapnya sambil mengelus kepala calon menantunya.
“Kamu juga Ardi, bunda tidak mau tau kamu juga harus kuliah di universitas persada. Tekuni apa yang kamu sukai. Jangan lagi sekolah jauh-jauh dan mengejar gadis tidak jelas.” Titah Mira.
“Iya Bun.” Jawab Ardi di sela-sela makannya. “Kalo aja bunda tau gadis tidak jelas yang bunda bilang barusan, itu calon mantu kesayangan bunda.” Batinnya.
Setelah acara makan siang mereka selesai, Freya kembali ke rumahnya bersama dengan kedua orang tuanya. Sedangkan Arka dan keluarganya pergi ke rumah saudara mereka untuk membereskan barang-barang Ardi sekaligus berpamitan pada saudara mereka yang sudah menjaga Ardi selama sekolah di Jogja.
Ardi di bantu Arka dan bundanya sedang membereskan barang-barang yang akan di bawa kembali ke Bandung, sedangkan Bayu sedang berbincang dengan Wisnu, Adiknya yang telah menjaga Ardi selama sekolah di sini.
“Bun yakin Freya bisa kuliah di tempat Arka?” Tanya Arka.
“Iya Bun. Soalnya Freya tuh bukan anak yang pintar. Dia tuh biasa aja.” Saut Ardi.
“Udah kalian tenang aja, semua bisa di atur.”Jawab Mira sambil memasukan pakaian Ardi ke dalam koper.
Sebelumnya Mira dengan Ratna sudah membahas masalah itu. Freya yang nilainya tak sebagus Ardi tentu tak akan mudah masuk ke universitas persada. Namun lagi-lagi rapatnya dengan teman-teman grup chatnya menghasilkan ide-ide yang luar biasa. Teman-teman grup chatnya menyarankan Mira supaya menggunakan kekuasaan suaminya, Mengingat kampus tempat anaknya kuliah juga bekerja sama dengan bank milik suaminya. Mira jadi semakin semangat merealisasikan jodoh dari grup chat untuk anaknya. Sejauh ini semuanya berjalan seperti novel yang ia baca. Meski dirinya tak menyadari bahwa ada hati yang terluka dibalik itu semua.
.
.
.
JANGAN LUPA TEKAN LIKE!!
KOMENTARNYA JUGA YAH. KOMEN NEXT AJA KALO BINGUNG MAH.
__ADS_1