
Lelaki tinggi dengan jaket hitam memberikan dua lembar uang pecahan seratus ribu pada supir taksi yang baru saja meninggalkan halaman rumah mewah.
Sudah jam sebelas malam ketika Arka tiba di rumahnya tapi tak seperti biasanya lampu rumahnya masih menyala kemungkinan penghuninya belum tidur. Arka menghampiri pintu utama yang ternyata tak dikunci dan segera menuju kamarnya.
Pintu kamarnya bahkan terbuka, terlihat Mira, Bayu dan Ardi ada di sana. Perhatiannya tertuju pada Freya yang sedang di kompres dahinya oleh sang Bunda.
"Aku pulang." Ucap Arka dari depan pintu yang terbuka.
Mira menoleh ke sumber suara, terlihat putra sulungnya sedang berjalan ke arahnya. Lelaki itu berlutut di dekat ranjang memperhatikan istinya yang tampak pucat.
Freya menatap wajah Arka yang sudah tiga minggu tak ia lihat. Tangan kanannya terulur pada Arka untuk menyalaminya. "Bang Ar pulang?"
"Iya sayang Abang pulang." Arka mengelus pucuk kepala Freya kemudian menyingkirkan kain kompres yang menempel di dahi Freya. Mengecup singkat kening istrinya yang tak tertutup poni. "Panas banget. Kamu demam dek."
"Nggak cuma demam Ar, Freya juga muntah-muntah. Ini gara-gara kecebong kamu tuh. Tapi bunda seneng bisa cepet punya cucu." Ujar Mira yang masih duduk di tepi ranjang dekat.
"Emang beneran Dek kamu hamil?" Arka malah bertanya pada Freya.
Freya hanya menggelengkan kepalanya, karena memang tak tau. "Aku nggak tau Bang." Imbuhnya.
"Terus kenapa Bunda bisa bilang Freya hamil kalo Freya aja nggak tau?" Kali ini tatapan bingung Arka tertuju pada Bunda Mira.
"Ya karena Freya muntah-muntah sejak makan malam tadi. Dia juga pusing bahkan sekarang demam. Itu sih udah ciri-ciri hamil muda." Mira berucap dengan yakin.
Arka dan Freya yang memang belum paham soal kehamilan hanya terdiam. "Bunda istirahat aja. Biar aku yang jagain Freya." Ujar Arka.
"Iya. Jagain calon cucu bunda baik-baik yah." Mira beranjak dari duduknya kemudian mencium kening Freya, "istirahat yah sayang." Imbuhnya.
"Makasih udah jagain istri aku Bun." Ucap Arka sambil mengantar Mira, Bayu dan Ardi yang baru saja keluar dari kamarnya.
Setelah menutup dan mengunci pintu kamar, Arka melepaskan jaketnya dan menuju ke kamar mandi. "Bentar yah Dek, Abang cuci muka sama ganti baju dulu." Ucapnya pada Freya.
Arka keluar dari kamar mandi dengan mengenakan kaos putih polos dan celana pendek, lelaki itu duduk di tepi ranjang samping Freya, melanjutkan mengompres dahi istrinya.
__ADS_1
"Abang naik aja sini." Freya menepuk kasur sebelahnya tempat biasa suaminya tidur.
"Nanti, mau ngompres kamu dulu biar panasnya turun." Arka kembali meletakan kompresan di dahi Freya. "Udah minum obat?" Tanya Arka.
Freya hanya menggeleng. "Aku nggak bisa minum obat Bang."
"Masih pusing?"
"Sedikit."
"Masih mual? Kata Bunda tadi kamu muntah-muntah."
"Udah nggak Bang." Lagi-lagi Freya menggeleng, "tapi dingin banget." Imbuhnya sambil memegang selimut yang sudah menutupi tubuhnya hingga ke leher.
Arka mengambil kompresan di dahi Freya dan meletakannya di baskom berisi air. Lelaki itu beranjak dari duduknya dan naik ke ranjang. Memeluk erat istrinya, "masih dingin?" Tanya Arka.
"Hm." Freya semakin membenamkan kepalanya di dada Arka, mencari posisi ternyaman. "Aku suka kayak gini. Berasa di sayang banget sama Abang." Ucapnya lirih sambil mengeratkan pelukannya.
"Abang emang sayang banget sama kamu." Arka mengusap-usap punggung Freya, membuat istrinya merasa nyaman.
Arka melepaskan pelukannya dan menatap Freya. "Kamu ini aneh-aneh aja. Ya nggak bisa gitu lah sayang. Ini aja Abang main kabur aja pas tau kamu hamil. Besok juga Abang balik lagi kesana." Arka berusaha memberi pengertian.
"Udah lah Abang nggak usah berangkat lagi aja. Toh tinggal seminggu lagi." Rengek Freya.
"Mana bisa begitu sayang. Aneh kamu tuh." Arka mencubit gemas pipi si tukang merengek.
Freya menyibakkan selimutnya dan berlari ke kamar mandi sambil menutup mulutnya dengan tangan.
Seketika Arka menyusul Freya ke kamar mandi, memijat leher belakang istrinya yang sedang muntah.
"Duduk sini, Abang Ambilin air anget dulu buat kamu." Ucap Arka sambil membantu Freya duduk di tepi ranjang.
Arka memberikan segelas air hangat yang baru saja ia ambil dari dapur. "Minum dulu."
__ADS_1
"Makasih Bang Ar." Arka meletakan gelas itu di atas nakas kemudian membantu Freya berbaring dan menyelimutinya. "Mau muntah lagi?" Tanya Arka saat Freya menutup mulutnya dengan tangan.
"Nggak, aku ngantuk."
Arka melirik jam dinding di kamarnya, sudah jam satu malam. Lelaki itu kemudian memeluk Freya. "Ayo tidur." Tangannya masuk ke dalam baju Freya dan mengelus perutnya. "Di sini ada baby kita yang?"
"Aku nggak tau Bang."
"Besok ke dokter yah Dek!"
Freya mendongak dan menatap Arka. "Nggak mau Bang Ar. Aku takut di suntik." Protesnya.
"Sama Abang. Nggak bakalan di suntik tenang aja. Masa sama jarum kecil aja kamu takut Dek. Di suntik pake punya Abang aja kamu malah minta nambah." Ledek Arka.
Arka bisa melihat rona malu di wajah istrinya. "Ih Abang itu mah beda lagi."
"Ya udah tidur besok kita ke dokter."
"Kayaknya nggak udah ke dokter Bang, semenjak Abang pulang aku rasanya udah baikan. Nih udah nggak mual lagi sekarang. Udah nggak dingin juga." Ujar Freya.
"Mungkin baby nya pengen deket sama papanya terus yah mam?"
"Mam?" Ucap Freya penuh tanya.
"Iya Mama Freya." Ujar Arka sambil kembali mengelus perut Freya. "Baby kalo kamu emang ada di sini jangan bikin mama susah yah." Imbuhnya.
.
.
.
.
__ADS_1
Udah main mama papa aja, itu si baby beneran ada apa nggak sih? Nggak sabar aku tuh wkwkwk.
Like komen vote jangan ketinggalan yah biar aku makin semangat, kali aja bisa crazy up.