
Setibanya di rumah, Lisa mengunci diri di kamar. Ia mengabaikan ayah dan ibunya yang terus berteriak di luar kamar.
“Sayang berhenti bertindak konyol. Masih banyak laki-laki di luar sana yang pantas kamu dapatkan.” Ucap Ayah Lisa.
“Aku nggak peduli. Aku cuma mau Arka. Kenapa kalian nggak bisa ngertiin keinginan aku.”
“Dia itu suami orang. Apa kamu udah nggak bisa mikir waras? Masih banyak lelaki di luar sana.” Ulang Ayah Lisa.
“Aku nggak mau. Aku cuma mau Arka. Mana janji kalian yang mau bantu aku dapetin Arka?” Teriak Lisa yang di susul dengan bunyi benda-benda yang berjatuhan di dalam sana.
Ibu Lisa mencoba menenangkan suaminya, meninggalkan Lisa yang masih mengunci diri di kamar.
“Kita biarkan saja dulu Yah. Dia butuh waktu buat sendiri. Mungkin ini juga salah kita karena terlalu sibuk hingga tak tau kelakuan anak kita di luar sana. Sangat memalukan.”
Ayah Lisa menghela nafasnya berat, “kita harus meminta maaf pada keluarga Pak Bayu. Anak kita sudah mengacaukan acara mereka. Ditambah lagi dengan kelakuan Lisa di malam inagurasi,”
Ayah Lisa melonggarkan dasi dan membuka kancing kemeja paling atas, mencoba melegakan dirinya ditengah-tengah situasi yang tak menguntungkan yang dibangun Lisa.
“Ayah tidak habis pikir anak kita yang dulu begitu baik, sering menolong teman-temannya kini berubah jadi wanita egois yang tak tau malu.” Lanjut Ayah Lisa.
“Ibu juga tidak tau harus berbuat apa sekarang. Ibu benar-benar malu, mau ditaruh dimana wajah kita sekarang yah? Hampir semua rekan bisnis kita melihat kelakuan memalukan Lisa.”
“Sudahlah kita istirahat dulu. Yang jelas kita harus menemui keluarga Arka dan membuat Lisa meminta maaf dengan tulus.”
Pagi harinya ayah dan ibu Lisa menunggu putri mereka di meja makan, tapi gadis yang malam tadi memporak porandakan nama baik yang selama ini mereka jaga tak juga terlihat batang hidungnya.
Ibu Lisa beranjak dari tempat duduk untuk memanggil Lisa, tapi lagi-lagi anak itu mengabaikannya. Bahkan pintunya masih terkunci dengan sempurna. Akhirnya mereka sarapan hanya berdua.
Setelah selesai sarapan mereka bergegas menuju kediaman Rahardian untuk meminta maaf atas semua kesalahan Lisa.
Keluarga Arka sangat terbuka dan menerima permintaan maaf itu, meski tak terlihat Lisa di sana. Bayu hanya menekankan supaya pasangan itu bisa menjamin anaknya agar tak lagi mengusik kehidupan rumah tangga Freya dan Arka.
Sementara itu, Lisa yang berada di dalam kamar masih mengenakan gaun pestanya. Rambutnya sudah acak kadul tak jelas. Matanya sebab dan terdapat lingkar hitam dibawahnya menandakan wanita itu menangis dan tak tidur sama sekali semalaman.
__ADS_1
Kondisi kamar yang didominasi warna cream itu sangat berantakan, seluruh isi meja jatuh luluh lantah dilemparnya semalam. Bahkan kaca meja rias di kamar itu pecah berantakan.
Sembari menahan tangisnya yang masih sesegukan, Lisa membuka ponselnya. Menatap gambar dirinya dan Arka saat masih berpacaran.
“Lu milik gue Ar, selamanya. Cuma gue yang boleh ada di sisi lu.” Ucapnya.
Malam hari Lisa baru keluar dari kamar, ayah dan ibunya langsung memberikan aneka wejangan supaya dia tak lagi mengharapakan suami wanita lain.
“Dengarkan ibu, Nak. Kamu cantik, pintar dan dari keluarga terpandang. Terlepas dari kejadian memalukan kemarin, masih banyak lelaki yang mau padamu asal kamu merubah sifat burukmu. Jangan lagi mengganggu rumah tangga orang lain.”
Lisa tak menjawab, ia segera kembali ke kamar setelah selesai makan malam.
Hari-hari berlalu begitu saja, tak terasa sudah seminggu semenjak ulang tahun perusahaan. Arka sudah mulai terbiasa tiap pagi dan malam mual muntah. Freya juga menjalani aktivitas kuliahnya seperti biasa.
Teman-temannya di kelas bahkan memperlakukan dia dengan spesial, begitu tau dia sedang berbadan dua. Tak jarang mereka menanyakan makanan apa yang ingin Freya makan atau membawakan makanan-makanan yang menurut mereka enak.
“Bokap gue abis kunjungan dari Jogja. Nih gue bawain Bakpia kali aja dedek di perut lu pengen.” Ucap salah satu teman sekelasnya sambil menyodorkan sekotak pakbia.
“Enak yah lu Fre, hamil tapi bisa makan apa pun, nggak mual-mual apalagi muntah. Kakak gue di rumah juga lagi hamil, sama kayak lu baru mau dua bulan tapi kerjaannya tiap hari muntah-muntah, dia mau makan aja susah.” Ujar salah satu teman Freya bernama Arum yang mendadak jadi mode curhat.
“Itu persis kayak Kak Arka.” Timpal Miya yang juga ada di sana, gadis berambut pendek itu hanya sesekali menimpali karena sibuk berbalas pesan dengan pamannya si caby.
“Maksudnya?” Tanya Arum.
“Iya jadi gue emang nggak ngidam, Rum. tapi Bang Ar yang ngidam. Mual muntah juga dia tiap hari. Kalo makan mintanya yang aneh-aneh.” Jawab Freya sambil tertawa mengingat Ardi yang lagi-lagi kena imbasnya karena harus mencari manga yang rasanya asam manis.
“Wah nggak kebayang gue Kak Arka yang mirip Cha Eun Wo itu tiap pagi muntah-muntah. Ntar gue kalo udah nikah juga pengen kayak lu, Fre. Kalo hamil yang ngidam suaminya.” Ujar Arum sambil tertawa, sepertinya gadis itu sedang membayangkan suami masa depannya muntah-muntah ketika ia hamil.
“Janganlah!” sergah Miya.
“Kenapa emang Mi?”
“Kasihan lah ntar adik atau kakak ipar lu harus nurutin semua mau laki lu.” Jawab Miya tanpa mengalihkan pandangannya dari ponsel.
__ADS_1
“Jadi lu sama Ardi nggak ikhlas nih Mi nurutin kemauannya si caby?” kali ini Freya ikut menimpali.
“Ih bukan gitu Mi, gue seneng kok. Ini juga kita mau jalan. Kata Ardi kak Arka minta kita nyariin buah coklat yang di petik langsung dari pohonnya.”
“Hah? Masa sih?” Heran Freya, seingatnya Arka hari ini belum meminta makanan apapun. Biasanya suaminya itu selalu memberitahu dia jika menginginkan sesuatu.
“Iya nih baca aja.” Miya memperlihatkan isi chat nya dengan Ardi. “Gue duluan yah. Ardi udah jemput di bawah. Lu gue tinggal nggak apa-apa kan? Apa mau sekalian ikut nyari buah coklat sama kita”
“Nggak apa-apa, lu pergi aja sama Ardi. Bentar lagi juga supir ayah jemput kok, gue mau mampir ke kantor Bang Ar. Nih mau makan bakpia bareng.” Jawab Freya.
“Ya udah, lu ati-ati. Gue duluan.” Miya bergegas keluar kelas.
Tak lama Freya dan Arum juga meninggalkan kelas. Mereka berpisah di depan fakultas, Arum sudah dijemput pacarnya sementara Freya masih menunggu supir ayah mertuanya yang masih dalam perjalanan.
Freya masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi belakang, Ia meletakan sekotak bakpia pemberian Arum di sampingnya. Tangannya mengambil ponsel di tas kemudian mengirim foto bakpia pada Arka. Tak lupa memberitahu jika ia dalam perjalanan menuju kantor.
Kendaraan yang membawa Freya melaju dengan kecepatan sedang ditengah padatnya jalan. Dia sadar jika di belakangnya seorang gadis dengan mobil berwarna merah tengah tersenyum simpul mengikutinya.
Mobil merah itu berhenti tak jauh dari tempat Freya yang baru saja turun. Mobil yang mengantar Freya sudah melaju kembali. Kini gadis dengan sekotak bakpia di tangannya itu sedang berdiri di tepi jalan.
“Jika lu pikir dengan ngumumin hubungan kalian bisa bikin gue nyerah buat dapetin Arka, lu salah. Gue belum nyerah!”
.
.
.
Asik gasskeun, lanjutkan!!
kata D'masiv juga kan JANGAN MENYERAH.... JANGAN MENYERAH ....
jangan lupakan kewajiban like komen dan favoritkan!!
__ADS_1