
Hari ini adalah hari terakhirnya di Jogja, karena nanti siang Freya akan pergi ke Bandung bersama Arka untuk tinggal dengan mertuanya. Freya nampak tak bersemangat ketika sarapan pagi ini. Bahkan dirinya tak mengambilkan roti untuk Arka malah Arka yang menyiapkan sarapan untuk istrinya itu.
Freya merasa antara senang dan sedih harus meninggalkan tempat kelahirannya. Senang karena akhirnya ia bisa bebas dari kekangan orang tuanya yang sering melarangnya melakukan ini itu. Bahagia akhirnya bisa pergi ke luar kota dengan bebas dan menikmati masa mudanya tanpa pengawasan dari orang tuanya lagi karena kini ia telah bersuami. Tapi sedih juga harus meninggalkan kedua orang tuanya, apalagi ia terbiasa kemana-mana dengan mamanya.
Lain halnya dengan Freya yang sedang tak bersemangat karena pikirannya. Ratna justru senang melihat anaknya yang terlihat begitu tak bersemangat, Ia berpikiran kalo putrinya tidak bersemangat pagi ini karena kelelahan menuaikan kewajibannya tadi malam. Apalagi mendengar teriakan Arka dan putrinya semalam, membuat Ratna berfikir Freya benar-benar menghabiskan tenaganya untuk melayani Arka.
Arka memperhatikan Freya yang hanya memotong-motong rotinya tanpa menyuapkannya ke mulutnya. "Makan Dek. Apa mau Abang ganti selainya pake rasa yang lain?" Tanya Arka.
Arka tak habis pikir, kali ini kenapa lagi istrinya itu mendadak terlihat bad mood. Padahal semalam baik-baik saja. Bahkan gadis itu tak marah ketika mendapati Arka memeluknya ketika bangun tidur. Kenapa sekarang jadi mendadak mode diam begini. "Sabar-sabar Arka, punya istri masih bocah emang labil. Gampang seneng gampang sedih juga." Batinnya yang selalu menganggap Freya bocah, padahal dirinya saja hanya selisih tiga tahun dengan istrinya, sama-sama bocah tapi tuaan dikit.
"Ngga usah Bang. Ini juga enak." Ucap Freya sembari memasukan potongan roti tawar dengan selai coklat ke mulutnya.
"Iya. Makan yang banyak yah." Ucap Arka sambil mengelus rambut Freya. Entah kenapa tangan Arka kini selalu mengelus rambut panjang itu, ada rasa nyaman tersendiri ketika mengelus rambut gadis lugunya. Apalagi Freya selalu tersenyum setiap kali dirinya mengelus maupun mengacak rambut panjangnya.
Ratna dan Frans begitu bahagia melihat Arka memperlakukan Freya dengan baik. Awalnya Frans dan Ratna tentu memiliki rasa khawatir, sama seperti orang tua pada umumnya. Meskipun Ratna rada gesrek tetap saja khawatir akan membiarkan putrinya di bawa oleh suaminya. Mengingat Freya adalah putri semata wayang mereka. Tapi melihat Arka yang mengelus kepala putrinya dengan penuh kasih sayang bisa membuat kedua orang tua itu yakin bahwa mantunya itu bisa diandalkan.
"Makanya kalian itu kalo main pake aturan. Jangan di gass semaleman kan masih ada hari esok. Kan gitu tuh jadinya Freya kelelahan jadi ngga semangat gitu." Goda Ratna yang masih mengira putrinya itu semalaman mempraktekan ilmu dari teman-temannya.
Freya terlihat tak mendengarkan godaan dari mamanya, gadis itu masih sibuk dengan pikiran bapernya karena akan meninggalkan kedua orang tuanya. Sementara Arka tak tau harus menjawab apa, karena semalam mereka memang tak melakukan apa pun. Freya hanya menginjak-injak kakinya yang pegal. "Ini bocah diem mulu lagi. Gue jawab iya-iya aja dah dari pada ribet." Batin Arka.
"Iya Ma. Lain kita kita mainnya ngga semaleman. Iya kan Dek?" Ucap Arka sambil menyenggol lengan Freya.
__ADS_1
"Iya iya Bang." Ucap Freya asal karena dia tak tau apa yang sedang di bicarakan oleh orang tua dan suaminya.
"Sebaiknya kalo main pake pengaman Ar, soalnya kalian masih muda. Kamu masih kuliah dan Freya baru mau masuk kuliah. Kecuali kalo kalian memang sudah siap punya anak ya itu lain lagi ceritanya." Frans memberi saran.
Arka begitu terkejut dengan nasihat papa mertuanya. Bagaimana bisa papa dan mama mertuanya itu berfikiran sampe kesana. Karena bahkan sampai saat ini dirinya belum mengambil haknya pada Freya. Mengingat gadis itu terlalu lugu dan polos membuatnya harus bersabar.
"Iya Pa." Jawab Arka dari pada harus menjelaskan perihal semalam panjang lebar mending iya-iya aja lah.
Setelah sarapan Freya bergegas ke kamarnya. Gadis itu kembali memeriksa barang-barangnya yang akan ia bawa. Setelah di rasa tak ada yang ketinggalan Freya menutup kopernya.
Freya duduk di ranjang dan memandangi kamar yang akan segera ia tinggalkan. Di tatapnya satu persatu poster-poster yang menempel dinding kamarnya. Ingin sekali rasanya membawa semua pernak-penik ala kpop nya itu. Tapi sayang Arka melarangnya. "Good bye Asahi Oppa." Ucapnya liris sambil melambaikan tangannya pada poster jumbo di hadapannya.
"Udah beres semua yang mau di bawa Dek?" Tanya Arka yang baru saja kembali ke kamar setelah menelpon bundanya, mengabari perihal kepulangannya bersama Freya.
"Ya udah ayo kita berangkat, takut ketinggalan kereta nanti." Ajak Arka sambil membawa kopernya dan koper Freya.
Arka di memasukan barang bawaan mereka ke bagasi taksi yang sudah di pesankan oleh Frans. Sebelumnya kedua mertuanya itu ingin mengantar anak dan menantunya hingga stasiun namun Freya melarangnya. Kalo dianterin sampe stasiun nanti Freya malah ngga jadi berangkat karena sedih harus meninggalkan orang tuanya katanya.
"Arka pamit dulu Pa, Ma." Ucapnya setelah menyalami kedua mertuanya.
"Papa titip Freya yah." Ucap Frans sambil menepuk bahu menantunya.
__ADS_1
"Jadi istri yang baik, nurut sama suami. Sekarang mama udah ngga berhak ngatur-ngatur kamu lagi. Kamu baik-baik di sana yah sayang." Ucap Ratna sambil memeluk putrinya.
"Ayo berangkat." Arka menarik tangan istrinya.
"Bentar Bang." Seraya melepaskan tangan suaminya.
Freya menatap kedua orang tuanya secara bergantian. "Papa sama mama ngga ngasih Freya uang saku? Ntar Freya kalo mau jajan gimana? Di sana kalo pengen apa- apa gimana?" Tanyanya polos yang langsung mengubah suasana haru menjadi konyol seketika.
Ratna dan Frans jadi mendadak tertawa mendengar ucapan putrinya. Sementara Arka memijit keningnya yang lagi-lagi mendadak pusing karena tingkah lugu istrinya. "Ya kali udah punya laki masih minta uang jajan sama mamanya. Dia kira gue kaga bisa ngasih duit apa." Batin Arka.
"Ma beneran ini aku ngga di kasih uang buat jajan?" Kedua orang tuanya masih saja tertawa. "Ma atuh lah jangan di samain sama di novel yang mama baca. Yang anaknya di nikahin sama ceo. Bang Ar kan bukan ceo, dia masih kuliah Ma." Ujar Freya.
Arka langsung menarik tangan istrinya, "Udah ayo berangkat."
.
.
.
Nah loh gimana ntar Freya tuh kalo mau jajan? soalnya kaga di kasih uang saku sama mamanya.
__ADS_1
Aku seneng banget deh like sama komentarnya banyak. Aku jadi makin semangat. Aku up sehari satu part. Biar kalian ngga kesel nunggu cerita ini up, kalian bisa mampir ke karya aku yang udah tamat "BUKAN PERJODOHAN"
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN FAVORITKAN!!