
"Jangan belok Ren, lurus aja. Gue nggak mau pulang ke rumah." Ujar Arka saat Rendi hendak membelokan kemudi ke jalan yang biasa ia lewati untuk pulang.
"Terus mau kemana? Mau ke hotel lu?" Tanya Irfan.
"Nggak lah ngapain ke hotel, Dedek gue aja tidurnya pules gini."
"Itu bocah tidur apa mati sih Ar dari tadi kaga bangun-bangun." Heran Irfan sambil menengok ke belakang melihat Freya yang masih terlelap.
"Sembarangan lu kalo ngomong. Tidur lah dia kalo tidur emang gini, susah bangun malahan. Lu kaga tau aja pas mau nikah aja dia bangunnya kesiangan." Tutur Arka sambil terus membelai rambut Freya.
"Mana alamat tujuan kita woy Arka. Mau sampe kapan ini lurus terus. Takut lama-lama sampe ujung dunia nih." Gerutu Rendi.
Arka memberikan ponselnya yang sudah terhubung dengan maps tempat tujuan mereka.
"Jadi gimana lanjutan akad lu pas tuh bocah kesiangan? Apa dia akad pake baju tidur gitu?" Tanya Irfan yang masih kepo. "Kalo iya dia akad pake baju tidur amazing banget dah." Imbuhnya.
"Kagak lah Fan. Dia cantik banget waktu itu. Keliatan lebih dewasa. Pokoknya gue beruntung lah dapetin Freya meskipun awalnya nih bocah ngeselin banget sih."
"Sekarang masih suka ngeselin nggak Ar?" Tanya Rendi.
"Kadang-kadang iya. Tapi entahlah sekarang gue udah terbiasa bareng dia jadi gue ngerasa seneng aja. Sikap polosnya yang belum ilang semua bikin gue gemes setengah mati sama dia. Sayang banget pokonya gue." Arka mengakhiri ceritanya dengan mencium kening Freya yang masih terlelap.
"Nyosor terus lu Ar. Kasian ke dikit ke temen kita yang masih jomblo." Sindir Rendi sambil melirik ke Irfan.
"Nggak apa-apa anggap aja gue nggak ada." Jawab Irfan dengan mode ngenesnya.
Mobil yang dikemudikan Rendi telah berhenti dengan sempurna di depan Apartemen elit yang cukup ternama di Bandung.
"Beneran nih kita tujuannya kesini?" Rendi memeriksa kembali ponsel Arka dan aplikasi itu berkata mereka sudah tiba ditujuan.
"Beneran. Ayo ke masuk." Ajak Arka.
Rendi dan Irfan berjalan di belakang Arka yang sedang menggendong Freya. Tangan kedua sahabat Arka penuh dengan bawaan aneka oleh-oleh dan masakan spesial yang Ratna buat untuk mereka.
Setelah beberapa detik berdiri di depan lift, keempatnya masuk ke dalam lift. Sesuai instruksi Arka, Irfan menekan angka empat yang merupakan lantai tujuan mereka.
"Sejak kapan lu tinggal disini Ar?" Tanya Irfan.
"Baru mau hari ini."
"Udah lama lu beli unitnya? Kayaknya mahal yah keren gini." Timpal Rendi.
Ting... Pintu lift terbuka. Mereka melangkah keluar dari dalam sana. Sesekali Arka membenarkan posisi gendongan bayi besarnya. "Nggak tau juga sih. Ini kado pernikahan dari Ayah sama Bunda."
Setelah menekan pin unit bernomor dua puluh tujuh, mereka masuk ke dalam apartemen. Arka segera merebahkan Freya di sofa karena belum tau letak kamar mereka. Rendi dan Irfan tanpa sungkan berkeliling di apartemen sahabatnya.
"Keren Ar nggak terlalu besar, minimalis tapi mewah. Orang tua lu bagus banget seleranya. Menurut gue hunian ini cocok buat pasangan baru kayak kalian." Komentar Rendi yang baru saja selesai melihat-lihat apartemen yang di dominasi warna pastel.
"Iya furniturnya juga oke punya." Sambung Irfan dengan mangacungkan dua jempolnya.
__ADS_1
"Gue bawa Freya ke kamar dulu. Kalian kalo mau minum ambil sendiri ke dapur kali aja ada. Soalnya gue nggak ngecek kulkas barusan." Ujar Arka sambil mengangkat Freya dari sofa.
Membaringkan gadis itu di ranjang, melepaskan sepatu istrinya kemudian menyelimutinya. "Selamat bobo sayang." Mengecup kening Freya kemudian keluar untuk menemui Rendi dan Irfan.
"Kok nggak pada bikin minum sih?" Tanyanya pada kedua sahabatnya ketika tak melihat minuman di hadapan mereka.
"Kosong Ar. Di dapur lu kagak ada apa-apa." Jawab Irfan.
"Anak sultan kaga ada stok makanan hahaha." Ledek Rendi.
Arka menepuk keningnya pelan. "Ya sorry. Gue belum belanja apa-apa. Kesini juga baru sekarang. Gue kira udah disiapin sama bunda, tapi ternyata makanan mah kagak ada. Gimana kalo makan ini aja masakan dari mertua gue." Tawar Arka. " Atau delivery order aja?" Lanjut nya.
"Kaga usah Ar. Kasian tukang D.O nya kalo nganterin jam dua malem gini. Kita balik aja." Pamit Rendi.
"Nggak nginep aja disini?"
"Pulang aja deh. Dari beres KKN kan kita belum balik." Jawab Irfan.
"Tapi gue bawa mobil lu yah Ar." Ucap Rendi.
"Iya bawa aja. Makasih yah udah bantuin gue."
"Sama-sama. Lagian kita udah kaya saudara nggak usah sungkan." Ujar Irfan.
"Selamat ulang tahun. Semoga lu bahagia selalu sama Freya." Ucap Rendi.
"Makasih."
Arka mengantarkan Irfan dan Rendi hingga masuk ke dalam mobil. Setelah mobilnya tak terlihat lagi lelaki itu berjalan ke seberang jalan menuju toko serba ada yang buka dua puluh empat jam. Membeli beberapa makanan dan minuman secukupnya untuk pagi nanti.
Tiba di apartemen ia segera meletakan belanjaannya di dapur. Tak lupa memasukan masakan Mama Ratna yang ia bawa tadi ke dalam kulkas. Setelah semuanya beres ia melangkah ke kamar mandi untuk membersihkan diri sebelum tidur. Karena sudah lelah Arka memilih tidur dengan mengenakan baju handuk yang ia temukan di kamar mandi.
Pagi menjelang. Masih pukul lima pagi tapu Freya sudah bangun. Kali ini gadis terbangun kepagian karena merasa risih setelah perjalanan jauh belum mandi. Memindahkan lengan sang suami yang melingkar di perutnya kemudian turun dari ranjang dan mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan, ia benar-benar tak mengenali tempatnya berada kini.
"Bang Ar." Panggilnya sambil menggerakkan bahu Arka untuk membangunkannya.
"Abang kita dimana?" Tanyanya saat Arka sudah membuka mata.
"Rumah baru. Sini peluk Abang kangen." Arka merentangkan tangannya.
Tak ada pilihan Freya kembali naik ke ranjang dan memeluk sang suami sebentar. "Bang Ar aku mau mandi gerah."
"Ya udah sana." Arka melepaskan Freya dan memilih melanjutkan tidurnya.
Belum lama terlelap dalam tidurnya Arka kembali terbangun karena Freya yang berulang kali memanggil dari kamar mandi. Dengan malas Arka turun dari ranjang dan menghampiri Freya yang hanya menyembulkan kepalanya di pintu kamar mandi.
"Kenapa Dek?"
"Nggak ada handuk Bang. Aku lupa bawa. Ambilin." Ucapnya sambil memelas.
__ADS_1
"Sekalian bajunya Bang." Teriaknya saat Arka sudah berdiri di depan lemari.
Arka memberikan jubah mandi warna putih sama seperti yang ia kenakan pada Freya.
"Bajunya mana Bang?"
"Nggak ada. Pake itu aja disini nggak ada baju satu pun." Jawab Arka lalu berjalan kembali ke ranjang dan duduk di sisi ranjang.
Melihat Freya yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan jubah mandi membuat gadis itu terlihat seksi dengan rambut panjangnya yang basah, ditambah dengan belahan dadanya yang sedikit terlihat ketika gadis itu duduk di sampingnya. Membuat permen di sana resah dan ingin kembali bersilahturahmi dengan hunian ternyaman miliknya.
"Bang Ar selamat ulang tahun yah." Ucap Freya kemudian mengecup singkat bibir Arka. "Aku nggak bisa ngucapin kata-kata yang bagus kayak orang lain, tapi aku selalu selipin nama Abang disetiap do'a aku semoga Bang Ar bahagia selalu." Imbuhnya seraya memeluk Arka.
"Makasih sayang. Sekarang kadonya mana buat Abang?"
Dalam hati Freya merutuki dirinya yang bodoh, ia bahkan tak menyiapkan hadiah apapun untuk sang suami gara-gara drama kabur dan ngambeknya kemarin saja kalo bukan karena Rendi dan Irfan dia tak akan ingat hari ulang tahun suaminya.
"Hm anu itu Bang..." Freya tak tau harus berkata apa karena kesannya sangat konyol dia tak punya hadiah untuk sang suami.
"Abang cuma bercanda kok. Buat Abang kamu itu kado terindah di usia Abang sekarang. Makasih karena tak menolak perjodohan kita sejak awal, makasih juga karena udah mau nikah sama Abang meskipun dulu kita belum saling cinta. Makasih udah tetap bertahan meskipun dulu Abang belum bisa bilang 'saranghae' sama kamu. Tapi sejak malam itu sampe selamanya nomu nomu saranghae Freyanisa, istriku tersayang." Ucap Arka kemudian mencium bibir Freya dengan lembut dan merebahkan gadis itu di ranjang.
Arka terus melum*at bibir manis istrinya membiarkan lidahnya menjelajahi mulut Freya dan mengabsen seluruh isinya, saling membelitkan lidah dan bertukar saliva di dalam sana. Tangannya mulai membuka tali jubah mandi sang istri hingga kini ia bisa bebas mengabsen seluruh lekuk tubuh istrinya tanpa terlewat sedikitpun. Bibirnya mulai turun memberi tanda di leher putih Freya. Tapi semua berhenti seketika saat terdengar cacing dari perut Freya yang demo minta makan.
Kruk...kruk...
"Kamu lapar Dek?"
Dengan malu Freya menganggukkan kepalanya. Sebenarnya Freya sudah susah payah menahan laparnya tapi dasar cacing di perutnya tak bisa diajak kompromi.
Arka mengikat kembali tali jubah mandi Freya dan membantu gadis itu duduk.
"Maaf yah Bang."
"Nggak apa-apa, kita makan aja dulu." Ucap Arka sambil mengelus kepala Freya.
.
.
.
.
Itu cacing kagak tau sikon banget yah. Kesel ih udah pindah rumah tapi masih aja ada gangguan.
Part ini udah panjang banget yah tapi sayang gagal keras wkwkwk
Jangan lupa like, komen dan share ke temen-temen kalian biar makin banyak yang baca JDGC.
Makasih.
__ADS_1