
Sesuai keinginan mertuanya malam tadi keduanya menginap di sana. Pagi ini Freya tak bangun kesiangan. Dia bahkan bangun pagi-pagi sekali sebelum suaminya bangun, meskipun semalam sudah digempur habis-habisan tapi keinginannya yang sudah tak sabar untuk ke kampus dengan sejuta bayangan-bayangan kehidupan kampus yang indah membuat terciptanya alarm otomatis di otaknya, ia bangun satu menit sebelum alarm di HP berbunyi.
Arka yang baru membuka matanya segera turun dari ranjang, mengambil boxer yang semalam dilemparnya asal kemudian mengenakannya. Dengan telanjang dada dan rambut yang sedikit berantakan ia berjalan menghampiri sang istri yang sedang memakai pewarna bibir yang bisa Arka tebak rasa jeruk dari aroma yang tercium saat ia menyerukkan wajahnya di tengkuk leher Freya.
“Semangat banget yang mau ngampus jam segini udah cantik.” Ucapnya kemudian mengecup bibir berwarna orange itu. “Bener kan rasa jeruk.” Lanjutnya mengacak rambut Freya dan meninggalkan gadis ke kamar mandi.
“ish jadi ilang kan liptint gue, belum kering juga udah main sosor aja Bang Ar itu. Ngeselin, tapi ada manis-manisnya hehe.” Gerutunya yang diakhiri tawa sambil kembali menggoleskan benda cair berwarna orange ke bibirnya.
Freya memegangi lehernya sambil melihatnya di depan cermin dengan teliti, pasalnya semalam Arka masih saja meninggalkan tanda cinta di sana. Padahal sudah di kasih tau jangan di leher eh masih saja dengan nakalnya lelaki itu membuatnya meskipun tak sebanyak dulu. Kini lelaki itu sudah punya tempat favorit, Freya membuka dua kancing kemejanya dan terlihatlah karya suami tersayang yang tak memperlakukan tubuhnya seperti kanvas lukisan yang harus di beri warna setiap malam, belum hilang jejak malam sebelumnya sudah membuat karya baru. Mungkin mulai saat ini Freya harus terbiasa tak melihat kulit tubuhnya yang putih bersih seperti dulu.
Freya mengancingkan kembali kemejanya, membiarkan rambut panjangannya tergerai ke depan untuk menutupi maha karya Arka di leher kanannya. Setelah dirasa penampilannya sudah oke, dia pergi ke dapur membantu mertuanya menyiapkan sarapan.
“Di hari ini gue nebeng ke kampus yah.” Ucapnya pada Ardi yang duduk di depannya.
“Ogah. Lu berangkat sama Kakak aja.” Tolak Ardi.
“Iya dia berangkat bareng gue, tapi nebeng sama lu soalnya mobil gue kagak ada. Di bawa Rendi.” Sahut Arka yang baru saja tiba di meja makan dan bergabung dengan mereka.
“Huh ngrepotin aja. Oke deh tapi di larang pamer kemesraan di mobil gue.”
“Nggak janji deh.” Jawab Freya.
Tak di sangka ternyata kali ini Arka dan Freya benar-benar tak menunjukan kemesraan mereka di depan Ardi. Bahkan Arka membiarkan Freya duduk sendiri di belakang, meskipun sepanjang jalan gadis itu terus saja menyembulkan kepalanya diantara Ardi dan Arka sambil terus berbicara ini itu yang berujung adu mulut dengan Ardi. Arka hanya bisa menggelengkan kepala setiap melihat istri dan adiknya cek cok. Arka tau setiap ejekan maupun umpatan yang keluar dari bibir Ardi untuk istrinya adalah untuk menyembunyikan luka dihatinya. Andai Arka tau lebih awal mungkin ia akan merelakan Freya untuk Ardi tapi takdir berkata lain, kini ia tak bisa merelakan Freya untuk siapa pun.
Mobil yang membawa mereka ke kampus sudah terparkir dengan sempurna di depan fakultas TI. Freya dengan semangat segera membuka pintu dan turun dari dalam sana. Bahkan saking semangatnya ia sampai membukakan pintu untuk Arka.
__ADS_1
“Padahal Abang bisa buka pintu sendiri Dek.” Ucap Arka setelah menutup pintu.
“Biar cepet aja Bang. Ayo buruan ke fakultas kita Bang.” Ajak Freya.
“Iya sana jauh-jauh lu. Bosen gue denger ocehan lu terus dari tadi.” Ujar Ardi sambil menjauh dari mereka.
“Lu mau kemana Ar?” tanya Arka begitu melihat Ardi mulai menjauh.
“Ya ke fakultas gue lah Kak.”
“Mau ngapain? Acaranya di auditorium tau. Kalian nggak pada baca info di pengumuman apa?” ucap Arka sambil melirik istri dan adiknya secara bergantian.
Ketiganya kini berjalan beriringan menuju auditorium. Freya terus menempel pada Arka, memegang lengan kiri lelaki itu dengan posesif seolah ingin menunjukan pada banyak mata yang terus memperhatikan mereka jika Arka adalah miliknya.
Seperti dugaannya semalam belum juga sampai di auditorium gadis yang pernah membuatnya salah paham hingga kabur sudah berdiri di hadapannya. Gadis itu menggeser Ardi dan berdiri di samping Arka, seperti biasa memegang lengan Arka.
Ardi hanya acuh dan masa bodoh, ia melanjutkan jalannya, meninggalkan Arka dn Freya yang berhenti di sana. Sementara Freya langsung melepaskan pengangannya dari lengan Arka, gadis itu berjalan ke hadapan Lisa dan segera menjauhkan tangan Lisa dari suaminya.
“Kak Lisa jangan pengang-pengang Bang Ar. Aku tau kakak itu bukan calon kakak sepupu aku. Jauh-jauh dari Abang aku.”
Lisa menatap kesal pada gadis dihadapannya. “Berani yah lu ngelarang gue pegang cowok gue sendiri.”
“Kakak kalo udah jadi mantan yah jangan ngaku-ngaku terus deh bikin harga diri kaum hawa jadi rendah aja. Malu dong kak.” Ucap Freya tanpa sedikitpun terintimidasi dengan tatapan tajam Lisa.
“Lu ya.” Teriak Lisa sambil menunjuk Freya dengan jarinya, hal itu berhasil membuat mahasiswa yang berlalu lalang menjadikan mereka tontonan gratis.
__ADS_1
“Kalo lu bukan sepupu Arka, udah abis lu!” bentak Lisa kemudian meninggalkan Freya dan Arka.
Kasak-kusuk tertengar bisik-bisik diantara mahasiswa yang ada di sekitar sana, mereka mengira jika Freya adalah gadis yang ada di postingan terakhir Arka.
Apa mungkin itu pacar barunya Arka
Iya cewek yang di post di IG dia kali
Keren tuh anak, kecil-kecil berani sama Lisa
Arka mengusap pucuk kepala Freya, “good job Dek.” Ucapnya kemudian mengacungkan kedua jempolnya.
Freya membuang nafasnya kasar huh.. gadis itu kemudian memegang dadanya, “Gila deg-degan banget aku Bang. Takut aku tuh sama Kak Lisa, hih itu melotot mata sampe mau keluar gitu. Kok bisa sih Abang punya mantan serem kaya gitu hih.”
Keduanya kembali berjalan menuju Auditorium, “Masuk gih.” Ucap Arka ketika mereka sudah tiba di depan pintu.
Freya mengangguk kemudian masuk ke auditorium, baru beberapa langkah sekumpulan gadis yang ia yakini seniornya sudah memberhentikannya. “Lu pacarnya Arka?” tanya salah satu dari mereka.
“Bukan Kak, gue adik sepupunya dari Jogja dan mau kuliah di sini.”
“Oh kirain. Kalo lu adik sepupunya apa lu juga tinggal di rumah Arka?” tanyanya lagi.
“Iya Kak.”
“Gue liat lu sama Arka akrab, berarti lu tau dong gadis yang ini?” tanyanya sambil menunjukan gambar dirinya yang sedang tidur dipangkuan Arka dengan wajah yang ditutupi. “Apa gadis ini pacarnya Arka?” lanjutnya.
__ADS_1
“Yang jelas gadis itu orang yang spesial buat Bang Ar. Gue duluan kak.” Pamit Freya sopan, ia segera bergabung dengan mahasiswa baru yang sudah berbaris sesuai dengan jurusan yang mereka pilih.