
"Arka buka pintunya!" Teriak Mira sambil menggedor pintu kamar putranya.
"Arka buka! mertua kamu mau bicara sama Freya, dari tadi di telepon tidak diangkat." Teriaknya lagi.
Karena teriakan Bundanya, Arka beranjak dari tempat tidur dan melilitkan handuk pinggangnya dengan buru-buru membuka pintu. "Ada apa Bun?" Tanya Arka yang berdiri di pintu yang hanya terbuka sedikit.
Mira menatap heran putranya yang hanya mengenakan handuk dan telanjang dada siang-siang begini. "Kamu baru mandi?"
"Hah? Iya baru mandi Bun." Jawabnya asal. "Baru mandi kenikmatan." Batin Arka.
"Freya mana?" Mira mencondongkan kepalanya melihat ke dalam, berusaha mencari keberadaan menantu kesayangannya. "Mertua kamu nelpon katanya tidak diangkat." Lanjutnya.
"Freya yah Bun?"
"Iya Freya lah menantu ibu kan cuma Freya. Kamu ini gimana sih." Mira menyingkirkan lengan Arka yang menghalanginya dan menerobos masuk.
"Bun tunggu jangan masuk! Freya lagi tidur." Tapi larangan Arka tak dihiraukan Mira, wanita paruh baya itu sudah masuk ke kamar mereka.
"Freya sayang mama kamu," bunda Mira berdiri mematung melihat kondisi kamar putranya. Baju mereka berserakan di lantai dan menantu kesayangannya masih terlelap dengan selimut yang menutupi tubuh itu hingga leher. Meskipun tak terlihat tapi Mira yakin menantunya itu pasti tak mengenakan pakaian.
Seketika wajah Mira yang terkejut berubah menjadi begitu antusias dengan pemandangan di hadapannya. "Kalian siang-siang... Kamu bunda ajak makan siang nggak mau, ternyata malah asik-asik makan Freya." Ledek Mira.
Arka tak menjawab pernyataan bunda Mira, toh mau di jawab apa lagi mereka sudah tertangkap basah. Arka hanya menggaruk kepalanya yang tak gatal sementara bundanya terus saja tersenyum jahil.
Freya mengerjapkan matanya, tangannya meraba kasur mencari Arka yang tadi memeluknya. Bukan karena berisik yang membuat gadis itu membuka matanya tapi karena tak ada pelukan nyaman yang merengkuh tubuhnya. "Bang Ar." Panggilnya lirih.
"Abang kemana sih? Mau peluk." Rengeknya dengan mata yang baru sedikit terbuka tanpa menyadari mertuanya ada disana.
Jangan tanya ekspresi Mira melihat tingkah menantunya, wanita yang merupakan anggota grup chat gesrek itu malah semakin senang, "istri kamu minta peluk tuh." Ledek Mira sambil menahan tawanya yang hampir pecah.
Mendengar suara yang tak asing, Freya langsung membuka matanya dan mengamati ke sekeliling kamar. Gadis itu langsung menaikan selimut hingga kepalanya saat melihat Mira berdiri tak jauh dari ranjang.
__ADS_1
"Udah-udah nggak usah kaya gitu ngeliatin Bunda Ar. Bunda jadi takut." Ledek Mira saat putranya menatap dengan tajam seolah meminta Mira untuk segera pergi dari sana. "Iya-iya bunda pergi nih. Maaf udah ganggu bobo siang kalian." Ledeknya sambil keluar dari kamar.
Arka mengikuti Mira hingga ke pintu. "Ar Bunda mau cucu perempuan yah." Ucapnya sebelum Arka menutup pintu.
Arka tak menanggapi ucapan Bundanya. Dia menutup pintu dan segera menghampiri Freya yang masih bersembunyi dibalik selimut.
"Bunda udah nggak ada." Ucapnya sembari menarik selimut.
"Aku malu banget tau Bang. Mau ditaruh di mana muka aku nih." Protesnya.
"Udah nggak apa-apa. Bunda juga ngerti kok. Bunda malah seneng loh." Arka mencoba menenangkan Freya yang masih terus protes malu. "Bunda mau cucu cewek katanya Dek." Imbuh Arka.
"Hah?" Freya hanya melongo mendengar mertuanya pengen cucu cewek sementara dia belum berfikir jauh soal anak, secara dia aja masih anak-anak.
Arka mengelus kepala Freya. "Udah jangan kebanyakan mikir, kasian otak kamu. Ayo mandi terus anterin Abang sampe kampus."
Sementara itu di ruang TV Mira dan temen-teman dari grup chat termasuk besannya sedang menggelar rapat dadakan via zoom. Mereka dengan gaya gosip ala emak-emak begitu senang membahas Arka dan Freya yang seolah kena sidak dari Mira. Bahkan kini teman-temannya mulai bergantian memberikan selamat pada Mira dan Ratna yang mereka anggap akan segera mendapat cucu karena putra putri mereka yang rajin olahraga bahkan di siang hari yang panas.
Dengan malu-malu Freya menghampiri Mira. "Freya ikut nganter Bang Ar sampe kampus Bun." Ucapnya.
"Iya sayang." Mira bisa melihat rona merah di pipi menantunya. "Jangan diinget-inget yang tadi. Anggap aja bunda nggak pernah masuk ke kamar kalian." Imbuhnya sambil mengelus kepala Freya.
"Hm iya Bun."
"Ya udah kita berangkat dulu Bun." Arka dan Freya berlalu keluar rumah.
Keduanya masuk ke mobil dan duduk di kursi belakang. Kali ini Arka sengaja meminta supir ayahnya untuk mengantarkan mereka ke kampus, karena Freya tak bisa membawa kendaraan.
Pak supir segera turun dan mengeluarkan koper Arka dari bagasi. Sementara Arka masih memeluk Freya di dalam mobil. "Baik-baik di rumah yah. Kalo ada apa-apa kamu telepon Abang. Kalo mau main bisa minta anterin Ardi. Abang udah bilang ke Ardi kok." Ucapnya sambil membelai rambut Freya. Di tatapnya wajah Freya yang terlihat sedih dan hampir menangis. "Jangan nangis sayang." Arka mengecup singkat bibir Freya.
"Abang berangkat yah." Pamit Arka yang dijawab dengan anggukan oleh Freya.
__ADS_1
Arka keluar dari mobil, membawa kopernya menuju mini bus yang tak jauh dari tempat mobil mereka berhenti. Freya hanya memandangi Arka yang berjalan semakin jauh dan bahkan kini suaminya sudah masuk ke mini bus berwarna abu.
Tiba-tiba Freya menepuk keningnya sendiri. "Astaga gue lupa." Teriaknya sambil membuka pintu mobil. "Pak tunggu bentar yah." Imbuhnya pada Pak supir seraya keluar dari mobil.
Dengan langkah cepat Freya berjalan ke mini bus dan mengetuk pintu yang baru saja tertutup. Setelah salah satu anggota membuka pintu, Freya langsung naik dan mengedarkan pandangannya mencari Arka. Sontak seluruh mata yang ada disana menatap Freya yang tiba-tiba masuk. "Dek!" Freya menengok ke belakang dan ternyata Arka duduk di samping tempat ia berdiri.
Arka beranjak dari duduknya. "Sorry guys bentar yah." Arka membawa Freya turun dari bus. Beberapa pasang mata yang penasaran masih mengamati dari dalam sana, termasuk Lisa.
"Kenapa Dek? Jangan bilang kamu mau minta peluk lagi. Abang nggak mungkin meluk kamu disini, banyak yang liat."
"Bukan Bang, aku tau kita di luar itu saudara sepupu." Jawab freya sambil melihat ke Bus dan ternyata benar teman-teman Arka masih memperhatikan dari dalam sana.
"Terus kenapa?"
"Ish Abang belum ngasih aku uang. Ntar kalo aku mau jajan gimana?" Protesnya.
Arka mengacak rambutnya sendiri. Ia kira Freya akan merengek supaya dia tak pergi. Tapi apa ini? Ternyata Freya minta uang jajan. Arka mengeluarkan dompetnya dan mengambil kartu yang dulu pernah di tolak oleh Freya.
"Pake ini jangan nolak! Pin nya tanggal pernikahan kita. Abang pergi yah." Ucap Arka. "Love you sayang nya Abang." Imbuhnya lirih.
"Love you too sayangnya Dedek." Balas Freya pelan. "See you Bang Ar." Imbuhnya.
.
.
.
buat yg mau masuk GC aku silahkan dengan pin "2704"
Jangan lupa like, komen dan favoritkan!!!!
__ADS_1