Jodoh Dari GC

Jodoh Dari GC
Inagurasi


__ADS_3

“Gue emang suka Lis sama Freya. Tapi apa iya gue harus maksa orang yang nggak suka buat suka sama gue?”


“Kata siapa dia nggak suka sama lu? Bukannya dia dulu pernah ngasih surat cinta dan lu tau sendiri kalo bukan karena nyokapnya dia nggak bakalan nolak lu?” Lisa masih saja keukeuh dengan rencananya membuat Freya pacaran dengan Tito supaya dia bisa kembali pada Arka.


“Tapi itu cuma tugas siswa baru dulu Lis. Dan lagi Freya bilang dia udah nikah, suaminya orang yang lu gilai.”


“Stop! Jangan pernah ucapin hal yang nggak masuk akal di depan gue. Udah gue selidiki dan Freya itu hanya saudara jauh keluarga Rahardian. Gue nggak mau Freya ngambil Arka dari gue. Pokoknya lu harus bantu gue. Sesuai rencana awal kita!” Paksa Lisa.


“Gue nggak bisa.” Tolak Tito.


“Lakuin sesuai rencana!” Ucap Lisa penuh penekanan. “Atau…” imbuhnya penuh ancaman.


“Atau apa?” tanya Tito


“Atau gue bakal minta bokap gue buat batalin kerjasama pembangunan proyek perusahaan keluarga lu.” Ucap Lisa sambil tersenyum ramah, melabaikan tangannya.


Tito mengikuti tatapan Lisa, ia menemukan gadis yang dulu memberinya surat cinta tengah melambaikan tangannya pada Lisa. Gadis dengan gaun kuning berenda itu terlihat semakin cantik dengan rambut panjang yang dibiarkan tergerai.


“Lu udah tau kan apa yang harus lu lakuin? Kita harus berhasil!” ucap Lisa sebelum kemudian beranjak menghampiri Freya.


Tito hanya memperhatikan Freya dari kejauhan. Kini lelaki hitam manis itu berada dalam kebimbangan. Iya menyukai Freya dan tentu saja ingin memilikinya. Tapi cinta tak bisa dipaksakan. Terlebih jika ia melakukan rencana Lisa bisa jadi gadis itu bukannya akan berubah menjadi cinta padanya, bisa jadi malah akan membencinya seumur hidup meskipun ia berhasil membuatnya berada di sisinya. Tapi untuk apa jika hanya memiliki raga tapi hatinya untuk orang lain?


Tito mengambil dua butir kapsul dari sakunya, memandang obat itu, kemudian memasukannya kembali kedalam saku. Tito mengambil segelas minuman dari pelayan yang berlalu lalang dan menenggaknya sekali tandas. Matanya masih terus memperhatikan Freya yang sedang tertawa bersama Lisa dan Miya.

__ADS_1


Tatapannya tak sengaja bertemu dengan Lisa, wanita itu menatap tajam padanya seolah berkata untuk segera memulai rencana mereka.


Kini Tito benar-benar binggung andai bukan karena perusahaan orang tuanya yang tercancam, ia tak akan melakukan hal tak terpuji seperti ini.


Tito kembali mengambil segelas minuman kemudian mencampurnkan obat yang baru saja ia ambil dari sakunya. Menggoyangkan gelas ditangannya berulang kali supaya obat itu larut dengan sempurna. Sebelum beranjak dari tempatnya berdiri Tito memastikan semua serbuk obatnya sudah larut.


Tito bergabung di meja bundar tempat Freya duduk, ia meletakan minuman itu di depan Freya. “Di minum yah. Sengaja gue ambilin.” Ucapnya.


“Makasih Kak.” Ucap Freya.


“Kalian lagi bahas apa sih kayaknya seru banget?” tanya Tito basa basi setelah duduk di samping Freya.


“Lagi ngebuli Freya Kak, ianget kan surat cintanya dulu ambyar banget. Yang buat kakak itu loh pas masa orientasi siswa dulu.” Jawab Miya yang juga da di sana.


Ya mereka memang sedang membahas masa lalu, Lisa dengan sengaja mengorek kehidupan SMK Freya berharap gadis itu bisa mengingat kembali cintanya pada Tito.


Aneka hiburan mulai dari pentas seni dan kuis meramaikan acara. Beberapa mahasiswa ikut menari di depan panggung. Begitu pun dengan Miya yang berhasil mengajak Ardi untuk menemaninya menari.


“Jangan kemana-mana yah!” ucap Ardi yang diangguki oleh Freya. Adik iparnya itu mengikuti Miya ke dekat panggung.


Freya hanya duduk dengan Tito dan Lisa melihat orang-orang yang sedang asik menari di depan sana. Sesekali juga ia bisa melihat Ardi berulang kali menengok padanya. Dan Freya hanya melambaikan tangannya setiap Ardi ataupun Miya menengok padanya.


“Lu mau ikutan nari juga gue temenin Fre.” Ajak Tito.

__ADS_1


“Nggak Kak, gue malu kalo nari di tempat rame.” Tolak Freya yang kemudian meneguk sedikit minumannya.


Lisa tersenyum puas melihat itu, lama-kelamaan Freya mulai beberapa kali menguap. Gadis itu menutup mulutnya dengan telapak tangan.


“Kak, gue ke toilet sebentar yah.” Pamit Freya sembari beranjak dari duduknya. Ia benar-benar merasa ngantuk dan perlu membasuh wajahnya supaya segar.


Freya menghampiri Ardi, ia tak mau membuat adik iparnya khawatir bila tak mendapatinya di tempat duduk.


“Di, gue ke toilet dulu.”


“Gue anterin yah Fre?” tawar Miya.


“Nggak usah. gue bisa sendiri. Kalian lanjut aja.”


Freya pergi ke toilet seorang diri, dia baru saja membasuh wajah tapi tetap saja rasa kantuknya tak hilang. Matanya terasa semakin berat. Freya menatap pantulan wajahnya di cermin, ia berulang kali menguap. Sekali lagi ia membasuh wajah untuk menghilangkan kantuk tapi tak berhasil. Matanya benar-benar tak tertahan hingga akhirnya gadis itu ambruk.


“Lakuin tugas lu sekarang! Gue balik ke dapan sebelum ada yang curiga.” Ucap Lisa sambil menatap Freya yang sudah tak sadarkan diri di lantai.


Tito mengangguk setuju. Ia menggendong Freya menuju salah satu kamar yang sudah Lisa siapkan sebelumnya. Ia merebahkan Freya di ranjang. “Maafin gue Fre. Gue terpaksa ngelakuin ini.” Ucapnya lirih.


.


.

__ADS_1


.


jangan lupa like, komen dan favoritkan!!


__ADS_2