Jodoh Istikharah

Jodoh Istikharah
Hambar


__ADS_3

Arini baru saja sampai ke apartemennya. Rasa lelah membuat ia memutuskan untuk langsung istirahat setelah mandi.


Saat ia membuka mata, betapa terkejutnya ia karena mendapati Leon tengah duduk di sisi tempat tidur sambil menatapnya lekat-lekat.


"Kamu sudah bangun? Pasti capek, ya? Tidur kamu sampai pules banget gitu," kata Leon dengan nada suara yang sangat lembut.


Andai saja suara selembut itu tidak di kondisi seperti sekarang ini, pasti Arini akan meleleh dan langsung menubruk dada Leon lalu memeluknya erat.


Sayang, sekarang hati Arini sudah kebas. Ia sudah tidak dapat mendengar ataupun merasakan apa-apa dari Leon.


Perasaannya cuma satu.


Hambar.


Arini tidak menjawab, ia langsung masuk ke kamar mandi. Lalu setelah itu menuju dapur.


Di atas meja makan telah tersaji beberapa hidangan. Ada rice bowl dan salad. Tapi Arini tidak ingin memakan itu, karena ia tidak merasa membeli makanan tersebut sebelumnya.


Arini membuka lemari kecil di dapur lalu menyeduh mie instan. Aroma sedap dari mie instan menguar ke penjuru dapur.


Sementara itu di dalam kamar, Leon masih setia menunggu Arini tiba kembali di kamar. Tapi berhubung yang di tunggu tidak kunjung datang, akhirnya Leon memutuskan untuk menyusul Arini ke lantai bawah.


Didapatinya Arini tengah menyantap mie instan kuah dengan toping dua telur.


Leon mengambil duduk di sebelah Arini sambil berkata dengan lembut, "Kenapa nasinya nggak di makan, sayang? Ini aku beli dua, satu buat aku, satu lagi buat kamu."


Hening.


Arini tidak menjawab apapun. Ia terus melanjutkan makan tanpa terganggu akan kehadiran Leon.


Meskipun dalam hati Arini takut dosa karena mendiamkan suami, tapi mau bagaimana lagi? Ia tak mampu untuk berbicara dengan Leon. Lidahnya terasa kelu untuk menanggapi semua perkataan suaminya itu.


"Rini..." Leon menggenggam tangan kanan Arini. Membuat perempuan itu menghentikan suapannya. "Aku merasa akhir-akhir ini sikap kamu berubah. Kamu marah sama aku?" tanya Leon hati-hati.


Arini menatap Leon dengan wajah tanpa ekspresi. "Aku lapar. Mau makan," katanya.


Leon melepaskan pegangan tangannya. Ia menghembuskan nafas kasar. Lalu mulai membuka rice bowl yang telah ia beli dan memakannya.

__ADS_1


Leon makan dengan gerakan cepat dan suapan yang besar. Sampai-sampai kedua pipinya menggembung.


Dalan hati, Leon merutuki hubungannya dengan Arini.


Akibat perbuatannya, sekarang Arini berubah menjadi sangat dingin.


Arini selesai makan lebih dulu. Ia lalu duduk di depan televisi sambil menyetel film kartun Malaysia. Kartun kesukaannya.


"Sampai sekarang kamu masih suka aja sama itu kartun," kata Leon yang entah sejak kapan ia sudah duduk di sebelah Arini.


Arini terlalu fokus menatap layar televisi, sehingga tidak menyadari kehadiran Leon.


"Rini...," panggil Leon pelan.


Arini menoleh ke arah Leon dengan wajah datarnya. Ia tidak mengatakan apa-apa.


Leon tahu, Arini sedang malas bicara dengannya. Oleh karena itu, ia langsung saja memeluk Arini dengan erat. Seolah-olah takut Arini lepas.


Arini yang mendapatkan perlakuan demikian hanya diam saja dan tidak membalas pelukan Leon.


"Aku sayang kamu sampai kapanpun. Aku harap hubungan kita bisa seperti dulu lagi. Aku sayang kamu," lirih Leon sambil mencium puncak kepala Arini.


Calina


Sibuk, nggak?


Ketemuan, yuk! Di Resto Galaksi sekarang. Ada sesuatu yang sangat penting yang ingin aku bahas sama kamu.


Tapi kalau kamu sibuk, ya lain kali aja.


Leon


Oke.


OTW.


"Sayang, aku harus pergi. Ada urusan. Kamu baik-baik ya di sini," kata Leon sambil mencium pipi kanan Arini. Ia lalu naik ke lantai atas untuk mengambil dompet dan kunci mobil di dalam kamar. Dan tak lama setelah itu, ia pergi.

__ADS_1


Sepeninggal Leon, Arini menghembuskan nafas lega. Ia lalu berbaring di sofa depan televisi sambil menikmati tontonan.


Sementara itu di lain tempat, Calina tengah menunggu kedatangan Leon. Ia ingin mengatakan sesuatu yang penting kepada laki-laki itu.


Beberapa kali Calina mengecek jam di pergelangan tangannya. Leon tak kunjung datang. Padahal menurut pengakuan laki-laki itu, ia sudah di jalan dan sebentar lagi sampai.


"Maaf lama," kata Leon yang tiba-tiba muncul dari arah belakang Calina.


"Mau minum dan makan apa?" tanya Calina. Ia tak berniat membahas perihal keterlambatan Leon. Karena menurutnya itu hanya buang-buang waktu.


"Sama seperti kamu aja, deh," kata Leon dan diangguki oleh Calina.


Calina lalu memesankan menu untuk Leon, sama persis seperti miliknya. Dan tak lama pesanan Leon pun datang.


Selama makan, mereka hanya terlibat obrolan ringan. Calina sengaja tidak membahas topik berat saat makan, karena takut akan menghentikan nafsu makan mereka.


Setelah makan, barulah Calina mengutarakan maksud dan tujuannya mengajak Leon untuk bertemu.


"Kamu apa kabar sekarang? Emm... Maksud aku, kamu sudah punya pasangan atau belum? Ah, maksud aku, mau tidak balikan sama aku?" tanya Calina dengan rasa was-was.


Takut ditolak.


Leon tidak langsung menjawab. Ia sedang berfikir sejenak. "Sebenarnya aku mau kembali sama kamu, tapi aku sudah punya istri. Apa kamu mau menjadi istri siriku saja? Biar kita menjadi kekasih halal."


Sontak wajah Calina langsung memucat. Ia tidak tahu harus merespon bagaimana. Hati kecilnya menolak untuk menjadi pelakor. Tapi disatu sisi, ia ingin menikah dengan Leon.


"Apa istrimu tidak keberatan?" tanya Calina hati-hati.


"Tidak akan. Aku sudah pernah membahas ini dengan istriku, dan dia setuju." Memang benar apa yang dikatakan Leon. Arini memang tidak melarangnya menikah lagi. Tapi... Tidak tahu dengan Becca. Ah, pasti Becca juga setuju. Pikir Leon.


Calina tertawa sumbang. "Tidak mungkin. Mana ada perempuan di dunia ini yang rela di madu. Ralat, kecuali yang imannya kuat. Apakah istrimu termasuk dalam perempuan yang imannya kuat?" tanya Calina.


"Ya. Istriku memang perempuan yang shalihah," kata Leon sambil tersenyum. "Apa kau masih mau menikah denganku setelah tahu hal ini?" tanya Leon sambil menatap Calina lekat-lekat.


"Mau," jawab Calina dengan cepat. "Tapi kita menikah siri saja. Bagaimana jika pernikahan kita dilaksanakan sesegera mungkin? Agar tidak menimbulkan dosa diantara kita."


Leon tampak berfikir sejenak. Ia mencari-cari sesuatu di mata Calina. Tapi sayangnya ia tidak menemukan apa-apa karena memang ia tidak bisa membaca pikiran seseorang. "Kamu yakin dengan keputusan ini? Kamu artis terkenal. Sedang naik daun. Sedangkan aku? Aku bukan siapa-siapa. Hanya laki-laki biasa."

__ADS_1


"Tidak masalah," sahut Calina yakin. "Aku tidak melihat laki-laki hanya dari materinya. Toh sebelum ini kita sudah pernah memiliki hubungan. Bahkan sampai... Ah, tidak usah dibahas lah. Itu dosa kita di masa lalu. Yang penting, sekarang kita siap memperbaiki diri."


__ADS_2