
"Arrgghh!" Leon meninju setir kemudi dengan cukup kuat. Ia frustrasi. Takut. Gelisah. Dan serba-salah.
Leon memejamkan matanya kuat-kuat saat ia sedang berada di lampu merah.
Hari ini ia tidak masuk kerja karena mengurusi Diana. Perempuan itu mengancam akan mencelakai Becca dan Arini jika Leon meninggalkannya. Diana juga mengancam akan speak-up tentang kehamilannya.
Tentu saja Leon tidak bisa diam saja. Seharian tadi ia habiskan untuk berdebat alot dengan Diana di rumah pertemuan itu.
Ponselnya juga tidak bisa dihubungi, karena Diana menyitanya dan mematikannya.
Sekarang sudah pukul tujuh malam. Leon bisa kabur dari perempuan itu dengan syarat: Mereka harus menikah.
Dengan terpaksa, Leon menuruti keinginan Diana. Toh ia memang bersalah juga. Jadi sepatutnya untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya.
Sekarang yang harus ia pikirkan adalah Arini, Becca, dan juga Calina.
Leon masih mencintai Arini, ia tidak tega jika kembali menyakiti istri tuanya itu. Apalagi tadi malam Arini mengatakan kalau ia mengetahui pernikahannya dengan Calina yang sengaja Leon sembunyikan. Bukan hanya Arini yang terpukul, Leon pun juga ikut terpukul. Karena ia tak menyangka salah satu saksi adalah pamannya Arini. Selama ini ia menyangka kalau rahasia tersebut aman. Tidak ada satupun istrinya yang tahu. Namun dugaannya salah. Arini sudah tahu sejak lama namun memilih untuk pura-pura tidak tahu.
Becca...
Perempuan itu sedang hamil. Tidak baik untuk kesehatan ia dan janinnya jika mengetahui Leon menikah lagi.
Calina...
Memang perempuan itu terlihat cuek. Namun biarpun begitu, Leon juga tak tega jika harus mengatakan kalau ia akan menikah lagi yang keempat kalinya.
Tanpa sadar Leon telah sampai di rumah Becca. Setelah masuk ke dalam rumah, ia disambut dengan tatapan tajam oleh Becca.
Ibu mertuanya tidak terlihat, mungkin masih di kafe.
__ADS_1
"Kenapa kau pulang ke sini? Pergi saja jika kau hanya akan membuatku terluka!" teriak Becca dengan tatapan yang nanar.
"Apa maksudmu, Becca?" tanya Leon cemas. Pasalnya ia tak pernah melihat Becca semarah ini sebelumnya. Ia berjalan pelan mendekati Leon.
"Jangan mendekat, Leon! Aku membencimu. Jika kau sampai berani mendekat, maka aku akan membunuhmu!" teriak Becca sambil mengacungkan sebuah pisau roti yang ia sambar dari atas meja makan.
"Katakan, ada apa, Becca?" tanya Leon cemas.
"Kau tanya ada apa setelah semua yang kau perbuat padaku, hah! Katakan, Leon! Katakan aku dan Mbak Arini kurang apa? Kenapa kau malah selingkuh? Bahkan kau selingkuh dengan sahabatku sendiri. Setidaknya kalau kau memang mau selingkuh, memangnya kau tidak bisa mencari perempuan lain? Mengapa harus sahabatku? Apa begini caramu untuk membunuhku secara perlahan? Katakan, Leon! Katakan!" Suara Becca semakin meninggi. Ia membanting ke lantai gelas minum yang ada dekatnya.
Leon langsung cemas. Ia tak menyangka Becca akan tahu secepat ini.
"Kenapa kau diam saja? Kau bingung aku tahu dari mana?" tanya Becca sambil terisak. "Aku meneleponmu dan yang mengangkat adalah Diana. Bahkan Diana mengirimkan foto kalian sedang tidur bersama. Kau memang penjahat kelamin. Aku benci kau, Leon!" maki Becca dengan suara yang menggelegar.
Leon tidak bisa menjawab apa-apa. Yang bisa ia lakukan adalah diam saja.
"Kau lebih memilih tidur dengan perempuan itu ketimbang masuk kerja? Kau memang benar-benar penjahat kelamin! Aku menyesal sudah menjadi istrimu!" Becca semakin emosi. Air mata sedih, kecewa dan marah mengalir membasahi pipi mulusnya.
"Sekarang pergilah dari hadapanku! Aku muak melihat wajahmu. Aku ingin sendiri. Keberadaanmu hanya akan membuatku setres!" usir Becca. Ia mendorong kuat tubuh Leon hingga laki-laki itu keluar dari pintu. Setelah itu, ia mengunci pintunya.
Becca menangis terduduk di balik pintu saat mendengar suara deru mobil Leon menjauh. Ternyata ia telah salah memilih suami. Laki-laki macam apa Leon itu?
Bukan seperti ini yang Becca harapkan. Harusnya Leon memilih bertahan saat ia mengusirnya. Harusnya Leon tetap memperhatikannya. Bukan seperti ini!
Leon meninggalkannya sendiri.
Air mata Becca mengalir semakin deras. Hatinya sangat sakit mengetahui kabar suami tercintanya selingkuh dengan sahabat sendiri. Manusia macam apa mereka berdua itu? Apa hati mereka sudah tidak ada?
Becca meninju-ninju lantai sampai tangannya memar. Leon sungguh membuatnya sangat terpuruk.
__ADS_1
Becca buru-buru berhenti menangis saat mengingat satu hal. Ia harus segera membersihkan rumah supaya nanti kalau ibunya pulang tidak curiga akan keadaan rumah yang seperti kapal pecah.
Sejak awal ibunya tidak pernah setuju Becca menikah dengan Leon. Sehingga saat memiliki masalah besar dalam rumah tangganya seperti sekarang ini, sebisa mungkin ia menutupi dari ibunya. Ia tak mau malu di depan ibunya.
Setelah semuanya beres, Becca langsung naik ke lantai dua dan masuk ke dalam kamarnya. Ia kembali melanjutkan menangis di dalam kamar.
Sementara itu di tempat lain, Leon sedang frustrasi dan tidak tahu hendak kemana.
Ia menghentikan mobilnya di pinggir jalan. Kemudian meninju-ninju ke sembarang arah.
Leon ingat betul, tadi ia sama sekali tidak tidur dengan Diana. Mungkin foto yang dikirim Diana adalah foto lama mereka saat di hotel.
Leon tiba-tiba ingat sesuatu, ia lalu melajukan kendaraannya menuju apartemen Calina. Sesampainya di sana, ia mendapati Calina sedang membuat salad.
"Kenapa wajahmu menyedihkan seperti itu?" tanya Calina.
Leon langsung memeluk Calina erat. Saat ini ia sedang butuh seseorang untuk curhat. "Aku ada masalah," gumamnya nyaris tidak jelas karena ia menangis.
"Katakan!"
Leon lalu menceritakan semuanya kepada Calina. Soal Arini yang sudah tahu pernikahan mereka. Juga soal Diana dan kemarahan Becca.
Calina tidak langsung memberikan tanggapan. Dalam hati ia merutuki kelakuan Leon. Memang benar kata Becca. Leon adalah penjahat kelamin. Selalu saja kurang soal kepuasan se*s.
Leon melepaskan pelukannya, ia lalu duduk lesehan di lantai. Ia menunduk dalam-dalam. "Kenapa kau diam saja Calina? Apa kau juga marah seperti Arini dan Becca? Padahal sejak awal kau membebaskanku dalam semua hal," bisik Leon sambil mengusap air matanya.
"Aku tidak marah. Tidak ada gunanya memarahimu. Aku hanya prihatin akan nasibmu. Bagaimana jika nanti kau ditinggalkan semua istrimu lalu tidak ada yang mau lagi denganmu? Dan kau mendapat karma dari Tuhan. Ah... Sudahlah, aku tidak kuat membayangkan itu. Menyeramkan," gumam Calina. Ia lalu kembali melanjutkan membuat salad. Bayi di dalam perutnya sedang menginginkan salad.
"Apa kau punya rencana untuk meninggalkanku?" tanya Leon sambil menatap lekat-lekat ke arah Calina.
__ADS_1
"Aku belum tahu," jawab Calina sambil mengedikkan bahu.
Leon terdiam mendengar kata-kata Calina. Ia pun jadi membayangkan bagaimana jikan nanti semua istri meninggalkannya, lalu ia hidup sendirian karena sedang dikutuk oleh Tuhan.