Jodoh Istikharah

Jodoh Istikharah
Penjara


__ADS_3

Akhirnya Diana dinyatakan bersalah dan ia di jebloskan ke dalam penjara. Sebenarnya tidak terlalu sulit untuk menjebloskan Diana ke dalam penjara, karena perempuan tersebut langsung mengakui perbuatan kejinya itu.


"Memang saya yang menabrak Becca dan ibunya. Seharusnya yang mati itu Becca. Sepertinya saya salah strategi," ucap Diana saat ia di interogasi polisi. Ketika mengakui perbuatannya ia sama sekali tidak merasa bersalah. Malah terkesan bangga. Oleh karena itu, pihak yang berwenang memutuskan untuk melakukan tes kejiwaan kepada Diana. Mereka berfirasat kalau Diana memiliki gangguan mental.


Dan benar saja, dari hasil pemeriksaan kejiwaan, Diana mengalami gangguan jiwa. Setelah di kaji lebih jauh, ternyata ia mengalami gangguan psikologis pada saat masih remaja.


Diana memang anak orang kaya, tapi ayah dan ibunya sering sekali bertengkar di depan Diana remaja. Tidak hanya verbal,


bahkan sampai main fisik.


Ia juga sering mengalami kekerasan dari ibunya. Pasalnya sang ibu kesal dengan suaminya yang sering selingkuh. Dan untuk melampiaskan kemarahannya, ia memukuli Diana hingga Diana luka-luka.


Uang adalah satu alasan terbesar orang tua Diana masih bertahan hingga saat ini. Pasalnya mereka membangun bisnis atas nama mereka berdua. Dan ibu Diana memiliki koneksi yang sangat luas untuk bisnisnya, sedangkan ayah Diana memiliki kemampuan mengelola perusahaan dengan sangat baik. Sehingga jika mereka berpisah, mereka akan picang, dan itu tidak bagus untuk bisnis mereka.


"Bagaimana perasanmu, Diana?" tanya Becca sinis. Ia sedang mengunjungi Diana di antar oleh Retno. Sedangkan Jasmine sedang bersama Arini, dan Leon bersama Calina. Beruntung sekali Becca memiliki baby sitter yang bisa menyetir mobil, sehingga disaat seperti sekarang ini, Retno bisa mengantarkan kemana Becca hendak pergi.


"Aku cukup puas melihatmu lumpuh. Yah... walaupun targetku tidak tercapai, tapi setidaknya kau lumpuh lebih baik daripada mati," jawab Diana sambil tersenyum bangga. "Dengan begitu kau akan merasakan sakit yang teramat sangat sebelum ajal menjemputmu secara perlahan," lanjutnya masih dengan senyum bangga di sudut bibirnya.


Ingin sekali Becca merobek-robek mulut Diana agar perempuan tersebut tidak bisa lagi bicara. "Apa yang membuatmu sebenci ini padaku?" tanya Becca setelah emosinya sedikit mereda. "Apa kau lupa bagaimana kita dulu membangun persahabatan kita?"


Diana menerawang ke atas langit-langit seperti sedang memikirkan sesuatu. "Leon," jawab Diana. "Aku mencintai Leon dan ingin memusnahkan Arini, Calina dan juga kau. Tapi sayang, belum sempat aku membunuh Arini dan Calina, aku sudah di tangkap polisi. Harusnya kalian bertiga mati, supaya aku bisa hidup bahagia dengan Leon-ku," jawab Diana dengan suara yang sangat gamblang. "Soal persahabatan... Aku sudah melupakan itu sejak lama," lanjutnya.


"Psikopat," lirih Becca sambil mengepalkan tangannya. Ingin sekali ia meninju muka Diana sampai babak belur.


"Kau bicara apa? Aku tidak dengar," kata Diana.


Becca tidak berniat mengulangi kata-katanya, karena ia tahu, bicara dengan Diana pasti tidak akan ada habisnya.


"Aku akan pulang. Kau... ," Becca menunjuk Diana menggunakan telunju kanannya. "Selamat menikmati aroma penjara. Membusuklah kau di sini," umpat Becca sambil memutar kursi rodanya.


"Dada... Lumpuh..." Tidak ada rasa bersalah sedikitpun yang hinggap di hati Diana. Dengan cerianya ia melambai kepada Becca.


Becca tidak menjawab apa-apa karena malas ribut dengan Diana. Ia lalu meninggalkan Diana begitu saja.

__ADS_1


Becca tak habis pikir, bagaimana bisa Diana jatuh cinta pada Leon yang sama sekali bukan tipe perempuan itu. Bagaimana bisa Diana sekeji itu?


Dari sini Becca mendapatkan pelajaran baru. Bahwasanya kenal cukup lama bukan berarti kita bisa mengetahui hati dan pikiran seseorang.


"Kita langsung pulang, Bu?" tanya Retno saat mereka sudah berada di dalam mobil.


"Makam Mama ya, Bude?" kata Becca.


"Baik, Bu," jawab Retno. Ia lalu melajukan mobil ke arah makam ibunya Becca.


Meskipun secara fisik belum membaik, tapi secara psikis Becca sudah mulai membaik. Ia sudah jarang melamun dan mulai banyak bicara. Semua itu terjadi setelah Diana mendekam di penjara.


***


"Leon," panggil Arini. Ia berdiri di sebelah Leon sambil menggendong Jasmine.


Leon yang tadinya fokus pada layar laptop, kini menoleh ke arah Arini? "Ada apa, sayang?" tanyanya.


"Bagaimana kalau kita menjenguk Diana," usul Arini.


Leon tidak langsung menjawab, ia menimbang-nimbang sejenak usul Arini. "Baiklah, aku setuju. Kapan kita akan berangkat?" tanya Leon. Biar bagaimanapun, Diana masih istri sah Leon. Rasanya kurang manusiawi kalau Leon langsung lepas tangan begitu saja.


"Bagaimana kalau besok? Kamu bisa?" tanya Arini sambil menepuk-nepuk pelan bokong Jasmine supaya bayi tersebut lekas tertidur.


"Lagi-lagi aku setuju usulmu, istriku," ucap Leon sambil menepuk pelan lengan Arini, setelah itu ia kembali menghadap laptop untuk menyelesaikan pekerjaannya.


Akhir-akhir ini banyak sekali masalah di keluarga Leon, oleh karena itu ia membawa pekerjaannya ke rumah. Karena tidak sempat untuk dikerjakan di kantor.


"Jasmine di bayi pintar, ternyata sudah tidur,ya?" gumam Arini. Ia lalu membawa Jasmine ke kamar untuk di tidurkan.


Sepertinya rutinitas mengasuh bayi adalah kegiatan yang paling menyenangkan bagi Arini. Ya... meskipun itu bukan bayinya sendiri, tapi setidaknya ia bisa merasakan memiliki bayi walaupun itu cuma sekejap. Karena Becca bisa mengambil Jasmine kapan saja.


Cukup lama Arini termenung dan hanya menatap Jasmine yang tengah pulas tertidur. Hingga suara ponsel mengagetkan dirinya. Arini lalu mengambil ponselnya kemudian melihat siapa yang mengirim chat.

__ADS_1


Becca


Aku titip Jasmine dulu ya, Mbak.


Nanti sore aku ambil.


Aku sedang ada urusan.


Arini


Nanti biar Mbak yang ke rumah kamu saja, Bec.


Becca


Oke, Mbak.


Terimakasih.


Arini kembali meletakkan ponselnya di atas nakas.


"Sayang."


Tiba-tiba saja Leon sudah berdiri di belakang Arini. Entah kapan laki-laki itu masuk ke kamar, tau-tau sudah berada di belakang Arini saja.


"Kamu ngagetin, Leon!" Arini mengelus dadanya karena kaget. "Ada apa?" tanyanya.


"Aku mau pesan rice bowl, kamu mau lauk apa?" tanya Leon. Ia tahu Arini sedang sibuk mengurus Jasmine sehingga tidak sempat masak. Dan itu bukan masalah menurut Leon. Toh mereka bisa pesan makanan di luar, bukan?


"Daging kecap, ya?" ujar Arini dan di-iyakan oleh Leon.


Setelah itu Leon mulai mengetik di ponselnya dan memesan makanan untuk dirinya dan Arini.


Sebenarnya Arini tidak tahu kalau Leon akan datang ke apartemennya, oleh karena itu ia tidak masak. Karena hari ini jatah Leon bersama Calina. Tapi Calina mendadak pulang kampung karena ada urusan keluarga, sehingga Leon akhirnya mengunjungi apartemen Arini.

__ADS_1


__ADS_2