Jodoh Istikharah

Jodoh Istikharah
JI 2 - Piknik


__ADS_3

Leon dan Arini lalu menggelar karpet plastik yang mereka bawa. Tak lupa cemilan yang tadi mereka beli juga di hadapankan sebagai suguhan.


Arini mengunyah ciki rasa jagung bakar. Sementara Leon, sibuk mengunyah wafer rasa strawberry.


Keduanya duduk di atas karpet plastik sambil menatap lurus ke arah rumah penduduk yang cukup jauh.


"Malam ini menyenangkan," ujar Arini di sela-sela kunyahannya.


"Siap tidur di sini malam ini?" tanya Leon.


"Di sini?" tanya Arini tak percaya. "Bukan di dalam mobil?" protesnya.


Leon tersenyum misterius. "Iya, Sayang. Di sini. Kamu tidur, biar aku yang jagain kamu. Bagaimana? Deal?"


"Ya, deal. Asalkan ada jaminan aku aman, kan?"


"Tentu, Sayangku," jawab Leon yakin.


Keduanya diam beberapa saat. Menikmati suara jangkrik dan binatang malam lainnya. Beberapa kunang-kunang terbang tak jauh dari mereka berdua.


"Aku pingin deh jadi kunang-kunang," gumam Arini. Saking kecil gumamnya, nyaris seperti bicara sendiri. Tapi telinga Leon dapat mendengar itu dengan baik.


"Kenapa kamu mau jadi kunang-kunang?" tanya Leon. Ia menggigit wafer sambil menatap ke arah Arini yang ada di sebelahnya.


"Kunang-kunang itu cantik. Cahayanya indah. Bagus."


"Kamu lebih cantik. Lebih indah dan lebih bagus," puji Leon sungguh-sungguh.


Arini mendengus pelan. Leon ini, pandai sekali menggombali dirinya.


"Aku tidak mau kamu jadi kunang-kunang. Aku maunya kamu jadi Arini saja. Kalau kamu jadi kunang-kunang, kita tidak akan berjodoh. Masa aku menikah sama hewan? Kan lucu," kekeh Leon sambil membuka botol susu kedelainya.


"Ya kamu jadi kunang-kunang juga, dong! Supaya kita bisa berjodoh," ujar Arini sambil mengerling ke arah Leon. Tapi karena pencahayaan yang minim, kerlingan mata Arini tidak dapat di lihat oleh Leon.


"Tidak mau, ah. Kunang-kunang itu sering di sangka kukunya setan. Masa aku ganteng begini dikata setan." Leon bergidik ngeri.


Arini langsung meninju lengan Leon yang sembarang bicara. Di hutan begini kok bicara setan. Apalagi ini malam. Bagaimana kalau setan yang sesungguhnya mendengar lalu mereka muncul? Hiii... Serem!


"Jangan ngomong sembarangan!" protes Arini. "Ini bukan rumah kita, jaga ucapan, Sayang." Arini mengelus pipi Leon dengan gemas.


"Kamu takut, ya?"


"Ssttt... Jangan di bahas lagi."


"Takut kehilangan aku maksudnya. Iya, kan?"


Arini mendengus pelan. Leon memang sering menyebalkan. Untung sayang, kalau tidak, sudah Arini jadikan sate, Si Leon itu.

__ADS_1


Eh, itu kan kata-kata Mama Mutiara.


Sepertinya dalam hal ini Arini dan Mutiara satu frekuensi.


"Sayang...," panggil Leon saat mereka sudah diam beberapa detik.


"Ada apa, Sayang?" jawab Arini sambil membuka bungkus ciki keduanya.


"Lihat bintang itu! Yang paling terang." Leon menunjuk sebuah bintang yang sinarnya paling terang.


Arini melihat ke arah pandang Leon. "Sudah aku lihat. Kenapa?" tanyanya polos.


"Tidak apa-apa. Lihat saja. Bagus, kan?"


"Iya. Tapi alangkah lebih bagus lagi kalau kita bisa ke sini bareng anak-anak," lirih Arini. Memang perasaan sang ibu untuk anak-anaknya begitu dalam. Baru berpisah beberapa jam saja sudah melow.


"Nanti kalau anak-anak sudah besar, kita ajak ke sini."


"Semoga nanti kalau anak-anak sudah besar tempat ini masih ada dan masih layak untuk di kunjungi."


"Ya, semoga saja," sahut Leon.


Arini lalu menikmati ciki rasa sapi panggang. Sementara itu, Leon tidak makan lagi karena malas mengunyah. Sebenarnya Leon masih ingin minum susu kedelai lagi, tapi takut beser.


Kan gawat kalau kebanyakan minum lantas dirinya ingin buang air kecil. Di tempat ini tidak ada toilet. Mau buang air kecil di sembarang tempat, Leon tidak berani. Takut kesambet hantu.


Leon yang panik langsung menghadap Arini. "Ada apa? Ada apa, Sayang?" tanyanya cemas.


"Maaf, aku mengagetkan kamu." Arini menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Aku makan terlalu banyak. Tidak ada sikat gigi di sini. Bagaimana kalau gigiku bolong?"


Leon menghembuskan nafasnya kasar. Arini menyebalkan. Dia kita ada bahaya. Ternyata perkara sikat gigi.


"Kumur-kumur saja pakai air mineral. Satu malam tidak sikat gigi rasanya tidak apa-apa."


Arini mencembikkan bibirnya kesal. Bukan kesal pada Leon, tapi kesal pada dirinya sendiri.


Bagaimana mungkin ia bisa lupa membawa sikat gigi? Huh! Alamat gigi rusak kalau seperti ini ceritanya.


Tapi kepalang tanggung, ia lalu menikmati cokelat sekalian.


"Katanya takut gigi kamu rusak?" tegur Leon.


"Sudah terlanjur," jawab Arini sambil mengunyah cokelat ratu perak. "Kamu mau?" tawar Arini.


Leon menggeleng pelan. "Aku malas ngunyah," sahutnya.


Arini pun kembali melanjutkan kunyahannya.

__ADS_1


Tak terasa waktu terus berlalu. Sekarang sudah pukul dua malam. Bekal Arini sudah habis. Bahkan wafer Leon pun dimakan juga oleh Arini.


Sekarang perempuan berhijab tersebut sudah mengantuk berat. Sebenarnya ia ingin begadang sampai subuh. Akan tetapi kantuk menyerangnya dengan hebat.


"Leon...," panggilnya pelan.


"Apa, Sayang?" tanya Leon sambil menatap istri tercintanya itu.


"Aku ngantuk berat," ujar Arini.


"Tunggu sebentar, ya?!"


Leon lalu berjalan ke mobil. Dan tak lama dirinya kembali lagi dengan sebuah batal love yang ada di dalam mobil.


"Tidur sini!" ujar Leon sambil menepuk-nepuk bantal yang baru saja ia ambil.


Tanpa menunggu di suruh dua kali, Arini lalu tidur.


Leon tidak tidur, laki-laki tersebut tidak ngantuk sama sekali. Dia menjaga Arini dari hewan-hewan nakal. Baik nyamuk atau apapun itu.


Leon duduk bersila sedangkan Arini tidur di depannya. Berhubung karpet tersebut sangat kecil, jadi di antara mereka sangat berdempetan sekali.


"Tidurlah yang nyenyak, Sayang. Mimpi indah." Leon mencium pipi kiri Arini yang berada di atas. Karena posisi tidur Arini adalah miring ke kanan.


Waktu terus berlalu. Arini tidur pulas sekali. Hingga saat sudah pukul empat pagi, Arini terbangun karena hendak buang air kecil.


"Leon, mau BAK," ujarnya dengan suara serak khas bangun tidur.


"Kita langsung pulang saja, ya? Kita cari toilet terdekat. Aku tidak akan memberi izin kamu BAK di sini. Bahaya."


Arini yang masih setengah sadar hanya mengangguk saja.


Keduanya lalu pulang ke rumah. Tapi sebelum itu, mereka mampir dulu di SPBU. Mereka mencari toilet untuk buang air kecil.


"Temani," rengek Arini. Karena pencahayaan yang minim, toilet di SPBU tersebut cukup seram.


Dengan telaten, Leon menemani Arini sampai ke depan pintu persis.


Arini tak berlama-lama di dalam sana. Setelah selesai, mereka langsung kembali melakukan perjalanan pulang ke rumah.


"Tidurku nyenyak sekali. Padahal tidak pakai kasur." Arini membuka topik pembicaraan saat mereka sudah kembali melaju di dalam mobil.


"Syukurlah. Aku senang kalau kamu bisa tidur nyenyak," sahut Leon sambil tersenyum manis.


"Terimakasih sudah menjaga tidur malamku, Leon."


"Terimakasih juga sudah mau kujaga, Rini" sahut Leon dan ditanggapi tawa kecil oleh Arini.

__ADS_1


__ADS_2