
Beberapa hari terakhir ini Leon sangat sibuk sekali. Dia sedang berjuang untuk mengembalikan keuangan perusahaannya. Ia tak mau menyerah begitu saja. Bagaimanapun untuk sampai di titik ini tidak mudah. Jadi ia tak akan membiarkan orang merampoknya.
Untuk gaji karyawan, Leon membayarnya dari berhutang. Ya, dirinya kembali berhubungan di bank.
Leon yang merasa semakin frustasi, akhirnya memutuskan untuk curhat kepada orang tuanya. Toh ayah Leon juga memiliki saham di perusahaan ini. Jadi wajar beliau tahu.
Begitu mengetahui kondisi anaknya sedang tidak baik-baik saja, Mutiara langsung pulang ke Indonesia dan membantu anaknya mencari pengacara ternama. Jadi sekarang totalnya Leon memiliki dua orang pengacara.
Mutiara pulang sendiri. Suaminya yang bekerja sebagai duta besar, sedang ada pekerjaan. Sehingga tidak dapat ikut pulang ke Indonesia.
"Arini sudah tahu?" Mutiara duduk di depan meja kerja Leon sambil memandang anaknya lekat-lekat. Leon adalah anak semata wayangnya. Biarpun sikap Leon terkadang sering menyebalkan, tapi sebagai ibu, Mutiara sangat menyayangi anaknya ini.
Leon mengembangkan nafasnya frustasi. Dia menggeleng lemah. "Belum, Ma. Aku tidak tega memberitahu Arini. Dia pasti akan sangat khawatir."
"Jadi sekarang kamu punya hutang dua? Untuk beli rumah dan bayar gaji karyawan?" Mutiara bertanya. Dirinya memang sudah mengetahui fakta itu dari Leon, akan tetapi untuk kejelasannya, ia bertanya sekali lagi.
Leon mengangguk lemas. "Iya, Ma," jawabnya pelan. Dia sekarang bingung bukan main. Dengan apa dirinya nanti harus membayar?
"Biar Mama bantu. Mama masih punya tabungan." Mutiara berujar. Sebagai seorang ibu, mana tega ia melihat anaknya kesusahan. Selama dia mampu, pasti dia akan membantunya.
"Jangan, Ma. Uang Mama di pakai untuk biaya pensiun saja. Leon masih sanggup bayar, kok." Leon menolak secara halus. Dirinya tidak ingin merepotkan sang ibu.
"Kamu yakin?"
"Yakin, Ma." Leon menjawab sangat yakin. Dirinya tidak boleh terlihat ragu di depan ibunya.
"Ya sudah. Kalau ada apa-apa lagi, kabari Mama dan Papa," kata Mutiara. "Mama pesankan makanan, ya? Ini sudah siang, sudah waktunya makan siang." Tanpa menunggu jawaban dari sang anak, Mutiara langsung memesan makanan melalui aplikasinya daring.
"Kamu mau makan apa?" Mutiara bertanya sambil melihat-lihat menu.
__ADS_1
"Terserah Mama. Leon sama dengan Mama saja," jawab Leon sambil mengetik di keyboard komputer. Dirinya sedang membalas email permohonan kerjasama dari calon client.
Pilihan Mutiara jatuh pada Sate Maranggi. Sudah lama dirinya tidak makan itu. Dulunya Sate Maranggi adalah makanan favorit-nya. Tapi semenjak tinggal di luar negeri, dia jadi jarang mengkonsumsi itu. Karena di sana tidak ada yang menjual Sate Maranggi. Kalau untuk masak sendiri, Mutiara tidak sepandai itu. Dia pernah mencoba dan hasilnya tidak seenak yang dia beli.
Tak lama makanan yang mereka pesan datang. Keduanya lalu makan siang bersama. Mutiara baru saja sampai di Indonesia. Bahkan dia belum singgah ke rumahnya. Begitu sampai bandara, dia langsung menuju kantor Leon.
"Mama capek, kan? Leon antar pulang, ya?" Leon menawarkan diri setelah mereka selesai makan. "Mama istirahat di rumah saja," lanjutnya.
"Eh, ngomong-ngomong kenapa kamu malah beli rumah baru. Harusnya kamu tinggal di rumah lama kita saja. Sayang daripada kosong, malah nanti di huni setan." Mutiara mengalihkan pembicaraan saat teringat sesuatu. Harusnya Leon tidak perlu membeli rumah baru, toh rumah mereka cukup luas. Malah sedikit lebih luas dari rumah baru Leon.
"Leon cuma pingin mandiri, Ma. Pingin punya rumah sendiri," jawab Leon sambil memajukan kursinya supaya lebih nyaman.
Mutiara menghembuskan nafasnya berat. Ia prihatin akan nasib anaknya. Perusahaan ini di dirikan oleh tiga orang. Leon, Malvin dan Reza. Reza adalah sahabat Malvin. Mutiara tak menyangka kalau sahabat suaminya itu bermain curang.
"Mama pulang, ya? Mama pasti capek," kata Leon lagi.
Leon pun juga bergegas bangun dari duduk. Dia mengangkat koper ibunya sambil berjalan lebih dulu.
"Tapi Arini tidak ada di rumah, Ma. Dia lagi kerja," kata Leon saat mereka sudah di dalam mobil.
"Tidak apa-apa. Nanti kalau dia pulang biar jadi kejutan," sahut Mutiara sambil memasang sabuk pengaman.
Mutiara memang belum pernah menginap di rumah baru Arini dan Leon. Akan tetapi dirinya sudah beberapa kali bertandang ke rumah anaknya itu.
Setelah berkendara lebih kurang tiga puluh menit, mereka sampai di tempat tujuan.
"Papa pulang..." Jasmine berlari kecil menghampiri Leon sambil membawa sebuah apel.
"Salam dulu sama Oma!" Leon menyuruh Jasmine menyalaminya Mutiara. Meskipun Leon tahu ibunya tidak suka dengan Jasmine, tapi Jasmine harus tetap hormat pada neneknya.
__ADS_1
Dengan takut-takut Jasmine menghampiri Mutiara dan menyalaminya. Meskipun Mutiara tidak suka dengan Jasmine, tapi dia tidak memperlihatkannya secara frontal.
"Wulan, tolong bersihkan kamar kosong di atas, ya! Oma Tiara mau tinggal di sini." perintah Leon.
"Baik, Pak." Wulan langsung mengambil koper Mutiara dan membawanya ke kamar yang ada di lantai atas.
Rumah ini di lengkapi dengan lima kamar. Dua kamar diantaranya kosong. Satu di lantai atas, sedangkan satu lagi di lantai bawah.
Kamar di lantai bawah khusus untuk tamu-tamu jauh. Sedangkan untuk tamu dekat seperti orang tua kandung tinggalnya di kamar lantai atas.
"Yusuf, mana?" tanya Mutiara saat tak melihat cucu kesayangannya.
"Di kamar, Oma. Lagi di bacakan dongeng sama Bude Ani. Mau tidur siang." Jasmine yang menjawab. Jasmine yang takut dengan Mutiara, memeluk kaki Leon erat. Bagi Jasmine, aura Mutiara sama menyeramkannya dengan Sinta.
"Jasmine tidak tidur siang?" Leon menggendong Jasmine dan mencium pipi anaknya itu.
Jasmin menggeleng. "Tidak ngantuk, Pa," jawab Jasmine.
"Mama mau ke toilet dulu. Mau BAB," kata Mutiara. Dirinya langsung bergegas ke toilet yang ada di dekat dapur.
"Jasmine tadi belajar apa?" Leon bertanya saat Mutiara sudah berlalu.
"Belajar alfabet," jawab Jasmine. "Jasmine sudah bisa membaca alfabet, loh, Pa." Jasmine memamerkan kebisaannya. Jasmine ini cerdas. Baru di ajarkan sekali, dia langsung bisa.
"Anak pintar," puji Leon. Ia mendudukkan Jasmine di sofa panjang. "Nanti Oma Tiara akan tinggal di sini. Jasmine jangan nakal, ya?"
Jasmine mengangguk. "Jasmine tidak pernah nakal, kok."
Leon mengusap puncak kepala Jasmine dengan sayang. Enam bulan lagi Jasmine genap berusia lima tahun. Sepertinya Jasmine sudah bisa masuk SD tahun depan. Tapi itupun kalau diperbolehkan pihak sekolah. Pasalnya siswa SD jaman sekarang tidak boleh terlalu muda. Begitulah peraturan yang ada.
__ADS_1