
Setelah dibujuk Arini, akhirnya Calina bersedia untuk bertemu dengan Leon. Dan sekarang disinilah mereka, apartemen Calina.
"Sebelumnya aku mau minta maaf," ucap Calina pelan. "Beberapa hari terakhir ini aku sering kabur-kaburan dari kamu," lanjutnya. Ia merasa tidak enak sendiri dan menyadari kekeliruannya. Bagaimanapun sambil detik ini statusnya masih istri sah Leon.
Leon masih diam, ia menunggu Calina menyelesaikan kata-katanya.
"Hubungan ini kalau tetap kita pertahankan nantinya hanya akan membuat kita terluka." Calina kembali bicara karena Leon masih saja diam. "Kita tidak dapat melanjutkan hubungan ini lagi, Leon." Calina bicara sangat lirih sekali, namun masih dapat didengar dengan jelas oleh Leon.
"Mungkin lebih tepatnya, kamu yang terluka, bukan aku. Aku sih baik-baik saja dengan keadaan ini. Aku sudah bisa menerima kenyataan kalau Juna bukan darah dagingku, tapi aku tetap menganggapnya sebagai anakku. Aku tidak ada masalah dengan itu." Leon bicara sambil menatap kosong ke arah depan. Ia duduk di sofa tunggal, sementara Calina duduk di sebelahnya, di sofa panjang.
"Ya, mungkin kamu benar. Aku yang terluka. Bukan kamu," sahut Calina sinis. Bisa-bisanya Leon bersikap sok tegar seperti ini. Ini bukan Leon yang selama ini Calina kenal. Sebenarnya sedang memakai topeng apa Leon ini?
"Jadi, kamu masih tetap berniat untuk berpisah?" tanya Leon. Ia ingin memastikan apa saat ini Calina sedang bercanda atau serius. "Tidak mau mempertahankan hubungan ini lagi?" Leon menatap Calina yang kebetulan sedang menatap tajam ke arah Leon.
"Ya. Tentu saja. Demi kebaikan kita bersama," sahut Calina yakin. "Sekarang juga, ceraikan aku!" pinta Calina. Suaranya terdengar lantang dan yakin. Ia memang sudah bulat dengan keputusannya itu.
"Aku tidak bisa," balas Leon. Bagi Leon, ia akan mempertahankan rumah tangganya ini dengan cara apapun. Semoga saja Calina bisa berubah pikiran jika Leon sedikit melunak.
"Baiklah, kalau kamu tidak mau menceraikan aku, tunggu saja surat cinta dari pengadilan." Calina masih tetap mengotot ingin cerai. Ia memang sudah tidak ingin lagi terus hidup dengan Leon dalam kepura-puraan. Ia benar-benar tidak mencintai Leon.
Awalnya Calina dan Leon memang menikah siri, tapi beberapa bulan kemudian keduanya menikah secara sah di mata negara. Sebagai warga negara yang baik, mereka ingin pernikahan mereka dicatat oleh negara, supaya data negara menjadi valid. Kan tidak lucu kalau identitas Calina di KTP masih single tapi pada kenyataannya ia adalah istri seseorang.
Leon menjadi bimbang. Sepertinya hubungan ia dan Calina memang sudah tidak dapat diselamatkan. Calina sudah dewasa. Leon yakin, keputusan yang dibuat oleh Calina adalah keputusan yang telah dipertimbangkan secara baik-baik. Bukan keputusan dadakan yang dibuat karena emosi sesaat. Oleh karena itu, ia akan mengabulkan keinginan Calina itu. Supaya semuanya segera selesai dan mereka dapat hidup dengan tenang dan bahagia.
Sepertinya Calina memang benar-benar tidak mencintai Leon. Kalau itu terus dipaksakan, takutnya akan membuat Calina menjadi tertekan dan depresi.
__ADS_1
"Caca Calina binti Bagus Harimukti, aku ceraikan kau dengan talak satu." Leon bicara dengan suara sedikit bergetar karena suasana hatinya sedang tidak baik. Di satu sisi ia sedih, di sisi lainnya lagi lega. Sedih karena pernikahannya dengan Calina telah selesai. Juga lega, karena pada akhirnya ia telah membuat Calina bebas. Bebas untuk hidup dengan laki-laki yang memang ia cintai.
Calina langsung terdiam membisu. Ini yang ia inginkan. Tapi begitu mendapatkannya ia malah bingung tidak tahu harus berkata apa.
"Sekarang kita bukan lagi suami istri, aku akan membantu menyiapkan berkas ke pengadaan. Aku pulang dulu." Leon langsung bergegas keluar dari apartemen Calina.
Sepeninggal Leon, Calina menampar-nampar pipinya tak percaya. Ternyata semudah itu Leon melakukan sesuatu hal.
Dulu saat menikahi Calina, Leon juga tidak mengambil keputusan yang lama. Dan sekarang saat menceraikan Calina, Leon juga tidak mengambil keputusan dalam waktu lama. Memang ajaib mantan suaminya itu.
***
"Aku sudah menceraikan Calina," kata Leon melalui sambungan telepon. Ia sedang berbicara dengan Arini. Dirinya sendiri masih berada di kantor dan tak sabar untuk memberitahu Arini apa yang sudah terjadi dua jam yang lalu.
"Apa? Kamu bercanda, kan?" Arini tidak percaya sama sekali. Mengapa Leon bisa melakukan tindakan gegabah seperti itu?
"Baiklah."
"Hari ini aku pulang cepat. Jam empat," kata Leon sambil menatap layar komputernya yang menampilkan gambar awan.
"Iya."
Telepon pun terputus. Leon duduk sambil menyandarkan punggungnya di sandaran kursi. Mulai hari ini, ia hanya memiliki satu istri saja. Arini.
Dan mulai hari ini juga, ia berjanji tidak akan lagi melakukan hal sembrono seperti sebelum-sebelumnya. Ia tidak ingin lagi menambah istri. Satu istri saja sudah lebih dari cukup.
__ADS_1
Leon pun menyelesaikan pekerjaan hari ini dengan penuh semangat. Supaya pekerjaannya cepat selesai dan ia bisa pulang dengan tenang tanpa terbebani dengan pekerjaan.
***
"Aku sudah bercerai dengan Leon," kata Calina. Hari ini ia ada jadwal manggung di suatu event.
"Bercanda!" sahut Via tak percaya. "Memangnya kapan ketuk palunya?"
"Memang belum ketuk palu. Tapi sudah cerai secara agama," beritahu Calina dengan enteng.
Sontak saja Via langsung menghentikan langkahnya. Ia menyuruh Calina untuk berhenti juga. "Ini serius?" tanya Via tak percaya. "Terus apa rencana kamu ke depan? Menikah dengan si brengsek itu?"
Calina tersenyum sinis. "Menikah dengan si brengsek? Itu tidak akan pernah terjadi!"
"Segitu bencinya dengan si brengsek," ucap Via sambil tertawa.
Keduanya lalu berjalan lagi menuju tempat acara. Sekarang ini mereka sudah di parkiran. Acaranya berada di sebuah hotel mewah bintang lima.
"Apa rencana kamu ke depan?" tanya Via sambil berjalan. Beberapa pasangan mata melihat ke arah mereka. Walaupun Calina menggunakan masker, tapi tetap saja ciri khas bentuk tubuh dan rambutnya dapat dengan mudah dikenali orang. Tapi beruntung mereka hanya melihat saja, tidak sampai mengganggu. Mengganggu dalam artian seperti fans fanatik yang tiba-tiba memeluk atau sebagainya.
"Jalan ke depan menyongsong masa depan," jawab Calina sambil memencet tombol lift.
Kebetulan sekali di dalam lift tersebut hanya ada mereka berdua. Sehingga mereka bisa kembali melanjutkan pembicaraan tanpa takut didengar oleh orang lain.
"Bagaimana rasanya jadi janda?"
__ADS_1
"Entahlah. Menyenangkan dan juga menyedihkannya. Status janda sering dipandang sebelah mata, bukan?" Calina tersenyum masam.