
"Capek?" tanya Arini sambil tertawa kecil karena lucu melihat ekspresi Leon.
Leon menggeleng. Ia tengah mengatur nafasnya. "Kamu lumayan juga," ucap Leon saat nafasnya sudah sedikit normal. Dia tak menyangka kalau ternyata Arini berat juga, pasalnya sudah sangat lama sekali dia tidak menggendong istrinya itu. Terkahir kali saat dirinya belum melakukan poligami.
"Lain kali jangan sok ngide, deh!" ucap Arini sambil merebahkan dirinya di samping sang anak. "Ayo, tidur!" ajaknya.
"Aku mau ke toilet, dulu." Leon lalu menuju kamar mandi yang ada di dalam kamar. Setelah melepaskan hajatnya buang air kecil, Leon kembali ke kamar untuk tidur.
Dirinya dan Arini tidur di sisi kanan dan kiri. Sedangkan anak-anak mereka tidur di tengah.
Jasmine dan Yusuf masih terlalu kecil untuk tidur di kamar sendiri. Takutnya jika kedua bocah itu terbangun tengah malam dan membutuhkan sesuatu, tidak ada yang membantu mereka.
Pagi-pagi sekali Arini sudah bangun. Ketika ia menuju dapur, Wulan dan Ani sudah ada di sana. Keduanya tengah menyiapkan sarapan.
Sekarang job des mereka telah berubah dengan sendirinya. Mereka berdua melakukan pekerjaan rumah dan menjaga anak-anak secara bersama-sama.
Sebenarnya bukan Arini yang merubah itu, namun mereka berdua sendiri yang mau. Alasan mereka karena Jasmine dan Yusuf sudah besar, jadi sudah gampang di asuh.
Arini tidak masalah dengan itu, selama mereka berdua bisa nyaman dan melakukan pekerjaan dengan baik, itu tidak masalah sama sekali.
"Masak apa?" tanya Arini pada keduanya.
Dua orang beda generasi itu kompak menjawab, "Nasi uduk, Bu."
Arini manggut-manggut saja. Mereka memang sudah mengisi kulkas dengan makanan dan sayuran. Jadi pagi ini mereka sudah bisa masak.
"Pakai telur balado, juga, ya! Saya lagi pingin makan telur balado. Soalnya sudah lama tidak makan itu," ucap Arini sambil menuju wastafel untuk mencuci tangan. Karena dirinya ingin membantu Ani dan Wulan di dapur.
"Baik, Bu." Lagi-lagi keduanya menjawab kompak.
"Sayang, Yusuf nangis. Dia cari kamu, tidak mau sama aku," ujar Leon yang tiba-tiba saja sudah berdiri di belakang Arini. Laki-laki itu menguap beberapa kali karena masih mengantuk berat.
Arini mengurungkan niatnya untuk membantu masak.
__ADS_1
Mendengar informasi anaknya menangis, Arini langsung menaiki anak tangga untuk menuju kamarnya. Di susul dengan Leon di belakangnya.
Begitu sampai di kamarnya, Arini langsung menggendong Yusuf ke dalam pelukannya. "Cup cup cup... Yusuf, Sayang. Ada apa, Nak?" tanya Arini dengan lembut.
Ajaib, setelah di peluk Arini, Bocah laki-laki tersebut langsung diam seketika. Melihat itu Leon hanya bisa geleng-geleng kepala sambil kembali merebahkan dirinya di sebelah Jasmine.
"Yusuf mau apa, Nak? Mau ke toilet?" tanya Arini pada Yusuf yang masih dalam dekapannya.
Yusuf menggeleng.
Yusuf memang sering menangis tidak jelas begini kalau bangun pagi tidak menemukan ibunya. Kalau Arini sedang tugas, Leon selalu kalang kabut menghadapi Yusuf. Dan biasanya setelah melakukan video call dengan sang ibu, Yusuf baru mau berhenti menangis.
Sementara itu, Jasmine yang tidak merasa terganggu sama sekali masih pulas tidur sambil di peluk Leon.
Laki-laki itu kembali tidur sambil memeluk anak perempuannya.
"Au seleal, Ma," kata Yusuf ketika tangisannya sudah reda.
"Yusuf mau sereal?" tanya Arini. "Tlapi cuci muka dan gosok gigi dulu, ya?" ucapnya sambil memandang Yusuf sambil tersenyum lebar.
Kemudian Arini membopong bocah laki-laki tersebut ke dalam kamar mandi.
***
Waktu terus berlalu. Berkas yang di laporkan Leon dan ayahnya telah di proses oleh pihak yang berwajib. Ya. Malvin tidak bisa tinggal diam melihat rekan bisnis mereka korupsi.
Memang, sih, Malvin tidak memiliki banyak saham di perusahaan Leon. Hanya sepuluh persen saja. Namun ia tidak akan pernah tinggal diam melihat hal itu. Apalagi Leon adalah anak satu-satunya. Tentu Malvin akan berjuang membantu anaknya itu.
Sidang pertama telah di lakukan tadi siang. Di persidangan tadi, Reza mengatakan kalau dia sudah tidak memiliki uang lagi.
Yang Leon dan Malvin tahu, Reza bukan orang yang tergolong susah. Lalu kemana perginya uang Reza yang banyak itu?
Reza sendiri memiliki saham sebanyak empat puluh persen di perusahaan itu. Sisanya adalah milik Leon sendiri.
__ADS_1
"Kalau Reza tidak mau membayar, kita hanya bisa memenjarakan dia," kata Malvin yang duduk di depan Leon.
Saat ini, Malvin, Mutiara dan Leon tengah berada di sebuah coffe shop. Arini tidak turut serta karena perempuan itu sedang bekerja.
"Ya, mau bagaimana lagi, Pa. Sebenarnya Leon mau uang perusahaan kembali. Bukan mau memenjarakan Reza, maksudnya Om Reza." Leon meralat ucapannya.
Semenjak kejadian itu, Leon jadi sering mengumpat-ngumpat Reza dengan nama saja. Tidak pakai embel-embel "om". Karena kebiasaan, akhirnya sekarang jadinya dia kelepasan mengatakan itu di depan orang tuanya.
Untung saja Malvin dan Mutiara tidak terganggu dengan hal itu. Kedua orang tua tersebut tampak tak mengambil pusing.
"Papa dan Mama tidak bisa berlama-lama di sini, Leon. Papa banyak kerjaan," ucap Malvin sambil mengambil gelas yang berisi kopi pahit di hadapan. Ia lalu menyeruput kopi tersebut dengan nikmat.
Leon mengangguk. Dia tahu orang tuanya memiliki pekerjaan. Oleh karena itu, dia tidak memaksa keduanya untuk selalu di dekat dirinya. Toh dirinya juga sudah dewasa.
Dulunya Malvin dan Mutiara menikah muda di usia delapan belas tahun. Oleh karena itu, saat sekarang Leon sudah dewasa, mereka berdua belum terlalu tua.
Mereka berdua menikah muda bukan karena kecelakaan atau apapun itu. Tapi karena mereka memang sudah mampu secara lahir dan batin.
Saat itu Malvin dan Mutiara sudah bekerja di perusahaan swasta terkenal sambil berkuliah. Jadi mereka memang mampu baik itu secara mental dan finansial.
"Lusa kami akan pulang," ujar Mutiara.
"Iya, Ma," jawab Leon santai.
"Kamu beruntung loh punya istri seperti Arini. Dia pekerja keras, pengertian dan sabar," kata Mutiara sambil menatap Leon lurus.
Leon mengangguk dan membenarkan kata-kata ibunya. "Iya, Ma. Kalau bukan Arini, pasti Leon sudah di tinggalkan."
"Makanya, jangan lagi poligami. Kalau sampai Mama dengar kabar kalau kamu poligami lagi, Mama akan jampi-jampi supaya Arini pergi dari sisi kamu." kata Mutiara dengan tegas.
"Iya, Ma. Leon janji tidak akan mengulangi kesalahan yang sama dua kali," lirihnya sambil menunduk.
Sementara itu, Malvin hanya diam saja melihat anak dan istrinya itu. Ia asyik sendiri dengan kopinya.
__ADS_1
Malvin memang sangat menyukai kopi. Apapun itu jenis kopinya. Pasti dia suka asalkan tidak manis. Karena dia tidak suka manis.