
"Dari mana, Vid?" tanya Arini saat David baru saja masuk ke dalam ruang kerja Leon.
"Dari jalan-jalan, Mbak," jawab David sambil mengambil duduk di sebelah Yusuf.
"Ketemu siapa saja tadi? Gadis cantik?" tanya Arini sambil membantu Yusuf mewarnai buku gambarnya.
"Hehe.... Tidak, Mbak," jawab David sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Leon duduk di meja kerjanya sambil mengetik sesuatu di komputer. Ia sedang membalas e-mail dari manajer cafe yang mengirimkan laporan keuangan bulanan.
David duduk melamun sambil kembali mengingat kejadian saat bertemu dengan Devi tadi. Kasihan sekali nasib Devi. Pasti beban yang ditanggung perempuan itu sangatlah berat.
Melahirkan seorang anak tanpa adanya suami bukanlah perkara mudah. Apalagi nanti jika anaknya sudah besar dan bertanya dimana ayahnya. Selain itu, yang tak kalah menyeramkannya adalah nyinyiran tetangga. Jika seseorang tak cukup kuat mental, pasti bisa bunuh diri karena mendengar nyinyiran tetangga yang luar biasa pedasnya.
***
"Wulan...," panggil Ani saat melihat Wulan fokus menatap layar ponselnya.
"Iya, Bude. Ada apa?" jawab Wulan sambil mengangkat kepalanya dan menatap Ani.
"Kalau Bude lihat-lihat, kamu dan David itu cocok, loh. Kalian masih muda, sama-sama punya semangat hidup yang tinggi," ujar Ani sambil menepuk pelan paha Wulan.
Wulan menghela nafasnya pelan. Ani ini kalau sudah bicara sering aneh-aneh. Bagaimana jika pembicaraan ini didengar oleh David? Pasalnya sekarang ini mereka berdua sedang duduk-duduk di atas meja minibar sambil menikmati puding semangka. Lebih tepatnya, hanya Wulan yang menikmati puding, karena Ani masih kenyang.
"Kalau Bude lihat, David itu suka loh sama kamu."
Wulan memejamkan matanya, ia lalu memijit pelipisnya yang tiba-tiba saja berdenyut.
"Bude yakin seratus persen, David itu suka sama kamu, la wong Bude sering lihat dia curi-curi pandang ke kamu, kok," ujar Ani dengan suara yang agak tinggi.
__ADS_1
"Bude, sudah, ya?! Wulan sudah punya tunangan di kampung," ujar Wulan bohong. Kalau tidak bohong seperti ini, pasti Ani akan terus membahas perihal David.
"Kamu sudah punya tunangan di kampung?" tanya Ani tak percaya.
Wulan mengangguk pelan. Sebenarnya dalam hati Wulan takut dosa karena membohongi orang tua, tapi apalah daya Wulan, ia harus bisa menyelamatkan dirinya sendiri dari Ani yang hobi berbicara asal.
"Selama janur kuning belum melengkung, David masih bisa berjuang," ujar Ani tak mau kalah.
Tiba-tiba saja David muncul dan duduk disebelah Wulan. "Benar kata Bude Ani, selama janur kuning belum melengkung, aku masih ada harapan, kan?" David mengerlingkan matanya menatap Wulan.
Wulan memasang wajah datar. Walaupun ia kaget dengan kemunculan David yang tiba-tiba, tapi ia mencoba untuk bersikap biasa saja.
"Sejak kapan kamu dan Bude Ani satu kubu?" tanya Wulan sambil meletakkan ponselnya di atas meja minibar. Ia menyendok puding miliknya dan menyantapnya.
"Aku memang suka sama kamu, tak perduli kamu sudah punya tunangan atau belum," ujar David sok serius. Tentu saja ia tak benar-benar suka pada Wulan, ia hanya sedang menggoda rekannya itu.
Wulan yang memang tidak suka pada David, mengabaikan kata-kata David dan tetap lanjut makan tanpa merasa terganggu sama sekali.
"Nah, kan! Saya dan Wulan memang cocok, kan, Bude?" David bertanya sambil menatap Ani serius.
Ani langsung mengangguk antusias. "Cocok banget," ujarnya.
Wulan menghembuskan nafasnya perlahan. Ia menatap David lurus. Dirinya sedikit mendekat ke arah David dan berbisik di telinga laki-laki itu. "Jangan ngomong sembarangan! Bude itu orangnya mudah percaya semua yang ia dengar. Nanti dia kira kita benar-benar pacaran."
"Bagus, dong. Aku sangat senang kalau ternyata kita bisa pacaran lalu menikah." Bukannya menjawab pelan, David malah menjawab dengan suara keras.
Wulan menggretakkan giginya. Ia menatap horor pada David.
"David dan Wulan pacaran?" tanya Arini yang tiba-tiba saja muncul. Ia ke dapur hendak mengambil minum untuk dirinya sendiri. Tapi saat sampai di dapur, ia malah mendengar berita baru.
__ADS_1
Wulan langsung menggeleng kuat-kuat. "Tidak, Bu. Biasalah, David yang mengejar-ngejar saya, tapi saya tidak mau karena mau setia sama calon saya yang di kampung," ujar Wulan sambil senyum-senyum sendiri. Lagi-lagi Wulan harus bohong agar bisa lolos dari gosip ini.
"Selama janur kuning belum melengkung, saya masih ada harapan kan, Mbak?" ujar David sambil memandang Arini dengan sungguh-sungguh.
"Terserah kalian saja. Saya tidak mau ikut campur. Urusan percintaan bikin pusing," sahut Arini sambil mengambil air minum di dalam gelas besar. "Saya ke atas duluan," ujarnya dan di-iyakan oleh Ani, Wulan dan David.
Arini kembali lagi ke kamar dengan membawa segelas besar berisi air mineral. Sekarang sudah pukul delapan malam. Jasmine dan Yusuf sedang dibacakan dongeng oleh Leon.
Sepeninggal Arini, Wulan lantas mencuci tangannya di wastafel. Ia juga mencuci piring bekas makannya. Setelah itu, ia bergegas naik ke kamarnya.
"Saya duluan, Bude," ujar Wulan. Ia lantas berjalan menaiki anak tangga untuk menuju kamarnya.
Tinggallah Ani dan David saja di dapur itu. Ani menatap lurus ke arah David. "Kamu benar-benar serius suka sama Wulan kan, Vid?" tanyanya.
David menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Tadi ia hanya bercanda, tapi sepertinya Ani tidak bisa diajak bercanda. Ibu satu ini terlalu serius.
"Kalau memang iya, jangan pernah menyerah dan tetap berjuang. Bude mendukung kalian berdua," ujar Ani dengan mata berbinar-binar karena sangat bahagia.
David mengangguk kaku.
Ingatkan David untuk tidak sembarangan bicara pada ibu-ibu. Bahaya nanti akibatnya. Pasalnya ibu-ibu cenderung menelan mentah-mentah apa yang ia dengarkan. Tidak memilahnya terlebih dahulu apakah berita itu benar atau tidak.
"Ya sudah. Sana tidur! Bude juga mau tidur. Eh, mau lanjut nonton Drama Korea, deng," ujarnya sambil cengar-cengir.
Setelah mengatakan itu, Ani lalu menyusul Wulan di kamar. Ia akan melanjutkan maraton Drama Korea. Setelah lelah maraton, barulah ia akan tidur.
Dan sekarang tinggallah David sendirian di dapur. Ia memegang perutnya yang masih lapar. Tadi ia hanya makan sedikit karena tidak kebagian banyak lauk. Lauknya habis dimakan Ani.
David membuka lemari pendingin. Ia lalu mengambil satu buah pisang raja dan memakannya. Lumayan juga, satu buah pisang bisa membuat perutnya penuh. Karena pisang ini memang benar-benar besar.
__ADS_1
Setelah menghabiskan satu buah pisang, David lalu bergegas masuk ke kamarnya untuk bermain game online. Ini belum terlalu malam bagi Davi, sehingga ia belum bisa tidur pukul segini.