Jodoh Istikharah

Jodoh Istikharah
JI 2 - Malam Romantis


__ADS_3

Hari sudah larut malam. Leon belum bisa tidur juga. Ia melihat ke samping, istri dan anak-anaknya sedangkan tertidur pulas. Perut ketiganya naik dan turun dengan terarur.


Leon mengusap pipi Arini dengan lembut. Ia lalu mencium kening istrinya cukup lama. "Aku mau ke balkon, Sayang," bisiknya.


Leon lalu duduk di balkon sambil menikmati pemandangan malam. Ia duduk di balkon kamarnya dengan pandangan mata yang kosong. Ia mengangkat kakinya ke atas kursi.


Suara jangkrik dan binatang malam lainnya bersahut-sahutan. Bintang malam bertebaran di langit sana. Harusnya malam ini bisa menjadi malam romantis bagi Leon dan sang istri. Tapi ia malah mengacaukan segalanya. Ia telah membuat mood istrinya jelek.


Tiba-tiba saja sebuah tangan melingkar di pinggang Leon. Ia kaget dan spontan menoleh ke belakang.


Didapatinya Arini sedang menaruh kepalanya di pundak dirinya dengan mata terpejam. Leon tersenyum bahagia mendapat perlakuan seperti ini.


"Sayang, kamu sudah memaafkan aku?" tanya Leon dengan nada rendah. Ia mengelus kepala Arini dengan sayang.


Arini lalu duduk di sebelah Leon. "Kamu tidak pernah salah. Aku yang terlalu kekanak-kanakan," ujarnya sambil membenarkan hijabnya yang merosot.


Sepertinya hujan tadi sore telah menyapu luka yang ada di hati Arini. Ia tidak marah lagi pada Leon.


Leon kehilangan kata-kata. Ia tidak bisa berkata-kata lagi. Ia hanya memeluk istrinya dengan erat.


Leon mendekatkan wajahnya ke wajah Arini. Arini dapat merasakan wajahnya disapu nafas halus sang suami.


Leon mencium b*b*r Arini dengan penuh kasih sayang. Keduanya terpejam menikmati rasa bahagia yang ada di hati mereka.


Tiba-tiba saja Arini mendorong dada suaminya cukup kuat. Tadi sore ia merutuki Frans dan pacarnya yang berciuman di tempat umum, sekarang malah ia yang melakukan itu.


Memang ini adalah balkon, tapi kan bisa saja ada yang melihat mereka entah dari mana itu. Karena balkon tentunya tidak memiliki dinding.


"Tidak seharusnya di sini," ujar Arini lirih.


"Maaf, Sayang. Aku tidak sengaja," sesal Leon. Ia lalu menatap ke langit. Menikmati bintang yang bersinar indah.

__ADS_1


Keduanya diam cukup lama. Satu sama lain saling merasa canggung. Walaupun sudah menjadi suami istri dan telah tinggal bersama sangat lama, tapi tetap saja rasa canggung itu bisa muncul kapan saja.


"Jalan-jalan, yuk?!" ajak Arini. Suaranya memecah kesunyian diantara mereka.


"Hah?!" Leon memelototkan matanya tak percaya. Malam-malam begini Arini mengajak jalan-jalan? Bagaimana dengan anak-anak?


"Jalan-jalan di sekitar sini aja," ujar Arini dengan tatapan memelasnya. Ia ingin menikmati malam romantis ini berdua dengan suaminya. Nanti ketika sudah pulang ke Jakarta, mereka pasti jarang memiliki waktu berdua seperti ini.


Kalau sudah di Jakarta, mereka akan disibukkan dengan pekerjaan dan mengurus anak. Jarang ada waktu bagi mereka berdua untuk pacaran seperti malam ini.


"Tapi bagaimana kalau anak-anak bangun? Nanti mereka nangis kalau tidak ada kita."


"Di sekitar sini aja, kok. Tidak usah jauh-jauh. Kalau anak-anak nangis, kita bisa dengar," ujar Arini dan langsung disetujui oleh Leon.


Leon juga sangat ingin menikmati malam ini berdua dengan Arini saja.


Mereka berdua lalu keluar dari dalam villa. Keduanya mengelilingi villa yang mereka sewa. Entah apa maksud dari mereka berdua itu. Tapi yang jelas, kelakuan keduanya mirip dengan perampok yang sedang survei lokasi.


Arini mengangguk setuju. Keduanya lalu duduk di ayunan. Ayunan tersebut ada dua, sehingga mereka bisa duduk bersebelahan.


Beberapa detik keduanya hanya diam saja. Hingga pada akhirnya Leon memecah kesunyian diantara mereka berdua. "Tak terasa waktu cepat berlalu. Jasmine sudah hampir lima tahun," ujarnya.


"Iya. Itu artinya kita semakin tua."


"Semakin tua tapi semakin mesra. Kalau bukan kita, Mana ada orang tua diluar sana yang curi-curi waktu dari anaknya untuk pacaran," ujar Leon sambil terkekeh.


Arini tertawa kecil menanggapi kata-kata Leon. Memang benar apa yang dikatakan suaminya itu.


"Kamu setuju tidak, kalau kita beri adik untuk Jasmine dan Yusuf?" goda Leon. Ia tersenyum lebar ke arah istri tercintanya itu.


Arini mengerjapkan matanya tak percaya. Ia tak menduga akan mendengar kata-kata itu dari suaminya.

__ADS_1


"Sepertinya itu ide bagus," sahut Arini serius. "Besok aku akan lepas KB," lanjutnya.


Leon langsung melompat karena saking girangnya. Namun ia lupa kalau kakinya belum terlalu pulih. Akibatnya ia jatuh tersungkur di tanah.


Arini langsung turun dari ayunan dan membantu Leon untuk bangun. Dagu Leon tergores dengan batu bata pecah yang berserakan di tanah.


Leon meringis sambil terseok-seok jalan ke teras. Ia meraba dagunya yang sedikit pedih. Tapi yang lebih sakit adalah kakinya. Tak sengaja kakinya menghantam pot semen besar.


Keduanya duduk di kursi kayu yang ada di teras. Arini menatap suaminya dengan khawatir. "Sakit, ya?" tanya Arini. Tapi beberapa detik kemudian ia merutuki dirinya sendiri yang melontarkan pertanyaan tak bermutu. Jelas saja sakit, itu semua dapat dilihat dari Leon yang meringis kesakitan.


"Sudah tidak terlalu, kok," jawab Leon. Sakitnya memang sudah berkurang. Ia meraba dagunya. Dirinya lalu mengambil ponsel dari saku celana, kemudian ia mengacai dagunya. "Aku kira luka lebar, ternyata hanya tergores kecil," ujarnya sambil kembali menyimpan ponsel di dalam saku celana.


"Walaupun kecil, tapi itu tetap harus di obati, Sayang," ujar Arini. "Masuk, yuk! Aku mau kasih obat merah."


Leon menggeleng. "Tidak usah, Sayang. Ini hanya luka segaris. Tidak sakit sama sekali. Saat kejadian tadi memang sakit, tapi sekarang sudah tidak lagi. Aku tidak mau malam romantis ini cepat berlalu," ujarnya serius.


Arini tak punya pilihan lain. Akhirnya ia mengangguk dengan pasrah.


Suara tangis Yusuf terdengar dari dalam rumah. Keduanya lalu lari terbirit-birit masuk ke dalam rumah.


Arini lari ke kamar terlebih dahulu. Leon yang larinya belum bisa normal, tertinggal di belakang. Setelah mengunci pintu, Leon lalu menyusul istrinya ke dalam kamar.


Kamar mereka ada di lantai dua. Oleh karena itu, Leon agak kesusahan jika harus cepat sampai ke kamar.


Namun setelah berjuang dengan keras, akhirnya ia sampai juga di dalam kamar. Di kamar, Arini sedang memeluk Yusuf dengan erat.


"Sayang.... Mama sama Papa tidak pergi. Yusuf jangan nangis lagi, ya?!" ujar Arini menenangkan buah hatinya.


Tangis Yusuf pun reda.


Bocah laki-laki itu tadi tiba-tiba saja terbangun, dan begitu tak mendapati ayah ibunya di kamar, ia langsung menangis histeris. Beruntung Jasmine tidak terganggu dengan tangis adiknya ini.

__ADS_1


__ADS_2