
Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Arini dan Leon rebahan di atas kasur sambil menatap plafon.
Jasmine tidur dengan Wulan dan Ani. Sedangkan Yusuf tidur dengan Mutiara dan Malvin. Jadi malam ini Leon dan Arini hanya berdua saja.
"Sayang...," panggil Leon sambil menatap Arini.
"Hhmm. Apa?" tanya Arini seraya menoleh ke arah suaminya.
"Kalau aku culik lagi malam ini, kamu mau tidak?" tanya Leon takut-takut. Takut akan di tolak Arini.
"Kemana memangnya?"
"Ke bukit kemarin lagi."
Arini tanpa berfikir sejenak. Dirinya memang butuh refreshing. Berhubung malam ini Jasmine dan Yusuf tidak tidur bersama mereka, jadi ini adalah waktu yang tepat untuk keluar berdua dengan Leon.
Tapi... Bukit kemarin?
Arini masih tampak berfikir. Memang sih bukit tersebut indah. Tapi ular? Bagaimana jika ada ular lagi?
Ya... Walaupun bukan ular berbisa dan sekarang kakinya sudah tidak sakit lagi, tapi tetap saja dia takut. Takut kalau dia akan di gigit ular lagi. Dan bagaimana jika yang menggigit adalah ular berbisa?
"Sayang...," panggil Leon saat Arini tak kunjung menjawab. "Tidak mau, ya?" Suara Leon terdengar memelas.
"Mau," jawab Arini spontan.
Yah, Arini yakin, kalau keputusannya tidak salah. Ia memang membutuhkan refreshing otak.
"Serius?" Leon langsung bangun saking tak percayanya.
Arini mengangguk yakin. "Ya. Aku serius," ujarnya.
"Kalau gitu. Ayo kita siap-siap sekarang. Jaket dan... Em... Karpet." Leon lalu membereskan barang-barang yang hendak mereka bawa. Ada karpet plastik kecil untuk mereka duduk berdua.
"Bagaimana caranya izin sama Mama Papa dan anak-anak?" tanya Arini sambil memakai hijabnya.
"Tenang. Biar aku yang memikirkan caranya," ucap Leon. Tiba-tiba saja sebuah ide muncul di benak laki-laki tersebut. "Aha! Aku punya ide."
Leon lalu mengambil dua lembar kertas dan pulpen. Dia lalu menulis di atas kertas tersebut.
Untuk Mama dan Papa juga Yusuf,
Ma, Pa, malam ini Leon dan Arini mau keluar. Mau pacaran. Titip anak-anak ya, Ma, Pa?!
Leon & Arini
Untuk Jasmine,
Jasmine sayang, malam ini Papa dan Mama keluar sampai subuh. Baik-baik di rumah, ya, Nak.
Papa & Mama
***
Sekarang di sinilah Arini dan Leon. Di dalam mobil. Sedang dalam perjalanan menuju bukit.
__ADS_1
Tadi, Setelah selesai menulis surat. Leon mengirim surat tersebut dengan cara memasukkan kertas tersebut ke kolong pintu kamar.
"Kamu ajaib," ujar Arini sambil menatap lurus ke depan. "Kalau bukan sama kamu, mungkin aku tidak akan terpikir bagaimana caranya kabur dari mertua dan anak-anak," kekehnya sambil geleng-geleng kepala.
"Aku memang ajaib. Tapi kamu lebih ajaib."
"Aku?" Arini menunjuk dirinya sendiri menggunakan jari miliknya. "Aku ajaib juga?"
"Ya. Senyum kamu bisa langsung membuat galauku sirna. Kurang ajaib apa, coba?"
Arini hanya mendengus pelan. Dia kira ajaib bagaimana? Ternyata Leon hanya sedang merayunya saja.
Huh! Dasar laki-laki.
"Sayang...," panggil Leon dengan nada rendah.
"Hhmm.... Ada apa?" jawab Arini sambil menoleh ke arah suaminya yang sedang fokus mengemudi.
"Makasih, ya?" ujar Leon sambil melihat ke arah Arini sekilas, karena ia harus fokus menyetir, maka ia hanya melihat sekilas saja.
"Buat?"
"Buat segalanya. Kam...."
Belum selesai Leon bicara, ia dikagetkan dengan suara dering ponselnya. Ternyata yang menelepon adalah Mutiara-- ibunya sendiri.
Beruntung karena saat ini mereka sedang di lampu merah, jadi Leon langsung mengangkat telepon dari ibunya tersebut.
"Kamu bawa Arini kemana, Leon?" Begitu telepon di angkat oleh Leon, Mutiara langsung berbicara dengan nada kesal.
"Kemana? Cepet kasih tau Mama!"
"Mama kok marah-marah, sih? Nanti darah tinggi, loh."
"Leon!" Mutiara sedikit membentak karena Leon tak kunjung menjawab pertanyaannya. Ia kesal sekali.
"Hehe... Pergi ke suatu tempat, Ma. Rahasia. Ngomong-ngomong titip anak-anak ya, Mama Sayang," ujar Leon dengan nada rendah.
"Huh! Kamu ini. Untung Mama sayang sama kamu. Kalau tidak, sudah Mama buat sate kamu!"
"Jangan kejam-kejam sama anak sendiri, Ma."
"Mana Arini? Mama mau ngomong!"
Leon lalu men-speaker ponselnya.
"Halo, Ma. Ini Rini," ujar Arini sedikit membungkuk ke arah ponsel yang ada di tangan Leon.
"Hati-hati, ya, Rin! Kalau tempatnya aneh, langsung pulang, ya?"
"Iya, Ma. Siap."
"Ya sudah. Hati-hati kalian."
"Siap, Ma," ujar Arini dan Leon berbarengan.
__ADS_1
Telepon lalu terputus setelah mengucapkan salam.
"Kamu hobi banget buat Mama emosi," ujar Arini sambil mengisyaratkan Leon kalau sekarang sudah lampu hijau.
"Habisnya Mama itu lucu," sahut Leon sambil melajukan mobilnya.
Arini hanya geleng-geleng kepala saja. Leon dan Mamanya seperti Tom and Jerry. Tapi biarpun begitu, sebenarnya mereka tetap saling menyayangi.
"Leon, beli cemilan, boleh?" tanya Arini sambil menatap Leon lekat-lekat.
"Boleh, dong. Nanti, ya? Kita cari minimarket dulu," ujar Leon dan di-iyakan oleh Arini.
Arini sedang ingin mengunyah apa saja. Cokelat atau ciki-ciki boleh juga. Sudah lama dia tidak jajan. Rasanya sudah lupa bagaimana rasanya jajanan manis dan asin tersebut.
Setelah menemukan minimarket, Leon dan Arini turun lalu berbelanja cemilan. Arini membeli ciki-ciki dan cokelat. Sedangkan Leon memilih membeli susu kedelai dan wafer.
Begitu telah selesai berbelanja, keduanya lalu kembali melanjutkan perjalanan.
"Kamu suka ciki-ciki, ya?" tanya Leon.
"Suka. Banget. Tapi sudah lama aku tidak makan ciki."
"Kalau aku kurang suka. Micinnya terlalu strong," ujar Leon sambil terus fokus mengemudi.
"Justru itu yang membuat enak. The power of micin," kekeh Arini. Entah mengapa, Arini memang sangat suka sekali makanan ringan yang asin-asin dan berasa kuat micinnya.
"Haha... Ya ya ya. Apapun itu, asalkan kamu suka, aku sih yes. Asal jangan berlebihan saja," ujar Leon.
"Tentu, Sayang."
Keduanya terdiam sejenak. Menikami pemandangan malam dengan gemerlapan cahaya lampu.
"Sebentar lagi kita sampai," kata Leon. Mereka sudah memasuki kawasan bukit.
"Hati-hati, Leon."
"Iya. Ngomong-ngomong, bukit ini mau aku kasih nama."
"Apa namanya?" tanya Arini sambil menoleh ke arah Leon.
"Bukit Cinta."
"Bagus juga."
"Tentu, dong. Siapa dulu yang memberi nama?"
"Leon," jawab mereka berdua sambil terkekeh.
Dan sekarang mereka telah sampai di tempat tujuan. Pemandangannya masih sama seperti malam kemarin.
Dengan langkah pelan, Arini turun dari mobil. Meskipun ini bukan kali pertamanya ia datang ke bukit ini, akan tetapi pemandangan indahnya selalu berhasil membuat Arini takjub.
"Sama seperti malam kemarin, indah," ujar Arini pelan.
Leon berdiri di samping Arini sambil menatap istrinya itu. "Suka?" tanyanya.
__ADS_1
"Suka," jawab Arini sambil tersenyum manis.