Jodoh Istikharah

Jodoh Istikharah
Alasan Bertahan


__ADS_3

"Sayang..." Leon memanggil Arini pelan. Ia menatap Arini yang sudah terpejam di sebelahnya. Kalau ternyata Arini sudah tidur, tidak apa-apa.


"Hmm... Ada apa?" jawab Arini. Ia sebenarnya sudah hampir terlelap, tapi karena Leon memanggilnya, ia tidak jadi terlelap.


"Aku mau tahu satu hal," ujar Leon sambil menatap Arini yang masih terpejam dan memeluk guling.


"Apa?" jawab Arini. Ia pun membuka matanya. Lalu menatap Leon dari qbawah remang-remang lampu tidur.


"Apa yang membuat kamu bertahan hingga sejauh ini? Padahal kamu tahu sendiri, aku ini bajingan," ucap Leon dengan suara bergetar. Ingin rasanya ia menangis karena menyesali  semua perbuatannya di masa lampau. Setiap mengingat kejadian lampau, ia sangat emosional.


Arini tidak langsung menjawab, ia diam beberapa saat. Barulah kemudian berkata, "Kamu adalah jodoh istikharahku. Jodoh yang telah aku pertimbangan baik buruknya sejak awal. Sebelum menerima kamu sebagai suamiku, setiap malam aku selalu shalat istikharah untuk meminta petunjuk Allah. Dan hasilnya, ya seperti yang aku bilang tadi. Kamu adalah jodoh istikharahku," ujar Arini. "Sebenarnya aku pernah memiliki niat untuk berpisah dari kamu, tapi entah mengapa setiap niat ingin berpisah itu muncul, aku selalu didatangi sebuah keyakinan yang kuat. Keyakinan kalau suatu saat kita akan hidup bahagia," lanjutnya.


Leon menggenggam tangan Arini. "Terimakasih telah Sudi menerima aku di hidup kamu. Terimakasih juga telah sabar menghadapi semua sifat burukku. Aku menyesal." Tiba-tiba saja air mata Leon menetes.


"Kamu nangis?" Arini meraba wajah Leon, lalu menghapus air mata tersebut menggunakan tangannya. Walaupun cahaya sangat remang-remang, tetap pandangan Arini masih awas. Ia dapat mengetahui kalau Leon tengah menangis.


Keduanya terdiam beberapa saat. Tidak ada yang bersuara diantara mereka berdua. Hingga Arini memecah kesunyian tersebut dan berkata, "Sudah malam. Tidur, yuk! Besok kita kerja."


"Baik. Ayo tidur," sahut Leon.


Waktu terus berlalu, Arini sudah terlelap dengan damainya. Ditandai dengan nafasnya yang sudah teratur. Namun Leon masih belum bisa tidur. Ia masih terus memandangi wajah Arini yang terlelap dengan damai.


Aku bodoh telah menyakiti perempuan sebaik ini. Kata Leon dalam hati.


Karena tidak bisa tidur, Leon pun bangun dan mengecek kedua anaknya yang tengah tertidur pulas di dalam boks bayi. Ia hanya ingin memastikan kalau popok keduanya aman dan belum penuh. Setelah dipastikan aman, Leon pun bergegas kembali naik ke atas ranjang.

__ADS_1


"Selamat terlelap, Rin," gumam Leon sambil mengelus puncak kepala Arini. Kemudian ia pun memaksakan diri untuk tidur.


***


Arini sudah mulai aktif kembali bekerja. Oleh karena itu, dirinya dan Leon menambah satu baby sitter lagi untuk menjaga kedua anak mereka. Baby sitter baru tersebut berumur kurang lebih dengan Retno. Namanya Ani.


Sebenarnya Hamdani menawarkan dirinya untuk mengasuh cucu-cucunya selama Arini bertugas. Tapi Arini menolak. Ia tak mau ayahnya menjadi baby sitter anaknya. Bagi Arini, ayahnya adalah orang tuanya, bukan baby sitter-nya.


Kalau Hamdani ingin bermain dengan cucu-cucunya, biar Arini saja yang membawa Jasmine dan Yusuf bermain ke rumah kakeknya itu. Bukan malah menjadikan ayahnya sebagai baby sitter.


"Bude Ani, Bude Retno, saya mau berangkat kerja. Kalau ada apa-apa hubungi saya atau Pak Leon, ya?" kata Arini sambil membawa sebuah ransel kecil yang berisi barang-barang perlengkapannya selama bertugas.


"Baik, Bu," jawab keduanya kompak.


Arini lalu bergegas berangkat kerja. Tak lupa ia mencium pipi kedua anaknya sebelum berangkat.


"Iya. Saya juga heran, Mbak. Kalau saya di posisi Bu Arini, huh! Sudah saya sate Mas Leon-nya." Retno menimpali tak kalah semangatnya. Keduanya sedang duduk-duduk di depan televisi sambil mengawasi Jasmine dan Yusuf bermain.


"La iya. Kalau saya juga pasti begitu," sahut Ani tak kalah hebohnya. Ia bicara dengan logat Jawa yang medok.


"Sampean tahu artis Caca Calina?" tanya Retno.


Retno dan Ani sama-sama orang Jawa. Retno sendiri sangat senang ketika mendapatkan rekan kerja yang umurnya tak jauh dari dirinya. Ditambah lagi fakta kalau keduanya sama-sama orang Jawa.


"O... Ya tahu dong, Mbak. Penyanyi dangdut itu, kan? Dia itu idola saya," sahut Ani heboh. Pasalnya Ani adalah salah satu fans dari Caca Calina. Nada dering ponselnya saja lagu dari Caca Calina.

__ADS_1


"Dia itu istri ke tiga Pak Leon. Tapi sudah cerai. Ya Bagus lah cerai, kasihan Bu Arini, selalu tersiksa," kata Retno dengan heboh. Dua ibu-ibu kalau sudah berkumpul memang seperti ini. Bergosip.


"La apa iya, Mbak?" Ani melompong beberapa saat karena kaget. Ia tak menyangka kalau idolanya adalah pelakor alias Perebut Laki Orang. Ani memang selalu mengikuti berita tentang Calina, dan mengetahui juga kabar terbaru tentang perceraian Calina. Tapi ia tak menyangka kalau sekarang ia tengah bekerja pada mantan suami dari idolanya.


"Iya. Caca Calina pernah kok ke sini," beritahu Retno. "Sampean kok bisa-bisanya nge-fans sama artis yang seperti itu, Mbak. Sifatnya... Duh... Jahat. Pelakor." Retno bicara semakin heboh karena topik pembicaraan semakin hangat.


"Kalau tahu seperti itu, saya tidak akan pernah nge-fans sama dia, Mbak. Saya menyesal," ucap Ani.


"Kok malah bergosip."


Sontak saja Retno dan Ani kompak menoleh ke belakang. Tepat di belakang mereka ada Leon yang tengah berdiri sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Leon mendengar dengan jelas apa yang keduanya bicarakan.


Leon sendiri pulang menggunakan ojek online karena mobilnya sedang di servis. Dan ketika ia sampai rumah, malah di suguhkan pemandangan kedua baby sitter-nya tengah menggosipkan dirinya.


"Pak... Pak Leon sudah pulang?" ucap Retno terbata-bata. Dalam hati ia merutuki dirinya sendiri yang bicara tanpa rem. Kalau sudah begini, ia menjadi malu bukan main.


"Iya. Saya sengaja pulang cepat. Arini sudah berangkat?" tanya Leon berbasa-basi. Sebenarnya Leon sudah tahu kalau Arini sudah berangkat. Ia bertanya hanya untuk basa-basi saja.


"Sudah, Pak." Ani yang menjawab.


"Ya sudah, saya mau ke atas dulu," kata Leon dan di-iyakan oleh keduanya.


"Mampus! Kita mampus!" Retno meninju-ninju kepalanya pelan.


"Sstt... Sudah. Jangan diteruskan lagi," sahut Ani. "Nanti Bapak dengar," lanjutnya.

__ADS_1


Retno pun mengangguk. Keduanya tidak membahas hal itu lagi. Baik Retno dan Ani sama-sama berjanji dalam hati untuk tidak bergosip sembarangan lagi.


__ADS_2